Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
Hana merogoh tas dior miliknya. Mencari pulpen yang akan digunakannya untuk mengoreksi naskah. Hari ini memang ada jadwal reading. Namun selain pulpen, Hana lalu menemukan beberapa kertas yang dilipat rapi di dalam tas-nya.
"Apaan nih?" gumam Hana seraya menatap kertas yang dilipat berbentuk love.
Kedua mata Hana membulat.
Dari fans? Tapi seingatnya, kemarin yang lalu tidak ada fans yang ditemuinya. Lagipula, semalam sehabis latihan tenis, Hana pergi makan malam bersama Samanta dan enam sahabat Reiga di Plaza Indonesia. Lantas ini punya siapa? Kok bisa punya akses masukin barang ke dalam tas-nya. Penasaran, Hana merogoh tas-nya lagi. Bukan hanya satu. Kedua mata Hana membelalak. Dengan buru-buru, Hana mengeluarkan satu per satu kertas berbentuk love dari dalam tas-nya.
"Satu ... Dua ... Tiga..." Hana menaruhnya di atas meja. Tepat di samping tas-nya.
"Empat ... Lima... En... Wait! Ini kok jumlahnya sama kayak... sahabatnya Reiga?"
gumam Hana mulai curiga kalau semua kertas ini berasal dari enam sahabat Reiga.
Hana membayar rasa penasarannya dengan mulai membuka salah satu amplop. Ada tulisan didalamnya. Oh my God! pekiknya refleks dalam hati.
Dear, Hana
Ini memang pertama kalinya kita ketemu sama lo, Han. But somehow i feel like you are his end game. No offense ya, Han. Tapi sebisa mungkin gue harap lo bisa menjaga kepercayaan Reiga. Kasihan tuh anak. Udah sering disakitin. Well, kita nggak bakal tinggal diam sih kalo lu sakitin dia. Dan ini bukan ancaman ('▽')
Rama
Kertas ini memang berasal dari mereka.
"Bukan ancaman," gumam Hana sambil tersenyum tipis selesai membacanya. Padahal dari nada tulisannya, Rama jelas serius. Kesan pertama yang ditangkap Hana dari Rama pun sama. Pria berpenampilan dengan brewok itu memang memiliki vibe yang serius.
Hana jadi ingin tahu isi kertas yang lain. Ia mengambil satu lalu dibukanya.
Han, titip Reiga ya.
He deserves a genuine love.
Dan gue percaya lo bisa kasih itu untuk Reiga.
Jangan sakitin dia, Please.
Niyo
Tak sabar, Hana kembali meraih yang lain. Kali ini dari Brandon.
Hi, Han.
Gue percaya lo orang baik.
Kita titip Reiga. :)
Brandon
Hana kemudian membaca kertas milik Syein.
Gue nggak pernah menyangka kalau Reiga bisa jatuh cinta lagi. Kami berenam aja hampir frustasi liat dia sengaja jomblo sejak putus dari mantan terakhirnya, Han. Gue sebut ya namanya, Cyila, gue yakin lo pasti udah tahu. Sampai berita dan foto-foto kalian tersebar. Agak kaget juga sih. Karena Reiga gak bilang. Tapi kita semua bahagia. Akhirnya si freezer 17 pintu itu menemukan kebahagiaannya sendiri. Kita nggak minta banyak, Han. Nggak macam-macam juga. Kita cuma berharap lo selalu jaga kepercayaan Reiga. Tulus dan bersikap ара adanya lo aja. Jangan pernah sekalipun bohongin dia. Reiga has a trigger warning with lie. Titip Reiga ya, Han. Gue yakin lo adalah orangnya.
Syein
Begitu panjang isi kertas milik Syein. Yang meskipun bahasanya santai. Namun Hana bisa merasakan keseriusan dari balik kalimat bersahabat itu Syein. Kepercayaan yang Syein titipkan pada Hana. Rasa sayang yang Syein punya untuk Reiga. Begitu juga Niyo, Rama, dan Brandon. Hana merasakan beban tersendiri. Hana meraih kertas selanjutnya. Ia buka dan itu dari Tristan.
Dear, Hana.
Tidak pernah menyangka kalau Reiga bisa pacaran sama aktris besar hahaha.
But you know what? Gue percaya lo orang yang tulus, Han.
Tolong sayangi Reiga semaksimal yang lo bisa.
Jangan mengecewakan dia.
Titip Reiga ya, Han.
Tristan
And the last one, yang terakhir, dari Zidane.
Begitu melihat wajah Zidane di lapangan tenis semalam. Hana langsung ingat bahwa Zidane adalah si manusia goa yang dulu sangat terkenal di antara PPI yang ada di Amerika. Selain karena hobi kikuk dan jokes receh yang menjurus nggak lucu, Zidane sangat terkenal karena punya teman-teman maha tampan. Jujur, Hana yang waktu itu masih jadi Hana yang fokus belajar, jarang ikut party, dan hobi menghabiskan waktu di perpustakaan tidak terlalu ngeh dengan genk silly weirdo milik Zidane yang sungguh tersohor itu. Tidak pernah menyangka kalau dalam genk tersebut ada seorang seperti Reiga Reishard.
Takdir memang aneh dan dunia sungguh kecil.
Mendapati fakta bahwa selama ini circle miliknya dan Reiga memang saling bersinggungan. Hana merasa ini lucu sekali. Apa Tuhan sedang menyentilnya karena kala ayah-nya tiada, Hana berseloroh Tuhan hanya suka memberinya kejutan yang menyedihkan? Hana merasa tersindir dan langsung istigfhar sendiri.
Dear, Hana.
Sampai detik ini gue masih nggak percaya kalau sahabat terbaik rasa saudara yang gue punya, berpacaran sama salah satu artis favorit gue. Sekaligus primadona si paling jenius di angkatan fakultas kedokteran Harvard Medical School, if you still remember it, Han :). Maafin kalau isi surat ini rada panjang ya, Han. Gue emang terlalu sayang sama Reiga. PS: jangan cemburu ya (^3^♪
Gue kenal Reiga dari usia kami 5 tahun. Kami selalu satu sekolah. Dua Papa kami memang sahabat dekat. Jadi ya dari kecil, kita sering menghabiskan waktu bareng-bareng, Han. Tapi kami baru benar-benar dekat saat Nyokap gue meninggal. Gue hancur banget saat itu. Ya apa sih yang diharapkan dari seorang anak berusia 9 tahun? Dengan dua adik pula. Gue merasa sendirian dan sedih banget. Sampai Reiga datang, duduk di samping gue dan langsung merangkul gue. Sampai detik ini, gue masih ingat kalimat dia waktu itu, "Dane, aku temenin ya. Jangan nangis sendirian." Dan sejak itu, Reiga memang nggak pernah meninggalkan gue menangis sendirian. He's always there. Dengan senyum teduh dan hangatnya yang selalu membawa keyakinan bahwa semua bakal baik-baik aja.
Bukan cuma gue sih, tapi itu berlaku pada kita berenam. Kami mulai sahabatan sama Niyo dari SMP, waktu itu Reiga menolong Niyo yang memang paling sering diganggu kakak kelas. Mereka semua dihajar sama Reiga (´~`). Terus kami lanjut ketemu Syein dan Rama karena kami satu SMA. Rama yang keras kepala dan Shein yang terlalu jumawa. Mereka terjebak dalam perkelahian geng motor antar sekolah akibat Syein main cium pacar ketua geng (۰۷۰). Benar-benar emang tuh anak satu! Dan entah bagaimana kami semua jadi ikutan berantem demi belain Syein. Reiga sih yang paling maju, bantuin Rama yang nyaris masuk ICU kalau nggak ada dia. Then we meet Tristan dan Brandon, sesaat lagi pergi buat siapin kuliah di Amerika. Waktu itu Tristan dan Brandon dipersulit buat bikin paspor, urus visa, Eh, Reiga sekali sebut nama belakangnya bisa dengan tuntas menyelesaikan masalah itu.
Intinya, Reiga selalu ada buat kami berenam. Selalu jadi orang pertama yang tolongin kita. Selalu jadi orang yang temenin kita semua menangis. Reiga memang sebaik itu, Han. Selalu. Kadang kita semua menyebut dia si cenayang karena dia selalu punya solusi, beberapa langkah ke depan, dan instingnya yang kuat. Selalu tepat.
Hana berdecak. "Reiga memang bisa baca pikiran, Dane." Jadi Reiga nggak bohong saat dia bilang pada Hana bahwa hanya Hana yang tahu kemampuannya ini.
Sayangnya, ketika kesedihan itu mendatangi Reiga. Kita semua nggak punya kekuatan sebagaimana Reiga. Ya, ada andil Reiga juga sih, dia hobi menyembunyikan kesedihannya, Han. Reiga punya kebiasaan membangun pembatas pada siapapun saat dia merana. Dan itu berlaku juga buat kita. Bukan karena dia nggak sayang, dia cuma nggak terbiasa mengandalkan orang. Gue selalu kagum sama tuh anak. Di tengah latar belakang keluarga yang nggak sempurna. Reiga selalu tampil sebagai juru selamat. Si yang paling sering senyum dan santai.
Saat kita tahu hubungan kalian, kita berenam bahagia sekaligus takut. Bahagia karena akhirnya Reiga percaya sama yang namanya cinta lagi setelah era Cyila. Takut jikalau mungkin lo akan seperti Cyila atau bahkan lebih menghancurkan. Tapi gue percaya lo orang baik, Han. Lo tulus dan bisa dipercaya.
Jangan salah paham sama sikap Rama ya, Han. Dia hanya terlalu trauma lihat kesedihan Reiga di masa lalu. Well, kami semua sih sebenarnya juga gitu. Dan kalau lo perhatiin, sebelum pulang tadi, Rama senyum sama lo. Itu tanda restu dari kita semua, Han. Kita percaya sama lo. Kita yakin lo bukanlah Cyila kedua. Lo adalah Adrianne Hana yang akan jadi tempat pulangnya Reiga. Yang akan memberikan dia bahu untuk bersandar dan tubuh untuk dipeluk saat dia nggak bisa menangani semuanya sendirian. Bagian kosong yang nggak akan pernah bisa kami isi seingin apapun kami.
Kita sayang banget sama Reiga, Han. Jadi saat lo cari masalah sama dia. Berarti lo cari masalah sama kita semua. Saat lo menghancurkan dia, maka lo juga menghancurkan kami. Saat lo kehilangan kepercayaan Reiga, berarti lo juga akan kehilangan kepercayaan kita semua. Saat lo menyakiti dia. Itu sama artinya dengan lo menyakiti kita semua.
Kita semua titip Reiga ya, Han. He deserves to be loved by someone genuine like you. Kalaupun memang nggak bisa. Kalau takdir berkata lain. Tolong kasih dia perpisahan yang baik. Walau mungkin memang nggak ada yang baik dari sebuah perpisahan.
Zidane
Hana tanpa sadar menitikan airmata. Baru kali ini ia begitu tersentuh dan tahu bahwa persahabatan pria bisa seerat dan sehangat ini. "Backing-an kamu banyak banget sih, Rei. Malah semuanya orang berpengaruh. Apa boleh kita berlabel coba-coba? Di saat aku bahkan belum bisa seyakin itu untuk cinta dan sayang kamu melebihi perasaan aku sama Arnold," gumam Hana dalam hati.
Hana lalu mengumpulkan ke enam kertas tersebut dan memotretnya sambil tersenyum. Ia baru ingin memposting-nya di instagram sebelum Arnold menjedanya dengan membuka pintu ruangan reading yang masih lengang ini.
Mereka beradu tatapan. Arnold yang canggung. Hana yang dingin. Pria itu memilih duduk di kursi ujung meja. Berseberangan dan jauh dari Hana. Persis seperti hubungan mereka sekarang.
"Belum ada yang datang?"
"Belum."
"Are we still friend, Han?" tanya Arnold penuh harap.
Hana berdecak. Kalimat tanya barusan dari Arnold menegaskan bahwa ia memang hanya dianggap teman selama ini.
"No," jawab Hana.
Ekspresi Arnold berubah.
"Aku minta maaf."
"You don't need to say that," ujar Hana tanpa menatap balik Arnold.
Arnold menghela napas.
"Aku nggak pernah maksud menggantungkan kamu, Hana."
"But you did that," sahut Hana.
Lalu ia menatap Arnold. Sorot mata kecewa yang menusuk Arnold.
"Secara sadar, kamu membiarkan aku berharap kalau kita bisa. Itu menyakitkan, Nold. Dan kamu masih berharap kita bisa berteman?" tambah Hana.
Arnold diam. Dia sendiri sadar bahwa apa yang dilakukannya pada Hana sangat brengsek.
"Please make this easy, Han," mohon Arnold.
"I did, Nold. Since four years ago," ucap Hana seraya menahan emosi dalam dirinya.
Arnold menghela napas.
"Bukannya ini semua adil? You've got Reiga.
Isn't that enough?" ujar Arnold.
Hana terhenyak mendengarnya.
"Jadi selama ini, kamu melihat aku dengan cara itu, Nold?" ucap Hana tersinggung.
"Bukan itu maksud aku, Han," sergah Arnold sadar telah salah bicara.
Ada gumpalan sesak di hati Hana.
"Sama seperti kamu yang hanya menginginkan Lana. Aku juga maunya cuma kamu," tukas Hana.
"Hana ...."
Hana mendengus.
"Aku harap setelah ini hubungan dan komunikasi kita sebatas profesionialitas," ujar Hana.
"Han? Please," mohon Arnold.
Mereka saling menatap. Arnold tahu, ia cukup kenal Hana. Tatapan yang diberikan Hana padanya sekarang adalah tatapan perpisahan. Dan entah mengapa ia begitu sedih karenanya. Kehilangan Hana. Kehilangan semua perhatian dan kehadiran Hana. Hana yang selalu ada untuk mendukungnya.
"Come on, Han. Kita semua happy. Kamu dapat Reiga, aku dapat Lana. Kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan. Apa lagi?" ujar Arnold bersikukuh ingin berteman dengan Hana.
Hana terdiam. Tadi Arnold bilang apa?
"Kamu dapat Lana. Maksudnya?"
Arnold menghela napas.
"Kemarin aku jadian sama Lana," jawab Arnold jujur.
Hana terhenyak. Hatinya terasa sakit bukan main. Kedua matanya berkaca. Ia berdecak.
"Selamat ya, Nold. Penantian empat tahun kamu sukses dan nggak berakhir menyedihkan kayak aku," dingin Hana.
"Hana, please," Arnold masih memohon.
"Just leave me alone," tukas Hana dingin.
"Hannnnn," ucap Arnold dengan muka memelas.
Hana menatap Arnold tajam.
"Leave me alone!" serunya.
Arnold menghela napas. Menyerah. Ia berdiri dari duduknya. Menatap kearah Hana. Berharap Hana berubah pikiran.
"Sekalipun aku sama Reiga, itu bukan karena kamu. Bukan karena agar Lana berakhir sama kamu," ujar Hana membuat Arnold yang sudah berbalik kembali menoleh.
Mereka bertatapan.
"Tapi karena Reiga adalah laki-laki yang jutaan kali lebih baik memperlakukan aku ketimbang kamu," dingin Hana membuat Arnold terhenyak.
Segaris luka digoreskan Hana dengan kalimat itu.
"Kamu boleh keluar," ucap Hana.
Arnold mendengus, tersenyum masam. Lalu, membuka pintu dan keluar.
*
"Assalamuallaikum, Hana pulang," ujar Hana seraya masuk. Kebiasaannya setiap pulang ke rumah. Hana melepas heels. Membiarkan kakinya bernapas. Lalu berjalan sambil menentengnya. Berhenti sebentar untuk mencium kepala Sara dari belakang. Ibunya itu tengah duduk di sofa sambil menonton TV.
Ditambah Sara sedang menonton BBC. Saluran tv luar negeri. Yang isinya didominasi berita.
Tumben sekali.
"Tumben nontonnya berita?"
Tak menjawab. Sara hanya tersenyum.
"Gimana reading-nya? Eh, udah makan belum?
Ibu masak ayam panggang jawa kesukaan kamu loh, Han," ujar Sara belum melihat raut wajah suram putrinya.
Hana berjalan mengitari sofa lalu duduk di samping kiri Sara.
"Udah makan hati," jawab Hana.
Sara tertawa. Kini ia melihat wajah bete Hana.
"Lana jadian sama Arnold?" tebak Sara.
"Kok ibu bisa tahu?" heran Hana.
"Grup keluarga udah geger, Pakde Devan, Bude Tia, semuanya lagi ngomongin keputusan Lana, Han," jawab Sara.
Hana mengambil sepotong kue di atas meja.
"Pasti geger karena kehilangan kesempatan jadi besannya keluarga Reishard ya? Eyang gimana?" tanya Hana sinis sambil mengunyah.
"Eyang nggak respon," jawab Sara yang tadi mengunjungi rumah mertuanya dan hanya mendapat laporan kalau Eyang Uti mengurung diri di kamar sejak pulang dari makam Denis.
"Ya seenggaknya mereka nggak heboh gosip Hana kan, Bu. Baguslah! Kalau iya, Hana malas datang arisan keluarga bulan ini," ujar Hana seraya memijat pergelangan kaki kanannya.
Sara tersenyum.
"Saking hebatnya Mas Ayang tuh cepat banget take down foto kalian," ujar Sara.
Hana terkekeh.
"Kenapa harus Mas Ayang sih?"
"Cocok sama senyumnya Reiga," jawab Sara asal.
"Idih, ngasal!" celetuk Hana. "Dia tuh harusnya dijuluki Mas Clingy!" tambah Hana.
"Kapan pulangnya?"
"Kayaknya lusa," jawab Hana lalu menemukan Ibunya memasang wajah mengesalkan untuk meledeknya.
lagi. "Kenapa?" tanya Hana mengambil satu biskuit
"Sudah sampai tahap tahu jadwal ya. Cepat juga nih," ujar Sara.
"Reiga sendiri yang bilang," timpal Hana.
Hana melirik remote di atas meja. Siapa tahu dengan mengganti chanel TV bisa mengganti topik obrolan dengan Ibunya. Tidak lagi membicarakan Reiga.
"Hana ganti ya?"
"Enggak ah! Ibu tuh sengaja nonton BBC karena mau nonton calon mantu pidato," ujar Sara cengengesan.
Senyum itu menular pada Hana.
"Calon mantu? Mas Ayang?" tebak Hana.
kiri. Sara mengangguk sambil mengedipkan mata
"Please welcome, one of the most powerful person in world economic and business, in this dijuluki Mas Clingy!" tambah Hana.
"Kapan pulangnya?"
"Kayaknya lusa," jawab Hana lalu menemukan Ibunya memasang wajah mengesalkan untuk meledeknya.
lagi. "Kenapa?" tanya Hana mengambil satu biskuit
"Sudah sampai tahap tahu jadwal ya. Cepat juga nih," ujar Sara.
"Reiga sendiri yang bilang," timpal Hana.
Hana melirik remote di atas meja. Siapa tahu dengan mengganti chanel TV bisa mengganti topik obrolan dengan Ibunya. Tidak lagi membicarakan Reiga.
"Hana ganti ya?"
"Enggak ah! Ibu tuh sengaja nonton BBC karena mau nonton calon mantu pidato," ujar Sara cengengesan.
Senyum itu menular pada Hana.
"Calon mantu? Mas Ayang?" tebak Hana.
kiri. Sara mengangguk sambil mengedipkan mata
"Please welcome, one of the most powerful person in world economic and business, in this young age, the leader, an CEO of Reishard Corporation, the monster in business, Reiga Rahardian Reishard," ucap MC yang kemudian diiringi tepuk tangan audiens.
Rupanya Sara tengah menonton acara World Economic Forum yang tengah disiarkan langsung oleh BBC dari Davos. Reiga muncul dengan suit dan tie lengkap. Ganteng seperti biasanya. Tegap dan penuh aura kepemimpinan yang luar biasa. Hana terpukau. Tidak percaya kalau Reiga yang tengah berpidato akan pemikirannya mengenai penciptaan bisnis yang ramah lingkungan adalah Reiga yang sama yang selalu memberikannya gombalan alay. Yang kini kalau diingat akan selalu jadi mood booster Hana.
"Ganteng banget calon mantu Ibu ya, Han," ujar Sara sengaja menyengol lengan kanan Hana.
"Iya, ganteng banget," ucap Hana sambil senyum menatap televisi. Perasaan kangen itu menyeruak semerbak dalam dirinya. Suasana hatinya yang buruk ini. Mungkin akan lebih baik setelah memeluk Reiga. Ah, kenapa harus memeluk Reiga?
Sejak kapan pelukan pria itu candu?
Sara memperhatikan Hana, lalu tersenyum sendiri. "Kangen ya?"
Hana menoleh.
"Bukan seperti yang Ibu pikir, Bu," bantah Hana dengan senyum.
"Emangnya kamu tahu apa yang ibu pikirin?"
Hana menggeleng.
"Ya tapi Hana tahu aja kalau Ibu pasti pikir yang enggak-enggak," tukas Hana.
"Yang enggak-enggak itu gimana maksudnya ya, Han?" goda Ibunya.
"Syuttt! Dengerin tuh, calon mantu lagi pidato.
Jangan berisik," ujar Hana dengan ekspresi balik menggoda ibunya.
Reiga yang penuh percaya diri. Tampak begitu berkharisma dan meyakinkan dalam nada bicaranya. Sama seperti di malam saat pria itu bertanya sudahkah rasa yang Hana miliki untuk Arnold berakhir?
Tawa Sara yang tiba-tiba mengagetkan Hana.
"Ih, Ibu! Kaget tahu," protes Hana.
"Ibu senang aja akhirnya kamu nggak membantah kalau Mas Ayang itu calon mantu Ibu. Kan ibu jadi nggak perlu klarifikasi di grup RT kalau Mas Ayang bukan siapa-siapa kamu."
Hana tergelak sambil menggeleng.
"Nggak gitu juga konsepnya ya, Bu Sara Camilla," ujar Hana gemas. "Lagian ngapain juga pakai klarifikasi?!" heran Hana sambil geleng-geleng kepala.
"Ya abisnya, kebiasaan banget pacarannya di mobil. Masuk dong ke dalam rumah," sindir Sara dengan senyum tipis.
Hana terhenyak.
"Siapa yang pacaran di mobil!?" tandasnya.
Meski sekarang di kepala Hana terbayang
malam sebelum di mana Reiga terbang ke Tokyo. Dan ia bersyukur masih cukup waras untuk tidak mengiyakan ajakan ciumannya Reiga.
Sara memberi tatapan meledek yang sungguh menjengkelkan Hana. "Tante Silvi lewat, habis nungguin anaknya dirawat. Ada Ferrari Reiga di depan rumah."
Hana mengkeret. Salah tingkah.
"Tapi itu nggak pacaran, Bu. Itu cuma ..."
"Iya tahu. Bukan pacaran. Cuma ketemuan sebelum dinas luar negeri kan?" ledek Sara.
Wajah Hana memerah.
"Ibu, apa sih!?" omelnya.
Sara terkekeh.
"Tadinya Ibu khawatir kamu bakal sedih dengar kabar Lana jadian sama si Arnold. Tapi kalau dilihat sekarang sih malah kayaknya sedihnya perihal hal lain ya, Han?"
Sontak muncul wajah Reiga ketika perihal hal lain itu disebut. Lo emang udah gila, Han! runtuknya.
"Apa sih yang kamu ragukan lagi, Han?"
Hana terdiam. Teringat enam surat yang diterimanya. Peristiwa yang Reiga perlihatkan dalam kepalanya. Cerita ibunya.
"Hati Hana, Bu," jawab Hana jujur.
Raut wajah Sara berubah. Ia paham apa yang dimaksud Hana.
"Reiga itu nggak pantas hanya dijadikan jalan keluar. Bukan berupa kesempatan atau pengalihan. Reiga berhak dan pantas untuk dicintai dengan layak dan tulus. Hana takut, Hana nggak mampu melakukannya," aku Hana meski faktanya ia ingin mencobanya. Mencintai Reiga Reishard. Entah seperti apa rasanya?
Bibir Sara tersenyum.
"Dari ucapan kamu barusan, kamu sudah punya pondasi kuat untuk bisa mencintai Reiga sepenuh hati kamu," gumam Sara yakin.
"Kalau Ibu salah gimana?"
Hana masih ragu.
"Kalau Ibu benar?"
Hana terkekeh.
"Pertanyaan yang tiada akhir ini sih," tukas Hana yang diikuti tawa Sara.
"Udah ah, Hana mau ke kamar dulu. Mau rebahan. Selamat menonton Mas Ayang," ujar Hana sudah berdiri, tersenyum, kemudian mengecup pipi kiri Sara lalu naik ke lantai dua.
"Tuh kan! Mulai ikutan panggil Mas Ayang," canda Sara.
Hana hanya menanggapinya dengan suara tawa.
*
Hana
Pidatonya keren banget.
Hana iseng mengirim pesan pada Reiga. Ah, mungkin ada bagian dirinya yang percaya bahwa pria ini mempunyai kemampuan untuk mengubah suasana hatinya yang buruk ini. Dibaca. Hana terkejut sendiri sampai kedua matanya berkedip-kedip. Secepat itu? Bukankah manusia ini harusnya masih ada di forum? Kok responnya cepat amat? Kekagetan Hana tidak sampai situ. Reiga yang meresponnya balik dengan sebuah handphone sontak membuat mata Hana membelalak kaget.
"Cieee, nontonin aku ya," ledek Reiga.
"Ibu yang tonton kamu. Aku ikutan aja," kilah Hana.
Reiga tak menjawab apapun. Hening.
"Rei?"
"Nungguin aku ngomong ya?" ucap Reiga dengan derai tawa.
"Dih! Iseng banget!" sahut Hana ikut tertawa.
Tuh kan!
Suasana hatinya membaik. Seajaib itu Reiga.
Atau ia yang sudah jatuh cinta? Apa bisa semudah itu jatuh cinta pada pria lain secepat ini? Padahal selama 4 tahun ini Hana bagai atheis terhadap pria manapun.
"Aku juga cinta kamu," ucap Reiga menanggapi pergulatan pikiran Hana.
Wajah Hana memerah.
"Idih siapa yang bilang aku cinta kamu!?" heran Hana yang sebal Reiga membaca pikirannya.
"Sedih ya, makanya telepon aku?" tebak Reiga.
Hana diam tidak membantahnya.
"Kok tahu?"
"Manusia itu akan cenderung mencari manusia lain yang paling dia sayangi saat hatinya sedih," jawab Reiga tersenyum tipis.
Hana tersenyum lebar mendengarnya.
"Ada benarnya sih. Tapi masalahnya aku nggak sayang kamu," ujar Hana.
"Belum, bukan nggak," sahut Reiga lembut.
Kupu-kupu mengerubungi perut mereka berdua.
"Aku jemput ya."
"Idih, masih aja."
"Ya masih lah. Tanggung jawab kamu! Waktu di Singapura, es kopi-nya dikasih pelet ya?"
"Sembarangan ya," balas Hana atas ledekan Reiga.
"Just stop loving him, Hana. And love me back," ucap Reiga pelan namun lugas.
Hana terhenyak. Apa perasaan ini masih bisa disebut cinta? Semuanya bercampur aduk. Dan saat Hana terdiam. Pasrah. Yang tampak di ujung sana adalah Reiga. Haruskah?
"Aku takut nggak bisa memenuhi ekspektasi kamu, Rei."
"Emangnya ekspektasi aku apa?"
Hana terdiam.
Benar juga! Dia tidak benar-benar tahu harapan Reiga pada cinta itu apa.
"So tell me."
Reiga tersenyum.
"Just wait me come home," ucap Reiga.
"Lama," keluh Hana.
Reiga terkekeh.
"Tadi aku nonton pidato kamu. Keren banget! Sampai sangsi sendiri. Apa iya yang lagi pidato itu Reiga yang clingy banget orangnya," ujar Hana lagi.
"Senang deh kamu nonton aku. Habis dari kemarin aku mulu yang nonton kamu," aku Reiga yang kerjaannya memang bolak-balik nontonin film Hana. Dan bolak-balik juga Dimas akan memberi spoiler dan mengganggunya.
Hana tersenyum.
"Rei,"
"Ya."
"Apa yang membuat kamu seyakin itu buat kasih hati kamu ke aku?"
"Enggak ada."
"Kok!?" Hana terkejut. Padahal tadi ia menebak akan mendengar kalimat seperti yang sering ditontonnya di film.
"Kaget kan? Aku juga kaget."
"Nggak lucu!" sebal Hana.
Reiga tertawa.
"Aku memang nggak seyakin itu, Han. Lagipula memangnya sejak kapan mempercayai orang itu ada jaminannya?"
"Reishard..."
"Sedih deh."
"Kenapa?"
"Nggak bisa peluk kamu di saat kayak gini."
"Kayak gini gimana maksudnya?"
"Lelaki yang paling kamu inginkan malah jadian sama sepupu sendiri kan?"
"Tahu dari mana?"
"Pikiran kamu sejak awal kamu telepon aku," jawab Reiga.
Hana terhenyak.
"Kamu marah?"
Hana heran dengan diri sendiri yang malah mencemaskan marah atau tidaknya Reiga. Ketimbang fakta Arnold berpacaran dengan Lana. Seakan pria ini adalah yang paling penting untuknya.
Reiga tersenyum.
"Marah enggak. Cuma pusing aja nih dari kemarin," aku Reiga.
Hana mendadak cemas. Posisinya berubah dari tiduran jadi duduk.
"Kamu sakit?"
"Aku sakit rindu."
Hana terhenyak lalu mendengus sebal.
"Dih! Aku serius juga," sebal Hana.
"Aku juga serius," jawab Reiga.
"Seriusan aku!" ngotot Hana nggak mau kalah.
Reiga tertawa. Dan detik itu juga Hana sadar, Reiga hanya bermaksud mengganggunya.
"Are you okay?"
"Hatinya?"
"Ya."
"Sedikit sebal sih. Karena aku tahu, Lana jadian sama Arnold cuma buat nyakitin aku aja," aku Hana.
"Maafin aku ya, Han."
"Kok kamu yang minta maaf?"
"Ya mungkin Lana berbuat begitu karena konfrontasi dari aku," aku Reiga.
"Maksudnya?"
"Waktu dinner aku bilang sama dia untuk nggak gangguin kamu, nggak ikut campur urusan kita lagi, dan aku juga bilang sama dia kalau aku sayang kamu," jawab Reiga.
Hana terdiam. Bukan karena marah. Namun terharu akan yang Reiga lakukan. Entah apa maksud yang ada dibaliknya. Hana belum pernah merasa seberharga ini.
"Gawat, Rei."
"Kenapa? Arnold kurang ajar? Boleh aku kasih pelajaran balik?"
Reiga terdengar cemas. Hana tersenyum.
"Bukan."
"Terus apa?"
"Gawat nih, kalau aku jatuh cinta sama kamu gimana? Tanggung jawab ya," jawab Hana.
Reiga terkesiap lalu tertawa renyah.
"Boleh. Itu yang aku harapkan."
Hana mencibir.
"Nggak seru ah, reaksinya."
Reiga terkekeh.
"But you laugh, Han," ucap Reiga mendengar suara tawa Hana nan jauh di sana. Dan Hana tidak membantahnya.
Lalu, rasa rindu itu menyeruak masuk dan menyebar ke seluruh tubuh Hana.
"Aku kangen," ucap Hana membuang rasa malunya entah kemana. Sudah tak mampu ia menahannya.
"Aku juga," balas Reiga.
"Kapan pulang?"
"Harusnya besok. Tapi ada meeting dadakan di Belanda. Jadi paling cepat tiga hari lagi baru pulang," jawab Reiga.
Andai Reiga bisa melihatnya, Hana tengah cemberut sekarang.
"You said you come home when i tell you," rajuk Hana mengingatkan Reiga akan ucapan pria itu sendiri.
"Sekangen itu sama aku?"
"Jangan ubah topik ya, Rei! Ini membuktikan kalau cowok emang tukang gombal," sergah Hana.
Reiga tertawa.
"Kamu dengar penjelasan aku dulu, terus kamu yang putusin, aku stay on schedule atau pulang," ucap Reiga.
Hana diam lalu berdehem mengiyakan.
Reiga mulai menceritakan meeting pentingnya di Belanda yang berkaitan dengan pembangunan saluran air juga irigasi di beberapa daerah pelosok pulau Nusa Tenggara. Tentu Hana kehilangan kata-kata.
"I hate you!" sebal Hana.
Reiga tertawa.