NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang Kembali Terpasang

​Fajar menyingsing dengan membawa rona merah muda dan abu-abu di langit timur, perlahan mengusir kegelapan malam yang sempat menjadi saksi bisu keintiman yang rapuh di dalam kamar mandi utama. Sinar matahari pagi yang tipis mulai menembus celah gorden, memantulkan pendar redup di atas lantai marmer yang dingin.

​Di depan cermin besar bermaterial marmer putih di sudut kamar, sosok tegap Asher Sterling sudah berdiri dengan gagah. Pria itu tampaknya sudah bangun jauh sebelum matahari terbit. Rambut hitam legamnya yang semalam berantakan kini telah tertata rapi kembali, klimis dan tanpa cela menggunakan pomade beraroma maskulin. Dia sedang mengenakan kemeja katun premium berwarna biru tua yang kaku.

​Dengan gerakan yang sangat metodis dan tenang, jemari panjangnya yang kokoh bergerak dari bawah ke atas, mengancingkan kemeja itu satu demi satu. Setiap gerakan Asher memancarkan aura disiplin yang ketat, seolah-olah kerapuhan, rasa sakit, dan erangan menahan perih yang dia tunjukkan semalam hanyalah sebuah ilusi optik yang terjadi di dimensi lain. Dia mematut dirinya di depan cermin, menyesuaikan kerah kemejanya dengan ketelitian seorang penguasa yang siap kembali memimpin pasukannya ke medan perang.

​Di atas ranjang raksasa king size, Chloe melenguh pelan. Kelopak mata rusanya bergetar sebelum akhirnya terbuka lamat-lamat. Kesadaran semalam langsung menghantam kepalanya bagai gada yang berat. Ingatan tentang bagaimana tubuhnya berendam di dalam air hangat, bagaimana punggungnya bersandar pada dada bidang Asher yang terluka, dan bagaimana lengan kekar pria itu mendekapnya dengan begitu protektif seolah mencari perlindungan, membuat jantung Chloe seketika berdegup kencang.

​Chloe mendudukkan dirinya di atas ranjang. Matanya langsung tertuju pada sosok Asher yang berdiri di depan meja rias. Rasa cemas dan kepedulian yang masih tersisa dari semalam membuat Chloe melupakan rasa lelahnya. Tatapannya turun ke arah dada Asher yang tertutup kemeja yang baru setengah dikancingkan. Di sana, di balik kain tipis itu, Chloe tahu ada luka-luka sayatan yang cukup dalam yang belum diobati dengan layak. Semalam mereka hanya berendam untuk membersihkan darah, namun luka itu pasti masih menganga dan terasa perih.

​Dengan gerakan cepat namun lembut, Chloe turun dari ranjang. Kakinya yang tanpa alas melangkah mendekati nakas tempat di mana Bi Mirna sempat meletakkan sebuah kotak kotak obat kecil berisi salep antiseptik khusus untuk luka luar dua hari lalu. Chloe meraih tabung obat itu, lalu berjalan mendekati Asher yang masih fokus pada cermin.

​"Asher..." panggil Chloe dengan suara yang serak khas orang baru bangun tidur, namun terdengar sangat lembut dan sarat akan perhatian yang tulus. "Lukamu... lukamu belum diobati dengan benar. Biarkan aku mengoleskan salep ini terlebih dahulu sebelum kau mengancingkan kemejamu."

​Chloe mengulurkan tangan mungilnya, berniat untuk menyentuh tepi kemeja Asher yang masih terbuka untuk mengoleskan obat tersebut.

​Plak!

​Sebuah gerakan secepat kilat dan kasar memotong pergerakan tangan Chloe. Asher menepis tangan mungil istrinya dengan sentakan yang cukup keras hingga tabung obat di genggaman Chloe terlepas dan menggelinding jauh di atas lantai marmer.

​Chloe terkesiap, tubuh mungilnya refleks mundur satu langkah karena terkejut. Dia memegang pergelangan tangannya yang terasa sedikit ngilu akibat tepisan kasar tersebut. Sepasang mata rusanya melebar sempurna, menatap Asher dengan pandangan yang dipenuhi oleh rasa syok yang mendalam.

​Asher membalikkan tubuhnya seutuhnya, kini menghadap langsung ke arah Chloe. Pria itu menatap Chloe dari ketinggian tubuh masifnya. Namun, apa yang Chloe lihat di dalam sepasang mata kelabu itu seketika membuat darah di dalam tubuhnya membeku.

​Tidak ada lagi tatapan lelah yang rapuh. Tidak ada lagi kelembutan tersirat yang memohon kehadirannya semalam. Yang ada hanyalah kedalaman sepasang mata kelabu yang sedingin es, kosong, kejam, dan dipenuhi oleh dinding pembatas yang teramat tebal dan tidak tersentuh. Tatapan mata yang persis sama dengan saat pria itu mengancam akan menghancurkan hidupnya di dalam sel bawah tanah.

​Asher menolak untuk disentuh oleh Chloe. Penolakan itu begitu mutlak dan dingin, menciptakan jarak ribuan kilometer di antara mereka dalam sekejap mata.

​Chloe berdiri mematung di tempatnya, pikirannya mendadak menjadi sangat kusut dan bingung luar biasa. Jiwanya seolah dipaksa mengalami roller coaster emosi yang ekstrem. Mengapa? Pertanyaan itu berteriak nyaring di dalam kepalanya. Semalam, pria ini begitu hangat. Pria ini membiarkan dirinya melihat titik terlemahnya, membiarkan dirinya memeluk dan menemani tubuhnya yang terluka di dalam rendaman air hangat dengan kelembutan yang memabukkan. Namun sekarang, mengapa dalam hitungan jam sikapnya bisa berubah kembali menjadi sedingin gunung es di kutub utara?

​Apakah semua kehangatan semalam hanyalah sebuah sandiwara? Ataukah pria ini memiliki kepribadian ganda yang mengerikan?

​Sebelum Chloe sempat membuka mulutnya untuk menyuarakan kebingungannya, Asher mengambil satu langkah maju. Kehadiran fisik tubuh masifnya yang mendekat seketika menyerap seluruh pasokan oksigen di sekitar Chloe, mendatangkan kembali rasa intimidasi yang sempat menghilang selama dua hari terakhir.

​Asher menundukkan wajahnya sedikit, membiarkan rahangnya yang mengeras kaku berada sejajar dengan wajah Chloe. Dia berbicara dengan suara baritonnya yang sangat rendah, berat, flat, dan sarat akan nada peringatan yang dingin yang menusuk langsung ke ulu hati Chloe.

​"Jangan pernah melewati batasmu, Chloe," ucap Asher, setiap kata yang keluar dari bibir tipisnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. "Ingat baik-baik siapa dirimu di rumah ini. Statusmu di sini adalah barang tebusan. Kau berada di sini semata-mata untuk membayar utang judi sialan dari ayahmu yang tidak berguna itu. Tidak lebih dan tidak kurang."

​Kata-kata kasar dan dingin itu menghantam dada Chloe dengan telak, menghancurkan sisa-sisa kehangatan yang sempat mekar di hatinya semalam. Rasa sakit yang tajam seketika merayap di rongga dadanya, membuat matanya mendadak terasa panas oleh genangan air mata yang siap menetes.

​Asher tidak memedulikan perubahan ekspresi wajah Chloe yang tampak terluka. Dia melanjutkan kalimatnya dengan tatapan yang semakin menajam, seolah sedang menegaskan garis pembatas yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun.

​"Jadi, jangan pernah berharap atau bermimpi bahwa kau bisa melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginanku. Jangan mengira karena semalam aku membiarkanmu berada di dekatku, kau memiliki hak untuk mencampuri urusanku atau menyentuhku sesukamu. Kau di sini untuk patuh, bukan untuk menjadi penyelamatku."

​Selesai berkata dengan kalimat yang begitu kejam dan menusuk tersebut, Asher memalingkan wajahnya dengan dingin. Dia melanjutkan mengancingkan sisa kancing kemejanya dengan gerakan cepat, lalu meraih jas tuksedo hitamnya yang tergantung di sandaran kursi. Tanpa memberikan satu pun pandangan sekilas ke arah Chloe yang masih berdiri gemetar menahan tangis, Asher melangkah tegap dengan langkah-langkah lebar yang penuh wibawa menuju pintu keluar.

​Cklek. Klik.

​Pintu besar itu dibuka dan ditutup kembali dengan cepat, diikuti oleh suara mekanis kunci otomatis yang menggema nyaring di dalam kamar, menyisakan keheningan pagi yang terasa jauh lebih dingin dan hampa dari sebelumnya.

​Begitu sosok Asher menghilang, tubuh Chloe mendadak kehilangan kekuatannya. Lututnya lemas, membuat dirinya jatuh bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin, tepat di samping tabung obat salep yang tadi ditepis oleh Asher. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang pucat.

​Chloe meremas gaun malam hitam tipisnya dengan kuat di bagian dada, mencoba meredakan rasa sesak yang luar biasa yang menyiksa batinnya. Dia berada di dalam kebingungan yang teramat sangat. Siapakah sebenarnya Asher Sterling? Mengapa pria itu bisa menjadi dua sosok yang sangat bertolak belakang dalam waktu satu malam? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalanya tanpa ada jawaban, meninggalkan Chloe sendirian terpuruk di lantai kamar pengantin yang kini terasa seperti sel penjara yang paling kejam di dunia.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!