NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:438
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 9 : Rumah bagi para Elf

Angin di wilayah tak bertuan tidak lagi menderu, ia berbisik. Suaranya seperti ribuan lidah yang menjilati rimbunnya pohon-pohon kuno berdaun perak yang hanya tumbuh di utara terjauh. Celestine terus memegangi lengan George, memastikan pria itu tidak limbung di atas permukaan sungai es yang mulai menipis. Kristal di tangan George kini merambat hingga mendekati bahunya, memancarkan cahaya biru pucat yang aneh setiap kali ia bernapas.

"George, kau harus berhenti sebentar. Napas mu semakin pendek," kata Celestine, suaranya parau karena udara dingin yang membekukan tenggorokan.

"Jika aku berhenti, es ini akan mengambil alih seluruh dadaku, Celestine. Aku harus tetap bergerak agar jantungku tetap panas," sahut George. Suaranya terdengar seperti gesekan kristal. Ia mencoba tersenyum, namun otot wajahnya tampak kaku.

Mereka baru saja melangkah masuk ke dalam hutan yang sangat lebat saat udara tiba-tiba terasa berbeda. Tidak ada lagi bau salju yang hambar; ada aroma kayu cendana dan embun yang tajam. Celestine berhenti mendadak saat ia merasa ujung sebuah anak panah dingin menyentuh tenggorokannya.

"Berhenti di sana, manusia es dan putri matahari," sebuah suara terdengar dari atas pohon. Suaranya begitu merdu namun memiliki ketajaman yang bisa membelah udara.

Dari balik rimbunnya dedaunan perak, sesosok mahluk melompat turun dengan sangat ringan. Ia mengenakan zirah dari kulit kayu yang diperkuat dengan sihir, telinganya runcing, dan matanya berwarna hijau zamrud yang sangat jernih. Di belakangnya, lima sosok serupa muncul dari balik pepohonan dengan busur panah yang sudah terisi penuh.

"Elf?" bisik Celestine, matanya melebar. Ia hanya pernah membaca tentang bangsa ini dalam buku-buku dongeng di Valley.

"Kami lebih suka disebut sebagai Penjaga Akar Tengah," kata elf yang berada di depan, yang tampaknya adalah pemimpin mereka. Ia menurunkan busurnya sedikit saat melihat cahaya emas yang sangat redup dari tangan Celestine. "Aku Elara. Dan kalian baru saja melanggar batas wilayah yang sudah dilarang bagi manusia sejak tiga ratus tahun lalu."

George melangkah maju satu langkah, meskipun tubuhnya bergetar. "Kami tidak mencari perang, Penjaga. Kami hanya mencari jalan ke Utara Jauh. Aku adalah penguasa perbatasan yang sedang... melepaskan diri dari gelarku."

Elara menatap lengan kristal George dengan tatapan ngeri. "Kau bukan hanya melepaskan gelar, manusia. Kau sedang melepaskan nyawamu. Penyakit es itu sudah masuk ke tahap akhir. Bagaimana kau masih bisa berdiri?"

"Karena aku yang menahannya," potong Celestine. Ia melangkah maju, menghalangi pandangan para elf dari George. "Namaku Celestine Jour' Vallery. Kami sedang diburu oleh ksatria serigala Heavenorth. Jika kalian memiliki belas kasihan, biarkan kami lewat atau beri kami tempat untuk bersembunyi."

Elara mendekati Celestine, hidungnya mengendus udara di sekitar sang putri. "Darahmu... baunya bukan seperti darah manusia biasa. Baunya seperti api yang tertidur di dalam balok es."

"Itu Cahaya Aethelgard," gumam Elara kepada rekan-rekannya dalam bahasa yang tidak dipahami Celestine. Para elf lainnya segera menurunkan busur mereka dan membungkuk hormat secara mendadak.

"Kenapa kalian membungkuk?" tanya Celestine bingung.

"Dalam legenda kami, Aethelgard adalah kawan bagi hutan ini. Dia yang menyembuhkan akar pohon perak saat musim dingin besar melanda ribuan tahun lalu," Elara menjelaskan sambil menyarungkan pedang tipisnya. "Jika kau benar-benar pembawa cahayanya, maka hutan ini menyambutmu. Tapi pria di sampingmu itu... dia membawa kematian."

"Dia suamiku!" seru Celestine, tanpa sadar menggunakan sebutan itu untuk pertama kalinya dengan penuh keyakinan. "Dia melindungiku hingga menjadi seperti ini. Jika kalian tidak membantunya, aku juga tidak akan melangkah lebih jauh."

George menatap Celestine dengan mata sayu, ada binar kebanggaan yang terselip di sana. "Celestine, jangan memohon pada mereka..."

"Diamlah, George," sahut Celestine. "Kau selalu menjadi pahlawan. Sekarang giliranmu menjadi pasien yang penurut."

Elara menghela napas, ia mengisyaratkan para elf lainnya untuk mendekat. "Bawa pria ini ke Mata Air Keabadian di desa kami. Hanya air dari akar pohon perak yang bisa memperlambat pembekuan jantungnya. Tapi ingat, Tuan Putri, harga yang harus kau bayar untuk keselamatannya mungkin tidak semurah yang kau bayangkan."

"Apapun harganya, aku akan bayar," kata Celestine mantap.

Mereka dibawa jauh ke dalam hutan, melewati jembatan-jembatan gantung yang terbuat dari tanaman merambat yang hidup. Di tengah hutan itu, sebuah desa yang dibangun di atas dahan-dahan pohon raksasa berdiri dengan megahnya. Tidak ada asap perapian, hanya lentera-lentera sihir yang bersinar lembut.

George segera dibawa ke sebuah bak besar yang berisi air berwarna hijau keperakan. Saat tubuhnya dimasukkan ke dalam air, uap dingin langsung mengepul hebat. George berteriak kesakitan, suaranya bergema di seluruh desa elf itu.

"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Celestine panik, ia mencoba mendekati bak itu namun ditahan oleh Elara.

"Air itu sedang berperang dengan es di dalam tubuhnya. Jika dia bertahan, jantungnya akan tetap berdetak. Jika tidak, dia akan menjadi kristal murni selamanya," kata Elara dingin. "Sekarang, Putri, mari kita bicara tentang siapa kau sebenarnya. Kenapa seorang Vallery memiliki kekuatan penyihir matahari yang sudah punah?"

Celestine duduk di atas akar pohon yang empuk seperti kursi beludru. "Aku pun tidak tahu, Elara. Semua ini bermula saat aku menyentuh Danau Air Mata di wilayah La' Mortine. Monolit di sana bereaksi pada darahku."

Elara menatap Celestine dengan tatapan yang sangat dalam. "Itu karena leluhurmu dari pihak ibu mungkin bukan manusia. Ada sejarah tentang seorang putri elf yang mencintai seorang raja manusia dari selatan. Mereka diasingkan karena aliansi itu dianggap tabu. Kau mungkin adalah keturunan terakhir yang membawa genetik murni dari persatuan itu."

Celestine terdiam. Semua teka-teki tentang mengapa ia selalu merasa tidak cocok di istana Valley mulai masuk akal. "Jadi aku... bagian dari kalian?"

"Hanya sebagian kecil. Tapi kekuatanmu jauh lebih besar dari elf mana pun di sini," kata Elara. "Kau bisa menyelamatkan pria itu, Celestine. Bukan dengan darahmu, tapi dengan menyatukan mana mu dengan mananya. Kau harus masuk ke dalam air itu dan memeluknya. Kau harus menjadi jembatan antara api matahari dan es utara."

"Apakah itu berbahaya bagi kami?"

"Sangat berbahaya. Kalian bisa membeku bersama atau meledak dalam kekuatan sihir yang tidak stabil. Tapi melihat bagaimana pria itu menatapmu tadi... aku rasa dia sudah siap mati demi percobaan itu."

Celestine menatap bak air di mana George masih merintih kesakitan. Tanpa menunggu lama, ia melepas jubah dan sepatu botnya. Ia melangkah menuju air hijau itu.

"George, dengarkan aku," bisik Celestine saat ia masuk ke dalam bak yang sangat dingin itu. "Aku di sini. Kita tidak akan membiarkan es ini menang."

Celestine memeluk George dari depan, menempelkan dadanya ke dada George yang keras. Seketika, cahaya emas meledak dari tubuh Celestine, menyatu dengan cahaya biru dari kristal George. Air di dalam bak itu mulai berputar seperti pusaran air, menciptakan badai kecil di tengah desa elf.

"Aku memilihmu, George," bisik Celestine di telinga George. "Jangan berani-berani pergi tanpaku."

Di bawah air keperakan itu, dua kekuatan yang saling bertolak belakang mulai belajar untuk berdansa. Bab 9 ditutup dengan cahaya yang menyilaukan seluruh hutan perak, menandakan bahwa aliansi antara manusia dan kekuatan kuno baru saja terjalin secara permanen.

Di tengah pusaran air keperakan yang bergejolak, dunia di sekitar Celestine seolah melambat. Suara kepanikan para Elf di luar bak air itu perlahan meredup, digantikan oleh suara detak jantung George yang terdengar sangat lambat, seperti dentuman genderang di kejauhan. Dingin yang menyerang tubuh Celestine bukan lagi sekadar rasa sakit itu adalah sebuah entitas yang mencoba menguras kehangatannya, memaksa jiwanya untuk menyerah.

"George, jangan lepaskan!" seru Celestine, suaranya teredam oleh gemuruh energi.

George membuka matanya yang kini benar-benar berwarna biru cerah, tanpa pupil. Ia mencengkeram bahu Celestine dengan tangan kristalnya yang kini memancarkan panas yang luar biasa. Penyatuan mana mereka menciptakan reaksi yang mengerikan. Kristal-kristal es mulai tumbuh di permukaan air, namun segera mencair begitu terkena cahaya emas yang keluar dari pori-pori kulit Celestine.

"Celestine... hentikan... kau akan terserap ke dalam kutukanku," rintih George. Suaranya terdengar seperti bisikan ribuan kepingan salju yang jatuh.

"Aku tidak akan pergi!" balas Celestine. Ia memejamkan mata dan membayangkan matahari musim panas di Valley, membayangkan kehangatan yang pernah ia rasakan saat George pertama kali menangkapnya. Ia mengalirkan seluruh memori itu melalui sentuhan kulit mereka.

Tiba-tiba, getaran hebat berhenti. Air hijau di dalam bak itu berubah menjadi bening seperti berlian. Cahaya emas dan biru yang tadi saling bertabrakan kini menyatu menjadi warna platinum yang indah, melingkari tubuh mereka berdua seperti kepompong cahaya.

Elara dan para penjaga Elf lainnya berdiri di tepi bak dengan wajah takjub. Mereka melihat bagaimana kristal di lengan George perlahan menyusut, namun tidak menghilang sepenuhnya. Kristal itu kini menetap di lengan bawahnya, membentuk pola ukiran kuno yang menyatu dengan tato sirkuit sihir miliknya.

"Mereka melakukannya," bisik Elara. "Mereka menyeimbangkan dua kutub yang seharusnya saling menghancurkan."

George terengah-engah, kepalanya terkulai di bahu Celestine. Ia bukan lagi sekadar ksatria yang membeku; ia tampak seperti mahluk yang baru saja dilahirkan kembali. Ia perlahan melepaskan pelukannya dan menatap tangannya yang kini memiliki pola kristal permanen yang berkilau lembut.

"Rasanya... tenang," kata George pelan. Ia menatap Celestine yang wajahnya kini tampak sangat letih namun bercahaya. "Kedinginan itu tidak lagi menyerang jantungku. Ia seolah-olah... menetap di tempatnya, menungguku untuk memerintahnya."

Celestine tersenyum, lalu tubuhnya limbung. George dengan sigap menangkapnya, kali ini dengan kekuatan yang jauh lebih stabil dari sebelumnya.

"Kau terlalu banyak menggunakan mana, Putri," ujar Elara sambil mendekat dan memeriksa denyut nadi Celestine. "Dia hanya kelelahan. Biarkan dia istirahat di rumah pohon utama. Kalian aman di sini untuk saat ini, tapi jangan berpikir musuh kalian akan berhenti di perbatasan hutan."

Beberapa jam kemudian, Celestine terbangun di atas tempat tidur yang terbuat dari jalinan akar yang lembut dan dilapisi sutra laba-laba. George duduk di sampingnya, sedang membersihkan pedang hitamnya yang kini memiliki guratan cahaya platinum di sepanjang bilahnya.

"Kau sudah sadar?" tanya George. Suaranya kembali ke nada datarnya yang khas, namun ada kehangatan tersembunyi di matanya.

"Apakah aku bermimpi, atau kau baru saja memelukku di dalam air hijau yang mengerikan?" tanya Celestine sambil mencoba duduk.

"Kau tidak bermimpi. Dan kau baru saja memberikan setengah dari umurmu untuk menyelamatkan pria kaku sepertiku," jawab George. Ia meletakkan pedangnya dan mendekat ke arah tempat tidur. "Elara bilang, hubungan mana kita sekarang permanen. Jika aku terlalu dingin, aku akan merasakan kehangatanmu. Dan jika kau dalam bahaya, aku akan merasakannya melalui ikatan ini."

"Berarti aku tidak bisa lagi menyembunyikan rahasia darimu?" goda Celestine dengan tawa kecil.

"Sepertinya begitu," sahut George. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada serius. "Elf-elf ini... mereka tidak membantu kita hanya karena legenda Aethelgard. Elara memberitahuku sesuatu. Mereka butuh bantuan kita."

"Bantuan apa? Mereka memiliki sihir dan hutan yang tak tertembus," kata Celestine heran.

"Ksatria Valtor bukan satu-satunya yang terinfeksi sihir hitam. Elara bilang, sumber air mereka di utara telah tercemar oleh sesuatu yang mereka sebut 'Kematian Hitam'. Itu adalah kekuatan yang sama dengan yang menyerang desa tempo hari. Dan mereka yakin bahwa dalang di balik semua ini ada di pusat Utara Jauh, tempat yang ingin kita tuju."

Celestine mengerutkan kening. "Jadi tujuan kita dan tujuan mereka adalah sama?"

"Ya. Dan mereka bersedia memberikan kita perbekalan serta senjata jika kita bersedia membawa salah satu dari mereka sebagai penunjuk jalan," George menjelaskan.

"Siapa?"

Pintu ruangan terbuka, dan Elara masuk dengan mengenakan pakaian perjalanan yang lebih ringkas. "Aku yang akan pergi bersama kalian. Aku sudah bosan hanya menunggu hutan ini membusuk. Lagipula, aku ingin melihat bagaimana seorang putri dari selatan akan menguasai takdir yang seharusnya milik kami."

Celestine menatap Elara, lalu menatap George. Ia menyadari bahwa kelompok kecil mereka kini bertambah. Bukan lagi sekadar pelarian romantis, melainkan sebuah misi yang bisa menentukan nasib seluruh benua.

"Baiklah, Elara. Kita berangkat bersama," kata Celestine mantap. "Tapi sebelum itu, aku butuh makanan. Aku tidak bisa menyelamatkan dunia dengan perut kosong."

George tertawa, suara tawa yang pertama kali Celestine dengar sejak mereka bertemu. Itu adalah suara yang renyah dan jujur. "Bahkan di tengah kehancuran, kau tetaplah seorang Vallery yang sangat mementingkan selera makan."

"Tentu saja. Perut yang kenyang adalah kunci dari diplomasi yang baik, bukan?" balas Celestine.

Malam itu, di bawah perlindungan pohon-pohon perak yang berbisik, mereka merencanakan perjalanan yang lebih dalam ke wilayah yang belum pernah dijamah manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!