NovelToon NovelToon
Takhta Di Balik Seragam

Takhta Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Action / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:658
Nilai: 5
Nama Author: Hailwise

SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.

Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hierarki yang Tak Terlihat

Jam pelajaran pertama berlangsung dalam suasana yang relatif tenang, namun bagi Rio, ketenangan itu terasa semu dan penuh tekanan. Di depan kelas, Bapak Guru Matematika sedang menjelaskan persamaan kuadrat dengan nada suara yang datar dan monoton, menuliskan rumus-rumus panjang di atas papan tulis putih. Suara kapur yang bergesekan dengan papan tulis itu terdengar nyaring di telinga Rio, namun pikirannya sama sekali tidak terserap ke dalam materi pelajaran. Matanya menatap lurus ke depan, namun kesadarannya tersebar ke seluruh ruangan, mengamati setiap gerak-gerik teman-teman sekelasnya.

Di sini, di dalam ruangan berukuran sekitar tujuh kali delapan meter ini, terdapat cerminan kecil dari struktur kekuasaan yang menguasai seluruh SMA Merdeka. Rio menyadari hal itu seiring berjalannya waktu. Ada pembagian wilayah yang tak tertulis namun sangat jelas.

Di bagian depan, tepatnya di bawah sorot cahaya lampu dan jangkauan pandangan guru, duduklah para siswa yang dikenal sebagai "kelompok aman". Mereka adalah anak-anak yang hanya ingin belajar, berprestasi, dan lulus dengan nilai tinggi tanpa mau tahu urusan dunia bawah tanah sekolah. Sebagian besar dari mereka adalah anggota OSIS, pengurus kelas, atau siswa berprestasi yang sering kali dilindungi oleh status akademis mereka. Di antara mereka ada Dinda, gadis yang dilihat Rio saat pertama masuk tadi.

Ia duduk tegak, mencatat setiap poin penjelasan guru dengan rapi, wajahnya serius dan fokus, seolah tidak ada hal lain di dunia ini selain pelajaran matematika. Namun sesekali, saat guru membalikkan badan untuk menulis di papan tulis, mata Dinda melirik sekilas ke arah belakang kelas, ke arah meja-meja yang lebih gelap dan sepi, dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara kewaspadaan dan ketidaksetujuan.

Berbeda jauh dengan bagian depan, bagian belakang kelas adalah wilayah yang berbeda dunia. Di sana, di mana bayangan lebih gelap dan pengawasan guru lebih lemah, duduklah mereka yang menganggap sekolah ini bukan tempat belajar, melainkan medan kekuasaan.

Di sudut paling belakang kanan, berjejer tiga bangku yang diduduki oleh empat orang siswa laki-laki. Mereka tidak mencatat, tidak membuka buku, bahkan ada yang menyandarkan kepalanya di atas meja seolah sedang tidur, namun mata mereka tetap terbuka sedikit, mengawasi segalanya. Pemimpin kelompok kecil di kelas ini adalah seorang siswa bernama Kevin.

Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun kekar dan padat, dengan otot-otot lengan yang terlihat jelas meski tertutup kemeja seragam. Rambutnya dipotong pendek dengan gaya undercut, dan di lehernya terlihat tali kalung tipis yang ujungnya masuk ke dalam kemeja konon katanya itu adalah kalung pemberian salah satu anggota Lima Raja, tanda bahwa ia berada di bawah perlindungan kelompok tertentu.

Sejak Rio masuk ke dalam kelas tadi, mata Kevin tidak pernah lepas dari tubuhnya. Setiap kali Rio bergerak sedikit saja, sudut mata Kevin akan mengikuti, bibirnya menyeringai tipis seolah sedang merencanakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Rio bisa merasakan getaran permusuhan yang kuat datang dari arah itu, sama persis seperti apa yang ia rasakan saat berhadapan dengan Dimas di lorong tadi. Ia tahu, berita tentang insiden di koridor dan pertemuannya dengan Bara pasti sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah dengan kecepatan kilat. Di dunia seperti ini, kabar tentang orang baru yang berani tidak melawan namun tetap dihormati oleh salah satu penguasa, adalah berita paling panas.

"Psst... hey, anak baru!"

Sebuah bisikan pelan terdengar jelas menembus keheningan kelas, berasal dari arah belakang Rio. Rio tidak menoleh. Ia tetap berpura-pura memperhatikan papan tulis, jari-jarinya mengetuk pelan buku tulis yang kosong di atas mejanya.

"Eh, lo nih! Rio atau apa namanya? Gue panggil kok pura-pura tuli ya?" Suara itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih keras dan menantang, disertai dengan suara tawa tertahan dari teman-teman Kevin yang lain.

Beberapa siswa di bagian depan menoleh sekilas dengan wajah cemas, lalu buru-buru kembali memandang ke depan, tidak ingin terlibat. Dinda yang duduk di barisan ketiga, sempat berbalik badan sedikit, menatap tajam ke arah kelompok Kevin, lalu menatap punggung Rio dengan tatapan khawatir, sebelum akhirnya kembali menghadap ke depan saat guru berbalik badan.

Kevin yang merasa diabaikan, mulai kehilangan kesabarannya. Ia mengambil sepotong kecil karet penghapus dari mejanya, lalu dengan gerakan cekatan dan akurat, menjentikkannya ke arah punggung Rio. Plak! Suara benturan kecil terdengar saat benda itu mengenai bagian tengah punggung Rio, lalu jatuh ke lantai.

Rio menghela napas panjang, menahan rasa kesal yang mulai memuncak di tenggorokannya. Ia tahu jika ia diam saja, mereka akan semakin berani dan terus mengganggunya sampai ia bereaksi. Namun jika ia bereaksi sekarang, di dalam kelas di depan guru, ia bisa saja terkena hukuman dan dicatat dalam buku pelanggaran, hal yang pasti akan membuat ibunya kecewa berat. Ia terjebak di antara dua pilihan yang sama buruknya.

Dengan gerakan sangat lambat dan terkontrol, Rio memutar kursinya hingga setengah menghadap ke belakang. Ia menatap Kevin dengan wajah yang sama sekali tanpa ekspresi, datar dan dingin. Tatapan itu bukan tatapan takut, bukan pula tatapan marah, melainkan tatapan kosong yang membuat Kevin merasa seolah-olah dirinya tidak dianggap ada.

"Ada apa?" tanya Rio pelan, suaranya rendah agar tidak terdengar sampai ke meja guru, namun cukup jelas didengar oleh Kevin dan anak buahnya.

Kevin tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang rapi namun senyumnya terasa sangat mengancam. Ia bersandar santai di kursinya, melipat kedua tangan di dada.

"Gila, dingin banget sih lo. Beneran anak baru ya? Berani juga lo ngelawan Dimas tadi, terus malah ngobrol akrab sama Bang Bara. Wah, sepertinya lo punya 'koneksi' keren nih ya di sekolah ini?" kata Kevin, nada bicaranya penuh sarkasme dan nada bertanya yang menuduh.

"Gak ada koneksi apa-apa. Cuma kebetulan ketemu doang. Dia lewat, selesai," jawab Rio singkat, berusaha memotong pembicaraan itu sesingkat mungkin.

"Yeee... bohong banget," sela salah satu teman Kevin di sebelahnya, anak yang bertubuh kurus berkacamata dengan wajah licik. Namanya Rian, tangan kanan Kevin di kelas ini. "Orang Dimas itu kan anak buahnya Bang Raka, lho. Siapa aja tau kalau Bang Raka sama Bang Bara itu hubungannya gak akur. Terus tadi Bang Bara nolongin lo? Wah-wah, berarti lo udah masuk kubu Bang Bara dong? Atau... lo mau jadi perantara atau apa?"

Mata Rio sedikit menyipit mendengar nama baru yang disebutkan: Bang Raka. Nama itu disebut dengan nada yang lebih rendah, lebih dihormati namun juga lebih ditakuti dibandingkan nama Bara. Rio mulai menyadari apa yang Bara katakan tadi tentang Lima Raja. Di antara mereka sendiri pun ada persaingan dan permusuhan yang mendalam. Sekolah ini bukan hanya sekadar satu kelompok besar, melainkan perpecahan kekuasaan yang rumit dan berbahaya.

"Gue gak masuk kubu siapa-siapa. Gue cuma mau sekolah, belajar, terus pulang. Titik," jawab Rio tegas, menegaskan kembali prinsipnya.

Kevin tertawa kecil, suara tawanya terdengar mengejek dan meremehkan. Ia mencondongkan badannya ke depan, mendekatkan wajahnya ke arah Rio, jarak di antara meja mereka hanya sekitar satu meter.

"Denger sini ya, Rio. Apa pun alasan lo, mau lo netral, mau lo anaknya siapa, atau mau lo temen deketnya Bang Bara sekalipun... di kelas ini, aturannya tetep gue yang bikin. Ngerti? Di sini, gue hukumnya. Kalau lo mau tenang, kalau mau gak diganggu, lo harus tau posisi lo di mana. Jangan sok jual mahal cuma gara-gara sekali kejadian lo diliat sama Bang Bara. Di sekolah ini, banyak banget anak baru yang pede terus akhirnya nangis minta pulang karena gak kuat nahan sakitnya."

Kevin berhenti sejenak, matanya meneliti setiap inci wajah Rio, mencari tanda-tanda ketakutan atau ketundukan yang biasa ia dapatkan dari siswa lain. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan yang mengerikan. Rio tidak gemetar, tidak menunduk, dan tidak terlihat terintimidasi sedikit pun. Hal itu justru membuat rasa benci Kevin semakin bertambah. Bagaimana mungkin anak baru yang belum tahu apa-apa ini berani bersikap setenang itu di hadapannya?

"Nanti jam istirahat pertama, ke belakang gedung olahraga. Sendirian. Jangan bawa-bawa nama Bang Bara atau siapa pun ke sana. Kita bahas 'uang masuk' dan aturan main di kelas ini secara mendetail. Kalau lo gak dateng... atau kalau lo lapor ke guru... siap-siap aja seumur hidup lo di sekolah ini bakal jadi neraka. Ngerti lo?" ancam Kevin, suaranya berubah menjadi berat dan dingin, tidak ada lagi nada bercanda di dalamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!