NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Hancurnya Sang Grandmaster

​Genangan darah segar merendam telapak sepatu bot Arya, namun langkahnya tidak terhenti. Di sekelilingnya, sisa-sisa ratusan kultivator Kuil Kegelapan telah menyatu dengan lantai obsidian, dihancurkan oleh hukum gravitasi absolut yang tidak mengenal belas kasihan. Bau anyir darah begitu pekat hingga mampu membuat manusia biasa kehilangan kewarasannya, namun bagi Arya, itu hanyalah aroma dari sebuah neraca keadilan yang sedang ia tegakkan.

​Di atas altar raksasa, Tuan Besar Agung gemetar. Bukan karena udara yang membeku, melainkan karena syok yang mengguncang fondasi logikanya. Pemuda fana dari dimensi bumi ini baru saja menghapus seluruh pasukan elitnya hanya dengan satu lambaian tangan!

​"Kau... kau menghancurkan fondasi sekteku!" raung Tuan Besar Agung. Wajah pucatnya berubah beringas, urat-urat kehitaman menonjol di pelipisnya. Ia baru saja akan menembus Ranah Grandmaster, namun interupsi brutal Arya membuat sirkulasi Qi-nya berbalik menyerang organ dalamnya. "Bocah keparat! Kepadatan Qi-mu mungkin aneh, tapi kau hanyalah seekor semut di Ranah Pembentuk Fondasi! Aku adalah puncak dari Inti Emas! Cakar Darah Penelan Jiwa! MATI!"

​Tuan Besar Agung merentangkan kedua tangannya. Kuali obsidian raksasa di bawahnya bergemuruh hebat. Darah mendidih di dalamnya meledak ke udara, bermanifestasi menjadi sebuah cakar raksasa berwarna merah gelap berukuran tiga puluh meter. Cakar itu memancarkan aura korosif yang melengkungkan ruang di sekitarnya, meluncur turun dari langit untuk meremukkan Arya menjadi debu.

​Elena yang menonton dari kejauhan nyaris pingsan hanya karena merasakan tekanan dari cakar darah tersebut. Itu adalah serangan yang bisa meratakan sebuah kota modern dalam sekejap.

​Namun, Arya bahkan tidak repot-repot mengangkat kepalanya.

​"Kultivator Kunlun memiliki satu kelemahan universal," ucap Arya, suaranya sedingin baja yang baru ditempa. "Kalian terlalu mengandalkan ukuran visual untuk menakuti lawan, dan mengabaikan kepadatan inti molekul."

​Arya mengepalkan tangan kanannya. Cahaya putih kebiruan yang sangat padat menyelimuti tinjunya, berderak dengan frekuensi getaran yang sangat tinggi. Itu bukan sekadar pukulan fisik; Arya sedang menciptakan gelombang resonansi yang dirancang khusus untuk memecah ikatan cairan.

​Tepat saat cakar darah raksasa itu hendak menelannya, Arya melontarkan tinjunya ke atas.

​BUMMM!

​Sebuah pilar cahaya putih kebiruan melesat dari tinju Arya, menabrak tepat di tengah telapak cakar darah raksasa tersebut. Tidak ada adu kekuatan yang seimbang. Dalam seperseribu detik, frekuensi getaran dari Qi Arya mengacaukan struktur molekul darah yang membentuk cakar itu.

​BYURRR!

​Cakar raksasa yang tampak menakutkan itu seketika kehilangan bentuknya, hancur menjadi hujan darah biasa yang tumpah membasahi pelataran. Serangan pamungkas Inti Emas Puncak dihancurkan dengan satu pukulan efisien.

​"M-Mustahil!" Tuan Besar Agung memuntahkan darah hitam akibat serangan balasannya (backlash) yang hancur. Matanya melotot ngeri. "B-Bagaimana kau bisa mematahkan Qi Inti Emas dengan mudah?!"

​"Karena Inti Emasmu adalah barang rongsokan yang dibangun dari penderitaan orang lain," Arya menekuk kedua lututnya, mengumpulkan energi kinetik di kakinya.

​KRAK! Batu obsidian setebal dua meter di bawah kakinya hancur berantakan saat Arya melesat ke udara layaknya roket. Ia melompati ketinggian puluhan meter dalam sekejap, meluncur langsung ke arah kuali raksasa di tengah altar.

​Melihat Arya mengincar kuali yang berisi ratusan esensi jiwa, Tuan Besar Agung panik. "Jangan sentuh kuali itu! Itu adalah logam spiritual meteorit kuno yang tak bisa dihancurkan!"

​"Di alam semesta ini, tidak ada yang tak bisa dihancurkan jika kau tahu di mana titik tegangan maksimalnya," bisik Arya tepat di atas kuali tersebut.

​Menggunakan Mata Dewa, Arya telah melihat satu retakan mikroskopis di dinding kuali akibat pembakaran yang terus-menerus. Ia memutar tubuhnya di udara dan mendaratkan tendangan tumit yang memusatkan seluruh massa gravitasinya tepat di titik retakan tersebut.

​TRANGGGGG!

​Suara logam yang pecah memekakkan telinga bergema hingga ke seluruh penjuru batas luar Kunlun. Kuali obsidian raksasa itu meledak menjadi ribuan kepingan tajam yang beterbangan ke segala arah. Darah mendidih tumpah membanjiri altar.

​Seiring hancurnya kuali, ratusan bola cahaya yang merupakan esensi jiwa para korban pengorbanan terbebas. Mereka melayang naik ke udara, berpendar dengan cahaya redup sebelum akhirnya mulai memudar untuk kembali ke siklus reinkarnasi alam semesta.

​Namun, perhatian Arya hanya tertuju pada dua bola cahaya yang saling berdekatan. Ia mendarat dengan ringan di atas puing-puing altar, mengulurkan kedua tangannya. Cincin Naga hitam di jarinya memancarkan cahaya hangat yang protektif.

​"Ayah... Ibu..." suara Arya untuk pertama kalinya terdengar bergetar, kehilangan nada datar mesinnya.

​Kedua bola cahaya itu seolah mengenali aura darah daging mereka. Keduanya perlahan melayang turun, mengusap punggung tangan Arya dengan kehangatan spiritual yang tak terlukiskan, sebelum akhirnya terserap masuk ke dalam dimensi pelindung Cincin Naga Leluhur untuk beristirahat dengan tenang.

​Arya menutup matanya sejenak. Beban seberat pegunungan yang ia bawa selama tiga tahun terakhir di bumi, penghinaan yang ia tahan, dan pencarian tanpa henti... semuanya telah mencapai titik konklusi. Orang tuanya kini aman bersamanya.

​Ketika Arya membuka matanya kembali, aura naga yang tenang telah digantikan oleh badai pembantaian absolut.

​Tuan Besar Agung telah jatuh ke lantai altar. Kultivasinya hancur berantakan akibat ritual yang gagal dan kuali yang hancur. Kulitnya mengkerut dengan cepat, rambutnya rontok, mengubahnya dari pria kuat menjadi kakek tua renta yang sekarat dalam hitungan detik. Umur yang ia perpanjang secara paksa kini menagih hutangnya.

​Arya berjalan perlahan menghampirinya. Sepatunya menginjak pecahan obsidian, menimbulkan suara derak yang mematikan.

​"A-Ampuni aku..." rintih Tuan Besar Agung, merangkak mundur dengan tangan gemetar. "K-Kau sudah mendapatkan jiwa mereka... Tinggalkan tempat ini... Jika kau membunuhku, kau akan mengganggu keseimbangan Kuil Kegelapan di Alam Atas..."

​Arya berhenti tepat di depan pria tua itu. Ia menatap ke bawah dengan pandangan yang mengosongkan seluruh makna belas kasihan.

​"Keseimbangan adalah konsep yang hanya berlaku bagi mereka yang lemah," ucap Arya. "Aku tidak tertarik dengan Alam Atas atau Alam Bawah. Aku hanya tertarik pada neraca hutang piutang. Dan kau baru saja kehabisan saldo."

​Arya mengangkat kaki kanannya, melapisinya dengan Qi murni yang sangat padat, dan menginjak tepat di tengah punggung Tuan Besar Agung.

​KRAK!

​"AAARRRGHHHH!"

​Tulang punggung penguasa Kuil Kegelapan itu hancur total. Namun Arya belum selesai. Ia dengan sengaja mengalirkan Qi pembalik ke dalam sistem saraf musuhnya, membuat rasa sakit itu dilipatgandakan sepuluh ribu kali lipat tanpa membiarkan pria itu pingsan atau mati.

​"Ini untuk setiap detik penyiksaan yang orang tuaku alami di dalam kualimu," suara Arya bergema seperti palu godam neraka.

​Ia menekan kakinya lebih dalam. Inti Emas yang retak di dalam tubuh pria itu kini meledak sepenuhnya, mengubah organ dalamnya menjadi bubur darah. Tuan Besar Agung mengejang dengan mata melotot ke atas, sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhirnya dalam penderitaan yang melampaui batas imajinasi manusia.

​Kuil Kegelapan cabang Kunlun telah resmi dimusnahkan hingga ke akar-akarnya.

​Arya berdiri di tengah puing-puing altar yang bersimbah darah. Ia menengadah ke langit. Pusaran awan merah yang menjadi atap Puncak Darah kini mulai berantakan akibat hancurnya formasi pusat.

​Namun, alih-alih mereda, anomali baru muncul.

​Langit di atas Puncak Darah tiba-tiba robek. Sebuah retakan dimensi berwarna hitam pekat terbelah seperti mata raksasa yang terbuka. Dari dalam retakan itu, memancar tekanan Qi yang ribuan kali lebih mengerikan daripada gabungan seluruh pakar di Kunlun. Itu adalah energi murni dari dimensi yang lebih tinggi—Alam Atas.

​[Peringatan Sistem Maksimal! Fluktuasi Ruang Level Bencana Terdeteksi! Hukum Fisika Lokal Kolaps!]

​Suara yang tidak berasal dari manusia, melainkan suara gema kuno yang terbuat dari ribuan paduan suara, terdengar menggelegar dari balik retakan dimensi tersebut.

​"Siapa... yang berani... memutuskan rantai persembahan kepada Dewa Naga Darah...?"

​Sebuah tangan raksasa yang seluruhnya terbuat dari sisik naga berwarna emas tua perlahan menjulur keluar dari retakan tersebut, mencengkeram udara dan menyebabkan ruang di sekitarnya retak seperti kaca.

​Elena yang berada di bawah tebing langsung pingsan tak kuat menahan tekanan spiritual yang bocor dari entitas tersebut.

​Arya Permana berdiri sendirian di puncak altar. Ia menatap tangan raksasa dewa itu tanpa mundur satu milimeter pun. Fisik Petarung Puncak Kesempurnaan-nya dipaksa bekerja hingga batas maksimal hanya untuk tetap berdiri tegak.

​Namun, bukannya ketakutan, sudut bibir Arya perlahan terangkat membentuk senyuman menantang yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Darah di dalam tubuhnya merespons, Cincin Naga di jarinya bersinar menyilaukan.

​"Dewa Naga Darah?" Arya terkekeh pelan, melepaskan seluruh penahan kekuatannya. "Sepertinya, setelah menaklukkan bumi dan batas luar Kunlun... aku baru saja menemukan papan catur yang sebenarnya.

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!