NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Hukum Rimba di Ujung Kota dan Terobosan Qi

​Mobil Rolls-Royce Phantom hitam pekat membelah malam meninggalkan hiruk-pikuk pusat Nusantara City. Di bangku belakang, Arya duduk dalam keheningan absolut. Di pangkuannya terdapat kotak kayu cendana berisi Ginseng Darah berusia lima ratus tahun yang memancarkan aroma esensi kehidupan yang pekat.

​Di kursi depan, Thomas sesekali melirik ke kaca spion tengah. Matanya yang tajam dan terlatih menangkap siluet beberapa mobil SUV tanpa pelat nomor yang menjaga jarak konsisten sekitar lima ratus meter di belakang mereka.

​"Tuan Muda, mereka mulai mengikuti sejak kita melewati batas distrik utara. Ada lima kendaraan roda empat kelas taktis. Berdasarkan formasi pengejaran mereka, ini adalah regu pembunuh elit dari Asosiasi Naga Hitam," lapor Thomas dengan nada profesional, seolah melaporkan fluktuasi harga saham harian.

​Arya bahkan tidak membuka matanya. Ritme napasnya tetap lambat dan stabil, selaras dengan aliran Qi di dalam meridiannya. "Terus mengemudi. Arahkan ke jalur lama Tebing Selatan. Jalanan di sana terputus dan tidak ada kamera pengawas. Sempurna untuk menyortir sampah."

​"Baik, Tuan Muda."

​Rolls-Royce itu berbelok tajam dari jalan tol utama, memasuki rute pegunungan pesisir yang gelap dan terbengkalai. Suasana berubah drastis. Cahaya lampu kota digantikan oleh bayangan pepohonan besar dan tebing karang yang curam.

​Sekitar sepuluh kilometer memasuki jalur sepi tersebut, dua SUV hitam tiba-tiba melesat dari jalan setapak di lereng bukit, memotong jalan secara brutal dan memblokir rute di depan. Pada saat yang sama, tiga SUV yang mengikuti dari belakang langsung mengunci jalur mundur. Formasi penjepit yang sempurna.

​Lampu sorot jarak jauh dari kelima mobil itu menyala serentak, menyilaukan mata dan mengurung mobil Arya dalam sangkar cahaya di tengah tebing yang sepi.

​Belasan pria berpakaian serba hitam dengan senjata tajam dan senapan mesin ringan melompat turun dari mobil. Udara malam dipenuhi oleh niat membunuh yang kental. Dari salah satu mobil di depan, Fang Wu, Ketua Cabang Asosiasi Naga Hitam, melangkah keluar. Wajahnya pucat, sudut bibirnya masih menyisakan noda darah kering akibat pantulan energi di pelelangan, namun matanya memancarkan keserakahan dan kebencian yang menggila.

​"Thomas, tetap di dalam. Jaga kotak ini," perintah Arya rasional. Ia tidak membuang waktu dengan kepanikan atau amarah. Baginya, ancaman fisik harus ditangani dengan efisiensi matematis.

​Arya membuka pintu dan melangkah keluar. Angin malam laut yang dingin menerpa setelan jas birunya. Ia berdiri sendirian menghadapi formasi mematikan tersebut dengan kedua tangan di saku celana.

​"Bocah sombong! Kau benar-benar memiliki nyali untuk tidak memanggil bala bantuan!" Fang Wu tertawa parau, menahan rasa sakit di dadanya. "Di pelelangan tadi, kau memang menggunakan teknik aneh untuk memantulkan seranganku. Tapi di dunia nyata, Qi saja tidak cukup! Kami punya peluru, senjata, dan jumlah! Serahkan Ginseng Darah itu dan seluruh uang di rekeningmu, maka aku akan mempertimbangkan untuk menyisakan mayatmu secara utuh!"

​Arya menatap Fang Wu dengan tatapan menganalisis, persis seperti seorang dokter bedah yang menatap tumor ganas. Tidak ada ruang untuk negosiasi atau dialog klise. Fakta di lapangan sudah jelas: pihak lawan menginginkan nyawa dan hartanya. Secara logis, satu-satunya penyelesaian adalah melenyapkan ancaman tersebut hingga ke akarnya.

​"Kau menderita luka dalam pada meridian jantungmu akibat benturan Qi sebelumnya. Daripada memulihkan diri, kau memaksakan diri memimpin penyergapan ini karena keserakahan," ucap Arya dengan nada datar. "Itu adalah kesalahan taktis yang fatal. Dan di duniaku, kebodohan dibayar dengan nyawa."

​Fang Wu merasa terhina karena dikuliahi oleh seorang pemuda. Amarahnya meledak. "Tembak dia! Cincang tubuhnya!"

​Dor! Dor! Dor!

​Tiga orang penembak jitu di garis depan langsung menarik pelatuk senapan mesin ringan mereka. Kilatan api menerangi malam, dan puluhan peluru tajam melesat merobek udara langsung menuju dada dan kepala Arya.

​Namun, di mata Arya yang didukung Fisik Petarung Tahap Awal, lintasan peluru-peluru tersebut memiliki lintasan yang dapat diprediksi. Ia tidak perlu bergerak lebih cepat dari peluru; ia hanya perlu tidak berada di titik jatuh peluru tersebut sebelum pelatuk ditarik.

​Arya menggeser tubuhnya ke samping dengan kemiringan yang tidak masuk akal, menghindari hujan peluru pertama hanya dalam selisih milimeter. Pada detik yang sama, tangannya menyapu bagian dalam jasnya.

​Wusss!

​Bukan senjata api atau pedang yang keluar, melainkan kilatan perak tipis. Jarum-jarum akupunktur yang diinfus dengan lapisan padat Qi melesat dari sela-sela jarinya. Ini bukan pertunjukan sihir; ini adalah penerapan presisi anatomi yang mematikan. Jarum-jarum itu bergerak dengan kecepatan supersonik, mengincar titik lemah absolut dari tubuh manusia yang tidak terlindungi oleh rompi antipeluru.

​Jleb! Jleb! Jleb!

​Tiga penembak di garis depan mendadak kaku. Jarum perak itu menembus titik saraf Yamen di pangkal leher mereka dengan akurasi seratus persen. Mereka tumbang ke aspal tanpa mengeluarkan suara, sistem saraf pusat mereka hancur seketika.

​"Apa?!" Mata Fang Wu terbelalak ngeri. Ia bahkan tidak melihat senjata apa yang digunakan Arya. "Dia... dia menggunakan senjata tersembunyi tingkat Master! Jangan tembak membabi buta! Serang dari jarak dekat! Gunakan formasi tempur!"

​Belasan pembunuh bayaran dengan parang dan pedang pendek melesat maju seperti serigala kelaparan.

​Arya tetap tenang. Logika pertarungannya sederhana: hindari serangan tumpul, manfaatkan momentum lawan, serang titik fatal.

​Saat seorang musuh menebas dari arah kiri, Arya melangkah maju menembus pertahanan lawan. Sebelum parang itu sempat turun, Arya mendaratkan pukulan lurus yang memusatkan rotasi Qi di buku jarinya, tepat mengenai tulang rusuk ketiga lawan.

​Krak!

​Suara tulang rusuk yang patah dan menusuk organ dalam terdengar jelas. Musuh itu terpental sejauh lima meter. Arya tidak berhenti. Ia bergerak seperti bayangan di antara kepungan. Setiap langkah kakinya dihitung, setiap gerakan tangannya mengarah langsung ke tenggorokan, pelipis, atau ulu hati. Tidak ada gerakan mencolok yang membuang tenaga. Hanya efisiensi membunuh yang murni dan kejam.

​Dalam waktu kurang dari dua menit, lima belas pembunuh elit Asosiasi Naga Hitam terkapar di tanah, kehilangan nyawa atau lumpuh total akibat kerusakan titik meridian.

​Kini, hanya tersisa Fang Wu yang berdiri gemetar di dekat mobilnya. Senyum arogannya telah lama menguap, digantikan oleh teror yang absolut. Ia menyadari bahwa pemuda di hadapannya bukanlah pengusaha kaya yang belajar sedikit ilmu bela diri, melainkan monster kultivasi yang turun ke bumi.

​"K-Kau... dari sekte mana kau berasal?!" Fang Wu melangkah mundur, kakinya tersandung batu.

​"Pertanyaan yang tidak relevan," Arya melangkah perlahan mendekati Fang Wu. Bebatuan kecil di bawah sepatunya hancur menjadi debu akibat tekanan aura Qi yang mulai bocor dari tubuhnya.

​Menyadari ia tidak memiliki jalan keluar, Fang Wu berteriak histeris. Ia membakar esensi darahnya sendiri, sebuah teknik terlarang yang menukar umur dengan ledakan kekuatan sesaat. Seluruh tubuh Fang Wu membengkak, otot-ototnya merobek pakaiannya, dan lapisan Qi hitam pekat menyelimuti kepalan tangannya.

​"Cakar Pembelah Gunung Naga Hitam! MATI!"

​Fang Wu menerjang dengan kecepatan yang menembus batas suara, tangannya yang menyerupai cakar baja mengarah langsung ke jantung Arya. Serangan ini membawa kekuatan sepuluh ton yang bisa menghancurkan mobil lapis baja.

​Arya tidak menghindar. Ia justru mengambil satu langkah maju. Matanya menangkap aliran Qi hitam Fang Wu yang kacau akibat luka internalnya. Terdapat celah sepersekian detik di mana pasokan Qi ke dada Fang Wu terputus.

​Tepat di celah waktu yang sangat presisi itu, Arya melontarkan telapak tangannya ke depan. Telapak tangannya tidak bertemu dengan cakar Fang Wu, melainkan meluncur mulus melewati pertahanan lawan dan menempel tepat di Dantian (pusat energi di bawah pusar) milik Fang Wu.

​"Sirkulasi Qi yang sangat primitif," bisik Arya dingin.

​BUM!

​Sebuah ledakan energi yang tidak kasat mata meledak dari telapak tangan Arya. Qi murni miliknya menembus masuk, menghancurkan fondasi energi Fang Wu secara total dari dalam.

​Fang Wu membeku di udara. Serangan cakarnya terhenti beberapa sentimeter dari dada Arya. Detik berikutnya, Fang Wu menyemburkan darah segar, tubuhnya terhempas ke udara dan menabrak tebing karang di belakangnya dengan suara dentuman keras.

​Ia jatuh ke tanah seperti boneka yang talinya diputus. Dantiannya hancur. Kultivasi yang ia kumpulkan selama tiga puluh tahun lenyap dalam satu detik. Ia kini hanyalah pria tua yang sekarat.

​"Tidak... kultivasiku... yayasan Naga Hitamku..." Fang Wu merintih dengan putus asa, darah terus mengalir dari mulutnya. Ia menatap Arya dengan tatapan memohon. "Ampuni... ampuni aku... Asosiasi Naga Hitam memiliki miliaran aset, aku akan memberikan semuanya..."

​"Berdasarkan analisis risiko, melepaskan musuh yang menyimpan dendam adalah kecacatan logika," jawab Arya dengan raut wajah tanpa emosi. "Kematianmu memastikan tidak ada gangguan lebih lanjut dari organisasimu."

​Arya menjentikkan jarinya. Sebatang jarum perak melesat, menembus titik tengah dahi Fang Wu, mengakhiri hidupnya tanpa rasa sakit lebih lanjut. Eksekusi yang bersih, cepat, dan rasional.

​Keheningan kembali menyelimuti tebing pesisir itu, hanya diselingi suara deburan ombak di bawah sana.

​Arya berbalik, berjalan menuju Rolls-Royce yang utuh tanpa goresan sedikit pun. Thomas segera membuka pintu, tidak menunjukkan keterkejutan atau kepanikan atas pemandangan berdarah di sekitarnya. Ini adalah hal yang lumrah dalam sejarah panjang Keluarga Permana.

​"Bersihkan area ini. Kirim pesan anonim ke markas pusat Asosiasi Naga Hitam beserta bukti sisa energi ini. Beri tahu mereka bahwa Nusantara City kini adalah zona terlarang bagi mereka," perintah Arya seraya duduk kembali.

​"Dilaksanakan, Tuan Muda. Kita kembali ke Menara Naga sekarang?"

​Arya melirik kotak kayu cendana di pangkuannya. "Tidak. Bawa aku ke puncak Gunung Salak di pinggiran kota. Malam ini, aku akan menyerap Ginseng Darah ini. Waktunya telah tiba untuk melangkah ke Ranah Pembentuk Fondasi."

​Rolls-Royce itu perlahan melaju pergi, meninggalkan medan pembantaian untuk ditangani oleh Pasukan Bayangan yang akan segera tiba.

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!