NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25 : Air Mata Winarsih

Winarsih masih terpaku di tempatnya. Pikiran wanita itu terasa semakin kalut. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hubungan Dokter Arga dan Clarissa ternyata telah berakhir.

"Maaf..." ucapnya lirih. "Saya benar-benar tidak tahu."

Arga tersenyum tipis, tetapi sorot matanya masih dipenuhi tanda tanya. "Tidak apa-apa. Mbak memang tidak tahu."

Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu.

Arga menatap Winarsih beberapa saat, lalu kembali bertanya dengan hati-hati. "Jadi... benar Clarissa sempat menemui Mbak?"

Winarsih menggigit bibir bawahnya. Ia tahu kalau terus mengelak, Arga pasti akan semakin curiga. "Iya, Dok," jawabnya pelan.

"Kapan?"

"Setelah saya selesai mengantar pesanan."

Arga mengembuskan napas pelan. "Dia mengatakan sesuatu kepada Mbak?"

Winarsih kembali terdiam. Tatapannya jatuh ke lantai. Jemarinya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Mbak?"

"Saya..." Winarsih menggeleng pelan. "Maaf, Dok."

"Kenapa minta maaf?"

"Saya tidak bisa menceritakannya."

Arga mengernyit. "Kenapa?"

Winarsih kembali menggeleng. "Saya benar-benar tidak bisa."

"Apa dia mengancam Mbak?"

Winarsih langsung mengangkat wajahnya. Sesaat terlihat kepanikan di matanya, tetapi ia buru-buru menunduk lagi.

"Tidak... bukan begitu."

"Lalu kenapa Mbak sampai menghindari saya?"

Winarsih menghela napas panjang. "Saya hanya berpikir... akan lebih baik kalau saya menjaga jarak dengan Dokter."

"Karena Clarissa?"

Winarsih tidak menjawab, diamnya kembali menjadi jawaban bagi Arga.

Arga memijat pelipisnya pelan. "Mbak, dengarkan saya."

Winarsih perlahan mengangkat kepalanya.

"Saya dan Clarissa sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Jadi Mbak tidak perlu menjauhi saya hanya karena memikirkan dia."

Winarsih tersenyum tipis, tetapi senyum itu terasa hambar. "Mungkin bagi Dokter memang begitu."

"Maksud Mbak?"

Winarsih menatap Arga beberapa saat. "Saya hanya tidak ingin berada di tengah masalah yang bukan urusan saya."

"Itu bukan salah Mbak."

"Saya tahu." Winarsih menarik napas panjang. "Sejak dulu hidup saya tidak pernah lepas dari masalah, Dok. Saya hanya ingin hidup tenang."

Arga bisa merasakan ada beban yang sangat berat di balik ucapan sederhana itu. "Kalau memang begitu, kenapa Mbak tidak mau jujur kepada saya?"

Winarsih menggeleng pelan. "Saya tidak ingin membuat Dokter semakin terbebani."

"Saya tidak merasa terbebani."

"Tapi saya merasa tidak enak."

Arga menatapnya lekat. "Apakah Mbak tidak percaya kepada saya?"

Pertanyaan itu membuat Winarsih terdiam cukup lama. "Bukan begitu."

"Lalu?"

"Saya hanya..." Winarsih tersenyum pahit. "Saya tidak ingin menjadi penyebab hubungan Dokter dengan siapa pun menjadi buruk."

Arga mengembuskan napas panjang. "Mbak tetap keras kepala."

Winarsih menunduk dengan perasaan bersalah. "Saya minta maaf."

"Tidak perlu meminta maaf."

Arga berdiri dari duduknya, lalu berjalan beberapa langkah mendekati jendela. Setelah beberapa saat terdiam, ia kembali menoleh kepada Winarsih.

"Kalau Mbak belum siap bercerita, saya tidak akan memaksa."

Winarsih perlahan mengangkat wajahnya.

"Tapi saya ingin Mbak mengingat satu hal. Kalau suatu hari Mbak berada dalam kesulitan, jangan menanggung semuanya sendirian."

Mata Winarsih kembali berkaca-kaca.

"Saya akan selalu berusaha membantu, selama saya mampu."

Winarsih hanya mampu mengangguk pelan. "Terima kasih, Dok."

Meski belum mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Arga kini semakin yakin bahwa pertemuan Winarsih dengan Clarissa bukanlah pertemuan biasa. Ada sesuatu yang sengaja disembunyikan Winarsih darinya.

Dan kini Arga mulai bertanya dalam hati. "Sebenarnya... apa yang Clarissa lakukan kepada Winarsih?"

Arga menatap Winarsih untuk terakhir kalinya malam itu. Meski masih dipenuhi banyak pertanyaan, ia sadar tidak ada gunanya memaksa wanita itu berbicara.

Ia tersenyum tipis. "Kalau begitu saya pamit dulu, Mbak."

Winarsih mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan, Dok."

"Iya."

Arga melangkah keluar dari rumah kontrakan. Langkahnya terdengar semakin menjauh. Winarsih berdiri di balik pintu, memandangi punggung Arga yang perlahan menghilang di belokan.

Perlahan ia menutup pintu.

Ceklek...

Begitu pintu tertutup rapat, seluruh kekuatan yang sejak tadi ia pertahankan seakan runtuh. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung lagi.bIa bersandar di balik pintu sambil menutup mulutnya agar isaknya tidak terdengar.

"Kenapa aku ini..." bisiknya lirih.

Ia sendiri tidak mengerti mengapa dadanya terasa begitu sesak. Bukankah sejak awal ia hanya menganggap Arga sebagai orang yang telah banyak menolongnya? Lalu mengapa saat harus menjaga jarak darinya... hatinya justru terasa sangat sakit?

Winarsih menggeleng pelan. "Ini tidak boleh terjadi."

Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan, tetapi semakin diusap, air mata itu justru semakin deras mengalir.

"Dokter Arga adalah orang baik. Dia pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku."

Sementara itu ia merasa, ia hanyalah seorang wanita desa yang memiliki banyak masalah. Ia tidak boleh membiarkan perasaannya tumbuh lebih jauh.

Saat itulah langkah kaki terdengar dari arah dapur. Ibu Ratna keluar sambil membawa dua cangkir teh hangat di atas nampan kecil.

"Lho..." ucapnya pelan. "Dokter Arga sudah pulang?"

Winarsih yang terkejut segera membalikkan badan. Dengan tergesa-gesa ia mengusap pipinya.

"I-iya, Bu."

Ibu Ratna meletakkan kedua cangkir teh di atas meja. "Padahal Ibu baru selesai membuat teh."

"Tadi Dokter bilang sudah malam, tidak enak jika terlalu lama bertamu."

Ibu Ratna mengangguk pelan, namun pandangannya kemudian jatuh ke wajah Winarsih. "Matamu merah, Winarsih."

Winarsih langsung menggeleng. "Tidak, Bu. Tadi cuma..."

Kalimatnya terhenti.

Ibu Ratna melangkah mendekat, lalu mengusap lembut kepala Winarsih seperti seorang ibu menenangkan anaknya.

"Tidak usah disembunyikan."

Winarsih kembali menundukkan kepala. "Saya baik-baik saja, Bu."

Ibu Ratna tersenyum tipis. "Ibu ini sudah tua, Nak. Tapi bukan berarti Ibu tidak bisa melihat isi hati seseorang."

Winarsih terdiam.

"Sejak tadi Ibu memperhatikanmu."

Air mata Winarsih kembali menggenang.

"Ibu tahu... sebenarnya kamu juga mulai menyimpan rasa kepada Dokter Arga."

Ucapan itu membuat Winarsih langsung mengangkat kepalanya. "Bukan begitu, Bu."

"Benarkah?"

Winarsih membuka mulutnya, tetapi tak satu kata pun keluar.

Ibu Ratna menggenggam kedua tangan Winarsih. "Tidak perlu menyangkal. Perasaan seseorang bisa terlihat dari matanya."

Winarsih kembali menunduk. "Saya... saya hanya menghormatinya."

"Mungkin awalnya begitu." Ibu Ratna tersenyum lembut. "Tapi hati manusia sering kali berubah tanpa kita sadari."

Air mata Winarsih kembali menetes. "Justru itu yang membuat saya takut, Bu."

"Takut kenapa?"

"Saya ini wanita yang memiliki banyak masalah." Suara Winarsih bergetar. "Belum lagi, masalah saya dengan Mas Benni yang belum selesai ."

Dadanya kembali terasa sesak.

"Sedangkan Dokter Arga..." Ia menarik napas panjang. "Dia orang baik. Saya tidak ingin dia ikut terseret dalam kehidupan saya yang penuh masalah."

Ibu Ratna mengusap pelan punggung tangan Winarsih. "Hidup memang tidak selalu mudah, Nak. Tapi kamu tidak perlu membohongi perasaanmu sendiri."

Winarsih hanya menangis dalam diam. Malam itu, kini ia benar-benar menyadari bahwa menjaga jarak dari Dokter Arga ternyata jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah ia bayangkan.

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!