NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA EMAS

PEWARIS NAGA EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: suryadharma

Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Gua Abadi Kalimantan dan Darah Kuno

Dua minggu setelah Festival Kultivasi Besar, Paviliun Naga Emas bergerak dengan kekuatan penuh. Arkan Wijaya berdiri di deck kapal udara utama yang megah, jubah hitam keemasannya berkibar ditiup angin tinggi. Matanya yang tajam menatap hamparan hutan Kalimantan yang hijau membentang di bawah sana. Foundation Establishment Tingkat 9 puncak-nya sudah sempurna, aura Raja Naga memancar alami, membuat awan di sekitar kapal berputar pelan mengikuti gerakannya.

Sela Juanda berdiri di sampingnya, tangan mereka saling genggam. Gaun tempur putih-emas membalut tubuh seksi dan atletisnya dengan sempurna. Rambut panjangnya diikat tinggi, wajah cantiknya terlihat tegas dan siap tempur. “Gua Abadi… menurut catatan cincin, tempat itu adalah penjara jiwa para kultivator kuno yang korup,” katanya pelan.

Arkan mengangguk. “Dan sekarang kegelapan mulai bangkit lagi di sana. Kita harus membersihkannya sebelum akarnya terlalu dalam.”

Ekspedisi kali ini jauh lebih besar. Empat kapal udara dan tiga kapal laut membawa 280 elit Paviliun. Juanda memimpin pasukan cadangan, Murong Fei mengurus intelijen, sementara orang tua Arkan mengawasi logistik dari markas utama.

Perjalanan menuju pedalaman Kalimantan tidak mudah. Di atas hutan tropis yang lebat, mereka diserang kawanan Burung Roh Hitam raksasa yang dikendalikan kegelapan. Arkan melompat keluar kapal tanpa ragu. Tubuhnya berubah sebagian menggunakan Transformasi Naga Emas Sejati — sisik emas menutupi lengan dan dada, mata menyala merah keemasan.

“Naga Muda Mengaum!”

Satu ayunan Pedang Raja Naga menciptakan gelombang pedang emas yang memotong puluhan burung roh sekaligus. Darah hitam hujan di atas hutan. Sela mendukung dari deck kapal dengan formasi panah Qi, setiap anak panahnya menembus kepala musuh dengan presisi mematikan.

Pertempuran udara itu berlangsung satu jam penuh. Arkan seperti dewa perang yang turun ke bumi. Setelah pertempuran selesai, ia kembali ke deck dengan tubuh berlumur darah hitam. Sela langsung membersihkannya dengan kain basah, tangan lembutnya menyentuh otot-otot kekar Arkan dengan penuh kasih.

“Kamu semakin liar,” bisik Sela sambil tersenyum.

Arkan menariknya ke pelukan dan menciumnya di depan semua awak kapal tanpa malu. “Hanya untukmu aku pulang setiap kali.”

Mereka tiba di pinggir Gua Abadi saat matahari terbenam. Gua itu tersembunyi di balik air terjun raksasa yang airnya berwarna hitam pekat. Aura kegelapan sangat tebal hingga membuat napas terasa berat.

Arkan mengumpulkan pasukan. “Tim inti masuk bersamaku dan Sela. Sisanya jaga pintu masuk dan siapkan formasi penyembuhan. Jangan biarkan satu pun makhluk keluar.”

Mereka memasuki gua. Di dalamnya gelap gulita, hanya diterangi cahaya emas dari Pedang Raja Naga dan cahaya putih dari formasi Sela. Lorong gua penuh lukisan kuno yang menceritakan sejarah kegelapan — kultivator yang haus kekuasaan mengorbankan jiwa mereka demi keabadian.

Semakin dalam, semakin banyak jebakan. Arkan memimpin dengan Pedang Raja Naga, menebas array kegelapan yang mencoba menelan mereka. Sela menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan formasi kuno yang rumit.

Di ruang tengah gua yang luas, mereka menemukan pemandangan mengerikan. Ribuan tulang manusia tersusun membentuk sebuah altar raksasa. Di atas altar, sebuah bola kegelapan berdenyut seperti jantung hidup.

Tiba-tiba, bola itu meledak. Dari dalamnya muncul tiga Jiwa Kegelapan kuno — masing-masing setara Nascent Soul awal. Mereka berwujud manusia hitam pekat dengan mata merah menyala.

“Pewaris Naga Emas… kau datang untuk mati,” kata salah satu jiwa dengan suara serak.

Pertempuran epik meledak di dalam gua.

Arkan menghadapi dua jiwa sekaligus. Pedangnya bergerak seperti naga hidup. Raja Naga Turun ke Dunia dilepaskan penuh kekuatan. Ledakan emas memenuhi gua, menghancurkan stalaktit raksasa di langit-langit. Satu jiwa langsung hancur, tapi jiwa kedua berhasil melukai bahu Arkan.

Sela bertarung melawan jiwa ketiga dengan gagah berani. Meski levelnya lebih rendah, teknik Jiwa Naga Bersatu memungkinkan ia meminjam kekuatan Arkan. Serangannya lincah dan mematikan. Ia berhasil menusuk inti jiwa musuh dengan belati Qi emas.

“Arkan!” teriak Sela saat melihat Arkan terdesak.

Arkan meraung. Ia melepaskan Transformasi Naga Emas Sejati sepenuhnya. Tubuhnya tumbuh menjadi tiga meter, ditutupi sisik emas sempurna, dua tanduk kecil muncul di kepalanya. Kekuatannya melonjak ke level setengah langkah Nascent Soul penuh.

Dengan satu tinju penuh amarah, ia menghancurkan jiwa kegelapan kedua menjadi abu. Kemudian ia berbalik membantu Sela. Bersama, mereka menghancurkan jiwa ketiga dalam hitungan jurus.

Namun, altar belum hancur. Dari dalam altar muncul sosok tertinggi — Jiwa Kegelapan Agung, setara Nascent Soul Tingkat 3.

“Kalian terlambat…” suaranya bergema. “Aku sudah menyerap darah ribuan korban!”

Pertempuran akhir dimulai. Gua berguncang hebat. Arkan dan Sela bertarung bahu membahu melawan musuh yang jauh lebih kuat. Arkan terluka parah di dada, Sela patah dua tulang rusuk. Tapi mereka tidak mundur.

Di saat kritis, Arkan memanggil kekuatan segel kedua cincin sepenuhnya. “Dengan darah pewaris… aku panggil engkau, Naga Emas Agung!”

Cincin menyala terang. Bayangan Naga Emas Agung muncul di belakang Arkan. Proyeksi raksasa itu meraung keras, lalu menyatu dengan tubuh Arkan. Untuk pertama kalinya, Arkan mencapai kekuatan sementara setara Nascent Soul Tingkat 5.

Serangan pamungkas dilepaskan — Mahkota Naga Abadi.

Cahaya emas membanjiri seluruh gua. Jiwa Kegelapan Agung berteriak kesakitan sebelum hancur total. Altar runtuh, kegelapan di Gua Abadi lenyap selamanya.

Arkan jatuh berlutut, tubuhnya kembali normal. Darah mengalir dari mulutnya. Sela merangkak mendekat meski lukanya parah, memeluk Arkan sambil menangis.

“Kamu… bodoh… jangan mati,” isaknya.

Arkan tersenyum lemah, mengusap air mata Sela. “Aku tidak akan mati sebelum melihat anak kita lahir.”

Dengan sisa kekuatan, ia menyembuhkan Sela terlebih dahulu menggunakan Teknik Penyembuhan Naga. Mereka berdua berbaring di lantai gua yang hancur, saling peluk di tengah reruntuhan.

Setelah pertempuran, tim Paviliun membersihkan gua dan menemukan harta karun kuno — ribuan batu spiritual tingkat tinggi, artefak langka, dan sebuah gulungan sutra yang berisi teknik kuno “Jiwa Abadi”.

Arkan dan Sela pulih selama tiga hari di perkemahan. Di malam ketiga, di bawah cahaya bulan Kalimantan, mereka merayakan kemenangan dengan penuh gairah. Arkan mencintai Sela dengan lembut namun intens di tenda mewah, seolah ingin mengingat bahwa mereka masih hidup.

Di akhir malam, Arkan breakthrough ke Nascent Soul Tingkat 1 awal. Jiwa naganya keluar dari tubuh sebentar, membentuk bayangan naga kecil yang melindungi Sela.

Sela yang ikut naik ke Foundation Establishment Tingkat 9 puncak memeluknya erat. “Kita semakin dekat dengan segel ketiga.”

Arkan mencium keningnya. “Ya. Tapi aku merasa… ada sesuatu yang lebih besar menanti di Flores dan Papua. Orang tuaku dulu mungkin pergi karena tahu rahasia ini.”

Kembali ke markas Jakarta, kemenangan di Gua Abadi membuat nama Arkan semakin legendaris. Paviliun Naga Emas kini benar-benar menjadi kekaisaran kultivasi.

Namun di kedalaman Istana Bawah Laut Flores, sepasang mata merah terbuka.

“Pewaris… kau semakin kuat. Bagus… semakin enak untuk kuhancurkan.”

1
Manusia Ikan 🫪
pembukaan yang menarik/Chuckle/
Nur Mohammad Rahman Arif: makasih kak
total 1 replies
T28J
aku suka 👍
T28J: jangan lupa mampir ketempat syaa juga kak👍
total 2 replies
Tarmin Dono
bagus sih ni,smngat yaa thor nulisnya,,,,💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏
Nur Mohammad Rahman Arif: makasih kak, siap🙏🏻😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!