"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Siasat di Cheon Gi Won
"TIDAK AKAN PERNAH!" sambung Han Seol lebih keras, membuat beberapa penyihir di rak sebelah berdesis menyuruh mereka diam.
"Iya, iya, kami percaya. Sudahlah Hyun, jangan kau pojokkan terus nona cantik ini," ucap Ji-Hoon akhirnya luluh.
Ia menatap Seol-Ah dengan iba sekaligus semangat. "Semoga beruntung, Nona. Menggaet hati Seo Jun itu lebih sulit daripada mencairkan es di kutub utara. Aku kembali bertugas dulu."
Ji-Hoon melambaikan tangan dan berjalan kembali ke mejanya.
Han Seol melihat kesempatan emas. Ia menarik tangan Do Hyun. "Hyun, aku minta tolong padamu. Sebagai sahabat yang baik, bantu Seol-Ah agar bisa lebih dekat dengan Seo Jun. Kau tahu sendiri dia itu sangat pemalu."
"Jadi benar dia menyukai Seo Jun?" tanya Do Hyun, wajahnya kini terlihat bersemangat untuk menjadi mak comblang.
"Tidak, dia bo—" Seol-Ah mencoba memotong.
"Lihat kan, Hyun? Dia bahkan malu-malu untuk mengakuinya. Bagaimana? Kau mau membantunya, kan?" Han Seol terkekeh, menahan tawa yang hampir meledak melihat wajah Seol-Ah yang sudah semerah kepiting rebus karena menahan amarah.
"Tentu saja! Serahkan padaku. Aku akan mencari jalan agar mereka bisa bicara berdua nanti," ucap Do Hyun penuh percaya diri sebelum akhirnya pergi menyusul Ji-Hoon.
****
Siasat Penyuapan: Kediaman Keluarga Han
Beberapa jam kemudian, saat matahari mulai condong ke barat, Han Seol dan Seol-Ah kembali ke kediaman Han. Sementara Seol-Ah sibuk membersihkan sisa-sisa latihan mereka, Han Seol segera menjalankan rencana kedua: Operasi Penyelamatan Energi.
Ia sengaja mengundang Master Baek ke rumahnya dengan dalih ingin menjamu sang pahlawan yang telah menyelamatkannya. Han Seol telah bersekongkol dengan Madam Oh untuk melancarkan siasat ini.
Tujuannya satu: membuat Master Baek senang dan mabuk, sehingga ia lupa atau tidak tega mengambil kembali energi sihir di tubuh Han Seol.
Di paviliun terbuka yang sejuk, Madam Oh datang membawa nampan besar berisi guci porselen putih yang elegan. Begitu tutupnya dibuka, aroma arak yang sangat kuat, wangi, dan manis langsung memenuhi udara. Itu adalah Arak Delima Surgawi, minuman langka yang harganya setara dengan sebidang tanah.
Mata Master Baek langsung berbinar-binar. "Ini... ini bukan arak sembarangan, kan?"
"Tentu saja tidak, Master," ucap Madam Oh dengan senyum paling ramah. "Ini adalah simpanan terbaik keluarga Han. Hanya untuk orang paling berjasa seperti Anda."
Master Baek tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia menenggak cangkir pertamanya, lalu kedua, hingga akhirnya ia kehilangan hitungan.
Han Seol memberikan isyarat pada pelayan pria untuk membawa masuk guci-guci besar tambahan.
Pria tua itu bersorak gembira, bahkan mulai bertepuk tangan kegirangan. "Luar biasa! Han Seol, kau memang anak yang tahu cara berterima kasih!"
Tak butuh waktu lama hingga Master Baek mulai mabuk berat. Wajahnya merah padam, bicaranya mulai melantur ke mana-mana. Ia tertawa terbahak-bahak sambil memeluk guci araknya.
"Aku... aku ingin membawa semua ini pulang! Semuanya!"
Han Seol hanya tersenyum tipis sambil menahan tawa melihat sang penyihir agung yang biasanya berwibawa kini terlihat seperti kakek-kakek biasa yang bahagia. Ia mengangguk-angguk setuju.
"Tentu, Master. Semuanya untukmu. Ambil-lah sebanyak yang Anda mau."
Di sudut paviliun, Seol-Ah memperhatikan dari kejauhan sambil menyilangkan tangan. "Suap yang sangat efektif," desisnya pelan.
"Sekarang, energi itu resmi menjadi modalmu, Seol. Jangan sia-siakan."
****
Sore itu, cahaya matahari yang kemerahan memantul di permukaan kolam ikan kediaman Keluarga Jin, menciptakan suasana tenang yang kontras dengan perdebatan di dalam gazebo.
"Bukankah sekarang kita sudah punya alasan untuk menerimanya?" Jin Chae-Rin menatap ibunya dengan penuh harap. "Dia memiliki kekuatan sihir, Ibu. Dia sudah layak menjadi suamiku."
Namun, Penyihir Jin tetap bergeming. Wajahnya sedingin es, tanpa sedikit pun keraguan. Jin Chae-Rin hanya bisa terdiam dengan bibir cemberut, menelan kekecewaan yang mulai menyesakkan dada.
"Kau tahu aturan keluarga kita, Chae-Rin," suara Penyihir Jin merendah, menyimpan luka lama yang belum sembuh. "Jika kakakmu tidak hilang belasan tahun lalu, dialah yang seharusnya berdiri di posisimu sekarang sebagai pewaris Jinyowon."
Sang Ibu memandang ke kejauhan, seolah menembus waktu. "Aku ingin dia yang menikah lebih dulu. Di mana pun dia berada saat ini, aku hanya ingin dia ditemukan dan kembali pulang hidup-hidup."
Mendengar nama kakaknya disebut, Jin Chae-Rin tak bisa membantah. Ia hanya bisa patuh, meski hatinya terasa berat. Dengan langkah lesu, ia meninggalkan gazebo dan berjalan menuju taman bunga di sudut terdalam kediaman mereka—tempat di mana rahasia besar keluarga Jin terkunci rapat.
Ia berhenti di depan sebuah dinding batu yang tertutup rapat oleh tanaman rambat yang tebal. Napasnya teratur saat ia mengangkat tangan, menggerakkan jari-jarinya dengan pola yang rumit.
Cahaya sihir berpendar dari ujung jemarinya, menyentuh dedaunan hijau itu.
Seketika, tanaman rambat itu bergerak sendiri, tersibak seperti tirai yang ditarik tangan tak kasat mata.
Dinding bata yang padat perlahan memudar, menampakkan sebuah pintu kayu kuno yang memancarkan aura magis yang kuat. Gerbang Jinyowon telah terbuka.
Krieettt...
Suara gesekan pintu kayu itu menggema di kesunyian taman. Jin Chae-Rin melangkah masuk, membiarkan kegelapan Jinyowon dan aroma artefak kuno menyambutnya.
****
Malam telah larut, namun lorong-lorong Cheon Gi Won masih menyimpan kesibukan yang sunyi. Seol-Ah kembali ke sana, ia terus mengekor di belakang Seo Jun, langkah kakinya sengaja dibuat berirama dengan pria itu.
"Tuan Muda, kau pasti akan makan malam, kan?" tanya Seol-Ah, mencoba memancing percakapan.
Seo Jun tidak menjawab. Tangannya masih memegang buku, matanya menatap lurus ke depan, namun dahinya berkerut risih.
Merasa diabaikan, Seol-Ah mempercepat langkahnya hingga hampir menabrak punggung Seo Jun saat pria itu tiba-tiba berhenti mendadak.
Seo Jun berbalik, menatap Seol-Ah dengan pandangan menyelidik. "Nona Seol-Ah, berhentilah bersikap aneh. Aku tahu Han Seol yang menyuruhmu, tapi jawabanku tetap sama."
Ia melangkah masuk ke dalam ruang belajar yang remang-remang. "Aku dilarang keras membagikan teknik pernapasan keluarga kami kepada siapa pun, termasuk Han Seol."
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki banyak orang terdengar mendekat. Para penyihir Cheon Gi Won sedang berpatroli.
Panik, Seo Jun refleks menarik tangan Seol-Ah, menyembunyikan gadis itu di balik sekat kayu yang gelap.
Jarak mereka sangat dekat. Seol-Ah bisa mencium aroma kayu cendana dari pakaian Seo Jun.
Ini kesempatanku, batinnya.
Tanpa ragu, Seol-Ah menempelkan telapak tangannya ke perut Seo Jun, mencoba merasakan aliran energi di tubuh pria itu.
"Berhenti! Apa yang kau lakukan?" bisik Seo Jun setengah terkejut sambil mendorong bahu Seol-Ah menjauh.
Seol-Ah menyeringai tanpa dosa, otaknya berputar cepat mencari alasan. "Maaf, Tuan Muda. Itu karena aku... aku..."
Ia memejamkan mata rapat-rapat. "Aku jatuh cinta padamu!"