NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Abu di Atas Makam

​Hujan sore ini turun seolah langit Jakarta sedang menumpahkan seluruh dendam lamanya pada bumi. Titik-titik air yang sedingin es menghantam payung hitam yang kupegang, menciptakan ritme monoton yang mengaburkan suara bising klakson dari jalan tol di kejauhan.

​Di tempat ini, di kompleks pemakaman elite yang dipagari marmer putih dan dinaungi pepohonan beringin tua, kesunyian adalah barang mewah yang dibeli dengan harga sangat mahal. Kebanyakan orang yang dimakamkan di sini mati karena usia tua atau penyakit orang kaya. Mereka diantar dengan iringan mobil mewah dan tangisan anggota keluarga yang berebut harta warisan.

​Tapi tidak dengan dua orang yang terbaring di bawah kakiku.

​Aku berdiri mematung di depan sebuah gundukan tanah yang sudah lama merata, ditutupi rumput manila yang dipangkas rapi oleh penjaga makam yang kubayar tanpa nama. Di ujungnya, sebuah nisan dari batu granit hitam berdiri angkuh, menantang waktu dan cuaca yang terus mencoba menghapusnya.

​Adrianus Wiratama & Siska Wiratama.

​Nama-nama itu diukir dengan tinta emas yang kini mulai mengelupas, dikikis oleh sepuluh tahun pergantian musim yang tak kenal ampun. Aku menurunkan payungku sedikit, membiarkan angin membawa percikan air hujan mengenai wajahku. Dingin. Namun, rasa dingin di kulitku ini sama sekali tidak bisa menembus kekosongan yang telah membeku di dalam rongga dadaku sejak satu dekade yang lalu.

​Aku menekuk lutut perlahan. Celana kain wol kustomku menyentuh tanah yang becek, menyerap air berlumpur, tapi aku tidak peduli. Tanganku yang terbungkus sarung tangan kulit berwarna hitam terjulur, menyusuri lekukan huruf demi huruf pada nisan granit tersebut. Ada sedikit lumut hijau yang mencoba merambat di sudut huruf "W". Dengan gerakan pelan, aku mengikisnya menggunakan ujung ibu jari.

​"Sepuluh tahun," suaraku keluar sebagai bisikan parau, serak, nyaris hilang tertelan gemuruh petir yang membelah langit abu-abu pekat di atasku. "Dunia terus berputar seolah kalian tidak pernah ada. Seolah malam itu hanyalah catatan kaki yang tak penting di halaman belakang koran pagi."

​Aku menundukkan kepala. Memejamkan mata adalah sebuah kemewahan yang jarang kubiarkan untuk diriku sendiri akhir-akhir ini. Karena setiap kali kelopak mataku tertutup dalam durasi yang sedikit lebih lama dari kedipan normal, masa lalu itu kembali menyergap dengan kebrutalan yang seolah baru terjadi kemarin sore.

​Bukan memori tentang wajah Ibu yang tersenyum saat membawakanku kue, atau tawa Ayah saat kami merayakan ulang tahunku yang kedelapan belas. Memori indah itu sudah lama terbakar. Yang tersisa hanyalah aroma tembaga dari darah segar, bercampur dengan bau bensin yang menyengat dan asap karet yang meleleh.

​Malam itu, hujan turun sama derasnya dengan hari ini. Mobil sedan keluarga kami terbalik di dasar jurang buatan di pinggir jalan tol lingkar luar. Aku masih bisa merasakan dengan jelas kasarnya aspal jalanan saat tubuhku terlempar keluar dari kaca jendela belakang yang pecah berkeping-keping. Tulang rusukku patah, paru-paruku serasa diisi oleh pecahan kaca setiap kali aku mencoba menarik napas.

​Aku masih bisa mendengar suara decit logam yang melengkung parah, diikuti oleh lengkingan klakson mobil kami yang terjepit, menciptakan jeritan mekanis yang memekakkan telinga menembus derasnya hujan.

​Namun, yang paling terpatri dan terus menghantui setiap malamku adalah keheningan yang menyusul setelahnya. Keheningan sesaat, sebuah jeda yang menyiksa, sebelum api tiba-tiba menjilat tangki bahan bakar.

​Melalui pandangan yang kabur oleh darah yang mengalir dari pelipisku dan hujan lebat, aku mencoba merangkak maju. Tanganku mencengkeram lumpur, menarik tubuhku yang mati rasa menuju mobil yang mulai terbakar.

​"Ayah... Ibu..." Suaraku hanya keluar sebagai rintihan putus asa.

​Di saat itulah, aku melihatnya. Siluet sebuah mobil SUV hitam berhenti di bahu jalan raya, tepat di atas lokasi jatuhnya mobil kami. Kaca jendelanya perlahan turun. Dari balik bayang-bayang payung, seorang pria dengan setelan jas rapi menatap ke bawah. Ia tidak bergerak panik. Ia tidak mengeluarkan ponsel untuk menelepon ambulans.

​Kilatan cahaya petir malam itu memantul pada jam tangan emas bermerek mahal di pergelangan tangannya, dan sesaat, menerangi sebuah pin kecil di kerah jasnya.

​Pin berbentuk perisai dengan pedang yang menyilang. Logo Vanguard Group.

​Pria itu menatap lurus ke arahku. Mata kami bertemu dari kejauhan. Tidak ada sedikit pun rasa kasihan di matanya. Ia hanya melihat kami terbakar, memastikan pekerjaannya benar-benar selesai, sebelum kaca jendela itu kembali naik perlahan dan mobil tersebut melaju membelah kegelapan, meninggalkanku sendirian bersama jeritan ibuku yang akhirnya tertelan oleh ledakan api.

​Keesokan harinya, saat aku terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh dibalut perban dan bau obat yang memusingkan, dunia yang kukenal telah hancur sepenuhnya. Tidak ada kerabat yang datang menjenguk. Tidak ada polisi yang menanyakan kronologi kecelakaan.

​Televisi tabung kecil yang terpasang di sudut ruangan rumah sakit menyiarkan berita kematian orang tuaku. Bukan sebagai sebuah tragedi memilukan tentang keluarga yang kehilangan nyawa. Tidak. Mereka menyiarkannya sebagai sebuah konklusi yang pantas dari seorang pengkhianat.

​“Direktur Keuangan Vanguard Group, Adrianus Wiratama, Tewas Bunuh Diri Bersama Istrinya Setelah Terbukti Menggelapkan Dana Perusahaan Sebesar Dua Triliun Rupiah.”

​Garis berita berjalan di bawah layar itu seolah mencekik leherku. Aku ingat bagaimana aku mencabut selang infus di tanganku dengan paksa hingga berdarah, berteriak pada perawat yang masuk bahwa berita itu bohong. Ayahku bukan pencuri. Ayahku dijebak karena dia menemukan bukti korupsi dewan direksi.

​Tapi siapa yang akan mempercayai teriakan histeris seorang remaja delapan belas tahun yang sedang terguncang?

​Mereka telah merencanakan semuanya. Mereka membunuh ayahku, lalu membunuh nama baiknya agar tak ada satu pun yang mau menyelidiki kematiannya. Mereka memastikan bahwa tidak ada satu pun kolega, teman, atau kerabat yang berani mendekatiku, takut terseret dalam pusaran skandal mega-korupsi tersebut.

​Pihak berwenang menyita rumah kami, membekukan semua rekening ayahku, dan aku dibiarkan membusuk. Dilempar ke panti asuhan yang kumuh, dipaksa menelan debu kemiskinan sambil membawa nama keluarga yang telah dicap sebagai pencuri oleh seluruh negeri. Di sekolah, di jalanan, tatapan orang-orang padaku berubah menjadi tatapan jijik.

​Mereka—orang-orang berjas rapi di Vanguard Group itu—pasti tertawa sambil meminum anggur mahal mereka. Mereka pikir aku akan hancur lebur. Mereka pikir bocah yatim piatu itu akan berakhir menjadi pecandu alkohol di selokan, atau lebih baik lagi, mengakhiri hidupnya sendiri dengan seutas tali karena tidak tahan dengan tekanan sosial.

​Mereka salah. Sangat salah.

​Rasa sakit yang mereka berikan tidak menghancurkanku; rasa sakit itu menempaku. Kesendirian dan hinaan tidak membuatku gila; hal-hal itu justru memberiku kejernihan yang menakutkan.

​Selama sepuluh tahun, aku menghilang dari radar. Aku kabur dari panti asuhan, berpindah dari satu kota ke kota lain, bersembunyi di sudut-sudut paling gelap di mana nyawa manusia dihargai lebih murah daripada sebungkus rokok. Aku bertahan hidup dari rasa laparku.

​Dan di dalam kegelapan itu, aku belajar.

​Aku mengobservasi bagaimana dunia ini benar-benar bekerja. Aku mempelajari anatomi kebohongan manusia, cara kerja ketakutan, dan seni menghancurkan mental seseorang tanpa perlu meninggalkan jejak forensik sedikit pun. Aku belajar pada para penipu jalanan, para peretas yang dibuang oleh sistem, dan para penjudi yang tahu cara membaca kedipan mata lawan.

​Aku belajar satu hal yang paling penting: Jika kau menembak musuhmu dengan peluru, kau hanya membebaskan mereka dari penderitaan duniawi. Kematian fisik terlalu cepat. Terlalu murah. Namun, jika kau mengambil reputasi mereka yang berharga, meruntuhkan kebanggaan keluarga mereka, dan membakar perlahan institusi yang mereka bangun dari hasil curian... kau akan membuat mereka berlutut di tanah dan memohon untuk mati.

​Aku menarik napas panjang. Udara basah dan aroma petrikor memenuhi paru-paruku, menarikku kembali secara paksa ke realitas sore ini di depan nisan marmer hitam.

​Aku merogoh saku bagian dalam mantel panjangku, mengeluarkan sebuah benda yang selama enam bulan terakhir ini selalu kubawa ke mana pun aku pergi. Sebuah kotak logam tipis berwarna perak kusam. Dengan bunyi klik yang renyah, kotak itu terbuka, menampilkan tumpukan kartu remi.

​Namun, ini bukan sembarang kartu yang bisa kau beli di toko mainan.

​Aku mengambil satu lembar kartu yang berada paling atas. Kartu Joker.

​Ukurannya sedikit lebih berat dari kartu biasa, terbuat dari bahan polimer berserat karbon yang sangat kuat dengan bagian tepi yang telah diasah tipis. Pinggirannya setajam silet. Aku tidak repot-repot mendesain benda ini untuk bermain judi di kasino kumuh. Aku membuatnya sebagai sebuah simbol peringatan.

​Di atas permukaan kartu yang berwarna putih matte itu, tercetak ilustrasi seorang badut istana yang berbeda dari badut pada umumnya. Badut di kartuku ini tidak memiliki senyum konyol yang dilukis lebar berwarna merah. Sudut bibirnya hanya tertarik sedikit di satu sisi, menyiratkan sebuah ejekan yang sinis, seolah ia baru saja mengetahui rahasia paling gelap dan menjijikkan dari orang yang sedang menatapnya. Salah satu matanya digambar meneteskan tinta hitam pekat yang menyerupai darah, sementara mata lainnya kosong melompong, seolah menelan segala cahaya.

​Dalam tatanan permainan kartu remi klasik, para Raja, Ratu, dan Jack selalu percaya bahwa mereka adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Mereka duduk dengan nyaman di singgasana hierarki mereka, mengendalikan bidak-bidak angka di bawah mereka dengan aturan yang kaku.

​Namun, kesombongan itu membuat mereka melupakan eksistensi satu entitas. Sang Joker. Kartu liar yang tidak terikat oleh aturan setelan hati, sekop, keriting, maupun wajik. Kartu yang bisa berubah menjadi apa saja, yang diciptakan untuk merusak strategi lawan, dan mampu meruntuhkan dominasi sebuah kekaisaran hanya dengan kehadirannya yang tiba-tiba di atas meja hijau.

​"Lima pilar," gumamku perlahan pada diriku sendiri. Aku memutar kartu tajam itu di antara buku-buku jari telunjuk dan jari tengahku, membiarkannya menari dengan keluwesan yang kudapatkan dari latihan berdarah selama bertahun-tahun.

​Lima orang pria paruh baya yang duduk di ruangan dewan direksi ber-AC dingin Vanguard Group pada malam berdarah itu. Lima eksekutif yang menandatangani perintah eksekusi keluargaku tanpa beban, hanya demi menutupi dosa-dosa pencucian uang dan korupsi mereka sendiri.

​Sang Hakim Agung yang dengan mudahnya memutarbalikkan putusan hukum dengan harga yang pas. Sang Jenderal militer yang menyewakan pasukan bayangannya seperti preman pasar. Sang Direktur Keuangan yang mengalirkan uang darah tanpa jejak. Pengacara korporat yang menutupi celah hukum mereka. Dan di puncak rantai makanan itu—Darmawan Salim. Sang CEO yang merencanakan segalanya sambil mengisap cerutu mahal.

​Selama sepuluh tahun ini, aku tidak hanya bersembunyi. Aku mengumpulkan serpihan hidup mereka. Aku tahu jadwal harian mereka lebih baik dari istri-istri mereka. Aku tahu nomor pelat mobil yang mereka gunakan untuk mengunjungi rumah simpanan mereka. Aku tahu ke mana aliran dana ilegal mereka bermuara di bank-bank kepulauan Bahama. Dan yang paling penting, aku tahu ketakutan terbesar mereka yang bahkan tidak berani mereka ceritakan kepada psikiater termahal sekalipun.

​Aku berdiri perlahan. Persendian lututku sedikit bergemeretak, kaku karena terlalu lama berlutut di tanah yang dingin. Payung hitam di tangan kiriku masih bertugas melindungi tubuhku dari rintik hujan yang kini mulai mereda, menyisakan gerimis tipis.

​Aku membungkuk sedikit, menyelipkan bagian bawah kartu Joker tajam itu ke celah tanah basah tepat di depan nisan marmer, membiarkan wajah badut itu berdiri tegak menantang arah angin sore. Ini bukan sekadar kartu remi yang tak sengaja dijatuhkan oleh peziarah; ini adalah surat peringatan. Deklarasi perang berdarah. Sebuah janji bisu kepada dua roh yang terbaring tenang di bawah kakiku.

​"Hukum hanyalah lelucon murahan yang diciptakan oleh orang kaya untuk mengontrol orang miskin," kataku. Suaraku kini stabil, dalam, tanpa getaran emosi sedikit pun. "Kalian selalu mengajarkanku untuk mempercayai keadilan, Ayah. Tapi keadilan di kota ini terlahir buta, dan terkadang... ia butuh seseorang untuk menuntun tangannya yang memegang pedang."

​Aku memutar tubuhku, membelakangi makam tersebut. Tidak ada lagi air mata yang perlu diteteskan hari ini. Tidak ada lagi ratapan yang perlu disuarakan ke langit. Fase berduka seorang remaja bernama Arlan Wiratama telah usai dan mati bertahun-tahun yang lalu. Di ujung jalan setapak berlapis batu koral ini, masa laluku sebagai korban telah berakhir.

​Masa depanku sebagai sang algojo baru saja dimulai.

​Langkah kakiku mantap. Sepatu pantofel kulitku berdecak berirama, menginjak genangan air kotor tanpa ragu. Saat aku berjalan keluar dari gerbang kompleks pemakaman menuju jalan raya utama yang lengang, pemandangan cakrawala kota Jakarta membentang luas di hadapanku.

​Di antara deretan hutan beton yang diselimuti kabut sisa hujan, ada satu bangunan yang menjulang lebih tinggi, lebih angkuh, dan lebih arogan daripada yang lain. Menara Vanguard. Puncak gedungnya menembus awan kelabu, bermandikan cahaya lampu neon biru yang menyombongkan kekuasaannya pada penduduk kota di bawahnya.

​Bangunan itu terlihat sangat kokoh, seolah bisa bertahan dari guncangan gempa bumi skala terbesar sekalipun. Tapi aku sama sekali tidak berencana menghancurkan kaca dan betonnya. Aku akan menghancurkan nyawa-nyawa orang di dalamnya. Aku akan membuat mereka saling curiga, saling mengkhianati, dan saling menerkam leher satu sama lain saat fondasi kebohongan mereka mulai kuruntuhkan satu per satu.

​Di tepi jalan setapak, sebuah mobil SUV hitam pekat yang kusewa menggunakan identitas palsu telah menungguku dalam diam. Mesinnya masih menyala, berderum rendah, menggeram pelan seperti predator buas yang tidak sabar untuk dilepaskan ke jalanan yang ramai.

​Aku membuka pintu pengemudi yang berat itu dan masuk, membiarkan kehangatan pendingin kabin mobil mengusir sisa-sisa udara dingin dari pemakaman yang menempel di mantelku. Aroma khas kulit jok baru dan cairan antiseptik mendominasi ruangan kecil ini. Aku menutup payung basahku, meletakkannya di kursi penumpang sebelah kiri, lalu membungkuk untuk membuka sebuah kompartemen rahasia yang telah kumodifikasi di bawah dasbor kemudi.

​Dari dalam ruang sempit itu, aku menarik keluar sebuah koper metalik datar berwarna hitam matte. Pemindai biometrik pada bagian penguncinya membaca sidik jariku dalam hitungan milidetik sebelum lampu indikator yang semula merah berubah menjadi hijau. Koper itu terbuka tanpa suara, memperlihatkan isinya yang ditata dengan presisi yang sangat hati-hati.

​Di dalamnya terdapat beberapa ponsel sekali pakai (burner phone) yang terenkripsi, dua buah alat pelacak GPS berukuran sekecil kancing, jarum suntik medis berisi cairan neurotoksin berdosis rendah yang dirancang bukan untuk mematikan, melainkan untuk memicu halusinasi ekstrem, dan setumpuk dokumen cetak biru sistem ventilasi gedung pengadilan kota.

​Namun, mataku tidak tertarik pada benda-benda itu. Perhatianku sepenuhnya tertuju pada benda yang beristirahat tepat di tengah koper berlapis busa hitam tersebut.

​Sebuah topeng.

​Topeng itu tidak terbuat dari plastik murah atau karet, melainkan dari campuran polimer dan porselen khusus yang akan menempel sempurna menutupi seluruh wajah manusia. Warnanya bukan putih badut yang norak, melainkan warna putih tulang yang pucat pasi, menyerupai warna kematian.

​Tidak ada senyum merah melengkung lebar yang biasa digambar di sirkus. Bibir topeng itu hanya ditarik ke atas di sudut kirinya, memberikan ilusi seolah wajah itu sedang tersenyum sinis, sebuah ejekan abadi yang tak pernah luntur.

​Ini bukan alat yang kugunakan sekadar untuk menyembunyikan wajahku dari kamera jalanan. Ini adalah instrumen teror. Saat pilar-pilar korup itu melihat topeng ini dari kejauhan, aku ingin jantung mereka berhenti berdetak. Aku ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan seorang pria sipil yang menuntut ganti rugi di meja hijau. Mereka sedang berhadapan dengan konsekuensi dari dosa masa lalu mereka sendiri, yang merangkak keluar dari neraka untuk datang menagih utang darah.

​Aku menatap pantulan mataku sendiri di kaca spion tengah mobil. Sepasang mata cokelat gelap yang sepuluh tahun lalu dipenuhi oleh kepolosan, ketakutan, dan air mata, kini tampak sedingin bongkahan es di lautan beku.

​Pemuda bernama Arlan Wiratama adalah pria yang mungkin memiliki simpati, pria yang mungkin masih bisa tidur nyenyak, dan pria yang mungkin masih percaya pada kata maaf. Tapi pria lemah itu sudah kutinggalkan terkubur di bawah tanah makam tadi.

​Aku mengangkat topeng porselen itu dengan kedua belah tanganku. Teksturnya terasa dingin meresap ke ujung jemariku, memanggilku.

​Di luar sana, kota Jakarta yang kejam ini terus berdenyut. Jutaan manusia sibuk dengan urusan mereka, tidak menyadari bahwa malam ini, pembuluh nadi utama yang menyokong kebusukan kota mereka akan mulai disayat secara perlahan oleh seseorang yang tidak bisa dibeli.

​Aku mengembuskan napas panjang, menyingkirkan sisa-sisa terakhir dari kemanusiaanku ke sudut paling gelap dan terkunci di dalam pikiranku.

​Waktunya memakai topeng ini.

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!