Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Kerumunan mahasiswa yang semula hanya melintas, kini perlahan memadat. Langkah-langkah kaki terhenti, membentuk lingkaran tak kasat mata yang mengepung pusat konflik.
Aroma ketegangan tercium pekat di udara, mengubah koridor kampus yang biasanya menjadi tempat diskusi akademis menjadi panggung terbuka tempat ego dan harga diri dipertaruhkan di depan mata publik.
Ferdiyan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyudahi sandiwaranya.
Justru saat Juan memutuskan untuk berbalik dan melangkah pergi bersama Andre dan Doni, suara tawa Ferdiyan kembali menggema, sengaja dikeraskan agar setiap telinga yang ada di sana bisa menangkap nada ejekannya.
“Eh, jangan kabur dulu dong!” seru Ferdiyan dengan nada sinis yang memuakkan. “Baru juga mulai panas, masa jagonya sudah mau lari?”
Langkah Juan terhenti seketika.
Andre dan Doni saling lempar pandang, bahu mereka menegang. Mereka tahu betul, singa yang sedang tenang pun akan terusik jika ekornya terus-menerus diinjak. Konflik ini rupanya belum mencapai titik jenuh.
Juan menoleh perlahan. Gerakannya sangat tenang, hampir seperti gerakan air yang mengalir. Tatapannya lurus dan jernih, sama sekali tidak membiarkan emosi sekecil apa pun bocor ke permukaan wajahnya.
Justru ketenangan sedingin es itulah yang membuat Ferdiyan merasa geram dan tidak dihargai.
“Ada apa lagi?” tanya Juan singkat, nadanya datar namun memiliki penekanan yang kuat.
Ferdiyan melangkah mendekat, membusungkan dadanya seolah ingin menunjukkan bahwa kemeja bermereknya adalah tameng kekuasaan. “Lu pikir dengan omongan sok jago tadi lu otomatis menang? Lu tetap orang yang sama, Juan. Pecundang yang nggak punya apa-apa selain bualan.”
Laras ikut merangsek maju, berdiri di samping Ferdiyan bak perisai hidup. Wajahnya masih menyisakan rona merah padam, campuran antara rasa malu yang belum hilang dan amarah yang baru saja tersulut kembali, terutama setelah sindiran Andre dan Doni yang menghantam telak harga dirinya.
“Iya,” sambung Laras dengan suara yang melengking tajam. “Lu dan teman-teman lu itu cuma jago di mulut doang. Pada kenyataannya, hidup lu itu masih nol besar. Masih sampah!”
Bisik-bisik di sekitar mereka kian riuh. Ada beberapa mahasiswa yang mengangguk setuju pada ucapan Laras, namun tak sedikit yang memandang perempuan itu dengan raut tidak senang; mereka melihat seorang wanita yang sedang menari di atas luka masa lalunya sendiri.
Juan masih bergeming, membiarkan serangan kata-kata itu lewat begitu saja seperti angin lalu. Namun, Andre tidak bisa lagi tinggal diam. Ia melangkah setengah langkah ke depan, menaruh posisi tubuh yang protektif terhadap sahabatnya.
“Laras,” suara Andre menggelegar tegas, “lu sendiri yang mulai menghina duluan. Jangan sekarang lu berakting jadi korban di sini. Munafik tahu nggak?”
Doni ikut menimpali, suaranya dingin dan sarat akan penghinaan. “Dan jangan sampai orang-orang lupa, lu adalah orang yang tega meninggalkan Juan tepat saat dia di titik terendah, hanya demi dompet yang lebih tebal.”
Ucapan Doni bagaikan siraman bensin ke atas api yang sedang berkobar.
“Apa salahnya gue memilih hidup yang lebih layak?!” bentak Laras histeris, napasnya memburu. “Gue perempuan! Gue nggak mau hidup susah seumur hidup cuma buat nungguin orang kayak dia sukses!”
Juan akhirnya kembali membuka suara. “Memilih hidup yang lebih baik itu adalah hak lu, Laras,” katanya pelan, hampir menyerupai bisikan namun entah mengapa terdengar sangat jelas di tengah kerumunan. “Tapi jangan pernah menginjak kepala orang lain hanya agar lu merasa lebih tinggi.”
Ferdiyan tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sumbang. “Ngomong tinggi-tinggi soal filsafat, tapi hidup masih mengandalkan bus kota! Lucu lu, Juan!”
Tawa Ferdiyan memancing beberapa gelintir orang untuk ikut tertawa, meski sebagian besar mahasiswa hanya diam, merasa suasana ini sudah terlalu jauh dari batas kewajaran.
Juan melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak. Aura yang terpancar dari tubuhnya mendadak terasa lebih berat, lebih mengancam.
“Lu mau merendahkan gue di depan umum? Silakan, Fer,” ucapnya dengan nada setenang telaga. Ia menatap mata Ferdiyan lurus-lambat, tanpa berkedip. “Tapi jangan kaget... kalau suatu saat nanti keadaan bisa berbalik seratus delapan puluh derajat.”
Ferdiyan mengangkat alis, mencibir dengan bibir yang melengkung remeh. “Berbalik? Pakai apa? Pakai mimpi-mimpi lu yang ketinggian itu?”
Andre tersenyum miring, sebuah senyum yang penuh rahasia. “Lu terlalu percaya diri sama nama besar keluarga Suryadarma, Fer. Lu lupa ya, roda itu berputar?”
Doni ikut menyambar, lengannya bersedekap di dada. “Kekayaan itu bukan sesuatu yang permanen. Kadang, ia bisa pindah tangan hanya dalam satu malam.”
Laras menyeringai sinis, mencoba kembali menyerang. “Kalian ini benar-benar lucu. Juan saja katanya baru dapat jackpot lima miliar dari jual berlian atau apalah itu. Tetap saja, uang segitu nggak ada artinya dibanding kekayaan Ferdiyan yang nggak bakal habis tujuh turunan!”
Informasi itu seketika memicu ledakan bisikan di antara kerumunan mahasiswa.
“Lima miliar?”
“Serius si Juan dapat duit segitu?”
“Berlian dari mana? Wah, gila!”
Juan tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia tidak membantah, tidak juga membenarkan. Ia hanya memberikan senyum tipis yang penuh teka-teki.
“Jackpot atau bukan, itu sama sekali bukan urusan lu lagi, Laras,” katanya dingin. “Tapi ada satu hal yang pasti... lu terlalu murah dalam menilai harga diri lu sendiri.”
Laras membelalak, dadanya naik turun karena emosi yang memuncak. “Apa maksud kamu, Juan?! Jaga bicara kamu!”
Juan menatapnya tanpa secercah emosi, seolah sedang menatap objek yang tak bernyawa.
“Seorang pelacur melayani tamunya karena bayaran yang jelas. Ada harga, ada transaksi, ada kejujuran di sana,” ucap Juan datar namun kata-katanya menghunjam dalam. “Tapi lu? Lu memberikan segalanya secara gratis hanya karena iming-iming status dan kata cinta yang lu tukar dengan materi. Lu pikir lu lebih mulia dari mereka?”
Suasana di koridor itu seketika membeku. Senyap yang mencekam menyelimuti semua orang. Beberapa mahasiswa terperanjat, sebagian menutup mulut karena syok mendengar keberanian Juan melontarkan kalimat sevulgar itu di depan umum.
Andre dan Doni memilih diam. Mereka membiarkan kata-kata Juan menggantung di udara, menjadi pukulan telak yang tidak bisa dibantah.
Ferdiyan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. “Jaga mulut sampah lu, Juan! Jangan berani-berani lu hina cewek gue!”
Juan tetap tenang, tak gentar sedikit pun. “Gue nggak menghina. Gue cuma menjaga fakta agar tetap terlihat jelas.”
Laras gemetar hebat. Wajahnya yang semula merah kini berubah pucat pasi, matanya mulai berkaca-kaca karena perpaduan rasa marah, tersinggung, dan malu yang amat sangat.
“Lu pikir... gue bakal menyesal karena meninggalkan lu?!” teriak Laras dengan suara parau yang pecah. “Nggak akan! Gue nggak akan pernah menyesal seumur hidup gue!”
Juan mengangguk pelan, seolah sedang mendengarkan curhatan anak kecil. “Mungkin sekarang lu merasa begitu.”
Ia melangkah maju sedikit lagi, membuat Ferdiyan refleks mundur karena tekanan aura Juan yang mendadak luar biasa kuat.
“Tapi suatu hari nanti, saat semuanya sudah hilang, lu bakal ingat hari ini. Hari di mana lu membuang seseorang yang tulus mencintai lu hanya demi sebuah gengsi yang fana.”
Ferdiyan menyela dengan suara kasar, berusaha mengambil kembali kendali suasana. “Cukup! Jangan sok bijak di depan gue! Mau sampai kapan pun, lu nggak akan pernah bisa menyentuh, apalagi mengalahkan keluarga Suryadarma!”
Juan tersenyum lebih lebar kali ini, sebuah senyum yang tampak sangat tulus sekaligus mengerikan.
“Siapa bilang gue mau langsung mengalahkan lu, Fer?” tanyanya retoris. “Gue nggak butuh buru-buru. Gue cuma butuh waktu.”
Tatapan Ferdiyan berubah menjadi tajam dan penuh kebencian. “Lu terlalu percaya diri, pecundang.”
Juan mengangkat bahu dengan santai. “Keyakinan gue bukan berasal dari omongan kosong, tapi dari proses yang sedang gue jalani.”
Ia menatap Ferdiyan sangat dalam, seolah sedang menandai wajah itu. “Dan soal kekayaan... mari kita lihat bersama, sekuat apa dinasti Suryadarma bisa bertahan dari badai yang akan datang.”
Andre dan Doni berdiri tegap di sisi Juan, tampak seperti dua tembok raksasa yang tak tergoyahkan.
Laras mencibir, meski suaranya kini terdengar lirih dan goyah. “Mimpi lu... terlalu tinggi untuk orang miskin kayak lu.”
Juan hanya membalasnya dengan senyuman yang sangat tenang. “Mimpi gue... selalu punya cara untuk menjadi nyata,” ucapnya singkat.
Ia kemudian menoleh ke arah kedua sahabatnya. “Ayo pergi. Kita masih punya banyak urusan yang lebih penting.”
Tanpa menunggu respon lebih lanjut dari kedua sejoli itu, Juan berbalik dan melangkah pergi dengan mantap. Andre dan Doni mengikutinya dengan kepala tegak, meninggalkan pusaran drama yang mereka buat.
Kerumunan perlahan-lahan bubar, meninggalkan bisikan-bisikan yang kini justru mempertanyakan sikap Ferdiyan dan Laras. Mereka tidak lagi dipandang dengan kekaguman atas kekayaannya, melainkan dengan pandangan yang penuh tanda tanya.
Ferdiyan berdiri kaku di tempatnya. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, dan tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih.
Sementara Laras, ia hanya bisa menatap punggung Juan yang perlahan menghilang di ujung lorong. Ada sesuatu yang menghimpit dadanya, sebuah rasa sesak yang asing, yang mati-matian ia sangkal keberadaannya.
Di sisi lain, Juan berjalan menjauh dengan langkah yang stabil. Tidak ada rasa amarah yang tersisa, tidak pula rasa puas yang berlebihan.
Hanya ada satu keyakinan yang kian membara di dalam dadanya, bahwa waktu adalah hakim yang paling adil, dan ia akan segera membuktikan segalanya.