NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Malam itu akhirnya Bara pulang dengan perasaan kacau. Saat ia tiba, koridor lantai dua terasa sangat sunyi. Bara hanya mengenakan celana hitam panjangnya tanpa atasan, memamerkan guratan otot punggung dan perut sixpacknya yang kokoh. Kemejanya ia pegang begitu saja saat hendak naik ke lantai paling atas dimana kamarnya berada.

Akan tetapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Andrea yang sedikit terbuka. Seberkas cahaya hangat dari lampu tidur memancar keluar.

Dari celah sempit itu, Bara bisa melihat Andrea sedang berdiri memunggungi pintu, tepat di depan cermin besar. Gadis itu baru saja selesai memakai sesuatu ke tubuhnya. Rambut hitam panjangnya digulung ke atas, menyisakan tengkuknya yang putih bersih dan jenjang. Area yang beberapa jam lalu dihisap oleh Bara hingga meninggalkan bekas rona kemerahan.

Andrea hanya mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna krem dengan potong yang longgar. Sambil mengusap lehernya, tangan kanan Andrea memegang liontin perak oval yang terbuka sebelum akhirnya menutup benda itu dan meletakkannya di atas meja setelah mengecup benda itu cukup lama.

Bara yang menyaksikan hal itu langsung menyipitkan mata. Ia sangat penasaran dengan apa yang dipegang oleh Andrea, kenapa ia sampai mencium benda itu.

Tanpa mengetuk, Bara mendorong pintu perlahan. Desisan engsel pintu yang halus membuat Andrea tersentak. Dengan panik, Andrea langsung menutup liontin itu dan menyembunyikannya di balik buku di meja lalu berbalik cepat.

"K-Kak Bara?" napas Andrea memburu. Jantungnya berdetak kencang, bukan hanya karena ia hampir ketahuan memegang liontin itu, tetapi juga karena penampilan Bara di hadapannya saat ini.

Dada bidang Bara yang terekspos, otot-otot yang berkilat samar tertimpa cahaya lampu remang, dan tatapan matanya yang tajam bak elang membuat atmosfer kamar tidur itu mendadak berubah menjadi sangat mendebarkan.

Bara melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan satu tangan tanpa melepaskan pandangan dari mata Andrea. Gerakannya lambat, seolah menikmati setiap jengkal ketakutan dan gairah yang mulai menguasai gadis itu.

"Belum tidur?" suara Bara rendah, serak, dan bergema seksi di dalam keheningan kamar.

"Mau ... mau tidur Kak. Baru selesai bersiap," jawab Andrea terbata-bata. Ia melangkah mundur hingga pinggulnya membentur tepian meja rias. "Ada apa Kakak ke sini?"

Bara tidak menjawab sampai jarak mereka hanya tersisa satu langkah. Aroma lotion beraroma mawar dari tubuh Andrea berpadu dengan hawa dingin malam, menciptakan kombinasi yang memabukkan bagi indra penciuman Bara. Ia mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh dagu Andrea, mendongakkannya perlahan.

"Apa yang kamu sembunyikan tadi Andrea?" bisik Bara, wajahnya perlahan mendekat.

Andrea menelan ludah. "B-bukan apa-apa. Hanya barang peninggalan seseorang yang sudah tiada."

"Kekasihmu?"

"Bukan ... dia ... sahabatku. Seorang wanita," jawab Andrea cepat.

"Hm ... begitu ya?"

Bara menatap lekat-lekat manik mata Andrea, mencari kebohongan. Namun, pandangannya perlahan turun ke bibir ranum Andrea yang sedikit terbuka karena napasnya yang memburu, lalu turun lagi ke belahan gaun tidur tipis yang sedikit melonggar, mengekspos tulang selangka yang indah dan kulit dada bagian atasnya yang halus.

Gairah yang sejak tadi ditahan Bara kembali menyala. Kali ini, ia tidak ingin langsung menarik diri. Ia ingin bermain dan menyiksa Andrea dengan sensasi yang perlahan tapi pasti akan meruntuhkan seluruh pertahanannya.

Jemari Bara berpindah dari dagu ke leher Andrea, mengusap pelan leher jenjang gadis itu. Sentuhan kulit ke kulit yang terjadi seketika membuat Andrea meremang. Kedua matanya perlahan terpejam menikmati sensasi panas dingin yang menjalar.

"Jangan Kak .... " lirih Andrea.

"Apanya yang jangan hm? tubuhmu mengatakan hal yang berbeda Andrea," bisik Bara tepat di telinga gadis itu. Napas hangatnya membuat bulu kuduk Andrea berdiri. "Setiap kali aku menyentuhmu ... kamu selalu gemetar. Kamu takut padaku, atau kamu menginginkanku?"

"Kak Bara ... jangan .... " rintih Andrea lemah. Kedua tangannya yang bebas kini bertumpu di dada telanjang Bara. Alih-alih mendorong, jemari lentiknya justru meremas otot dada Bara yang keras, seolah mencari pegangan agar tidak jatuh karena kakinya yang mendadak lemas.

Bara terkekeh rendah, suara tawa yang begitu maskulin dan mendominasi. Tangan kanannya merayap turun ke pinggang Andrea, menarik tubuh indah itu hingga menempel sempurna pada tubuh kekarnya. Andrea bisa merasakan kehangatan yang luar biasa memancar dari kulit Bara.

Tangan Bara yang lain dengan perlahan menyusup ke dalam gaun tidur Andrea yang longgar dan sangat pendek, menyentuh kulit pinggang rampingnya tanpa halangan. Kulit Andrea begitu lembut, membuat geraman rendah lolos dari tenggorokan Bara. Ia menggerakkan telapak tangannya naik, mengusap rusuk Andrea, mendekati area sensitif di dadanya.

Bersamaan dengan itu, gaun tidur tipis itu semakin tersingkap ke atas. Sebenarnya tak hanya Andrea yang berdebar-debar, tapi juga Bara.

"Ah ... Kak .... "

 Andrea mendesah pelan, kepalanya terdongak ke belakang, menyandarkan punggungnya pada cermin meja rias. Sensasi tangan Bara yang hangat dan menuntut di atas kulitnya membuat akal sehatnya benar-benar lumpuh.

Bara menunduk, mengecup sudut bibir Andrea, lalu turun ke rahangnya, dan kembali memberikan hisapan lembut di leher jenjangnya. Setiap sentuhan Bara malam ini terasa begitu penuh dengan gairah yang tertahan.

Semuanya memang sengaja dibuat lambat untuk menyiksa batin Andrea.

"Kamu terlalu indah untuk dihancurkan Andrea .... " bisik Bara di dalam hati, di sela-sela kecupannya. Suaranya mengandung makna ganda yang mengerikan sekaligus ero tis. "Rasa tubuhmu ini ... membuatku tidak bisa berhenti."

Tepat ketika jari-jari Bara mulai mengusap bagian bawah dada Andrea, bersiap untuk menurunkan gaun tidur tipis itu sepenuhnya, satu tangan Bara tidak sengaja menyenggol buku tempat liontin itu berada.

Logam dingin liontin itu bergeser, dan dari celahnya selembar kertas kecil usang yang dilipat longgar terjatuh ke lantai karpet tanpa disadari oleh Andrea yang sudah terpejam menahan nikmat.

Namun, mata tajam Bara yang selalu waspada menangkap jatuhnya kertas kecil itu.

Bara mendadak menghentikan gerakannya. Telapak tangannya menetap di pinggang Andrea, sementara matanya melirik ke bawah, ke arah kertas usang yang terbuka sedikit di atas karpet. Di sana, meski terbalik, Bara bisa melihat sekilas guratan tinta usang yang sangat ia kenal, yaitu tulisan tangan ibunya, Ratih Adikara.

Jantung Bara berdesir. Rasa bingung dan syok seketika menyiram gairah panasnya hingga mendingin.

Andrea membuka matanya yang sayu dan penuh kabut ga irah, menatap Bara dengan bingung karena pria itu lagi-lagi berhenti di saat mereka hampir melewati batas. "Kak?"

Bara menarik tangannya dari dalam gaun tidur Andrea dengan tenang, namun rahangnya mengeras. Ia mundur satu langkah, kembali memasang ekspresi dinginnya, menyembunyikan badai yang sedang berkecamuk di dalam dadanya.

"Tidurlah. Aku tidak suka bermain dengan wanita yang setengah mengantuk," ucap Bara datar, membalikkan kata-katanya menjadi alasan yang dingin.

Sebelum Andrea sempat membalas, Bara sudah berbalik dan melangkah keluar kamar. Namun, saat melangkah, dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, ujung jari kaki Bara menjepit kertas mikro yang jatuh di karpet tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!