NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semangat Baru di Lapangan Sekolah

Jarak dari rumah ke SMA Merdeka sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki jika langkah diatur santai. Namun pagi itu, rasanya waktu berjalan begitu lambat bagi Dika. Setiap langkah kakinya terasa berat namun penuh makna, seolah ia sedang melangkah masuk ke dalam gerbang sejarah yang akan ia tulis ulang sendiri. Di sampingnya, Rio terus bercerita ini-itu dengan nada riang, membahas soal pelajaran matematika yang sulit, guru yang galak, hingga gosip ringan tentang anak perempuan kelas sebelah. Bagi Rio, semuanya masih sama seperti biasa, tapi bagi Dika, setiap sudut jalan, setiap pohon yang dilewati, dan setiap wajah siswa yang berpapasan dengannya membawa kenangan dan kesempatan baru.

"Eh, Dik, dengerin aku nggak sih?" Rio menyenggol lengan Dika agak keras karena sadar temannya itu melamun terus. "Tadi aku bilang, Pak Budi kayaknya lagi marah besar deh. Katanya kemarin anak-anak tim inti ada yang bolos latihan. Kalau sampai hari ini kita dimarahi habis-habisan, gimana? Aku sih siap aja disuruh lari keliling lapangan sampai muntah, tapi kamu kan paling benci disuruh lari-lari tanpa tujuan."

Dika tersenyum tipis dan menoleh ke arah sahabatnya itu. "Dulu mungkin iya, Rio. Dulu aku pikir lari keliling lapangan cuma buang-buang tenaga. Tapi sekarang... justru aku nungguin perintah itu. Kalau Pak Budi suruh lari sepuluh putaran, aku bakal lari dua puluh. Kalau disuruh lari dua puluh, aku lari empat puluh."

Rio mengerutkan kening, menatap Dika dari atas sampai bawah dengan tatapan curiga. Matanya yang bulat dan besar itu berkedip-kedip bingung.

"Kamu ini kenapa sih pagi ini? Sihir apa yang menempel di badanmu semalam? Dari bangun tidur sampai sekarang ngomongnya berat-berat terus. Kamu jangan bikin aku kaget ya, nanti aku pikir kamu kerasukan setan bola atau gimana," kata Rio sambil mengusap lengan Dika seolah sedang memeriksa suhu tubuhnya, lalu tertawa sendiri. "Tapi... entah kenapa, aku suka lihat kamu begini. Ada bedanya. Tatapan matamu... tajam banget. Kayak harimau yang lagi mau mangsa rusa."

"Memang aku mau mangsa sesuatu, Rio. Aku mau mangsa semua mimpi yang dulu aku biarkan lewat begitu saja," jawab Dika mantap, lalu mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah yang sudah terlihat di kejauhan.

Gerbang SMA Merdeka berwarna hijau tua dengan pagar besi tinggi yang sudah agak berkarat di beberapa bagian. Di atas gerbang, tulisan nama sekolah tercetak tegas dengan cat putih yang mulai memudar karena panas dan hujan. Suasana di depan gerbang sangat ramai. Banyak siswa yang baru datang, ada yang naik sepeda, ada yang diantar orang tua, ada yang berjalan berkelompok sambil tertawa terbahak-bahak. Suara bising, deru motor, dan tawa riuh remaja memenuhi udara.

Bagi Dika, pemandangan ini begitu akrab namun juga begitu asing. Di tahun 2026, sekolah ini pasti sudah direnovasi, mungkin gerbangnya sudah diganti, gedungnya lebih megah. Tapi di sini, di tahun 2010, segala sesuatunya masih sederhana, masih apa adanya, dan justru di situlah letak keindahannya. Masa muda yang polos, penuh energi, dan belum terbebani oleh kerasnya kehidupan dunia kerja.

"Wah, lihat tuh, anak-anak yang lain sudah pada kumpul di lapangan tengah," tunjuk Rio sambil menunjuk ke arah halaman sekolah yang luas di tengah kompleks bangunan.

Di sana, di lapangan berumput pendek yang menjadi kebanggaan sekolah, sudah terlihat belasan siswa berkumpul mengenakan seragam olahraga berwarna merah dan putih. Mereka adalah anggota extracurricular sepak bola sekolah, serta siswa-siswa yang dipilih untuk mengikuti pertandingan uji coba antar kelas yang diadakan setiap akhir semester. Di antara mereka, ada beberapa wajah yang sangat Dika ingat betul. Ada Andi, kapten tim sekolah yang punya tubuh kekar dan keras kepala. Ada Bimo, pemain sayap yang lari kencang tapi sering salah ambil keputusan. Ada juga Surya, teman sekelas Dika yang biasa jadi kiper, badannya pendek tapi lincah sekali.

Saat Dika dan Rio mendekat, beberapa teman sekelas mereka langsung menyapa dengan riuh.

"Woy! Dika! Rio! Lama amat kalian berangkatnya, udah kayak orang mau pergi haji saja jalannya pelan-pelan!" teriak salah satu teman, Doni, sambil melambaikan tangan. Doni adalah tipe orang yang paling berisik di kelas, selalu menjadi pusat keramaian, tapi dia sangat baik hati dan setia kawan.

"Maaf, bro! Tadi Dika di rumah disumpah-sumpah sama ibunya, disuruh makan banyak biar nanti nggak diinjak-injak pemain kelas sebelah," celetuk Rio sambil tertawa keras, langsung membaur dengan teman-temannya, sementara Dika hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.

Doni langsung merangkul bahu Dika dan Rio bergantian. "Eh, tapi serius nih, Dik. Kamu siap nggak? Kelas sebelah itu katanya punya pemain baru lho. Pindahan dari sekolah olahraga. Katanya jago banget. Tinggi besar, larinya kencang, tendangannya keras. Kita jangan sampai malu ya, ini kan pertandingan pertama kita tahun ini."

Dika menatap Doni tenang. "Tenang saja, Don. Mau dia pindahan dari sekolah olahraga, mau dia pindahan dari akademi besar sekalipun... nanti di lapangan kita lihat saja. Sepak bola bukan cuma soal fisik atau lari kencang. Ada otak di dalamnya, ada kerja sama tim."

Doni tertegun sejenak, lalu menatap Rio dengan tatapan bertanya-tanya. Rio hanya mengangkat bahu sambil nyengir lebar, memberi kode bahwa Dika memang sedang "berubah" hari ini.

"Ah, sudahlah, pokoknya kita dukung sama-sama! Kalau menang kita traktir makan mie ayam, kalau kalah... ya kita yang ditraktir!" seru Doni kembali ceria, tidak terlalu memikirkan perubahan sikap Dika.

Tiba-tiba, suara peluit panjang dan keras terdengar membelah keramaian. Semua siswa yang ada di lapangan langsung diam dan berbaris rapi, membentuk dua baris panjang menghadap ke arah pinggir lapangan. Di sana, berdiri seorang pria paruh baya berkulit sawo matang, bertubuh tegap, mengenakan celana olahraga panjang dan kaos berkerah, serta memegang papan tulis kecil dan peluit yang selalu tergantung di lehernya. Itu adalah Pak Budi, pelatih sekaligus guru pendidikan jasmani di SMA Merdeka. Sosok yang dulu sangat ditakuti siswa karena tegas dan keras, namun belakangan Dika sadar, Pak Budi adalah orang yang paling berjasa mengenalkan banyak anak pada sepak bola dengan benar.

Pak Budi berjalan maju beberapa langkah, menatap murid-muridnya satu per satu dengan mata yang tajam dan mengintimidasi.

"Selamat pagi, semuanya!" seru Pak Budi dengan suara lantang yang menggelegar di seluruh penjuru lapangan.

"SELAMAT PAGI, PAK!" jawab para siswa serentak dan bersemangat.

Pak Budi mengangguk pelan, lalu melangkah mondar-mandir di depan barisan. "Saya dengar kabar kurang enak kemarin. Ada beberapa dari kalian yang menganggap latihan itu sekadar selingan, sekadar main-main, dan bolos seenaknya saja. Kalau kalian pikir sepak bola itu cuma soal senang-senang dan lari-lari mengejar bola, silakan saja mundur sekarang. Saya tidak butuh pemain yang cuma punya semangat sesaat tapi tidak punya dedikasi."

Suasana menjadi hening. Tidak ada yang berani bersuara. Dika tahu betul gaya bicara Pak Budi. Beliau memang galak di awal, tapi di balik itu, beliau sangat peduli pada perkembangan siswanya. Dulu, Dika sering merasa tersinggung atau malas saat dimarahi Pak Budi. Tapi sekarang, saat mendengar suara itu lagi, hatinya justru terasa hangat dan penuh hormat.

"Untuk pertandingan uji coba hari ini," lanjut Pak Budi sambil menunjuk ke arah gawang di ujung lapangan, "Tujuannya bukan sekadar menang atau kalah. Tapi saya ingin melihat siapa saja yang benar-benar punya bakat, punya kemauan, dan punya karakter untuk dikembangkan lebih jauh. Tahun depan ada kejuaraan antar sekolah tingkat provinsi, dan saya butuh tim yang kuat, tim yang pintar, dan tim yang tidak mudah menyerah. Kalian semua punya kesempatan sama hari ini untuk membuktikan diri."

Pak Budi kemudian membuka papan tulis kecilnya dan mulai menyebutkan nama-nama siswa yang akan masuk dalam daftar pemain utama cadangan.

"Untuk kelas 2-A, daftar pemainnya adalah..." Pak Budi membaca nama satu per satu. Rio masuk sebagai bek tengah utama, Doni sebagai gelandang samping. Lalu sampailah pada nama yang ditunggu Dika. "...dan Dika Pratama sebagai gelandang serang dan penyerang bayangan."

Hati Dika bergetar. Posisi itu... dulu dia sering main di sana, tapi dia sering mainnya asal-asalan, sering hilang di tengah permainan, sering malas bergerak. Kali ini, posisi itu akan dia jadikan pusat serangan. Dia akan menjadi otak permainan, menjadi pengatur irama, menjadi ancaman terbesar bagi pertahanan lawan.

Pak Budi menatap ke arah Dika tepat saat nama itu disebut. Tatapan Pak Budi berhenti sejenak, seolah ingin mengingatkan sesuatu.

"Dika, saya taruh kamu di sana karena saya tahu kamu punya bakat. Kakakmu dulu pemain hebat, dan kamu mewarisi kakinya yang enak. Tapi ingat pesan saya, seperti yang selalu saya bilang: bakat tanpa kerja keras itu sama saja sampah. Jangan sampai saya lihat kamu main santai seperti biasanya. Mengerti?"

Dika melangkah maju selangkah, lalu memberi hormat dengan tangan kanan di kening, tatapannya lurus dan tidak berkedip sedikit pun menatap mata Pak Budi.

"Mengerti, Pak. Kali ini saya tidak akan membuang bakat itu lagi. Saya janji," jawab Dika dengan suara yang keras, jelas, dan penuh keyakinan.

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!