Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di garis badai
Jakarta tidak pernah ramah pada orang asing, tapi Nikolai Brine bukanlah orang asing biasa. Pria blasteran Dubai-Rusia itu berdiri di balkon hotel bintang limanya, menatap kemacetan Jakarta dengan tatapan sedingin es Siberia namun dengan ambisi sepanas gurun pasir. Baginya, kota ini hanyalah bidak catur baru yang harus ia kuasai.
"Semua sudah siap, Tuan Nikolai," suara Sebastian Reef, tangan kanannya, memecah keheningan. "Jalur distribusi di pelabuhan sudah bersih. Tapi ada satu hal yang mengganggu."
Nikolai menoleh sedikit, bekas luka tipis di rahangnya tampak jelas terkena lampu kota. "Apa?"
"Seorang wanita. Dia selalu ada di sekitar area pemukiman yang akan kita gusur untuk gudang baru. Namanya Clara Marine."
Nikolai mendengus. "Hanya seorang wanita? Singkirkan dia dengan uang."
"Masalahnya, Tuan... dia menolak. Dan dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang guru honorer yang tinggal di kontrakan sempit. Tapi cara dia menatap anak buah kita... dia tidak takut."
Rasa penasaran yang langka muncul di dada Nikolai. Ia tidak terbiasa dengan kata "tidak".
Di sudut lain kota, Clara Marine merapikan buku-buku di perpustakaan tua tempatnya bekerja. Pakaiannya sederhana, hanya kemeja flanel kebesaran dan celana jeans pudar. Teman-temannya di sana hanya tahu Clara adalah gadis yatim piatu yang berjuang membayar sewa kos. Tidak ada yang tahu bahwa di balik ponsel retaknya, terdapat enkripsi tingkat tinggi yang terhubung langsung ke server utama keluarga Marine di Belanda.
"Clara, kau mau ikut makan bakso di depan?" tanya Alice Pearl, sahabat dekatnya yang bekerja di toko bunga sebelah.
Clara tersenyum manis, senyum yang bisa meluluhkan hati pria paling keras sekalipun. "Duluan saja, Alice. Aku harus menyelesaikan laporan ini."
Saat Alice pergi, ponsel Clara bergetar. Sebuah pesan masuk dari Silas Marine, kembarannya yang berada ribuan mil jauhnya.
“Laporannya bilang ada pergerakan mafia Rusia di sektor utara dekat tempatmu. Pulanglah ke Amsterdam, Clara. Permainan 'hidup sederhana' ini mulai berbahaya.”
Clara hanya menghela napas. Ia mencintai ketenangan ini. Ia membenci kemewahan yang terasa seperti penjara emas. Namun, ketenangan itu hancur saat pintu perpustakaan berdenting, dan aroma parfum mahal bercampur tembakau masuk ke ruangan.
Nikolai Brine berdiri di sana. Sosoknya yang tinggi besar dan setelan jas bespoke-nya tampak sangat tidak selaras dengan debu perpustakaan.
"Aku mencari buku tentang sejarah pelabuhan," suara Nikolai berat dan penuh otoritas.
Clara mendongak, matanya bertemu dengan mata biru tajam Nikolai. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Clara merasa seperti seekor kelinci yang sedang diamati oleh predator puncak. Ia tahu pria ini berbahaya. Ia tahu pria ini bukan sekadar pebisnis.
"Bagian sejarah ada di rak nomor empat, Tuan..." Clara menggantung kalimatnya.
"Brine. Nikolai Brine," pria itu melangkah mendekat, memperkecil jarak hingga Clara bisa merasakan panas dari tubuh pria itu. "Dan kau pasti Clara. Wanita yang membuat anak buahku terlihat seperti amatir."
Clara mencoba tetap tenang, tangannya di bawah meja sudah menyentuh tombol darurat yang terhubung ke pengawal rahasianya. "Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan."
Nikolai menyeringai tipis, sebuah seringai yang menjanjikan badai. "Kita lihat saja berapa lama kau bisa bersembunyi di balik topeng gadis polos ini, Clara Marine."
Pertemuan itu singkat, namun cukup untuk mengubah arah takdir keduanya. Nikolai tidak hanya menginginkan lahan pelabuhan itu sekarang; ia menginginkan wanita yang memiliki nama keluarga yang sama dengan penguasa ekonomi di Eropa Utara tersebut.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...