NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1: Seperti Inikah Rasanya Bahagia?

^^^Senin, 13 Agustus^^^

TAP! TAP! TAP!

Derap langkah sepatu siswa SMAN Cempaka 1 menyemarakkan suasana pagi hari itu. Semua murid bergegas masuk karena gerbang sekolah sebentar lagi akan ditutup oleh satpam, terlebih lagi hari ini adalah hari Senin dimana hari diadakannya upacara sekolah sehingga semua murid tak ingin terlambat dan dikenai hukuman oleh kepala sekolah yang terkenal killer. Setelah merasa semua murid sudah masuk satpam menutup gerbang sekolah dan menguncinya, tepat setelah semua gerbang terkunci ada dua siswa yang berdiri di depan gerbang dengan nafas terengah-engah.

"Pak Dani! Bukain gerbangnya dong Pak!" Seru salah satu di antara keduanya. Siswa itu bertubuh tegap atletis, kulit sawo matang, dan rambut acak-acakan. Di seragam bagian dada kanan bertengger pin nama bertuliskan "Bima Wijaya".

Sedangkan siswa lainnya bertubuh tinggi kurus, berkulit putih pucat, dan kacamata bulat yang bertengger di hidungnya. Di seragam bagian dada kanan bertengger pin nama bertuliskan "Azril Erlangga".

Pak Dani—satpam yang bertugas pagi itu melihat siapa yang memanggilnya, setelah tahu siapa yang memanggilnya dia memutar bola matanya. "Kalian lagi, kalian lagi, setiap senin pagi pasti terlambat, apa kalian gak bosan dihukum Pak Kepala Sekolah terus?" Ucapnya sembari membuka gembok gerbang.

"Hehe yah gimana lagi Pak, motorku masih rusak dan Azril belum diizinin punya motor, jadi kita harus jalan kaki hehe" Kata Bima sembari mengusap keringat di dahinya.

"Alesan aja kamu Bim. Yaudah cepet masuk, upacara bentar lagi dimulai loh" Pak Dani 'mengusir' Bima dan Azril.

Bima dan Azril bergegas masuk ke dalam, saat mereka baru mencapai lobby mereka berhenti karena ada seorang siswa yang berdiri menghadang mereka di sana. Pakaian siswi itu terlihat rapi dan bersih, dasi abu panjangnya terpakai rapi di kerah seragam, rambutnya tersisir rapi sebahu, pin namanya tertulis 'Aini Nur Khanza'.

Aini menatap mereka berdua dengan tatapan tajam, lengannya terlipat di dada. "Kalian berdua, sudah diprediksi. Telat lagi. Padahal Pak Kepala Sekolah sudah berkali-kali memperingatkan. Apa alasan kalian kali ini?" Suaranya tegas, seperti ketua OSIS yang sedang menginterogasi anggotanya—dan memang, Aini adalah ketua OSIS.

Bima menghela napas panjang, lalu tersenyum cengengesan. "Aduh, Bu Ketua, ampun deh. Motorku masih di bengkel, nih. Azril? Ya gitu deh, belum diizinin bawa motor." Ia menepuk bahu Azril yang hanya diam sambil menunduk, memperbaiki letak kacamatanya yang miring.

Azril bergumam pelan, "Maaf, Aini."

Aini menggeleng-gelengkan kepala. "Ini udah ketiga kalinya kalian telat di hari Senin. Nanti kalau kalian dihukum bersihin selokan lagi, jangan harap aku bisa bela." Tapi nada suaranya sedikit melunak. "Cepet, cepet! Ambil tas kalian di loker, langsung ke lapangan! Barisannya udah hampir selesai. Aku duluan ya!" Setelah berkata begitu, Aini berbalik dan berlari kecil menuju lapangan upacara, meninggalkan Bima dan Azril yang masih terengah-engah di lobi.

...~•~•~•~...

Suasana kelas XII IPS 2 di jam istirahat biasanya riuh rendah, tapi hari ini terasa lebih sepi karena sebagian besar siswa memilih pergi ke kantin atau ke perpustakaan. Hanya beberapa yang bertahan, salah satunya Azril.

Anak berkacamata itu duduk sendirian di bangku paling pojok dekat jendela. Buku catatan Bahasa Inggris terbuka di hadapannya, pulpen bergerak rapi menuliskan rumus-rumus grammar dan contoh kalimat Past Perfect Tense yang baru saja dijelaskan Bu Dina. Cahaya matahari siang menyelinap masuk, menyinari tumpukan buku di mejanya. Ia sangat fokus, alisnya mengernyit sesekali saat memastikan tulisannya rapi dan tidak ada yang terlewat. Baginya, mencatat ulang pelajaran adalah cara terbaik untuk memahami, dan juga cara untuk menghindari keramaian.

Sebuah benturan keras dan tiba-tiba menghantam bagian belakang kepalanya. Buku catatan itu terdorong hingga hampir jatuh, dan pulpennya melesat ke lantai. Azril membeku. Rasa sakit berdenyut di kepalanya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pelakunya. Bola voli karet berwarna biru putih itu menggelinding pelan di samping mejanya, lalu berhenti.

Tawanya sudah terdengar dari belakang. Suara berat dan meledek itu sangat familiar di telinga Azril. Suara yang sudah ia dengar sejak kelas satu SMP.

"Wih, maap-maap nih! Gak sengaja!" Marcel, siswa bertubuh besar dengan rambut berantakan dan senyum sinis, berjalan mendekat dengan dua temannya. Ia sengaja memukul bola itu ke arah Azril. "Lagian duduknya di pojok, jadi sasaran tembak gue, nih. Nyatet mulu, mau jadi apa lo, Profesor?"

Kedua temannya terkekeh.

Azril masih diam. Tangannya mengepal di bawah meja. Dadanya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena menahan emosi yang sudah lama terpendam. Ia tahu, melawan atau membalas hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Ia sudah sangat hafal dengan situasi ini.

Ia hanya menunduk lebih dalam, meraih pulpennya yang jatuh, lalu berusaha merapikan kembali catatannya yang sedikit berantakan karena terbentur. Tanpa sepatah kata pun. Hening.

Marcel mengangkat bola volinya, memutar bola itu di ujung jarinya. "Diem aja lo, kayak patung. Sini, muka lo yang pucet itu gue pake nge-pas bola voli deh, biar merah dikit." Ia kembali tertawa, puas dengan reaksi diam yang ia dapatkan.

Namun, sebelum ia sempat berbuat lebih jauh, suara langkah kaki tergesa terdengar dari pintu kelas.

"Oi, Marcel! Lo lagi?! Berhenti!" Bima muncul di ambang pintu dengan sekotak nasi bungkus di tangan. Matanya langsung menangkap situasi: Azril yang membeku, dan Marcel yang berdiri di dekatnya dengan bola voli. Wajah Bima berubah, dari kaget menjadi geram.

Marcel menoleh dengan malas, senyum sinisnya masih terukir sempurna. "Wah, wah, wah, ada bodyguard-nya si profesor dateng juga. Lo mau apa, Bim? Mau belain temen lo yang culun itu?" Ia menunjuk Azril dengan dagunya.

Bima meletakkan bungkus nasi itu kasar di meja terdekat. "Gue kasih tau ya Cel. Jangan macam-macam sama Azril. Ini udah kesekian kalinya lo ngerjain dia. Cari lawan yang seimbang, jangan yang gak bisa lo lawan."

"Hahahaha, denger tuh guys, katanya cari lawan yang seimbang." Marcel berpaling ke dua temannya, lalu kembali menatap Bima dengan tatapan meremehkan. "Maksud lo, lawan yang seimbang itu lo? Lo pikir lo siapa? Pahlawan supernya anak buangan?"

Dua teman Marcel tertawa mendukung. Beberapa siswa yang ada di kelas mulai melirik, ada yang diam ketakutan, ada yang sibuk merapikan peralatan sekolah seolah ingin segera pergi.

Bima melangkah maju, jarak antara dia dan Marcel kini hanya sekitar satu meter. "Turunin tuh bola, Di. Minta maaf sama Azril."

"Minta maaf? Buat apa? Gue cuma 'gak sengaja' kok." Marcel memberi penekanan pada kata gak sengaja dengan nada mengejek. "Lagipula, dari dulu gue lakuin, tuh orang diem aja. Tiba-tiba sekarang lo mau ribut?"

"Karena sekarang gue muak liat muka lo."

Udara di kelas XII IPS 2 tiba-tiba terasa panas. Marcel melempar bola volinya ke arah temannya, lalu melangkah maju hingga dadanya hampir menempel dengan dada Bima. "Oke, oke. Lo mau ribut? Gue ladenin. Biar sekalian kelar, biar lo tau siapa yang paling berkuasa di sekolah ini."

Belum sempat Bima menjawab, dorongan keras tiba-tiba datang dari Marcel. Tubuh Bima terhuyung mundur beberapa langkah, tapi dengan cepat ia menyeimbangkan diri. Begitu ia melihat Azril yang sudah berdiri dan menarik-narik ujung seragamnya dari belakang, Bima mengabaikannya. Balas mendorong Marcel hingga siswa besar itu mundur dan hampir jatuh ke bangku.

"HAJAR, BIMA!" teriak seorang siswa dari pojok kelas, spontan.

Seketika itu juga Marcel melayangkan tinjunya ke arah Bima. Namun Bima yang bertubuh atletis dan terbiasa berkelahi dengan cepat menangkis dan membalas dengan pukulan ke arah perut Marcel. Marcel meringis kesakitan, tapi tak mau kalah. Ia bangkit dan mencoba memiting leher Bima.

Kekacauan pun tak terhindarkan. Keduanya bergumul di antara meja dan kursi. Buku-buku berjatuhan, tas terjatuh, dan bangku kayu bergesekan di lantai menciptakan suara berisik yang memekakkan telinga. Siswa-siswa yang tadinya diam berteriak histeris. Beberapa berusaha melerai tapi takut terkena pukulan.

"Awas! PISAHIN! PISAHIN!"

"CEPAT PANGGIL GURU!"

"JANGAN, JANGAN BIMA!"

Teriakan-teriakan itu bersahutan. Azril berdiri terpaku, badannya gemetar. Ia ingin membantu Bima, tapi tubuhnya seperti lumpuh. Kacamatanya miring, pandangannya kabur melihat sahabatnya bergumul dengan Marcel.

Beberapa siswa lelaki akhirnya memberanikan diri. Mereka berhamburan ke tengah, menarik bahu Bima dan Marcel. "Udah! Udah! Stop! STOP!" teriak seorang siswa bertubuh besar bernama Riko, yang merupakan salah satu pemain basket sekolah. Dengan kekuatannya, ia berhasil merenggangkan Bima dari Dion, meskipun kedua tangannya harus menahan dorongan Bima yang masih berusaha maju.

Yang lain segera mengamankan Marcel ke sudut ruangan yang berbeda. Marcel mengusap bibirnya yang berdarah, napasnya memburu. "WOI BIMA! BELOM SELESAI INI!" Ia masih memberontak meskipun ditahan oleh dua orang temannya.

"YA UDAH, LANJUTIN! GUE GAK TAKUT LO, DI!" Bima juga tak mau kalah, meskipun seragamnya sudah koyak di bagian siku dan dasinya melorot tak keruan.

"SUDAH!!!" Riko berteriak sekencang-kencangnya hingga membuat semua orang di kelas terdiam. "KALO KALIAN GAK MAU DI SKORS DAN DI PANGGIL ORANG TUA, BERHENTI SEKARANG JUGA!"

Kata 'skors' dan 'orang tua' seperti siraman air dingin. Bima dan Marcel sama-sama tertegun. Napas mereka masih berat, tapi amarah di mata mereka mulai mereda, berganti kesadaran akan konsekuensi.

Di tengah keheningan yang canggung itu, suara ketukan tumit sepatu yang mantap terdengar dari lorong. Semua kepala menoleh ke pintu.

Aini berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi tapi matanya menyala-nyala. Bukan marah, tapi lebih seperti tidak percaya. Di belakangnya, terlihat Pak Didi, guru BK yang terkenal sangar, sedang berjalan cepat menyusul.

Aini menatap ruangan yang berantakan, lalu matanya beralih ke Bima yang compang-camping, lalu ke Marcel yang bibirnya berdarah, lalu ke Azril yang masih gemetar di pojok dengan kacamata miring. Napasnya memburu.

"Kalian... kalian benar-benar..." Aini tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Tangannya mengepal erat di samping tubuh.

Dan saat itu juga, Pak Didi muncul di belakang Aini. Suara beratnya menggelegar memecahkan keheningan yang tersisa.

"BIMA WIJAYA. MARCEL OLIVER. IKUT SAYA KE RUANG BK. SEKARANG."

Suara Pak Didi menggelegar, membuat semua siswa di kelas XII IPS 2 membeku. Marcel langsung menunduk, mengusap bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan, lalu melangkah keluar dengan langkah gontai diikuti dua temannya. Sebelum pergi, ia sempat melirik ke arah Bima dengan tatapan masih menyisakan amarah.

Bima menghela napas panjang. Seragamnya kusut, dasi melorot, siku bajunya robek. Ia merapikan kerah bajunya sebentar, lalu menoleh ke belakang. Mencari Azril di antara kerumunan siswa yang masih terpaku.

Azril masih berdiri di pojok dekat jendela. Kacamatanya miring, rambutnya berantakan, dan tubuhnya masih bergetar. Ia menatap Bima dengan pandangan yang campur aduk—takut, bersalah, dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Bima berjalan mendekat. Setiap langkahnya melewati meja dan kursi yang berantakan. Siswa-siswa lain minggir memberi jalan. Sampai akhirnya ia berdiri tepat di hadapan Azril.

"Tenang aja Zril, gue baik-baik aja kok." Bima tersenyum. Senyum khasnya yang cengengesan, seolah baru saja ia tidak terlibat perkelahian sengit. Ia menepuk pundak Azril pelan. "Lo tenang aja, jangan kepikiran."

Azril hanya bisa diam. Mulutnya terbuka setengah, tapi tak ada satu kata pun keluar. Ia menatap wajah Bima—sahabatnya yang baru ia kenal satu bulan ini—yang sekarang lebam di pelipis, tapi masih bisa tersenyum lebar.

Bima lalu berbalik, berjalan menuju pintu tempat Pak Didi sudah menunggu dengan tangan bersidekap. Sebelum benar-benar keluar, ia sempat melambaikan tangan ke arah Azril. "Gue balik lagi kok! Jangan nangis ya, Prof!"

Beberapa siswa terkekeh canggung. Yang lain mulai membereskan meja dan kursi yang berantakan.

Azril masih berdiri di tempatnya, bahkan setelah Bima hilang dari pandangan. Matanya terasa panas. Bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat dan asing.

Seperti inikah rasanya dibela teman?

Pikirannya melayang satu bulan ke belakang. Hari pertama ia pindah ke SMA Cempaka 1. Duduk di bangku paling belakang, sendiri, berharap tidak ada yang memperhatikannya seperti biasa. Lalu tiba-tiba ada siswa bertubuh tegap dengan rambut acak-acakan duduk di sampingnya dan berkata, "Lu anak baru? Namanya Azril? Gue Bima. Lo anak IPS 2 kan? Yuk makan bareng, gue kenalin lingkungan sekolah kita."

Tanpa alasan. Tanpa motif. Hanya... kebaikan sederhana.

Dan sekarang, siswa itu baru saja berkelahi membelanya.

"Zril, lo gapapa?"

Suara Aini membuat Azril tersentak. Ketua OSIS itu kini berdiri di sampingnya, wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran.

Azril mengangguk pelan. "Aku... aku gapapa, Ai."

Aini menghela napas. Matanya menyapu ruangan yang mulai kembali tertata. "Bima itu... dia sahabat baik, ya? Mau berantem gegara lo."

Azril menunduk. Jari-jarinya merapikan kacamata yang miring. "Kita baru kenal satu bulan, Ai."

Aini terdiam. Lalu tersenyum kecil. "Satu bulan, tapi dia rela ribut sama Marcel yang dikenal brutal itu. Kalau bukan sahabat sejati, apa namanya, Zril?"

Azril tidak menjawab. Ia hanya menggenggam erat pulpennya, menatap pintu kelas tempat Bima baru saja pergi.

Di dalam dadanya, sesuatu yang selama ini mati rasa, mulai berdetak lagi. Rasa hangat yang asing, tapi nyata.

Terima kasih, Bim.

...~•~•~•~...

BUK! BUK! BUK!

Suara pukulan keras dan rutin terdengar dari lapangan belakang sekolah. Matahari sudah condong ke barat, menunjukkan waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Kegiatan ekstrakurikuler telah usai, dan sebagian besar siswa sudah pulang. Tapi di lapangan belakang yang sepi, Bima masih sibuk memukul samsak gantung yang sudah usang.

Tangannya yang dibalut perban putih tipis (hasil dari perawatan kecil di ruang BK setelah Pak Didi selesai memberi ceramah panjang lebar) terus memukul dengan ritme teratur. Keringat membasahi kaus oblongnya yang putih. Wajahnya serius, berbeda sekali dengan senyum cengengesan yang biasa ia tampakkan.

Dasar Marcel, keterlaluan.

Pukulannya makin keras.

Tahun lalu Azril sudah dipindah dari sekolah lama karena bulli. Dan sekarang kejadian lagi.

BUK!

Untung gue ada.

BUK!

Tapi...

Pukulannya melambat. Lalu berhenti.

Kenapa ya, gue sampe segitunya bela dia?

Bima menghela napas, meraih botol minum di sampingnya. Ia meneguk air mineral, lalu menyiramkan sisa air ke wajah dan rambutnya. Dingin, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikiran yang berkecamuk.

Ia baru saja mau melanjutkan pukulan ketika suara langkah kaki terdengar mendekat. Bima menoleh.

Azril berdiri di pinggir lapangan, masih dengan seragam sekolahnya yang kusut, memegang dua bungkus plastik. Ia tampak ragu-ragu, seperti anak kucing yang mau masuk ke wilayah asing.

"Bim..." suaranya pelan.

Bima mengangkat alis, lalu tersenyum. "Wih, Profesor dateng! Lo gak pulang?"

Azril berjalan mendekat dengan langkah hati-hati. Matanya mengamati perban di tangan Bima, lalu lebam di pelipisnya. Wajahnya menyesal. "Ini... aku beliin... buat lo." Ia mengulurkan plastik yang ternyata berisi es batu yang dibungkus kain dan sekotak nasi bungkus.

Bima menerimanya, menimbang-nimbang dengan satu tangan. "Es batu dan nasi? Lo mau gue sembuh tapi sekalian kenyang? Efisien juga, Prof."

Azril tersenyum kecil, meskipu masih terlihat canggung. "Buat... buat lebam di pelipis lo. Dan lo pasti laper abis... abis..."

"Abis berantem?" Bima menyelesaikan kalimatnya sambil tertawa. "Iya, gue laper banget. Makasih ya, Zril. Lo perhatian banget."

Azril duduk di samping Bima, di pinggir lapangan yang berumput agak kering. Beberapa saat mereka diam. Suara jangkrik mulai terdengar samar-samar.

"Bim..." Azril memulai lagi, suaranya bergetar sedikit.

"Hm?"

"Gue... Minta maaf. Karena gue lo jadi ribut sama Marcel. Lo bisa kena skors. Lo bisa..." Azril tidak melanjutkan. Tangannya meremas ujung seragamnya sendiri.

Bima menoleh, menatap Azril serius. Lalu ia meletakkan nasi bungkusnya, menepuk pundak Azril. "Eh, denger ya Prof. Jangan pernah minta maaf karena lo jadi korban. Yang salah tuh si Marcel, bukan lo. Lo ngerti?"

Azril mendongak. Di balik kacamatanya yang bulat itu, matanya berkaca-kaca.

Bima melanjutkan, "Gue tau lo baru pindah dari sekolah lama karena alasan yang sama. Dan gue juga tau lo bukan tipe orang yang bisa lawan secara fisik. Tapi denger ya Zril..." Ia menjepit pipi Azril dengan dua jari, mencubitnya gemas. "Selama gue ada, gue gak bakal biarin siapapun ngerjain lo. Ngerti?"

Azril hanya bisa mengangguk, karena kalau bicara, suaranya pasti pecah.

Bima tersenyum lebar. "Nah gitu dong. Udah, makan dulu yuk. Kebetulan lo beli dua. Lo pasti juga belum makan kan?"

Azril mengangguk lagi, kali ini dengan senyum kecil yang mulai muncul di bibirnya.

Mereka makan bersama di pinggir lapangan yang mulai gelap. Lampu-lampu sekolah mulai menyala satu per satu. Sesekali terdengar tawa Bima yang keras, dan tawa kecil Azril yang masih malu-malu.

Dari kejauhan, di balik jendela ruang OSIS di lantai dua, Aini memperhatikan mereka. Seulas senyum tipis mengembang di wajahnya.

Untung ada Bima buat Azril.

Lalu ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

[+62 812-XXXX-XXXX]: Ai, lo tau kan gue suka sama lo dari lama. Tapi kok lo deket banget sama Azril? Apa lo suka sama dia? Jawab!.

Aini mengernyit, membaca pesan itu dua kali. Lalu tanpa berpikir panjang, ia memblokir nomor itu.

Orang aneh.

Namun, di sudut lain sekolah, seseorang memperhatikan layar ponselnya dengan senyum puas setelah pesannya terkirim. Sebuah rencana, sekecil apa pun, mulai tersusun di kepalanya.

...~•~•~•~...

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!