Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 1
"Aku memilih .... Dia!" Telunjuk itu mengarah lurus pada seseorang yang saat ini sedang berdiri di depan pintu utama keluarga Hermawan.
Sontak, karena pilihan itu, semua mata yang ada di ruang tamu langsung terfokus pada objek yang baru saja gadis itu tunjuk. Dewi Sinta, anak gadis paling cantik milik keluarga Sanjaya.
Awalnya, gadis itu akan menikah dengan Rama. Anak kedua dari keluarga Hermawan. Tapi entah karena apa, di hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta malah membatalkan pernikahan mereka. Lalu, dia malah menunjuk Rahwana untuk digantikan sebagai suaminya.
Ya. Pria yang tadinya di tunjuk oleh si gadis adalah Rahwana. Pria yang dianggap buruk rupa oleh semua orang. Anak pertama keluarga Hermawan. Pria yang ke mana-mana harus menutupi wajahnya dengan topeng agar tidak memperlihatkan kekurangan fisik yang dia miliki.
"Aku?" Wana bingung bukan kepalang. Sekaligus, dia merasa sangat kesal akan ulah dari gadis tersebut. Bagaimana tidak? Ulah gadis itu membuatnya merasa sangat dipermainkan.
Awalnya, dia hanya lewat saja. Tidak ingin ikut campur sedikitpun dengan aktifitas pertemuan dua keluarga yang sedang berlangsung di rumahnya. Eh ... tanpa ada angin, dan tidak mendung sedikitpun, hujan malah turun dengan derasnya. Begitulah ibarat kata yang paling cocok untuk dirinya saat ini. Tanpa ada aba-aba, dia malah diseret dalam pertemuan dua keluarga yang tidak sedikitpun ada sangkut pautnya dengan dia.
"Jangan bercanda, nona. Aku tidak ada kaitannya dengan pertemuan dua keluarga saat ini."
"Tidak. Aku tidak bercanda. Aku serius. Aku pilih kamu untuk jadi suamiku."
"Sinta!" Menggelegar suara papa Sinta memenuhi ruangan tersebut. "Bermain-main juga ada batasnya. Jangan permalukan keluarga. Hari ini adalah hari penentuan tanggal pernikahan kamu dan Rama. Kenapa malah bercanda dengan hal yang penting?"
Sinta mengalihkan pandangannya dari Rahwana. "Om, tante, mama, papa. Aku serius. Aku pilih tuan muda pertama untuk jadi suamiku. Aku rasa, itu tidak akan ada masalahnya, bukan? Karena baik tuan muda pertama atau kedua, jatuhnya akan sama saja. Aku tetap akan jadi istri dari tuan muda keluarga Hermawan, menantu kalian berdua."
Hening seketika. Suasana itu terasa sangat dingin dan juga cukup mencekam. Bagaimana tidak? Pernikahan itu bukan ditetapkan baru-baru ini. Melainkan, sudah bertahun-tahun yang lalu. Tepatnya, saat dua anak masih sangat remaja. Pernikahan itu sudah dibicarakan saat itu.
Sinta dan Rama dijodohkan ketika mereka baru masuk sekolah menengah pertama. Perjodohan itu untuk mempererat keluarga dan bisnis dari keluarga yang sedang berusaha mereka satukan agar lebih maju.
Di balik keuntungan bisnis, dua anak tersebut juga terkesan sangat dekat saat kecil. Lebih tepatnya, mereka adalah teman masa kecil yang dijodohkan agar bisa bersama hingga dewasa.
Namun, hal yang tak terduga terjadi. Gadis itu malah mengubah pilihan saat hari penentuan tanggal pernikahan. Bagaimana semua orang tak terkejut akan hal tersebut?
Mama Rama bangun. Lalu mendekat ke arah Sinta. "Nak, jangan bercanda. Jangan buat tante terkejut begini."
"Benar, Sinta. Bercandaan kamu ini sudah kelewat batas. Kamu bikin kita semua terkejut. Kamu malah bawa-bawa tuan muda pertama dalam candaan mu. Kamu-- ya Tuhan, mama tidak lagi tahu harus berkata apa, Sin."
Sang mama terlihat sedikit pucat akan pilihan anaknya barusan. "Sinta, minta maaf pada tuan muda pertama sekarang juga. Jangan bercanda lagi."
"Mama, tante, semuanya. Aku serius, aku tidak bercanda. Aku ingin menikah dengan tuan muda pertama. Apakah kalian masih tidak percaya?"
Mereka tentu saja masih tak percaya. Lalu, Sinta beranjak mendekati Rahwana yang masih di depan pintu. Sebenarnya, nama pria itu awalnya bukan Rahwana. Melainkan, Awan.
Nama itu diubah setelah pria ini mengalami kecelakaan yang mengakibatkan wajahnya rusak. Kecelakaan fatal yang Awan alami ketika usianya baru tujuh tahun. Dia bersama neneknya pergi ke luar kota. Namun, naasnya, mobil yang dia tumpangi terbalik. Sebagian wajahnya rusak akibat kecelakaan tersebut. Lalu neneknya, demi menyelamatkan nyawa si cucu tercinta, tewas di tempat.
Awan kecil mengalami luka serius seperti luka bakar yang meninggalkan bekas kecoklatan. Permukaan kulitnya masih datar dan mulus. Tidak rusak seperti bekas terbakar parah pada umunya. Namun, tetap saja, wajah itu rusak. Setiap kali orang melihat wajah itu, mereka akan memandang dengan tatapan aneh. Awan kecil merasa sangat tidak nyaman.
Perlahan, dia semakin menutup diri, semakin terasingkan. Lalu, pada akhirnya, namanya diubah karena wajahnya itu. Rahwana. Seperti layaknya cerita legenda, Rahwana yang memiliki fisik yang tidak sempurna, tidak sesempurna yang Rama miliki.
Begitulah Wana akhirnya tetap terasingkan hingga dia dewasa seperti saat ini. Karena tidak ingin di pandang aneh, pria itu memakai penutup wajah. Padahal, wajahnya tidaklah seseram monster dalam bayangan orang lain. Wajahnya hanya sedikit cacat, tidak begitu menakutkan. Tapi dia tetap tidak ingin di pandang aneh walau sejujurnya, itu tidak lagi terlalu penting buat Wana.
"Tuan muda pertama, bersediakah kamu menikah denganku?" Sinta bertanya dengan raut serius saat dia sampai di depan Wana.
Wana menatapnya lekat. Wajah gadis yang ada di depannya sangat cantik. Secantik dewi bulan yang ada dalam bayangannya saat sang nenek bercerita tentang legenda para dewi ketika ia kecil dulu. Hatinya sebagai manusia normal, tidak bisa ia cegah untuk ingin memiliki gadis tersebut.
Karena sejak awal, sejak bertahun-tahun yang lalu, dia juga sudah jatuh hati pada gadis ini. Gadis manis, sifat lembut, baik hati. Singkatnya, gadis ini adalah bentuk terbaik yang pernah ia lihat dari seorang lawan jenis.
Ah, tapi. Wana harus dipaksa sadar akan logika kenyataan yang sangat keras. Gadis ini cantik, secantik dewi bulan. Sedangkan dia adalah Rahwana. Bentuk buruk dari raja buruk rupa seperti yang digambarkan dalam kisah Ramayana.
Lalu akhirnya, karena kesadaran diri inilah yang membuat Wana harus menolak dengan tegas sebelum hatinya benar-benar hancur karena cinta yang hanya sebatas impian. Memang, ini bukan kisah Rama dan Sinta. Atau, ini bukan cerita Ramayana seperti yang diceritakan. Tapi, kisah yang ini cukup mirip. Nama merekapun sama. Karenanya, Wana tidak ingin benar-benar mati karena cinta yang ia miliki pada gadis tersebut.
"Maaf, aku tidak tertarik."
"Apa?"
"Kamu dijodohkan dengan Rama, bukan dengan Rahwana."
"Tapi aku ingin menikah dengan Rahwana, bukan dengan Rama."
"Sayangnya, kamu cocok dengan Rama. Bukan dengan Rahwana yang buruk rupa ini."
Sinta menatap pria yang ada di depannya dengan tatapan lekat. "Ah, sudah. Ini bukan kisah Ramayana. Aku ingin menggantikan calon suamiku. Aku ingin kamu yang menikah dengan ku. Apakah kamu tidak bersedia?"
"Tidak."
Sinta kehabisan kata-kata. Dia di tolak mentah oleh pria tersebut. Pria yang memang punya sifat dingin yang sangat melekat di dirinya sejak masih kecil.
ini juga satu dokter nya di byar brpa kmu sma Risa🙂↔️🙂↔️