NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Hutan Kutukan Iblis

​Pagi-pagi buta, ketika kabut masih menyelimuti Pegunungan Awan Surgawi dan para murid baru saja memulai meditasi fajar mereka, sesosok bayangan hitam telah melangkah keluar dari gerbang utama sekte.

​Tidak ada perpisahan yang megah, tidak ada arak-arakan. Lin Chen hanya mengenakan jubah hitam sederhananya, topi bambu yang menutupi separuh wajahnya, dan Bilah Besi Bintang Jatuh raksasa yang terikat erat di punggungnya dengan rantai baja hitam.

​Ia menoleh sejenak ke belakang, menatap gerbang batu raksasa Sekte Pedang Awan Surgawi untuk terakhir kalinya. Di tempat inilah ia menghancurkan musuh-musuhnya dan bangkit dari status "cacing lumpur" menjadi pewaris naga.

​"Selamat tinggal, masa lalu," gumam Lin Chen pelan. Ia berbalik dan melangkah maju. "Dunia yang sesungguhnya... aku datang."

​Dua Minggu Kemudian.

​Wilayah perbatasan antara Sekte Pedang Awan Surgawi dan pusat Kekaisaran Bintang Surgawi dipisahkan oleh sebuah bentang alam mematikan yang dikenal sebagai Hutan Kutukan Iblis.

​Pohon-pohon di hutan ini berwarna hitam pekat, tingginya mencapai ratusan meter dengan cabang-cabang berduri yang menghalangi sinar matahari. Udara di tempat ini dipenuhi kabut hijau keabu-abuan yang sangat beracun (Miasma). Kultivator di bawah Ranah Pengumpulan Qi Bintang 9 yang menghirup kabut ini akan kehilangan akal sehat mereka dan membusuk dari dalam dalam waktu tiga hari.

​Selain racun, hutan ini adalah surga bagi para buronan kekaisaran, bandit haus darah, dan Binatang Iblis tingkat tinggi yang bisa merobek tubuh manusia layaknya kertas.

​Sret... Sret...

​Suara langkah kaki yang stabil memecah keheningan hutan yang mencekam.

​Lin Chen berjalan menembus kabut beracun itu dengan santai. Ia bahkan tidak menggunakan pelindung Qi untuk menahan miasma di sekitarnya. Setiap kali racun hijau itu menyentuh kulitnya, pori-porinya akan secara otomatis menyedot racun tersebut. Di dalam tubuhnya, Seni Pemakan Surga Sembilan Naga dengan rakus menggiling racun itu, memurnikannya menjadi seutas energi murni yang memperkuat fisiknya.

​"Hutan ini benar-benar prasmanan gratis untukmu, bocah," Mo Xuan terkekeh dari lautan kesadaran. "Tapi hati-hati, aku mendeteksi belasan aura yang mengikutimu sejak kau memasuki area rawa di depan."

​"Aku tahu," jawab Lin Chen tanpa menghentikan langkahnya. "Hanya sekelompok lalat kelaparan."

​Tiba-tiba, suara siulan nyaring membelah udara.

​WUSSH! WUSSH! WUSSH!

​Tiga batang anak panah raksasa berwarna hitam melesat dari balik pepohonan, mengincar langsung ke jantung, leher, dan paha Lin Chen. Anak panah itu dilapisi Qi yang sangat tajam, cukup untuk menembus lempengan baja.

​Lin Chen tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya dan mengibaskannya dengan santai.

​TRANG! TRANG! TRANG!

​Tiga anak panah baja itu hancur berkeping-keping saat menabrak punggung tangan Lin Chen, gagal menggores kulit perunggunya sedikit pun.

​"Eh? Fisik yang lumayan keras untuk ukuran mangsa kecil."

​Sebuah suara serak terdengar dari dahan pohon di atas Lin Chen. Sepuluh sosok berpakaian kulit binatang buas melompat turun, mengepung Lin Chen dalam formasi melingkar. Mereka semua memancarkan aura buas dan bau darah yang menyengat. Sembilan dari mereka berada di Pengumpulan Qi Bintang 9, sedangkan pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di wajah yang menjadi pemimpin mereka memancarkan fluktuasi Inti Emas Tahap Awal.

​"Kelompok Bandit Tengkorak Hitam," Lin Chen melirik lambang tengkorak di lengan baju mereka. "Apakah kalian tidak diajari cara menyapa orang yang sedang lewat dengan sopan?"

​Pemimpin bandit itu tertawa keras, memperlihatkan deretan giginya yang kuning. "Hahaha! Sapaan yang sopan? Bocah, kau berada di Hutan Kutukan Iblis. Di sini, sapaan kami adalah pedang di tenggorokanmu! Kultivasimu baru di Bintang 8, tapi kau berani berjalan sendirian di hutan ini... kau pasti tuan muda dari klan kaya yang kabur dari rumah, kan?"

​Mata bandit itu beralih ke lempengan besi hitam raksasa di punggung Lin Chen. Ia mengernyitkan dahi. "Senjata macam apa itu? Sebongkah besi tumpul? Apa kau berniat menumbuk padi di tengah hutan?"

​Para bandit bawahan tertawa terbahak-bahak mendengar ejekan pemimpin mereka.

​"Tinggalkan cincin penyimpananmu, lucuti pakaianmu, dan tinggalkan besi rongsokan itu. Aku akan memberimu kematian yang cepat tanpa perlu dikuliti," ancam pemimpin bandit itu sambil menghunus golok raksasanya.

​Lin Chen menghela napas pelan. Ia menjangkau ke belakang punggungnya, lalu melepaskan rantai baja yang menahan senjatanya.

​BUM!

​Lin Chen menjatuhkan Bilah Besi Bintang Jatuh itu ke tanah. Tanah rawa yang lembek di bawah kakinya seketika amblas sedalam setengah meter akibat bobot 80.000 kati (40 ton) benda tersebut. Getaran yang dihasilkannya membuat pepohonan di sekitar mereka bergoyang hebat.

​Tawa para bandit seketika terhenti. Mata mereka membelalak melihat bongkahan besi itu merusak tanah hanya karena dijatuhkan.

​"Kalian salah tentang dua hal," ucap Lin Chen datar, matanya perlahan berubah menjadi sedingin es abadi. "Pertama, ini bukan besi rongsokan. Dan kedua..."

​Lin Chen mengangkat wajahnya.

​"...aku bukanlah mangsa di hutan ini."

​[Langkah Bayangan Iblis Sembilan Pembunuhan: Langkah Pertama!]

​WUSSH!

​Sosok Lin Chen menghilang. Bahkan pemimpin bandit yang berada di Inti Emas Tahap Awal tidak bisa menangkap pergerakannya.

​Satu detik kemudian, Lin Chen muncul tepat di tengah-tengah kelompok bandit bawahan yang berada di sebelah kirinya. Bilah Besi Bintang Jatuh telah berada di tangannya, diayunkan dalam satu putaran penuh secara horizontal.

​"Sial! Cepat menhin—"

​BAMMMMM!

​Empat bandit Bintang 9 bahkan tidak sempat mengangkat senjata mereka untuk menangkis. Saat balok besi seberat 40 ton itu menghantam tubuh mereka, tidak ada potongan tubuh yang rapi. Tubuh keempat kultivator itu meledak menjadi kabut darah dan serpihan daging secara instan, layaknya tomat busuk yang dihantam godam raksasa.

​Angin yang dihasilkan dari ayunan itu bahkan merobek pepohonan hitam di belakang mereka hingga tumbang berkeping-keping.

​"A-Apa-apaan ini?!" Pemimpin bandit itu mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Kekuatan destruktif macam apa ini?! Sekali ayun, empat ahli Bintang 9 lenyap tanpa sisa!

​"Bunuh dia! Serang bersama-sama!" teriaknya panik.

​Lima bandit tersisa menerjang dengan putus asa, melepaskan seluruh energi spiritual ke senjata mereka.

​Lin Chen mendengus dingin. Ia tidak menggunakan Qi sama sekali, murni mengandalkan tenaga 100.000 kati dari fisiknya. Ia menghantamkan ujung besinya ke tanah rawa.

​BOOOM!

​Gelombang kejut dari tanah yang terangkat melempar kelima bandit itu ke udara, merusak keseimbangan mereka. Sebelum mereka jatuh, Lin Chen melompat, menyusul mereka di udara.

​Besi tumpul itu berkelebat turun layaknya palu algojo surgawi.

​SPLAT! SPLAT! SPLAT!

​Tiga serangan brutal berturut-turut. Tubuh para bandit itu dihancurkan di udara, menghujani tanah rawa dengan hujan darah segar dan potongan tulang.

​Hanya butuh lima detik. Sembilan elit bandit Bintang 9 telah direduksi menjadi pupuk hutan.

​Pemimpin bandit itu kini bergetar hebat hingga goloknya nyaris terlepas. Niat membunuh Lin Chen menguncinya, membuatnya merasa seolah sedang ditatap oleh predator purba. Ia merogoh saku jubahnya, berniat menggunakan jimat pelarian.

​"Kau pikir bisa lari?"

​Lin Chen mendarat dengan dentuman keras. Jari telunjuk dan jari tengah kirinya menyatu, memadatkan setetes Qi Cair Emas. Ia menjentikkan jarinya.

​ZRAASH!

​Sebuah pedang Qi kasat mata melesat membelah udara, langsung menembus lutut kanan pemimpin bandit itu.

​"AAAAAARGH!" Pria itu menjerit histeris dan jatuh berlutut, jimatnya terlepas dari tangannya.

​Lin Chen berjalan mendekat perlahan. Ia menyeret Bilah Besi Bintang Jatuhnya di atas tanah, menghasilkan suara decitan yang terdengar seperti lonceng kematian.

​"Inti Emas Tahap Awal," Lin Chen berdiri menjulang di atas bandit yang merintih itu. "Di sekte kecil, kau bisa menjadi seorang Tetua. Di sini, kau hanya menjadi pencuri rendahan. Betapa menyedihkannya."

​"A-Ampuni aku! Aku buta! Aku tidak tahu Tuan adalah monster dari faksi besar! Ambil semua hartaku!" Bandit itu menangis, memohon belas kasihan sambil menahan sakit di lututnya.

​"Aku memang akan mengambilnya," Lin Chen mengangkat pedang raksasanya ke atas kepala. "Tapi aku tidak butuh izinmu."

​BAM!

​Satu hantaman tumpul meremukkan tengkorak dan dada pemimpin bandit itu, mengakhiri nyawanya seketika. Lin Chen berjongkok, menarik cincin penyimpanan dari jari jenazah tanpa kepala tersebut, lalu menyimpannya.

​Pertarungan yang tidak seimbang itu berakhir dengan pembantaian brutal. Bau darah segar seketika menyebar ke udara, mengalahkan bau busuk miasma.

​Lin Chen mengibaskan sisa darah dari besinya, bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan.

​Namun, tiba-tiba, langkah kakinya terhenti. Rambut di tengkuknya berdiri.

​BUM... BUM... BUM...

​Bumi di bawah kaki Lin Chen bergetar dengan ritme yang sangat lambat namun sangat berat. Getaran itu bukan berasal dari sekumpulan manusia, melainkan dari langkah kaki sebuah eksistensi tunggal yang sangat masif.

​Pohon-pohon hitam raksasa di depannya patah dan rubuh satu per satu, seolah ada buldoser alam yang menerjang masuk.

​Dari balik kabut hijau tebal, sepasang mata merah darah sebesar lentera menatap Lin Chen dengan niat memangsa yang buas.

​Seekor beruang raksasa setinggi delapan meter melangkah keluar. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh lempengan armor tulang berwarna merah tua yang mengkilap seperti besi. Yang paling mengerikan, ekor monster ini bukanlah ekor biasa, melainkan ekor kalajengking berduri baja yang meneteskan racun korosif.

​"Hoh... Penciuman yang tajam. Darah ahli Inti Emas tadi memancing raja dari area luar hutan ini," gumam Mo Xuan, nadanya tidak panik, melainkan terkesan menikmati pertunjukan. "Binatang Iblis Tingkat 4 Tahap Awal: Beruang Besi Ekor Kalajengking. Pertahanan fisiknya adalah salah satu yang terkuat di sukunya, setara dengan pelindung Inti Emas Tahap Menengah."

​Binatang Iblis Tingkat 4! Eksistensi yang bisa dengan mudah membantai seluruh pelataran luar dan dalam Sekte Pedang Awan Surgawi jika dilepaskan.

​Beruang raksasa itu meraung, aumannya menciptakan gelombang suara yang menyapu bersih kabut beracun dalam radius seratus meter. Ia menatap Lin Chen, menganggap manusia kecil di depannya ini sebagai hidangan penutup setelah memakan mayat-mayat bandit.

​Namun, alih-alih melarikan diri, Lin Chen justru mencengkeram gagang senjatanya semakin erat. Senyuman lebar perlahan mengembang di wajahnya, memperlihatkan aura tiran yang jauh lebih buas daripada monster di depannya.

​"Pertahanan terkuat, ya?" Lin Chen memutar lehernya hingga berbunyi krak. "Akhirnya... ada samsak tinju yang layak untuk memanaskan ototku."

​SRAAAASH!

​Beruang Besi itu menerjang maju bak gunung berjalan, mengangkat cakar kanannya yang setajam pedang panjang, berniat membelah Lin Chen menjadi dua.

​Lin Chen tidak mengelak. Sepuluh tetes Qi Cair Emas di Dantiannya meledak. Otot-otot lengannya menggelembung ekstrem. Ia mengayunkan Bilah Besi Bintang Jatuh dari bawah, menyongsong langsung cakar raksasa beruang tersebut.

​Ledakan keras bergema, menggetarkan Hutan Kutukan Iblis.

1
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪1
yos helmi
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪
Fiktor
mantap alur cerita nya ngak bertele2👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄🙏🙏🙏👍👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!