Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: RAGU YANG MULAI TUMBUH
Februari menyapa dengan sisa-sisa hujan yang masih sering membasahi teras rumah. Namun, bagi tubuhku, bulan ini membawa sebuah perubahan besar yang mengubah seluruh ritme hidupku. Rasa mual yang sebulan lalu kukira hanya masuk angin biasa, kini kian menjadi-jadi. Setiap pagi, sebelum jarum jam menyentuh angka lima, aku harus mendekap mulutku erat-erat, berlari ke kamar mandi belakang agar suara muntahku tidak membangunkan Ibu Retno yang kupastikan akan langsung mencercaku dengan omelan panjang.
Hingga akhirnya, rasa penasaran dan firasat sebagai seorang wanita menuntunku untuk membeli alat tes kehamilan murah di apotek pinggir jalan saat aku diizinkan keluar membeli bumbu dapur yang kurang.
Pagi itu, di dalam kamar mandi yang terkunci rapat, aku menatap dua garis merah yang tertera di atas alat plastik kecil di tanganku. Jantungku berdetak bertalu-talu, bukan karena takut, melainkan karena rasa haru yang teramat sangat yang seketika membuncah di dadaku.
Aku hamil. Di dalam rahimku, ada darah daging Mas Rendra yang sedang tumbuh. Usia kandunganku, jika dihitung dari siklus bulanan yang terlambat, sudah memasuki bulan ketiga.
Ingin rasanya aku langsung berlari ke kamar, memeluk Mas Rendra erat-erat, dan membisikkan kabar bahagia ini di telinganya. Namun, aku tahu situasi rumah sedang tidak kondusif. Mas Rendra belakangan ini tampak kian tertekan dan sering melamun saat pulang dari toko grosir. Wajahnya yang biasa teduh kini sering kali ditekuk oleh mendung kecemasan yang tidak pernah dia ceritakan kepadaku. Aku memutuskan untuk menahan kabar ini sedikit lebih lama, menanti momen makan malam yang tenang di mana aku bisa memberikan kejutan manis ini sebagai penawar lelahnya.
"Yuni! Mana cucian kemeja batik Ayah? Kamu ini kalau kerja jangan setengah-setengah! Masa dari jam segini belum juga naik ke jemuran?!" Lengkingan suara Ibu Retno dari arah tangga lantai dua seketika membuyarkan lamunanku.
Aku buru-buru menyembunyikan alat tes itu di balik tumpukan kain bersih di dalam lemari kamar kami, lalu bergegas turun ke ruang belakang. "Iya, Bu, ini sudah mau saya jemur," sahutku sembari mengangkat ember plastik besar yang terasa berkali-kali lipat lebih berat dari biasanya karena kondisi tubuhku yang sedang berbadan dua.
Penderitaanku fisikku terasa kian berlipat ganda sejak hari itu. Menjaga rahasia kehamilan di tengah tuntutan pekerjaan rumah yang tidak berkurang seujung kuku pun adalah siksaan yang luar biasa. Setiap kali aku membungkuk untuk mengepel lantai marmer yang luas, perut bawahku terasa melilit. Aroma sabun lantai dan deterjen yang menyengat, yang biasanya bisa kutoleransi, kini membuat lambungku bergolak hebat hingga aku harus berkali-kali menahan napas agar tidak muntah di depan Ibu Retno atau Pak Didi.
"Mbak Yuni, bikin es sirup melon dong. Yang manis, es batunya yang banyak! Buruan ya, aku mau minum sambil nonton TV," perintah Bagus dari ruang tengah, meletakkan kakinya yang kotor di atas meja kopi jati yang baru saja selesai kukilapkan.
Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang kian cepat karena kelelahan. "Iya, Bagus, tunggu sebentar ya. Mbak selesaikan jemuran ini dulu."
"Ah, kelamaan! Selalu saja menunda-nunda kalau disuruh," gerutu Ambar yang sedang asyik bermain dengan kucing persia peliharaannya di sudut sofa, sama sekali tidak peduli bahwa kakak iparnya sedang berjuang melawan rasa pusing yang hebat.
Di tengah semua caci maki, penindasan, dan rasa lelah yang menguras tenaga itu, aku mengelus perutku yang masih rata di balik celemek katun kusam yang kukenakan. Sentuhan kecil itu menyalurkan kekuatan baru ke dalam seluruh sel tubuhku. Aku tersenyum tipis di dalam hati. Rasa cintaku pada Mas Rendra yang kian mendalam menjadi tameng terbaik untuk menghadapi semua kekejaman ini. Aku rela menahan semua ini demi masa depan anak kami, demi keluarga kecil yang sebentar lagi akan kami bangun bersama pria yang teramat kukasihi itu.
Namun, di sela-sela rasa bahagia itu, sebuah kejanggalan kecil mulai merayap di benakku sore itu. Saat aku sedang membersihkan debu di laci meja kerja ruang tengah yang jarang boleh disentuh orang lain, aku tidak sengaja menemukan selembar robekan kertas kwitansi lama yang terselip di balik lemari dokumen. Di atas kertas itu tertera nama sebuah toko emas terkemuka di Pasar Besar, lengkap dengan catatan transaksi yang tanggalnya baru berumur beberapa bulan lalu.
Aku mengerutkan kening, menatap nama yang tertera di sana: Sari.
Siapakah Sari? Kenapa nama itu seolah memiliki bobot yang begitu berat hingga slip transaksinya disembunyikan di balik lemari dokumen penting keluarga Wijaya? Ingatanku mendadak melayang pada beberapa bisikan samar yang tidak sengaja kudengar dari mulut Ambar dan Bagus beberapa minggu lalu saat mereka mengira aku sedang tertidur di dapur belakang. Mereka sempat menyebut-nyebut nama itu dengan nada bicara yang penuh rahasia dan ketakutan.
Rasa ingin tahu yang selama ini kupendam perlahan-lahan mulai terusik. Selama ini aku terlalu naif, terlalu tenggelam dalam penderitaan harian dan rasa cintaku yang buta pada Mas Rendra hingga menutup mata dari segala keanehan yang ada di dalam rumah besar ini. Teguran-teguran Ibu Retno yang terlampau defensif setiap kali ada tamu dari Pasar Besar yang datang, serta sikap diam Pak Didi yang terasa tidak wajar, kini mulai tersusun menjadi kepingan teka-teki yang buram di dalam kepalaku.
Kusimpan sobekan kertas itu di dalam saku celemekku, berjanji pada diri sendiri untuk mencari tahu lebih banyak tanpa menimbulkan kecurigaan. Aku tidak tahu bahwa keputusan kecil untuk mulai mencari tahu ini adalah langkah awal yang akan membawaku pada sebuah kebenaran yang teramat pahit, tepat di saat rasa cintaku pada Mas Rendra sedang berada di titik tertingginya.