NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Aku mungkin bisa saja menembak Dimitri Volkov dari jarak 500 meter dengan senapan rundukku, menyelesaikannya seperti tugas pembersihan biasa. Aku memilih untuk menghabisinya langsung untuk memastikan apakah dia seperti yang digambarkan oleh Marko yang pantas mati ataukah sebaliknya dia sebenarnya malaikat, karena data yang kulihat di monitor membuatku tak masuk akal. Iblis tidak akan menyelamatkan anak yatim. Iblis tidak akan memberikan rumah untuk wanita dan anak-anak untuk pulang. Aku harus masuk ke sana, menempelkan pistol ke dahinya, dan melihat apakah matanya mencerminkan monster seperti yang dideskripsikan Marko, atau justru mencerminkan diriku sendiri yang sedang mencari jalan pulang, mencari kedamaian untuk berkumpul dengan orang terkasih.

Akupun juga perlu untuk membuktikan bahwa suara yang kudengar adalah Dimitri, bukan anak buahnya atau seseorang yang berkamuflase menjadi dirinya.

Lantai 22 Menara Volkov Logistics adalah akuarium kaca yang menggantung di atas kerasnya salju Moskow. Di luar, angin Siberia menderu, menghantam kaca temper tebal dengan kekuatan yang bisa meremukkan tulang, namun di dalam ruangan itu, keheningan terasa begitu padat hingga detak jarum jam mekanik di dinding terdengar seperti dentuman martir.

Aku menyusup bukan seperti pencuri, melainkan seperti predator puncak yang melintasi wilayah kekuasaan lawan.

Aku terus bergerak dalam bayang-bayang koridor servis. Aku mengenakan setelan taktis matte-black yang menyerap cahaya. Dua penjaga elit dari unit Spetsnaz yang berjaga di depan lift pribadi tidak pernah menyadari kehadiranku. Akupun melumpuhkan mereka dalam hitungan detik dengan serangan saraf di pangkal tengkorak. Cepat, tanpa suara, dan mematikan.

Aku tak perlu menggunakan peledak untuk membuka pintu ganda ruang kerja Dimitri. Jari-jariku menari indah di atas panel enkripsi, memasukkan bypass kode yang telah kudekripsi selama tiga malam tanpa tidur.

Klik. Pintu itu terbuka perlahan. Aku melangkah masuk, Glock-17 di tanganku terangkat dengan presisi robotik, moncongnya membidik tepat ke arah sandaran kursi tinggi yang membelakangi pintu.

Ruangan itu luas, berlantai marmer hitam yang memantulkan kerlip lampu kota Moskow di bawah sana. Aroma tembakau Hoyo de Monterrey yang mahal dan wiski tua memenuhi udara.

"Tiga detik terlalu lambat, Sam," suara Dimitri bergema membuatku, agak, terkejut. Suaranya serat, serak, namun memiliki otoritas yang mutlak. "Aku mengharapkan lebih dari singa muda yang dikirim Marko dari Jakarta."

Dimitri memutar kursi kulitnya perlahan. Ia tidak tampak terkejut. Pria tua itu mengenakan setelan wol abu-abu yang dijahit sempurna. Rambut putihnyanya disisir rapi, dan matanya yang berwarna abu-abu baja menatap lurus ke arah moncong pistol semi otomatisku tanpa berkedip. Tidak ada rasa takut, hanya ada semacam kelelahan yang agung yang nampak di wajahnya.

Aku tidak menurunkan senjataku. Otot lengankupun tidak pernah bergetar sedikit pun. "Kau sudah menungguku." kataku

"Aku sudah menunggumu sejak kau menginjakkan kaki di Sheremetyevo," Dimitri menyesap wiskinya, gerakan tangannya tenang dan stabil. "Kau punya bakat, Sam. Kau mematikan sensor panas dan gerakku dengan rapi. Tapi kau lupa satu hal, gedung ini bernapas bersamaku. Aku merasakan setiap getaran langkahmu di lantai ini."

Aku maju tiga langkah, memperpendek jarak. "Kalau begitu, kau tahu kenapa aku di sini. Marko ingin kepalamu, dan dia ingin Buku Hitam itu."

Dimitri tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan batu nisan. Ia meletakkan gelas kristalnya di meja mahoni dan berdiri. Sosoknya tinggi besar, meskipun usianya sudah senja, ia masih memancarkan aura seorang kolonel yang bisa menggerakkan pasukan hanya dengan satu anggukan.

"Marko," Dimitri meludah kecil saat menyebut nama itu. "Dia mengirimmu karena dia terlalu pengecut untuk datang sendiri. Dia mengirim singa muda yang kuat untuk membunuh serigala tua yang sudah tahu cara mencium bau pengkhianatan dari jarak ribuan mil."

Dimitri berjalan perlahan menuju jendela besar, membelakangiku. Ini adalah penghinaan tertinggi bagi seorang pembunuh, memberikan punggungnya, namun Dimitri melakukannya dengan keagungan yang membuatku ragu untuk menekan pelatuk.

"Tembaklah, jika kau pikir kematianku akan membebaskanmu," ujar Dimitri tanpa menoleh.

"Tapi kau tahu, Sam, kita berdua hanyalah bidak dalam permainan Marko. Bedanya, aku sudah selesai bermain, sementara kau... kau baru saja menyadari bahwa kau sedang berlari menuju jurang."

Aku mengeratkan pegangan pistolku. "Aku tidak di sini untuk mendengarkan khotbahmu, serigala tua. Berikan kuncinya, atau aku selesaikan ini sekarang."

Dimitri berbalik, wajahnya kini diterangi cahaya lampu kota yang dingin. "Kau punya kekuatan, Sam. Aku melihatnya di matamu. Kekuatan seorang pria yang bisa menghancurkan apa saja demi wanita yang dicintainya. Ghea, bukan?"

Mendengar nama itu, rahangku mengeras. "Jangan pernah sebut namanya dengan mulut kotormu." aku menggertak.

"Mulutku memang kotor, tapi tanganku sedang mencoba melakukan sesuatu yang bersih,"

Dimitri mengeluarkan sebuah flash drive berbahan titanium dengan enkripsi biometrik ganda.

"Ini yang dicari Marko, Sam. Seluruh kerajaan finansialnya, rute penyelundupannya di tiga benua, dan daftar pejabat yang ia suap," Dimitri mengulurkan benda itu. Logam dinginnya berkilat tertimpa cahaya lampu kota.

"Tapi aku sudah menyuntikkan virus worm di dalamnya. Begitu Marko memasukkan kunci dekripsi terakhir, seluruh data ini akan terkirim ke server Interpol, DEA, dan BIN di Jakarta secara otomatis. Ini bukan sekadar buku, ini adalah pemicu bom waktu."

Aku mengambil benda kecil itu. Terasa berat, bukan karena massanya, tapi karena beban ribuan nyawa yang ada di dalamnya.

Dimitri berjalan ke arah dinding perpustakaan pribadinya. Ia menarik sebuah buku tua bersampul kulit, dan rak buku besar itu bergeser tanpa suara, menyingkap sebuah lift hidrolik kecil yang tidak ada dalam cetak biru gedung manapun.

"Lift ini akan membawamu turun melewati jalur utilitas kabel bawah tanah, tembus ke stasiun Metro Vystavochnaya yang sudah ditutup untuk pemeliharaan," kata Dimitri tegas.

"Di sana, seorang pria berbaju oranye akan menyerahkan tas berisi paspor diplomatik atas nama Nikolai Sokolov. Jangan menoleh ke belakang. Begitu kau keluar dari stasiun, sebuah taksi diplomatik akan membawamu langsung ke apron bandara, bukan ke terminal umum."

Aku menatap lorong gelap di balik rak buku itu. "Kenapa kau melakukan semua ini untukku?"

Dimitri tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung rasa hormat antara dua pemangsa. "Karena kau mengingatkanku pada diriku sendiri sebelum tanganku terlalu kotor oleh dosa. Pergilah, Singa Muda. Selamatkan wanitamu di Indonesia. Itu adalah medan perangmu yang sesungguhnya."

"Lalu bagaimana denganmu?" tanyaku saat kakiku sudah satu langkah di dalam lift.

Dimitri mengeluarkan sebuah alat pemicu kecil dari sakunya. "Aku sudah menyiapkan mayat pengganti di ruang pendingin bawah meja ini, seorang narapidana dengan struktur gigi yang sudah kumodifikasi agar mirip denganku. Begitu kau turun, aku akan meledakkan lantai ini dengan Termit. Api akan menghanguskan segalanya hingga DNApun sulit dikenali. Marko akan melihat rekaman satelit dan mengira kita berdua tewas terbakar."

Dimitri mengenakan topi kain tebal dan kacamata pekerja, tiba-tiba ia terlihat seperti kakek Rusia biasa yang tak kasat mata.

"Aku akan keluar lewat jalur pembuangan uap panas di sisi utara gedung. Aku punya jalur aman menuju Helsinki lewat jalur darat. Di sana, aku akan mengawasi pergerakan Marko dari bayangan."

Aku mendengar suara dentuman keras terdengar dari pintu utama ruang kerja. Tim FSB mulai menggunakan alat pendobrak hidrolik.

"Pergi sekarang!" perintah Dimitri.

Aku mengangguk kecil, sebuah tanda hormat terakhir. "Sampai jumpa di sisi lain, Kolonel."

"Jangan biarkan dia menang, Sam." balas Dimitri.

Pintu lift menutup. Aku merasakan sensasi turun yang cepat ke perut bumi Moskow, sementara di atas sana, sebuah ledakan hebat mengguncang pondasi menara. Api membumbung, menciptakan ilusi kematian yang sempurna bagi dunia.

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!