Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: KETEGUHAN HATI MELEBIHI KEKERASAN BATU
Gada raksasa itu menghantam tanah dengan kekuatan dahsyat! DUNG!!! Suaranya menggelegar seolah langit dan bumi bertabrakan. Tanah bergetar hebat, retakan memanjang ke segala arah, dan debu tebal meledak naik setinggi puluhan meter, menutupi seluruh pandangan.
Namun, Raga tidak hancur rata dengan tanah. Sekian detik sebelum gada itu menyentuh, tubuhnya melesat menyamping secepat kilat, meninggalkan bayangan samar di udara. Ia mendarat tegak sepuluh meter dari titik benturan, tidak goyah sedikit pun, matanya tetap tajam menatap Si Kepala Tanah yang baru saja mengamuk.
"Keras memang... tapi belum cukup tepat!" seru Raga lantang, suaranya menembus gemuruh debu dan angin.
Si Kepala Tanah menggeram marah. Ia tidak menyangka makhluk sekecil manusia bisa bergerak secepat itu, bahkan menghindari serangan yang seharusnya menutupi seluruh area. Ia mengayunkan gadanya lagi, kali ini secara menyamping, menyapu segala sesuatu yang ada di jalurnya dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi.
"JANGAN LARI! BERDIRILAH DAN HADAPI KEKUATANKU!" aumnya.
Kanjeng Raden melompat maju, tubuhnya membesar seketika menjadi raksasa setinggi tiga meter, otot-ototnya menonjol keras, kulitnya bersinar keemasan. Ia tidak mundur, malah menabrakkan dirinya tepat ke arah gagang gada itu.
BEERAKKK!!
Benturan hebat terjadi! Udara berdesis keras, debu beterbangan makin gila. Kanjeng Raden terdorong mundur beberapa langkah, kakinya menggesek tanah sampai menciptakan alur dalam, tapi ia tetap berdiri tegak. Sedangkan Si Kepala Tanah terkejut luar biasa — senjatanya terpental sedikit ke atas, dan tangannya yang terbuat dari batu kokoh itu kini bergetar hebat, terasa nyeri dan kaku.
"APA?!" seru Si Kepala Tanah tak percaya. "Kau... kau terbuat dari apa?! Bagaimana bisa kau menahan kekuatanku?!"
Kanjeng Raden tersenyum miring, matanya berkilat berani. "Kau pikir cuma batumu yang keras? Ingat, tubuhku ditempa dari api dan emas murni! Panas dan keras, tapi juga lentur dan kokoh! Kau hanya batu mati... aku adalah hidup yang penuh kekuatan!"
Sementara itu, pasukan batu ratusan orang itu sudah mendekat, mengelilingi mereka dengan rapat. Senjata-senjata batu diayunkan serentak, menciptakan hantaman bertubi-tubi yang berirama dan mematikan.
Nyi Blorong bergerak lincah di antara kepungan itu. Tubuh bagian bawahnya berubah menjadi ekor ular raksasa yang panjang dan berotot kuat, berputar dan melilit secepat kilat. Ia melilit kaki-kaki para prajurit batu itu, mengikat mereka erat, lalu melempar mereka satu per satu ke arah kawan-kawannya sendiri.
Namun masalahnya... makhluk-makhluk ini tidak merasakan sakit. Tidak lelah. Tidak takut. Sekali dilempar jatuh, mereka bangkit kembali seketika, berjalan lagi dengan tatapan kosong dan niat membunuh yang sama persis. Kulit mereka terlalu keras, tusukan atau gigitan Nyi Blorong hanya meninggalkan goresan tipis saja, tidak melukai sedikit pun.
"Raga! Mereka tidak bisa dikalahkan dengan cara biasa!" teriak Nyi Blorong sambil menghindari hantaman gada kecil. "Mereka seperti boneka yang dikendalikan dari jauh! Selama inti energi di tempat ini masih berfungsi, mereka akan terus bangkit lagi dan lagi!"
Raga menghindari serangan dua prajurit batu sekaligus, lalu melompat naik ke atas bahu salah satu dari mereka, lalu melompat lagi ke atas batu besar yang tinggi agar bisa melihat situasi keseluruhan.
Ia melihat ke arah Gerbang Segel Tanah di belakang sana. Benar kata Nyi Blorong. Dari balik gerbang raksasa itu, terlihat aliran cahaya ungu pekat yang berputar kencang, menyedot energi dari seluruh dataran tinggi ini, lalu menyalurkannya ke arah tubuh Si Kepala Tanah. Semakin banyak energi yang disedot, semakin keras dan kuat tubuh para pasukan batu itu.
"Jadi sumber kekuatan mereka ada di sana..." gumam Raga dalam hati. Ia mengingat kembali nasihat Raja Api Purba, dan juga apa yang ia pelajari saat mengalahkan bayangan dirinya sendiri.
Di sini, kekuatan fisik mutlak dimiliki musuh. Memaksa bertarung dengan tenaga besar hanya akan membuat mereka makin kuat, karena tanah ini sendiri akan mendukung kekerasan. Cara mengalahkan batu... bukan dengan memukulnya lebih keras sampai hancur, tapi dengan memahami sifat aslinya.
Batu itu keras, kokoh, diam... tapi batu itu punya retakan. Batu itu punya sisi yang rapuh jika diketuk di titik yang tepat. Dan batu itu... pada asalnya hanyalah tanah dan debu yang dipadatkan.
Raga menutup matanya sejenak, mengabaikan serangan-serangan yang melayang di dekatnya. Ia menurunkan seluruh tenaga dalamnya, berhenti memancarkan api, berhenti memancarkan kekuatan serang. Ia menempelkan telapak kakinya erat-erat ke tanah, merasakan setiap getaran, setiap aliran energi, setiap detak jantung bumi di bawah sana.
Ia merasakan beratnya. Ia merasakan kaku dan kerasnya. Tapi ia juga merasakan sesuatu yang lain: kesepian. Kekosongan. Dan rasa tidak percaya diri yang tersembunyi di balik kekerasan itu.
Si Kepala Tanah melihat Raga diam saja di atas batu, menganggapnya sedang kehabisan tenaga atau menyerah. Ia tertawa keras, lalu melompat naik ke atas batu itu juga, gadanya diangkat tinggi siap membelah Raga jadi dua.
"Sudah menyerah? Bagus! Akhirnya kau sadar bahwa di sini, kau tidak ada artinya sama sekali! Matilah kau, pengganggu rencana tuanku!"
Saat gada itu hampir menyentuh kepala Raga... Raga tiba-tiba membuka matanya. Matanya tidak lagi menyala merah atau emas, tapi berubah menjadi cokelat tua yang dalam dan tenang, sama persis warna tanah subur.
Ia tidak menghindar. Tidak menangkis. Ia hanya mengangkat satu tangan perlahan, lalu menahan ujung gada raksasa itu dengan satu telapak tangan kosong saja.
"Hah?!" Si Kepala Tanah terbelalak kaget. Ia merasakan kekuatan yang luar biasa besar mengalir dari tangan kecil itu. Bukan kekuatan yang melawan, tapi kekuatan yang menerima dan menyeimbangkan.
Gada yang seharusnya menghancurkan segalanya itu kini terasa seperti jatuh ke dalam tanah lunak yang menyerap seluruh tenaga hantaman itu, sampai tidak ada lagi kekuatan yang tersisa. Gada itu berhenti diam, tertahan di udara, tidak bisa bergerak turun sedikit pun meski Si Kepala Tanah sudah mengerahkan seluruh tenaganya.
"Kau bilang kau paling keras? Kau bilang kau paling kokoh?" ucap Raga pelan namun tegas, suaranya kini bergetar meresapi seluruh dataran tinggi. "Kau salah besar, Kawan. Batu itu keras, tapi tanah itu lebih hebat lagi. Tanah menerima segala sesuatu. Tanah menopang segala sesuatu. Tanah tidak melawan, tapi tanah tidak pernah kalah. Batu bisa hancur, bisa terkikis, bisa pecah... tapi tanah akan tetap ada, abadi selamanya."
Raga menekan telapak tangannya sedikit lebih kuat. Sekarang, justru Si Kepala Tanah yang merasakan kekuatan balik yang mendesak masuk ke dalam tubuhnya, merambat dari gagang senjatanya ke seluruh persendian batunya. Ia merasakan bagian-bagian tubuhnya yang tadinya kokoh, kini mulai merasakan getaran halus, merasakan bagian-bagian yang tidak rapat, merasakan retakan-retakan kecil yang selama ini ia sembunyikan dengan kekuatan.
"Apa... apa yang kau lakukan?!" seru Si Kepala Tanah panik, untuk pertama kalinya wajah kerasnya terlihat ketakutan. "Jangan... jangan masuk ke dalam diriku!"