NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawuran

​Pagi itu dimulai dengan sangat normal, setidaknya bagi Jalal yang masih sibuk menguap di barisan belakang kelas. Di depan kelas, Pak Somad sedang asyik menjelaskan sejarah pergerakan nasional, namun perhatian seisi kelas justru teralap pada bisik-bisik di barisan belakang, Rafael–sahabat Jalal dari kecil, sedang bercerita; kemarin ia melakukan duel dengan anak SMK Bina Rimba.

​Rafael baru saja melakukan aksi heroik yang menurutnya setara dengan ksatria abad pertengahan. Ia terlibat perkelahian satu lawan satu di belakang terminal dengan seorang siswa dari SMK Bina Rimba, sekolah yang reputasi tawurannya sudah melegenda di seluruh kabupaten. Alasannya klise namun fundamental bagi remaja: mereka memperebutkan perhatian seorang gadis komplek dekat rumahnya.

​"Gila, lu beneran menang lawan si Bagas?" bisik Ari yang duduk di samping meja Rafael, dengan nada tidak percaya.

​Rafael membusungkan dada, seolah otot bisepnya mendadak tumbuh dua kali lipat. "Satu kali pukul, langsung tersungkur dia. Anak SMK cuma menang gaya doang. Jaketnya doang yang sangar, nyalinya lembek," jawab Rafael dengan nada angkuh yang sengaja dikeraskan agar terdengar seluruh kelas.

​Jalal yang mendengar itu hanya membatin dalam hati. Ia tahu betul reputasi Bina Rimba. Mereka bukan tipe sekolah yang menerima kekalahan dengan jabat tangan dan ucapan selamat. Mereka adalah kawanan lebah yang jika satu disengat, satu sarang akan terbang membawa senjata tajam.

​Kekhawatiran Jalal terbukti tepat saat jam istirahat pertama baru saja dimulai. Suara deru mesin motor yang sangat bising mulai terdengar dari arah gerbang depan. Bunyinya bukan seperti satu atau dua motor, melainkan puluhan motor yang knalpotnya sudah dibobol habis-habisan. Suara itu bercampur dengan teriakan-teriakan provokasi yang membuat suasana kantin yang tadinya tenang mendadak mencekam.

​Jalal yang saat itu sedang berusaha menghabiskan bakso uratnya dengan tenang, mendadak tersedak saat seorang siswa kelas sepuluh berlari masuk ke kantin dengan wajah pucat pasi. "Serangan! Bina Rimba datang! Gerbang depan dikepung!" teriaknya histeris.

​Suasana langsung kacau. Jalal melihat Rafael, sang ksatria terminal kemarin sore, mendadak menjatuhkan gelas teh manisnya. Wajahnya yang tadi merah karena sombong, kini berubah putih seperti tembok yang baru dikapur. Ia tampak ingin menghilang ke dalam lantai kantin saat menyadari bahwa kemenangan kecilnya kemarin baru saja memancing badai besar ke sekolah mereka.

"Lal gimana dong? Gua nggak tahu, urusannya bakalan gede." Rafael mengadu, dengan bibir bergetar dan muka semakin memucat.

​Di halaman sekolah, situasi sudah memanas. Gerbang besi sekolah yang biasanya kokoh kini diguncang-guncang oleh puluhan siswa berbaju putih abu-abu dengan celana yang sengaja dikecilkan. Mereka membawa berbagai macam benda yang tidak seharusnya ada di lingkungan pendidikan: tongkat kayu, gir motor yang diikat sabuk, hingga pipa besi yang diseret di aspal hingga menimbulkan percikan api.

​Keadaan sekolah Jalal sebenarnya tidak terlalu buruk dalam hal pertahanan. Sebagai sekolah yang cukup disiplin, mereka memiliki barisan kakak kelas tingkat dua belas yang disegani. Salah satunya adalah Dawani seorang siswa kelas dua belas yang badannya sebesar lemari dua pintu dan menjabat sebagai kapten tim basket sekaligus pemimpin informal siswa laki-laki.

​Dawani keluar ke halaman dengan langkah tenang, diikuti oleh belasan teman angkatannya. Mereka berdiri di depan koridor, mencoba menahan amarah massa dari luar gerbang. Jalal yang masih kelas sepuluh hanya bisa berdiri di pinggiran koridor, berusaha terlihat sekecil mungkin agar tidak terlibat dalam pusaran konflik.

​"Mana Rafael? Keluar lu! Berani satu lawan satu, tapi habis itu lu ngatain sekolah gua sampah kan?" teriak seorang siswa dari balik gerbang. Itu Bagas, lawan Rafael kemarin, yang kini membawa bala bantuan hampir satu kompi.

Rafael gemetar hebat. Ia bersembunyi di belakang tubuh Jalal yang dengan cuek menghabiskan baksonya, berharap tidak ada yang menyebut namanya.

​"Woi, anak SMK! Jangan berisik di sini! Kalau ada masalah personal, selesaikan di luar, jangan bawa pasukan ke gerbang sekolah orang!" teriak Dawani dengan suara baritonnya yang menggelegar.

​Provokasi itu justru menjadi pematik. Salah satu batu besar melayang dari arah luar, melewati pagar, dan menghantam kaca ruang guru hingga pecah berkeping-keping. Itu adalah aba-aba tidak resmi. Gerbang yang diguncang akhirnya jebol karena engselnya tidak kuat menahan beban. Massa dari SMK Bina Rimba merangsek masuk ke halaman sekolah seperti air bah yang jebol dari tanggul.

​Tawuran pecah di halaman sekolah yang biasanya digunakan untuk upacara bendera. Suara hantaman kayu dan teriakan memenuhi udara. Kakak kelas dua belas mulai bergerak maju membentuk barisan pertahanan untuk melindungi adik-adik kelas dan para siswi yang berlarian masuk ke dalam kelas.

​Jalal berada di posisi yang sangat sulit. Ia ingin lari ke belakang sekolah dan pulang lewat jalur rahasianya, tapi ia melihat situasi menjadi tidak terkendali. Beberapa siswa Bina Rimba mulai masuk ke area koridor kelas sepuluh. Salah satu dari mereka, seorang pria dengan rambut dicat pirang tidak merata, mengayunkan tongkat kayu ke arah teman sekelas Jalal yang sedang terpaku ketakutan.

​Jalal tidak punya pilihan. Jika ia diam, temannya akan masuk rumah sakit. Tapi jika ia bertarung secara normal, seluruh sekolah akan tahu. Maka, Jalal menggunakan cara yang paling aman: menjadi sial yang sangat beruntung.

​Saat si rambut pirang itu mengayunkan tongkatnya, Jalal mendadak "terpeleset" karena menginjak kulit pisang yang entah dari mana asalnya di lantai koridor. Tubuh Jalal merosot ke depan, kepalanya menunduk, dan secara tidak sengaja pantatnya menghantam ulu hati si penyerang dengan telak.

​Si rambut pirang itu tercekat, napasnya terhenti seketika, dan ia jatuh terduduk sambil memegang perutnya. Jalal bangkit dengan wajah panik yang dibuat-buat. "Aduh, maaf Mas! Lantainya licin sekali ya, saya sampai jatuh begini!" seru Jalal sambil berusaha membantu pria itu berdiri, namun tangannya justru "tidak sengaja" menekan titik saraf di pergelangan tangan si penyerang hingga tongkat kayunya terlepas.

​Di halaman, Dawani sedang sibuk berduel dengan dua orang sekaligus. Meskipun badannya besar, ia mulai kewalahan karena lawan-lawannya menggunakan senjata tajam. Seorang siswa Bina Rimba mencoba menyerang Dawani dari belakang menggunakan sabuk gir motor.

​Jalal mendengar itu dari kejauhan. Ia tidak mungkin lari ke sana tanpa menarik perhatian. Maka, ia mengambil sebuah bola basket yang tergeletak di pinggir lapangan. Dengan akurasi yang ia tutupi dengan gaya melempar asal-asalan, ia menendang bola itu karena alasan "kaget".

​Bola itu meluncur deras, memantul sekali di tiang bendera, lalu menghantam tepat di bagian belakang kepala penyerang yang hendak memukul Dawani. Pria itu tersungkur ke depan, mencium aspal halaman sekolah dengan sukses. Dawani menoleh bingung, melihat bola basket yang memantul santai di dekatnya, lalu kembali fokus menghalau musuh di depannya.

​Kekacauan terus berlanjut. Jalal bergerak di antara kerumunan seperti bayangan yang teledor. Setiap kali ada siswa sekolahnya yang dalam bahaya, sesuatu yang "kebetulan" selalu terjadi. Ada penyerang yang tiba-tiba matanya kemasukan debu saat Jalal mengibas-ngibaskan sapu kelas, ada yang kakinya tersangkut ember pel yang digeser Jalal tanpa sengaja, hingga ada yang jatuh karena menginjak tali sepatu mereka sendiri yang mendadak terlepas setelah Jalal lewat di samping mereka.

​Rafael, penyebab semua ini, masih bersembunyi di belakang tempat sampah. Sialnya, Bagas berhasil menemukannya. Bagas berjalan mendekat dengan seringai kemenangan, tongkat baseball di tangannya diseret di lantai, menimbulkan suara srek-srek yang mengerikan.

​"Ketemu lu, ksatria palsu," geram Bagas.

​Jalal yang berada di lantai dua koridor mendengar adegan itu. Ia tidak bisa turun tepat waktu. Ia melihat sebuah pot bunga gantung yang talinya sudah mulai lapuk di dekatnya. Dengan gerakan yang sangat halus, ia menyenggol pot itu hingga jatuh.

​Pot itu jatuh tepat di depan langkah kaki Bagas. Karena kaget, Bagas melompat mundur, namun malangnya ia justru menginjak tumpahan air sabun hasil kerja Jalal sebelumnya. Bagas terpeleset dengan gaya akrobatik yang luar biasa, jatuh telentang tepat di depan Rafael.

​Melihat musuh bebuyutannya jatuh tak berdaya, keberanian pengecut Rafael mendadak muncul. Ia mengambil seember air kotor sisa pel di dekatnya dan menyiramkannya tepat ke wajah Bagas. "Makan tuh air keramat!" teriak Rafael yang kemudian langsung lari tunggang langgang masuk ke dalam ruang guru.

​Tawuran itu akhirnya berhenti saat suara sirine polisi meraung-raung dari arah jalan raya. Massa Bina Rimba yang menyadari kedatangan petugas segera berhamburan lari keluar dari gerbang sekolah. Mereka membawa teman-teman mereka yang luka-luka, termasuk si rambut pirang yang masih sesak napas karena hantaman pantat Jalal.

​Halaman sekolah kini berantakan. Pecahan kaca, kayu yang patah, dan tumpahan air ada di mana-mana. Dawani berdiri terengah-engah dengan baju yang sobek di bagian bahu. Ia melihat ke sekeliling, merasa heran kenapa banyak musuh yang jatuh dengan cara-cara yang sangat konyol.

​"Hebat juga sekolah kita ya, banyak jebakan betmennya," gumam Dawani sambil mengusap keringat di dahinya.

​Jalal kembali ke kelasnya dengan tenang. Ia duduk di kursinya, mengambil pulpen yang tadi jatuh, dan bersikap seolah ia baru saja kembali dari toilet yang sangat lama. Teman-temannya kembali ke kelas dengan wajah penuh semangat menceritakan kejadian tadi, sementara Rafael kembali menjadi pusat perhatian dengan cerita versinya sendiri tentang bagaimana ia "menaklukkan" Bagas dengan siraman air.

​Jalal hanya tersenyum tipis. Ia menoleh ke arah Rafael yang seketika menutup mulutnya. Jalal hanya mendengus.

​Satu jam kemudian, sekolah dipulangkan lebih awal. Saat Jalal berjalan menuju gerbang, Dawani menepuk bahunya. "Lu kelas sepuluh yang tadi duduk di pojokan kan? Lu gak apa-apa?"

​Jalal mengangguk sopan. "Cuma kaget aja Bang, untung saya nggak kena pukul."

​Dawani menatap Jalal sejenak dengan tatapan menyelidik, seolah ada sesuatu yang aneh dari anak ini, namun ia kemudian tertawa dan menepuk punggung Jalal keras-keras. "Ya sudah, hati-hati pulangnya. Tapi bisa pulang sendiri kan, lu kan–"

"Buta Bang, udah hapal jalannya, tenang."

​Jalal berjalan pulang, meninggalkan sahabatnya Rafael, yang sedang membual. Ia mendongak, "Sebentar lagi, aku akan pergi." Tongkatnya mengetuk-ngetuk aspal–seolah tahu ia akan pergi meninggalkan kampung ini.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!