Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Cahaya biru menyilaukan di dalam kamar itu perlahan mulai meredup. Suhu ruangan yang tadinya sangat panas kini kembali normal seperti sedia kala.
Huuft.
Anton membuang nafas panjang dari mulutnya sambil membuka kedua matanya perlahan. Keringat masih membasahi seluruh kemejanya hingga menempel ketat di tubuhnya.
Rasa sakit yang luar biasa di matanya kini telah menghilang tanpa sisa. Digantikan oleh sensasi dingin dan sejuk yang mengalir ke seluruh saraf otaknya.
[Proses penyerapan energi Inti Meteorit Astral telah selesai seratus persen.]
[Selamat. Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 3 telah berhasil dibuka secara permanen.]
Anton tersenyum puas mendengar suara sistem di kepalanya tersebut. Dia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatan barunya.
"Mari kita lihat kehebatan apa yang kau tawarkan kali ini," gumam Anton pelan di dalam kamarnya yang sunyi.
Anton memfokuskan pandangannya ke arah gelas kaca yang ada di atas meja nakas di samping kasurnya.
Sring.
Pandangan Anton seketika menembus struktur fisik luar gelas tersebut. Dia tidak lagi hanya melihat bentuk benda itu secara kasar seperti pada kemampuan tingkat dua.
Kini dia bisa melihat struktur molekul dan pergerakan atom yang menyusun gelas kaca tersebut secara nyata. Semuanya terlihat seperti titik-titik cahaya kecil yang saling terikat satu sama lain.
[Mode Manipulasi Atom aktif. Tuan dapat mengubah, memutuskan, atau menyusun ulang ikatan molekul benda mati dalam radius sepuluh meter.]
"Luar biasa," batin Anton dengan mata berbinar kagum.
Anton memusatkan pikirannya pada ikatan atom penyusun gelas kaca itu. Dia memerintahkan ikatan kuat tersebut untuk merenggang dan melepaskan diri.
Krak.
Prang.
Gelas kaca di atas meja itu tiba-tiba hancur berkeping-keping menjadi debu halus tanpa disentuh sama sekali. Serpihannya jatuh berhamburan mengotori karpet kamar tersebut.
"Ini bukan lagi kemampuan mata biasa yang hanya bisa meretas komputer. Ini adalah kekuatan yang bisa mengatur realitas," ucap Anton sambil tertawa pelan.
Dia kemudian menoleh ke arah pintu kamar yang masih terkunci rapat dari dalam. Kemampuan memprediksi probabilitasnya langsung aktif secara otomatis merespons insting bahayanya.
Anton melihat bayangan tembus pandang dari empat pria berbadan besar yang sedang berdiri di depan pintunya. Bayangan itu menunjukkan aksi mematikan apa yang akan terjadi sepuluh detik ke depan.
"Clara sedang dalam bahaya di luar sana," batin Anton sambil segera bangkit berdiri dari atas kasurnya.
Sementara itu di luar kamar Clara berdiri bersandar di dinding dengan mata yang mulai mengantuk. Sudah hampir tiga jam dia berjaga di sana sendirian tanpa tempat duduk.
Tap, tap, tap.
Suara langkah kaki dari ujung lorong membuat Clara langsung membuka matanya lebar-lebar untuk bersiaga. Empat orang pria berpakaian serba hitam berjalan cepat ke arahnya dengan wajah beringas.
"Siapa kalian? Jangan berani mendekat ke kamar ini," teriak Clara memperingatkan mereka dengan nada setegas mungkin.
Salah satu pria berwajah penuh bekas luka mencabut pistol berperedam suara dari balik jaket kulitnya. Dia mengarahkan senjata itu lurus ke dada Clara.
"Minggir dari sana pengacara bodoh. Kami hanya menginginkan nyawa majikanmu yang sombong itu," ancam pria pemegang pistol tersebut.
"Kalian pasti orang suruhan Victorio kan? Aku tidak akan membiarkan kalian masuk walau selangkah pun," balas Clara dengan suara bergetar namun kakinya tetap menolak bergeser.
"Setiamu salah tempat wanita jalang. Kalau begitu matilah di sini sekarang juga," ucap pria itu tanpa ragu sedikit pun di matanya.
Jari telunjuk pria itu mulai menarik pelatuk perlahan. Clara hanya bisa menutup kedua matanya rapat-rapat sambil merapalkan doa.
Brak.
Pintu kamar suite itu tiba-tiba ditendang dari dalam hingga terlepas dari engsel besinya. Daun pintu berbahan kayu tebal itu terlempar keras menghantam dinding lorong kapal.
Wush.
Anton melesat keluar dari dalam kamar seperti kilat yang menyambar. Dia langsung menarik tubuh Clara ke dalam pelukannya untuk menjauhkannya dari garis tembak.
Dor, dor, dor.
Tiga butir peluru melesat keluar dari moncong pistol pembunuh tersebut. Namun Anton sama sekali tidak berniat untuk menghindar dari lintasan peluru itu.
Matanya menatap tajam ke arah tiga peluru yang sedang melayang cepat membelah udara.
[Mode Manipulasi Atom diaktifkan pada objek peluru timah.]
Sring.
Tiga butir peluru logam itu tiba-tiba kehilangan bentuk fisiknya di tengah udara. Peluru-peluru tersebut hancur menjadi serbuk halus sebelum sempat menyentuh pakaian mahal Anton.
Debu sisa peluru itu tertiup angin pendingin ruangan dan menghilang begitu saja di depan mata mereka semua.
Mata keempat pembunuh bayaran elit itu terbelalak lebar seolah baru saja melihat hantu di siang bolong. Mereka tidak percaya dengan pemandangan mustahil yang baru saja terjadi.
"A-apa yang baru saja anak itu lakukan? Di mana peluru mematikanku?" teriak pria pemegang pistol itu dengan wajah pucat pasi.
"Itu pasti trik sulap murahan. Dia pasti menggunakan semacam teknologi perisai magnet pelindung," sahut temannya yang lain mencoba mencari penjelasan logis yang masuk akal.
Anton melepaskan pelukannya dari tubuh Clara perlahan. Dia menepuk pundak wanita itu pelan untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang.
"Kau tidak apa-apa Clara? Maaf membuatmu menunggu terlalu lama di luar," tanya Anton dengan nada suara yang sangat lembut.
"S-saya sama sekali tidak apa-apa Tuan Anton. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa saya lagi," jawab Clara dengan napas yang masih tersengal-sengal.
Anton kembali membalikkan badannya menatap keempat pembunuh bayaran itu dengan tatapan sedingin es. Aura membunuh yang sangat pekat kini memancar dari tubuh santainya.
"Kalian benar-benar berani mengganggu waktu istirahatku dan mengancam asistenku," ucap Anton sambil berjalan perlahan mendekati mereka satu per satu.
"Tembak dia sekarang juga. Habisi monster sombong itu sebelum dia mendekat," teriak pemimpin kelompok tersebut dengan nada panik yang kentara.
Keempat pria itu mencabut senjata otomatis mereka masing-masing dari balik baju. Mereka memberondong tembakan ke arah Anton secara bersamaan tanpa ampun.
Dor, dor, dor, dor.
Puluhan peluru dimuntahkan dari laras senjata mereka hingga memekakkan telinga. Suara bising rentetan tembakan itu bergema keras di lorong kapal pesiar yang tadinya sangat sunyi.
Anton terus berjalan maju ke depan tanpa mempercepat langkahnya sedikit pun. Matanya terus memancarkan pendar cahaya biru yang sangat redup dan misterius.
Setiap butir peluru yang masuk ke dalam radius sepuluh meter dari tubuh Anton langsung hancur menjadi debu logam. Tidak ada satu pun benda solid yang bisa bertahan dari manipulasi atom matanya malam ini.
Krak, krak, krak.
Suara pelatuk senjata yang ditarik kosong tanpa peluru mulai terdengar bersahutan. Amunisi mereka berempat telah habis tak bersisa tanpa meninggalkan satu goresan pun di tubuh Anton.
"Sialan senjataku kosong melompong. Lari dari sini sekarang juga," teriak pemimpin itu memutar badannya bersiap untuk kabur menyelamatkan diri.
"Kalian pikir kalian bisa datang dan pergi begitu saja setelah menembakiku?" tanya Anton dengan nada datar yang menggema di lorong.
Anton menatap tajam lantai baja kapal pesiar yang ada tepat di bawah kaki keempat pria tersebut. Dia segera mengubah ikatan atom baja itu menjadi sangat lunak.
Wush.
Lantai baja tebal yang mereka pijak tiba-tiba mencair layaknya lumpur hisap di rawa-rawa. Keempat pria berbadan besar itu langsung terperosok ke bawah hingga sebatas dada mereka.
"Argh apa ini. Lantai kapalnya tiba-tiba meleleh," jerit salah satu pria itu sambil meronta-ronta panik berusaha mengangkat kakinya.
"Tolong lepaskan kami Tuan yang baik. Kami berjanji tidak akan mengganggu Anda lagi seumur hidup," mohon pemimpin mereka dengan wajah bersimbah air mata ketakutan yang memalukan.
Anton mengembalikan struktur atom lantai baja itu seperti semula hanya dengan kedipan mata. Baja yang meleleh itu kembali mengeras sempurna dan mengunci tubuh mereka dengan sangat kuat.
Krek.
"Argh tulang rusukku hancur," jerit mereka berempat secara bersamaan saat baja dingin itu menjepit rongga dada mereka tanpa ampun.
Anton berjongkok santai di depan pemimpin kelompok bayaran tersebut. Dia menatap mata pria malang itu dengan pandangan mengintimidasi yang meremukkan mental.
"Katakan padaku. Di mana kamar Victorio malam ini?" tanya Anton singkat tanpa basa basi.
"D-di lantai paling atas Tuan. Kamar VVIP nomor satu di ujung lorong utama," jawab pria itu terbata-bata menahan rasa sakit yang luar biasa.
Anton berdiri tegak dan merapikan lengan kemejanya yang sedikit berantakan. Dia menoleh ke arah Clara yang masih mematung tak percaya di dekat pecahan pintu.
"Clara, bereskan sisa barang kita di kamar berantakan ini. Kita akan pindah tidur ke kamar yang jauh lebih mewah malam ini," perintah Anton dengan senyum santai.
"B-baik Tuan Anton. Saya akan segera menyiapkannya untuk Anda," jawab Clara patuh meskipun otaknya masih belum bisa memproses keajaiban yang baru saja dia saksikan.