NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Ujian Kedua

Aneh sekali bagaimana bola emas itu tidak mati. Tapi juga tidak menyala seperti yang diharapkan siapa pun.

Cahayanya berkedip-kedip tidak karuan di antara telapak tangan Zhao Fei. Sebentar redup hampir seperti bara yang hampir padam, sebentar menyala dengan terang yang terlalu murni untuk ukuran tubuh manusia biasa, lalu kembali berkedip seolah tidak bisa memutuskan harus mengukur apa. Tentu saja semua orang di lapangan menatap bola itu dengan ekspresi kebingungan.

Bisikan demi bisikan pun mulai bersahutan dari barisan calon murid.

"Bahkan bola ujiannya saja bingung mengukurnya."

"Sudah jelas tidak ada qi. Bola itu tidak merasakan qi sama sekali."

"Pulangkan saja dia, buang-buang waktu."

Tetua yang memegang posisi di depan tidak ikut berbisik. Kerutan di dahinya dalam, matanya tidak beranjak dari bola emas itu. Dia sudah menjadi penguji seleksi ini selama lebih dari tiga puluh tahun. Ribuan calon murid sudah melewati tangannya. Bola ini pernah mati total untuk orang yang benar-benar tidak berbakat, pernah menyala putih untuk jenius sejati, tapi tidak pernah sekalipun berkedip seperti ini.

Seperti ada sesuatu di dalam tubuh pemuda itu yang terlalu besar untuk diukur, tapi tidak punya wadah yang cukup untuk menampungnya.

"Zhao Fei," katanya setelah sekian lama, "kau tidak langsung gugur. Tapi kau harus membuktikan diri di ujian berikutnya."

Beberapa calon murid yang gagal total di ujian pertama dipulangkan dengan satu kalimat singkat. Mereka pergi dengan kepala tertunduk. Sementara yang tersisa hanya mereka yang lolos, ditambah Zhao Fei yang berdiri di antara keduanya, bukan di sini bukan di sana.

Tetua pun mengangkat tangannya sekali lagi.

"Ujian kedua," katanya, "adalah pertarungan satu lawan satu. Tanpa qi. Hanya mengandalkan fisik dan teknik bela diri murni." Dia menyapu kerumunan dengan pandangannya. "Undian akan menentukan pasangan. Satu kemenangan, satu tiket ke ujian ketiga."

Belum selesai kalimat itu membanjiri lapangan, para calon murid sudah saling mendorong menuju tempat undian. Masalahnya itu bukan karena mereka bersemangat bertarung. Zhao Fei bisa melihat dengan jelas mengapa mereka bergegas setelah tatapan mereka semua tertuju padanya, diikuti senyuman yang tidak perlu diperjelas maknanya.

Semua orang ingin mendapat lawan yang paling lemah, dan di mata semua orang, Zhao Fei adalah lawan paling lemah di lapangan ini.

Namun Yang Mulia Petir Abadi justru membiarkan mereka berebut. Dalam hati, dia hanya memikirkan bahwa mereka mengingatkannya pada murid-murid junior di Alam Dewa yang berebut posisi latihan dekat altar qi terbaik. Sama saja. Manusia di mana pun cara berpikirnya tidak jauh berbeda.

Kemudian seseorang masuk ke area duel dari arah gerbang sekte, dan seluruh lapangan berubah.

Langkah wanita itu tidak terburu-buru. Punggungnya lurus seperti bilah pedang. Rambut hitam panjangnya dikucir tinggi di belakang kepala, rapi dan tidak satu helai pun yang jatuh ke tempatnya masing-masing. Seragam putih sekte itu tergantung di tubuhnya dengan cara yang membuat pakaian itu terlihat seperti sudah dibuat khusus untuknya, bukan sebaliknya. Wajahnya tidak tersenyum. Matanya datar seperti permukaan batu giok di bawah cahaya yang sama sekali tidak bergerak.

Beberapa calon murid di dekatnya langsung menjauhi undian dan menundukkan kepala. Sementara yang lain terkesiap.

"Senior Liu Xue," bisik seseorang di sebelah Zhao Fei.

Zhao Fei menoleh ke arah suara itu sebentar. Lalu menoleh kembali ke arah wanita itu.

Dan matanya tidak bergerak lagi.

Mustahil.

Bukan kata yang sering muncul dalam kamus seorang dewa yang sudah hidup sepuluh ribu tahun. Tapi kata itu muncul begitu saja, tanpa diundang. Zhao Fei berdiri di tempatnya dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya sejak dia memasuki tubuh ini, kehilangan sedikit dari ketenangannya yang biasa.

Ada sesuatu di mata wanita itu. Meski kecantikan itu sendiri sudah cukup untuk membuat sebagian besar orang di lapangan ini lupa cara bernapas. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dia terjemahkan dengan pengetahuannya sebagai dewa.

Lalu dia menyadari dari mana perasaan itu berasal.

Dari memori yang bukan miliknya, muncul satu gambar yang tersimpan lebih dalam dari yang lain. Bertahun-tahun lalu, dari jarak yang sangat jauh. Pemuda pemilik asli tubuh ini pernah melihat wanita ini sekali, hanya sekali, dan menyimpan gambaran itu di tempat paling dalam dalam kepalanya tanpa pernah berani melakukan apa pun dengan perasaan itu.

Jadi ini yang kau sembunyikan, pikir Zhao Fei, berbicara pada arwah yang sudah pergi. Kau menyukai seseorang yang bahkan tidak tahu jika dirimu ada.

Perasaan itu aneh di dalam dadanya. Tidak sepenuhnya miliknya, tapi juga tidak sepenuhnya asing. Jika digambarkan seperti sedang memakai pakaian yang ukurannya sedikit berbeda tapi masih cukup untuk dikenakan.

"Jaga pandanganmu."

Suara itu datang dari samping, tajam dan tidak mau repot menyembunyikan nada merendahkannya. Seorang pemuda dengan bahu lebar dan senyuman yang terlihat sudah dilatih untuk terlihat sinis menatap Zhao Fei dari samping. "Orang sepertimu tidak pantas menatap Senior Liu Xue seperti itu."

Beberapa orang lantas tertawa pelan.

Sementara Zhao Fei lekas-lekas mengalihkan pandangannya. Perlahan. Tenang. Dia menatap pemuda itu sebentar dengan tatapan yang tidak memiliki emosi apa pun di dalamnya, lalu kembali menatap ke depan.

Dalam hatinya, dia mencatat nama pemuda itu untuk keperluan yang mungkin diperlukan di kemudian hari.

Hingga namanya akhirnya dipanggil.

Zhao Fei berjalan ke area duel. Lawannya sudah menunggu di sana, seorang pemuda kekar yang memperkuat kuda-kudanya dengan gerakan penuh seperti seseorang yang sedang memastikan semua orang menyaksikan betapa siapnya dia. Kakinya dibuka lebar, lengannya diangkat ke posisi bertarung, kepalanya sedikit dimiringkan dengan ekspresi yang mengundang.

Sedangkan Zhao Fei berdiri di seberangnya dengan kedua tangannya di samping tubuh. Tidak ada kuda-kuda ataupun persiapan yang terlihat.

Lagi-lagi, bisikan demi bisikan dari kerumunan langsung mengalir.

"Tidak ada kuda-kuda? Bahkan teknik dasar pun tidak dia tahu."

"Hmm... aku berani bertaruh jika pertarungan ini akan cepat."

Salah satu anggota dewan sekte mencondongkan tubuh ke arah tetua utama. "Apakah perlu kita teruskan ini, Tetua? Sepertinya hanya membuang-buang waktu kita."

Tetua utama tidak menjawab. Matanya tidak beranjak dari Zhao Fei.

Sementara dari sudut lapangan, Liu Xue berdiri dengan tangan terlipat di dada. Pandangannya juga tertuju pada pemuda berpakaian sederhana itu. Ada sesuatu di matanya yang seperti sedang menghitung sesuatu yang belum bisa dikonfirmasi.

Sebelum pengawas arena berteriak, mata Zhao Fei dan mata Liu Xue sempat bertemu.Meski hanya sepersekian detik, tapi setidaknya wanita itu tidak mengalihkan pandangannya terlebih dahulu.

Kemudian tanda “mulai” diberikan.

Zhao Fei melangkah setengah langkah ke kanan. Kepalan lawan yang datang dengan cepat melewati bahunya tanpa menyentuh apa pun. Dalam satu gerakan yang berlanjut dari langkah itu, siku Zhao Fei mendarat tepat di ulu hati lawannya, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk memutus keseimbangan sepenuhnya.

Pemuda kekar itu pun jatuh ke tanah diikuti matanya yang melotot ke langit.

Tidak ada yang bergerak selama beberapa saat. Bahkan tidak ada suara satu pun.

"Ini tidak masuk akal."

Suara dari bangku dewan mencairkan kebekuan. Beberapa anggota dewan saling berbisik dengan suara yang sudah tidak lagi rendah.

"Tidak ada qi. Aku yakin tidak ada qi."

"Tapi pergerakannya... teknik menghindari seperti itu butuh ribuan jam latihan."

"Dari mana anak kampung ini belajar?"

Salah satu dewan mengusulkan dengan keras agar Zhao Fei diuji lebih lanjut melawan calon murid yang sudah lolos ujian pertama. Hanya untuk memastikan, agar tidak ada keraguan.

Namun Liu Xue mengangkat tangannya. "Aturan sudah jelas. Satu duel, satu pemenang."

"Jika para dewan mengizinkan," ucapan Zhao Fei keluar tenang dari area duel, "saya tidak keberatan."

Semua orang lantas menoleh padanya. Ekspresi di wajah para calon murid yang lain berubah menjadi sesuatu yang sulit diberi nama.

Sementara Liu Xue menatapnya lama. Tidak ada ekspresi yang bisa dibaca di wajahnya, tapi matanya sedang mengerjakan sesuatu di balik permukaannya yang tenang. "Baiklah," katanya. "Tapi ini di luar aturan resmi."

Satu per satu mereka maju.

Ada yang datang dengan senyuman penuh percaya diri. Ada yang datang dengan ekspresi serius seperti ini adalah pertarungan hidup dan mati. Ada yang mencoba bertaktik, mencoba membaca gerakan Zhao Fei lebih dulu, berdiri di tempatnya lama sebelum menyerang.

Namun sayangnya mereka semua tumbang dalam waktu yang hampir sama.

Zhao Fei tidak menggunakan qi. Dia tidak perlu. Selama sepuluh ribu tahun, dia menyempurnakan teknik bela diri hingga ke tingkat di mana setiap gerakan menjadi se-efisien mungkin. Tidak ada yang terbuang. Bagi seorang dewa, melawan kultivator pemula yang bahkan tidak boleh menggunakan qi terasa seperti seorang guru kaligrafi yang diminta menulis huruf paling dasar.

Dia tidak melukai mereka lebih dari yang perlu.

Sampai dua puluh orang terbaring di tanah di sekelilingnya, dan tidak ada lagi yang mau maju.

Tetua utama akhirnya berdiri dan lapangan itu terdiam total.

"Liu Xue," katanya, "apa kesimpulanmu?"

Wanita itu berjalan mendekati Zhao Fei. Jarak mereka menyusut menjadi beberapa langkah saja. Matanya menatap lurus ke mata Zhao Fei. Tidak ada pertanyaan di sana, apalagi penilaian yang tampak selain pengamatan yang sangat cermat.

Zhao Fei menatap balik, tidak menghindar.

Beberapa anggota dewan mulai gelisah di kursinya. Terdiam seperti itu terasa terlalu panjang untuk sebuah penilaian sederhana.

Liu Xue pun berbalik ke arah tetua. "Dia aneh," suaranya sama datar seperti biasa. "Tidak ada qi yang terdeteksi di tubuhnya. Tapi teknik bela dirinya terlalu presisi untuk pemula. Seperti seseorang yang sudah berlatih jauh lebih lama dari usianya."

Tetua itu menatap cucunya. "Lalu apa kesimpulanmu?"

"Diterima. Tapi ditempatkan di tingkat paling bawah sampai ada kejelasan lebih lanjut tentang kondisi qi-nya."

Tetua itu menghela napas panjang, lalu menoleh ke Zhao Fei. "Kau lulus ujian kedua. Mulai besok, kau adalah murid tingkat paling bawah di Sekte Garuda Putih. Jika dalam tiga bulan tidak ada kemajuan dalam kultivasi, kau akan dikeluarkan."

Zhao Fei menundukkan kepalanya. "Terima kasih, Tetua."

Tidak ada senyuman ataupun sorakan selain ketenangan yang sama seperti saat dirinya pertama kali mengangkat tangan dari barisan paling belakang.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!