Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu sebuah keajaiban
Malam berganti menjadi dini hari.Namun, lorong ruang ICU masih dipenuhi keluarga Sabiru.Tidak ada yang benar-benar pulang.
Sean hanya sempat membeli beberapa botol air mineral, tetapi tidak ada yang menyentuhnya.Kakek Sabiru duduk dengan tasbih yang tak pernah berhenti berputar di jemarinya.
Arsen berdiri di depan jendela rumah sakit, memandangi hujan yang masih turun.
Sedangkan Ages masih berada di sisi ranjang Kalandra.Ia menggenggam tangan putranya dengan erat, seolah takut melepaskannya walau hanya sedetik.
"Kala..." .Suaranya serak. "Papa di sini."
Ruangan tetap sunyi.Yang terdengar hanya bunyi alat pemantau detak jantung.Ages mengusap pelan rambut putranya yang masih terlihat di sela-sela perban.
"Kalau kamu marah...marah lah.Kalau kamu benci papa...papa juga terima."
Air mata kembali mengalir. "Tapi jangan tinggalin papa."
Entah sudah berapa kali Ages terus membisikan kalimat-kalimat penyesalan dirinya.Walaupun tak ada respon namun Ages tak pernah menyerah.
Ages Sabiru,duda kaya yang biasanya selalu berpenampilan rapi dan wangi.Kini terlihat memprihatinkan,wajahnya terlihat kusam dengan mata yang bengkak karena terlalu lama menangis.
Kemeja yang biasanya rapi,kini hanya tinggal kaos putih oblong yang pas di badan karena kemejanya baru saja ia buka.Awalnya ia enggal untuk beranjak,namun bujukan sang Ayah yang membuatnya bersedia meninggalkan sang anak walaupun hanya beberapa menit saja.
Bukan hanya Ages,bahkan Sean pun tak ingin beranjak pergi.Ia masih setia menunggu sang adik untuk membuka matanya.Sean terlihat begitu terpukul,bukan hanya Ages...namun dirinya juga sama merasa bersalah.
Rasa bersalahnya begitu besar,namun beruntung Ages dan Arsen menasehati Sean agar tidak menyalahkan diri terus.
Pagi mulai menyingsing.Dokter kembali datang memeriksa kondisi Kalandra.
Ages segera berdiri."Dok..."
Dokter melihat hasil pemeriksaan beberapa saat. "Kondisinya masih kritis."
Jantung Ages kembali berdegup kencang.
"Tetapi untuk sementara tekanan darahnya mulai lebih stabil."
Semua orang mengembuskan napas lega. "Itu berarti membaik, Dok?" Tanya Ages memastikan.
Dokter menggeleng pelan. "Kami belum bisa memastikan,karena benturan di kepalanya cukup berat.Empat puluh delapan jam ke depan akan menjadi masa yang sangat penting."
Ages mengangguk pelan. "Baik, Dok."
"Tolong beri penanganan yang ter aik untuk cucu saya.Berapapun biayanya saya akan bayar." Sela Kakek Sabiru.
"Kami pastikan semua pelayanan kami yang terbaik,hanya saja kami tidak bisa menjamin pasien akan sadar cepat karena seperti yang sudah saya jelaskan tadi,kecelakaan yang terjadi pada pasien begitu berat.Tapi saya yakin pasien anak yang kuat.Buktinya pasien masih mau bertahan hingga saat ini."
Kakek Sabiru mengangguk faham,ia ingin cucunya segera sabar maka dari itu ia meminta pelayanan vvip dengan dokter-dokter ahli untuk menangani sang cucu.
Arsen mendekat,ia menatap sekilas ke arah Kalandra. "Tolong pastikan hanya dokter dan perawat pilihan yang boleh masuk ke ruangan ini." Arsen menatap tegas sang dokter membuat dokter sedikit takut.
"Sesuai data yang anda berikan tadi siang.Selain dari itu jangan pernah memperbolehkan seseorang untuk masuk ke ruangan ini tanpa izin dari kami.
Dokter tersebut mengangguk paham,tidak aneh jika keluarga pasien meminta hal tersebut karena ia tau siapa mereka.Para pengusaha sukses yang perusahaannya terkenal dan besar.
Menjelang siang,beberapa teman sekolah Kalandra datang ke rumah sakit.
Raka,Jevan dan Kiano datang menjenguk.Mereka membawa buket bunga kecil dan sebuah kantong berisi kartu ucapan dari teman-teman sekelas.
Saat melihat Kalandra dari balik kaca ICU, ketiganya langsung terdiam.
"Itu... Kala?". Suara Jevan bergetar.
Raka hanya mengangguk pelan.
Remaja yang biasanya paling berisik di sekolah itu kini hanya bisa terbaring tanpa bergerak.
Jevan mengusap matanya. "Dia kemarin masih latihan basket sama kita..." .Tidak ada yang mampu melanjutkan kalimatnya.
Sean menghampiri mereka. "Terima kasih udah datang."
Raka menyerahkan kartu ucapan itu. "Tolong kasih ke Kala kalau dia sudah bangun."
Sean menerimanya dengan mata berkaca-kaca. "Pasti."
"Se,kabari kita terus ya." Ucap Kiano. "Gue usahakan tiap hari kesini."
Sean mengangguk kecil. "Kalau pada sibuk gak apa-apa ko,yang penting kalian terus do'a in adek gue biar cepat buka mata."
"Gue harap lo secepatnya buka mata,Kal.Hidup gue kerasa anyep kalo lo kaya gini terus." Raka kembali mengusap matanya yang semakin berair.
Jevan mengangguk setuju. "Adek-adek kelas yang naksir sama lo langsung pada nangis pas denger kabar tentang lo.Cepet bangun Kal,gue gak apa-apa kalau kalah ganteng dan terkenal dari lo." ucapnya sambil tertawa sumbang.
.
.
Waktu mulai beranjak sore namun Ages masih belum bergeser dari kursinya.
Seorang perawat datang membawa secangkir teh hangat. "Pak, diminum dulu."
Ages menggeleng. "Saya tidak haus."
"Kalau Bapak terus seperti ini, nanti Bapak juga sakit."
Ages tersenyum tipis. "Tidak apa-apa."
Perawat itu menghela napas sebelum pergi.
Arsen yang melihat semuanya akhirnya mendekat. "Minum!."
Ages tidak merespon.
"Gue bilang minum." Paksa Arsen membuat Ages perlahan menoleh.Arsen menarik kursi dan duduk di sampingnya.Beberapa saat, keduanya hanya diam.
"Gue marah sama Lo."
Ages menundukkan kepala. "Gue tahu."
"Marah banget."
"Iya.Gue tahu."
"Tapi..." Arsen menghela napas panjang. "...sekarang bukan waktunya saling menyalahkan."
Ages menatap kakaknya.
"Yang paling penting sekarang..." Arsen menoleh ke arah ruang ICU. "...Kala harus bangun."
Ages kembali menangis di hadapan kakaknya.
"Gue takut, Bang." Suara Ages benar-benar hancur. "Gue takut kehilangan dia."
Arsen memegang bahu adiknya."Makanya..kalau Allah masih memberi kesempatan jangan pernah di sia-siakan lagi."
Ages mengangguk sambil menangis. "Gue janji."
Keduanya nampak saling mencurahkan bagaimana persaannya melihat Kalandra sekarang.
Hingga malam kembali tiba.Rumah sakit mulai lebih sepi.Ages kembali duduk di sisi ranjang Kalandra.Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.
Kotak itu berisi jam tangan yang seharusnya diberikan sebagai hadiah ulang tahun.Perlahan, Ages meletakkan kotak itu di atas meja kecil di samping ranjang. "Ini hadiah ulang tahun adek."
Senyumnya terasa pahit. "Maaf...harusnya papa kasihnya tepat waktu."
Ia menggenggam tangan Kalandra sekali lagi. "Kalau kamu bangun...Kita enggak usah makan di restoran."
"Kita pulang....papa yang masak.Kita makan di rumah,sesederhana apa pun.Asal kamu ada."
Air mata kembali menetes,dadanya kembali terasa sesak.Di saat yang sama jari telunjuk Kalandra bergerak sangat pelan.Hampir tak terlihat.Monitor jantung menunjukkan perubahan kecil.
Ages yang sedang menunduk tidak menyadarinya.
Namun, seorang perawat yang baru masuk ke ruangan langsung menghentikan langkahnya.
"Dokter!" Perawat itu segera menekan tombol panggil. "Dokter, tolong ke ICU sekarang!"
Ages langsung berdiri dengan wajah panik. "Ada apa?"
Perawat tersenyum tipis sambil tetap memperhatikan monitor."Sepertinya...putra Bapak mulai memberikan respons."
Ages membeku.Harapan yang hampir padam kini kembali menyala, meski hanya setitik.
Ia menggenggam tangan Kalandra lebih erat."Kala...papa di sini.Adek dengar suara papa, kan?"
Di balik kelopak mata yang masih tertutup jemari Kalandra kembali bergerak sangat pelan.Namun cukup untuk membuat seluruh keluarga kembali percaya bahwa keajaiban masih mungkin terjadi.
.......
.......
.......
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋