Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Janji di Sisi Peraduan
Langkah kaki Reno dan Aura menggema pelan menyusuri koridor VIP Rumah Sakit Adhyastha. Lantai marmer yang mengilap memantulkan bayangan mereka, sementara cahaya lampu putih yang redup menciptakan suasana tenang sekaligus menggetarkan hati. Di depan sebuah pintu kamar perawatan intensif, dua orang penjaga berbadan tegap yang disewa khusus oleh Reno membungkuk hormat begitu melihat kedatangan sang pemilik rumah sakit dan istrinya.
Begitu pintu berperedam suara itu terbuka, aroma antiseptik yang khas dan bunyi pelan monitor detak jantung seketika menyapa. Ruangan itu terasa begitu sunyi. Hanya suara mesin yang berdetak teratur menjadi penanda bahwa kehidupan masih terus bertahan di balik tubuh yang terbaring lemah.
Di atas ranjang perawatan, Ibu Salma terbaring tak bergerak. Matanya masih terpejam rapat, wajahnya tampak pucat, dan tubuhnya terhubung dengan beberapa alat medis yang memantau setiap perubahan kondisi selama dua puluh empat jam. Selang infus, monitor jantung, hingga alat bantu pernapasan ringan menjadi saksi betapa berat perjuangan wanita paruh baya itu.
Sudah berbulan-bulan Ibu Salma berada dalam keadaan seperti itu. Dokter mengatakan peluang untuk sadar masih ada, tetapi semuanya bergantung pada kekuatan fisik dan keajaiban yang hanya Tuhan mampu berikan.
Dada Aura kembali sesak. Setiap kali memasuki ruangan ini, perasaan yang sama selalu datang menghantamnya. Harapan dan ketakutan bercampur menjadi satu. Ia menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri sebelum melangkah mendekati ranjang.
Dengan perlahan, Aura duduk di kursi yang selalu ia tempati setiap kali berkunjung. Tangannya yang lembut menggenggam jemari sang ibu. Jemari itu terasa dingin, namun Aura tetap menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan kehangatan dari hatinya.
"Ibu... Aura datang lagi," bisiknya lirih. Suaranya bergetar menahan tangis yang hampir pecah. "Hari ini Aura datang bersama Reno, suami aura, Kami ingin menemani Ibu lagi."
Tak ada jawaban.
Hanya bunyi "bip... bip... bip..." dari monitor yang terdengar mengisi kesunyian.
Aura tersenyum tipis, meski air mata perlahan mengalir membasahi pipinya.
"Aura percaya Ibu bisa mendengar suara Aura. Dokter bilang orang yang tidak sadar belum tentu tidak mendengar. Jadi Aura akan terus bercerita, ya, Bu."
Reno berdiri beberapa langkah di belakang. Melihat pundak istrinya yang mulai bergetar, ia segera mendekat. Tangan kekarnya mengusap lembut bahu Aura, memberikan kekuatan tanpa perlu mengucapkan banyak kata.
Sentuhan sederhana itu membuat Aura merasa jauh lebih tenang.
Pernikahan mereka memang berawal dari sebuah jalan buntu.
Saat itu, utang peninggalan almarhum ayah Aura menumpuk hingga miliaran rupiah. Bank berkali-kali mengirimkan surat penyitaan rumah. Para penagih utang bahkan tak segan mendatangi rumah mereka hampir setiap hari.
Di tengah tekanan itu, Ibu Salma jatuh pingsan karena tak sanggup lagi menanggung beban hidup. Sejak saat itulah semuanya berubah.
Ketika harapan hampir lenyap, Reno datang membawa sebuah tawaran yang terdengar begitu mustahil.
Pernikahan kontrak selama satu tahun.
Sebagai gantinya, seluruh utang keluarga Aura akan dilunasi dan Ibu Salma akan mendapatkan perawatan medis terbaik tanpa memikirkan biaya sedikit pun.
Saat itu Aura menerima tawaran tersebut dengan hati yang dipenuhi keraguan. Baginya, itu bukan kisah cinta, melainkan sebuah pengorbanan demi menyelamatkan ibu yang paling ia cintai.
Namun waktu perlahan mengubah segalanya.
Kontrak yang awalnya hanya berisi tanda tangan di atas selembar kertas kini telah berubah menjadi ikatan hati yang tak mungkin dipisahkan.
Reno bukan lagi pria dingin yang hanya memikirkan bisnis.
Ia telah menjadi rumah bagi Aura.
Tempatnya pulang.
Tempatnya bersandar.
Tempatnya percaya bahwa kebahagiaan masih mungkin dimiliki.
Reno melangkah lebih dekat ke sisi ranjang. Tatapannya tertuju kepada wajah Ibu Salma yang damai dalam tidurnya.
Ia membungkukkan tubuh dengan penuh hormat.
"Ibu... ini Mas Reno, suami Aura."
Suara bariton pria itu terdengar tenang namun penuh ketulusan.
"Ibu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi."
Reno berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Utang almarhum Bapak sudah Reno lunasi sejak hari pertama kami menikah. Rumah peninggalan keluarga juga sudah selesai direnovasi. Semua perabot yang rusak telah diganti. Halaman rumah kini kembali hijau seperti yang dulu sering Aura ceritakan."
Air mata Aura kembali jatuh.
Ia masih mengingat rumah sederhana yang hampir direnggut bank itu.
Rumah yang penuh kenangan masa kecilnya.
Kini rumah itu kembali berdiri kokoh, bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya.
Semua berkat Reno.
Reno kembali melanjutkan ucapannya.
"Ibu tidak perlu memikirkan biaya rumah sakit. Seluruh pengobatan terbaik akan terus diberikan sampai Ibu benar-benar sembuh. Saya sudah meminta tim dokter terbaik untuk terus memantau perkembangan kondisi Ibu setiap hari."
Ia menarik napas panjang.
"Saya tahu mungkin Ibu belum bisa menjawab. Tapi saya percaya suatu hari nanti Ibu akan membuka mata dan melihat semuanya sendiri."
Aura memejamkan mata.
Dadanya dipenuhi rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Selama ini Reno tidak pernah sekalipun mengeluh.
Bahkan ketika dokter menyampaikan bahwa proses pemulihan Ibu Salma bisa berlangsung sangat lama, Reno tetap berkata bahwa berapa pun waktunya, ia akan menunggu.
Tak sekali pun pria itu memperhitungkan biaya.
Tak sekali pun ia menunjukkan wajah lelah.
Baginya, Ibu Salma bukan sekadar ibu mertua.
Wanita itu telah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
Reno menggenggam sisi ranjang dengan erat.
"Ibu..."
Nada suaranya berubah sedikit lebih dalam.
"Terima kasih karena sudah melahirkan dan membesarkan Aura menjadi perempuan sebaik ini."
Aura spontan menoleh.
Kalimat itu membuat air matanya kembali mengalir deras.
"Kalau bukan karena Ibu yang mendidiknya dengan penuh kasih sayang, mungkin saya tidak akan pernah bertemu dengan wanita seistimewa Aura."
Reno tersenyum tipis.
"Saya mencintainya, Bu."
Kalimat sederhana itu terdengar begitu tulus.
"Bukan karena kontrak."
"Bukan karena rasa iba."
"Melainkan karena dia adalah perempuan yang membuat hidup saya jauh lebih berarti."
Aura menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Ia tak mampu lagi membendung tangis.
Selama ini Reno memang sering menunjukkan perhatian melalui tindakan, tetapi jarang mengungkapkan isi hatinya secara langsung.
Hari ini, di hadapan Ibu Salma yang masih terlelap, Reno mengucapkan semuanya tanpa sedikit pun keraguan.
"Saya berjanji akan menjaga Aura seumur hidup saya."
"Saya akan menjadi tempatnya bersandar ketika ia lelah."
"Saya akan membuatnya tersenyum setiap hari."
"Dan saya akan memastikan tidak ada lagi air mata karena kesulitan hidup yang harus ia rasakan."
Aura berdiri perlahan.
Tanpa berkata apa-apa, ia memeluk lengan Reno erat-erat.
Tangisnya pecah di bahu sang suami.
"Terima kasih..." bisiknya lirih.
Reno mengusap pucuk kepala Aura yang tertutup hijab dengan penuh kasih.
"Untuk apa?"
"Karena sudah menepati semua janji yang dulu bahkan tidak berani aku impikan."
Reno menggeleng pelan.
"Aku belum menepati semuanya."
Aura mendongak bingung.
"Aku masih punya satu janji lagi."
"Apa itu?"
Reno tersenyum hangat.
"Membawa Ibu pulang dalam keadaan sehat."
Hening kembali memenuhi ruangan.
Namun kali ini keheningan itu terasa jauh lebih damai.
Aura menggenggam tangan ibunya dengan kedua tangannya.
"Ibu... dengar, ya."
"Aura sekarang benar-benar bahagia."
"Aura punya suami yang selalu melindungi Aura."
"Aura tidak pernah lagi takut menghadapi hari esok."
"Jadi Ibu harus segera bangun."
"Aura ingin kita makan bersama lagi."
"Aura ingin mendengar Ibu memarahi Aura karena terlalu sibuk bekerja."
"Aura ingin memeluk Ibu tanpa harus melihat semua alat ini."
Tangisnya kembali pecah.
Reno ikut menggenggam tangan Ibu Salma dari sisi yang lain.
"Kami akan menunggu, Bu."
"Berapa lama pun."
"Tolong berjuang bersama kami."
Pada saat itulah sesuatu yang sangat kecil terjadi.
Jari telunjuk Ibu Salma bergerak pelan.
Sangat pelan.
Begitu pelan hingga hampir tak terlihat.
Aura membeku.
Matanya membelalak.
"M-Mass......"
"Aku... aku tidak salah lihat, kan?"
Reno segera menatap tangan ibu mertuanya.
Beberapa detik kemudian, jemari wanita itu kembali bergerak tipis, seolah berusaha membalas genggaman tangan putrinya.
Monitor jantung tetap berbunyi stabil, tetapi harapan yang sempat redup kini kembali menyala.
Air mata bahagia memenuhi mata Aura.
"Ibu..."
"Ibu dengar suara kami, ya?"
Reno segera menekan tombol pemanggil perawat di samping ranjang.
Tak lama kemudian, dokter dan beberapa perawat berlari memasuki ruangan untuk melakukan pemeriksaan.
Aura mundur beberapa langkah sambil menggenggam tangan Reno erat.
Jantungnya berdegup begitu cepat.
Entah itu hanya refleks tubuh atau tanda awal kesadaran, tetapi bagi Aura, gerakan kecil itu sudah cukup menjadi secercah cahaya setelah sekian lama hidup dalam penantian.
Reno menatap istrinya dengan senyum penuh keyakinan.
Ia menggenggam tangan Aura semakin erat.
"Percayalah," bisiknya lembut.
"Janji kita untuk menyambut Ibu pulang... akan segera terwujud."
Di tengah ruangan yang dipenuhi aroma antiseptik dan suara langkah para tenaga medis, secercah harapan akhirnya kembali tumbuh. Bagi Reno dan Aura, cinta bukan lagi sekadar kata-kata yang terucap di altar pernikahan atau tertulis dalam lembar kontrak yang telah lama kehilangan maknanya. Cinta adalah kesetiaan untuk tetap bertahan, saling menguatkan, dan tidak pernah berhenti berharap, bahkan ketika dunia terasa begitu sunyi.
Dan malam itu, di sisi peraduan seorang ibu yang masih berjuang melawan batas antara sadar dan tidur panjangnya, lahirlah sebuah janji yang akan mereka pegang seumur hidup bahwa keluarga ini tidak akan pernah lagi berjalan sendiri.