NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak di koridor

PUKUL 07:10

Koridor basement rumah sakit itu bagai mulut naga yang gelap dan lembap. Jeno memimpin dengan senter HP-nya yang redup, diikuti oleh Shotaro, Sungchan, Haechan, dan Sohee. Bau disinfektan bercampur sesuatu yang busuk menusuk hidung.

"Denahnya bener, kan?" bisik Haechan, matanya juling ke setiap bayangan.

"Kantin harusnya di ujung koridor ini, sebelah laundry," jawab Sohee dengan suara datar, meski tangan yang memegang denah kertas bergetar halus.

Mereka sampai di depan pintu ganda bertuliskan 'KAFETERIA'. Salah satu daun pintu tergantung setengah lepas, kegelapan pekat membentang di dalam.

Sungchan melangkah maju, rifle kosongnya diacungkan. "Gue duluan."

Dia mendorong pintu dengan perlahan. Suara berderit panjang memecah kesunyian, membuat mereka semua menahan napas.

Senter-senter kecil mereka menyapu ruangan.

"Astaga..." desis Haechan.

Kantin itu berantakan. Kursi dan meja berserakan seperti setelah badai. Tapi yang menarik perhatian mereka bukan kekacauannya. Di belakang konter penyajian, rak-rak yang sebagian roboh masih menyimpan harta karun.

Kaleng-kaleng makanan bertumpuk di salah satu rak. Ada kacang polong, jagung, sarden. Beberapa bungkus mi instan terselip di lantai. Di sudut, sebuah dispenser air galon berdiri, dan yang membuat jantung mereka berdetak kencang—masih ada sisa air sekitar seperempatnya!

"BINGO!" Haechan nyaris berteriak sebelum tangannya sendiri menutup mulutnya. Matanya bersinar.

"Jangan bersuara, idiot!" desis Jeno tajam. Tapi senyum lega yang lebar juga merekah di wajahnya. "Ayo, ambil semuanya. Cepat. Tas dibuka."

Mereka tidak perlu disuruh dua kali. Rasa lapar yang selama ini hanya jadi latar belakang ketakutan kini mendorong mereka seperti mesin.

Shotaro langsung meraih tas ransel besar yang mereka bawa. Dia membukanya lebar-lebar di atas konter. Tanpa pilih-pilih, tanpa melihat tanggal kadaluarsa, tangannya menjangkau kaleng-kaleng itu dan melemparkannya ke dalam tas.

*Blung! Blung! Blung!* Suara kaleng-kaleng yang masuk bergema di ruangan sunyi.

"Yang berbunyi, ha!" bisik Haechan sambil tetap bekerja cepat, mengambil bungkusan-bungkusan mi instan dan memasukkan sekaligus.

Sungchan dan Jeno bekerja sama dengan dispenser air. Mereka mencoba mengangkat galonnya. Terlalu berat untuk dibawa. "Butuh wadah," bisik Jeno.

Sohee dengan cepat membuka lemari di bawah konter. "Panci! Ini!" Dia mengeluarkan dua panci stainless besar. Dengan gemetar namun efisien, mereka memutar kran dispenser. *Glug... glug... glug...* Suara air jernih mengisi panci itu adalah musik terindah yang pernah mereka dengar.

"Jangan sampai tumpah," gumam Sungchan, matanya tak lepas dari air yang semakin penuh.

Sementara itu, Sohee tidak hanya fokus pada makanan. Matanya scan sekeliling. Dia melihat pintu kecil bertanda 'GUDANG KECIL'. Dengan hati-hati dia mendorongnya. Ruangan gelap penuh dengan kotak-kardus. Senter HP-nya menyapu rak, dan... berhenti.

Di rak tersebut, ada kotak P3K berukuran besar, belum terbuka. Dan di sebelahnya, beberapa botol obat dengan label jelas: **Antibiotik, Paracetamol, Larutan Infus**.

"Mereka... mereka ninggalin ini," bisiknya pada dirinya sendiri, tak percaya. Dia meraih kotak P3K dan obat-obatan itu, memeluknya erat.

Di luar, Shotaro yang berjaga di pintu kantin tiba-tiba melambaikan tangan gila-gilaan.

"ADA YANG DATANG! DARI KORIDOR BARAT! CEPET SEMBUNYI!"

Kegembiraan mereka berubah menjadi kengerian murni dalam sekejap.

"MASUKIN TAS! APA AJA YANG BELUM!" histeris Jeno.

*Kresek!* Haechan menyodok sisa mi instan dan beberapa bungkus biskuit yang tercecer ke dalam tas dengan brutal, hampir merobeknya.

Sungchan dengan sigap mengambil panci berisi air, menaruhnya di lantai di belakang konter. Jeno mengangkat panci satunya.

Mereka berlima berhamburan bersembunyi. Jeno dan Sungchan di balik konter kayu besar. 

Haechan dan Shotaro menyelinap masuk ke bawah meja panjang yang terbalik. Sohee masuk ke gudang kecil, menarik pintunya hampir tertutup, tinggal celah kecil untuk melihat.

Napas mereka tertahan.

Suara itu masuk.

Bukan langkah kaki. Tapi suara gesekan halus, seperti kulit kasar menyentuh keramik, diiringi decitan pelan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Sosok Klepek-Klepek itu meluncur masuk ke kantin. Tubuhnya yang ramping dan gelap terlihat lebih mengerikan di cahaya remang. Titik-titik biru di tubuhnya berkedip-kedip lambat, memindai ruangan. Dia berhenti tepat di depan konter, di dekat tas ransel mereka yang masih terbuka lebar, berisi beberapa kaleng makanan yang belum sempat ditutup rapat.

Dia membungkuk. Kepalanya yang tak bermuka mendekati tas itu.

Di balik konter, Jeno menutup matanya, berdoa dalam hati. *Jangan. Jangan lihat. Pergi.*

Klepek-Klepek itu mengulurkan salah satu cakar kurusnya. Bukan ke tas, tapi ke lantai di sebelahnya, di mana sebutir kacang kaleng terjatuh tadi. Cakar itu menjepit kacang itu, mengangkatnya, lalu... memasukkannya ke dalam celah di mana mulutnya seharusnya. Suara kunyahan kecil, renyah, terdengar.

Lalu, dengan gerakan tiba-tiba, kepalanya menoleh ke arah **gudang kecil** tempat Sohee bersembunyi. Titik-titik birunya berkedip lebih cepat.

Dia tahu.

Dia tahu ada sesuatu di sana.

Dan dia mulai melangkah pelan, mendekati pintu gudang yang tertutup sebagian itu.

Melalui celah pintu yang sempit, Sohee menyaksikan titik-titik cahaya biru itu bergerak mendekat. Detak jantungnya menggema keras di telinganya sendiri, menenggelamkan suara decitan lembut makhluk itu. Nafasnya tertahan di tenggorokan, dadanya terasa seperti dihimpit batu.

Jangan bergerak. Jangan bersuara. Dia cuma penasaran.

Pikirannya berloncatan liar, tetapi tubuhnya membeku sempurna. Dia masih memeluk erat kotak P3K dan botol-botol obat. Salah satu botol antibiotik, yang tidak tertutup rapat, tiba-tiba terasa licin di genggamannya yang berkeringat dingin.

Tidak. Jangan jatuh. JANGAN.

Cengkeramannya mengeras. Kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri, mengalihkan rasa panik menjadi sakit yang tajam.

Di luar, Klepek-Klepek itu sudah berdiri tepat di depan celah pintu. Sohee bisa melihat detail mengerikan dari dekat: tekstur kulitnya yang seperti chitin mengkilap, pola kedipan biru yang tak beraturan, dan ujung cakar yang terkait, berwarna hitam pekat seperti obsidian.

Cakar itu terangkat. Bukan untuk membuka paksa, tapi mengetuk pelan di panel kayu pintu.

Tok. Tok.

Suaranya seperti palu godam di kepalanya. Sohee menutup matanya rapat-rapat, berusaha menjadi bagian dari kegelapan gudang.

Tok. Tok.

Lalu, hening.

Sohee tidak berani membuka mata. Dia hanya mendengar suara gesekan itu perlahan menjauh. Titik-titik biru yang menyelinap melalui celah pintu bergerak menjauh, kembali ke arah tengah kantin, lalu ke arah pintu keluar.

Suara gesekan itu memudar, lalu hilang sama sekali.

Dia masih tidak bergerak. Menunggu. Hitungannya mencapai enam puluh di dalam hati sebelum dia berani membuka mata setengah.

Celah pintu sudah kosong. Hanya ada kegelapan koridor kantin.

Dengan tangan yang masih gemetar hebat, dia mendorong pintu perlahan. Pandangannya menyapu ruangan kantin. Kosong. Klepek-Klepek itu sudah pergi.

"Sudah... sudah pergi," bisik jeno, suaranya serak dan nyaris tak terdengar.

Dari balik konter, Jeno muncul pertama, wajahnya pucat. Diikuti Sungchan yang langsung mengacungkan rifle-nya ke arah pintu kosong. Haechan dan Shotaro keluar dari kolong meja seperti dua tikus yang ketakutan.

"Kita... kita selamat," gumam Haechan, lalu langsung menempelkan telinganya ke walkie-talkie di pinggang Jeno. "Gak ada panggilan darurat dari tim lain. Berarti aman."

Jeno mengangguk, menghela napas panjang yang selama ini tertahan. "Cepetan. Tutup tas. Bawa panci air ini. Kita harus balik SEKARANG."

Mereka bergerak dengan kecepatan dan ketenangan baru yang dipelajari dari pengalaman nyaris celaka. Shotaro mengencangkan tali tas ransel yang sekarang penuh dan berat oleh puluhan kaleng makanan. Sungchan dan Jeno dengan hati-hati mengangkat panci-panci berisi air, berusaha agar tidak tumpah setetespun.

Sohee keluar dari gudang, masih memeluk barang-barang medisnya. "Aku nemu ini. Antibiotik. Obat pereda nyeri. Infus. Ini penting banget," katanya pada Jeno, suaranya sudah lebih terkendali.

"Bagus," jawab Jeno singkat. 

"Sekarang, keluar dari sini dengan tenang. Satu formasi. Sungchan depan, aku belakang. Jangan lari. Tapi Jalan cepat dan sunyi."

Mereka menyusuri koridor basement yang sama gelapnya, tapi kini dengan beban yang memberatkan langkah namun sekaligus membuat hati sedikit lebih ringan. Mereka membawa harapan. Mereka membawa bahan untuk bertahan lebih lama.

Saat mereka mendekati tangga menuju lantai tiga, walkie-talkie di pinggang Jeno tiba-tiba berdesis, diikuti suara Giselle yang panik dan teredam.

"Jeno! Semua tim! Balik sekarang! Gerombolan besar Klepek-Klepek mendekati rumah sakit dari selatan! Mereka bergerak cepat! Evakuasi! Balik ke basecamp sekarang!"

Wajah mereka berlima berubah. Kelegaan yang baru saja dirasakan langsung menguap.

"LARI!" teriak Jeno, dan kali ini, dengan segala risiko berisik, mereka mulai berlari menaiki tangga, membawa hasil rampasan yang bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati bagi dua puluh delapan orang di ruang linen.

...

Disisi lain giliran kelompok lain yang butuh ke kamar mandi pria di ujung koridor yang sama. Mark dan Yeri masuk bersama, meninggalkan Jaemin yang berjaga di luar pintu dengan wajah masih tegang mendengar laporan Giselle.

"Jangan lama-lama," bisik Jaemin, matanya terus memantau koridor yang sunyi. "Ada situasi genting."

Mark hanya memberi anggukan singkat sebelum menarik Yeri masuk dan mengunci pintu bilik terbesar di ujung. Ruangan itu lebih gelap, hanya ada celah kecil di bagian atas dinding yang memberi sedikit cahaya abu-abu.

Begitu pintu bilik tertutup, ketegangan yang selama ini mereka tahan bersama seolah menemukan celah untuk meledak. Bukan ledakan kemarahan, tapi ledakan kelegaan yang putus asa. Di dunia yang runtuh ini, sentuhan satu-satunya orang yang mereka percaya sepenuhnya adalah obat sekaligus pelarian.

Mark duduk di tutup kloset, tubuhnya lelah. Yeri, tanpa kata-kata, langsung merangkulnya, wajahnya terkubur di leher Mark. Getaran bahunya yang halus memberitahu Mark bahwa dia menangis lagi, diam-diam.

"Kita bakal baik-baik aja, Babe," bisik Mark, suaranya serak, tangannya merangkul punggung Yeri. Tapi kata-katanya sendiri terasa hampa. Setelah Jiwoo, setelah Wonbin... apa artinya 'baik-baik' lagi?

Yeri mengangkat wajahnya. Pipinya basah, matanya merah, tapi di dalamnya ada api kecil, sebuah kebutuhan yang sangat manusiawi di tengah semua dehumanisasi ini. "Mark... aku takut," bisiknya, tapi tangannya meraih wajah Mark. "Aku takut kita gak akan pernah..."

Yeri tidak menyelesaikan kalimatnya. Mark mengerti. Dia juga takut. Takut mereka tidak akan pernah lagi merasakan normalitas, takut setiap detik bersama bisa jadi yang terakhir.

Dan di dalam ketakutan itulah, naluri paling dasar berbicara. Bukan untuk bertahan hidup, tapi untuk merasa hidup.

Mark menjawab cengkeraman Yeri dengan menekankan dahinya ke dahi gadis itu. Lalu, tanpa rencana, tanpa romansa, hanya dorongan hasrat dan keputusasaan, bibir mereka bertemu.

...

...

Ini bukan ciuman lembut seperti dulu di taman sekolah. Ini ciuman yang lapar, tergesa, dan penuh kepasrahan. Sebuah konfirmasi bahwa mereka masih ada, bahwa mereka masih bisa merasa. Yeri membalas dengan intensitas yang sama, tangannya menaut di rambut Mark, menariknya lebih dekat, seolah ingin melebur menjadi satu agar rasa takut itu lenyap.

Suara dari luar, suara koridor, suara panggilan—semua mengabur menjadi desisan putih di telinga mereka. Dunia menyempit menjadi bilik toilet yang kotor, panasnya nafas mereka yang bercampur, dan desahan-desahan kecil yang tercekat.

DI LUAR BILIK – JAEMIN

Jaemin berdiri di depan pintu kamar mandi pria, telinganya menempel di walkie-talkie. Suara Giselle semakin panik.

"Mereka masuk! Klepek-Klepek masuk ke area taman rumah sakit! Beberapa mungkin sudah masuk lewat jendela lantai bawah! Semua tim, BALIK SEKARANG!"

"MARK! YERI! KELUAR! SEKARANG JUGA!" teriak Jaemin ke arah pintu bilik tertutup.

Tidak ada jawaban.

Jaemin mendorong pintu kamar mandi. Terbuka. Beberapa bilik kosong. Hanya satu yang terkunci.

"MARK!" jaemin mengetuk paksa pintu bilik itu. "Denger gak sih?! KLEPEK-KLEPEK DAH DI DALAM GEDUNG! KITA HARUS LARI!"

Dari dalam, hanya terdengar suara berdesis pelan dan gerakan berhenti mendadak. Tapi pintu tidak kunjung terbuka.

Jaemin, didorong oleh adrenalin dan amarah karena tidak dihiraukan, mengunci bahu dan mendobrak pintu bilik yang tidak terlalu kokoh itu.

BAM!

Pintu terbuka paksa.

Dan di sana, dalam cahaya remang-remang, Jaemin melihat mereka: Mark masih duduk di kloset, Yeri ada di pangkuannya, wajah mereka berjarak hanya sentimeter, bibir bengkak, napas terengah, bercampur rasa kaget dan malu yang membara.

Untuk sepersekian detik, ketiganya membeku. Jaemin memandang dengan ekspresi campuran antara kaget, jijik, dan frustrasi yang meledak.

"AISH! BANGSAT BENER LU BERDUA!" sumpah Jaemin, suaranya mendesis penuh kekesalan. 

JAEMIN tidak punya waktu untuk rasa malu atau penjelasan. "GUE TERIAK-TERIAK KLEPEK-KLEPEK UDAH SAMPE DALEM! LO MALAH PADA MESRA MESRA AN DI SINI?!"

Mark dan Yeri tercerabut dari dunia mereka yang sempit. Wajah mereka yang sempat merah oleh hasrat langsung pucat pasi mendengar kata 'dalam'. Malu mereka langsung tenggelam oleh gelombang ketakutan yang lebih besar dan lebih nyata.

"Di... di dalam?" teriak Yeri, melompat dari pangkuan Mark.

"Yang bener?!" Mark bangkit, nyaris menjatuhkan Yeri.

"Hiist,, YA BENER  LAH , SEKARANG! KELUAR! LARII!" Jaemin sudah berbalik, menyambar lengan Yeri yang terdekat dan menariknya keluar bilik.

Mark tidak perlu disuruh lagi. Mereka bertiga berlari keluar dari kamar mandi, meninggalkan momen intim yang terganggu begitu brutal. Malu mereka terbakar, tetapi ketakutan akan kematian yang mendesis di koridor rumah sakit yang gelap adalah motivator yang jauh lebih kuat untuk berlari secepat mungkin, menyusuri koridor menuju ruang linen dimana kekacauan yang lebih besar mungkin sudah menunggu.

....

Kresek! Kresek!

Tas ransel besar yang dipikul Shotaro berisi puluhan kaleng makanan dan mi instan berdesir keras dengan setiap langkah mereka yang tergopoh-gopoh. Panci air yang dibawa Jeno dan Sungchan nyaris tumpah, airnya bergoyang liar membasahi lengan mereka.

"Tangga! Tangga darurat di depan!" teriak Sohee, napasnya tersengal, sambil menunjuk ujung koridor basement yang gelap.

Tapi sebelum mereka mencapainya, dari balik belokan koridor di depan, sosok ramping dan gelap meluncur keluar dengan gerakan yang licin dan sunyi. Titik-titik cahaya biru berkedip-kedip dengan pola acak, memantulkan cahaya senter mereka yang goyang-goyang.

"SKREEE—!"

Lengkingan pendek, penuh ancaman, memekakkan telinga di koridor sempit.

"DI DEPAN! BERHENTI!" jerit Jeno, nyaris menjatuhkan panci air.

Mereka berlima langsung membeku, mundur selangkah. Tapi sebelum mereka bisa berbalik, dari belakang—dari arah kantin yang baru saja mereka tinggalkan—suara gesekan dan decitan yang sama terdengar.

Haechan menoleh, wajahnya pucat mentah. "Di... di belakang juga! DUA! KITA DIKEPUNG!"

Benar adanya. Dua sosok Klepek-Klepek lainnya muncul, menghalangi jalan mundur mereka. Mereka terjepit di koridor sepanjang sekitar dua puluh meter, dengan makhluk di kedua ujungnya yang perlahan merayap mendekat, titik birunya berkedip semakin cepat, seperti pemangsa yang bermain-main dengan mangsanya.

Suasana langsung histeris.

"TEMBAK! TEMBAK MEREKA!" teriak Sungchan dengan suara parau, mengangkat rifle kosongnya. Dia membidik makhluk di depan dan menekan pelatuk.

Klik! Klik!

Suara kosong. Senjatanya sudah habis.

"SIAL! KOSONG!" raung Sungchan, frustrasi.

Jeno melemparkan panci airnya ke lantai dengan kasar, berdenting!, lalu meraih pistol dari pinggangnya. Dia membidik ke arah makhluk di belakang.

BANG!

Suara tembakan memekakkan di koridor tertutup. Peluru meleset, menghantam dinding dan memantul dengan suara nyaring. Klepek-Klepek itu terkejut, mundur selangkah, tetapi tidak lari. Malah, mereka tampak semakin marah. Lengkingan mereka semakin tinggi dan menusuk.

"GAK KENA! MEREKA CEPET BANGET!" teriak Jeno, panik.

Haechan menjerit histeris, menarik-narik rambutnya sendiri. "KITA BAKAL MATI! KITA BAKAL DIMAKAN DI SINI! KAYAK WONBIN!"

Sohee mendorong tas besar di punggung Shotaro ke dinding, berusaha membuat barikade kecil. "Jangan panik! Cari sesuatu! Apa aja!"

Shotaro, dengan kelincahannya, langsung memanjat ke atas pipa besar di dinding, berusaha mencari celah di plafon. "Di atas! Ada ventilasi! Tapi sempit!"

Tapi itu bukan jalan keluar. Ventilasi itu terlalu kecil untuk mereka masuki, apalagi dengan tas besar berisi makanan.

Dua Klepek-Klepek di depan mulai mendekat lagi, cakar mereka yang hitam dan runcing mencakar-cakar udara, seolah sudah mencium aroma ketakutan dan keputusasaan mereka. Suasana koridor basement itu menjadi sebuah ruang tahanan yang mengerikan, dengan dinding yang terbuat dari ketakutan dan penjaga yang haus darah.

.....

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!