"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Rahasia Takhta dan Cambuk Pengusiran
"Ambillah apa yang seharusnya menjadi milik kerajaan, Yang Mulia," bisik Jin Wu, menyuntikkan racun kecurigaan. "Rebut kembali pedang itu sebelum Han Seol menyadari bagaimana cara membangkitkan seluruh kekuatan magis yang tertidur di dalamnya."
Go Si-woo menghentikan ketukan jarinya, lalu menatap Jin Wu dengan dahi berkerut. "Bukankah pedang itu sebelumnya berada di bawah pengawasan Anda, Tuan Jin Wu?"
Jin Wu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kelicikan. "Benar, Yang Mulia. Namun, saya selaku Wakil Gwanju tidak memiliki otoritas mutlak untuk menahannya. Anda tahu sendiri bahwa Han Seol adalah putra kandung dari Gwanju sendiri. Mau tidak mau, saya terpaksa menyerahkan pedang pusaka itu kepadanya."
"Tapi dia tidak memiliki kapasitas spiritual apa pun untuk menggunakan pedang sekuat itu," ucap Go Si-woo, mendengus meremehkan. "Menurutku, pemuda ceroboh seperti dia sama sekali bukan tandinganku."
"Anda harus waspada, Yang Mulia," sela Jin Wu dengan nada memperingatkan yang dramatis. "Ada rumor kuat yang mengatakan bahwa pintu energi sihir Han Seol saat ini mulai terbuka secara misterius. Bisa saja dia menjelma menjadi ancaman besar bagi posisi Anda di masa depan. Meskipun... saya pribadi sangat ragu ia mampu menandingi Anda yang saat ini telah melampaui tingkat Ryusu."
Jin Wu menjeda kalimatnya sejenak untuk membaca ekspresi sang Pangeran, lalu melanjutkan, "Namun, Anda juga harus tahu, saat ini hanya ada satu penyihir muda yang tingkatannya hampir menyamai Anda... yaitu Baek Seo-jun. Sepupu Anda sendiri."
Mendengar nama Seo-jun disebut, rahang Go Si-woo sedikit mengeras. Ego pangerannya terusik, namun ia berusaha tetap terlihat tenang di hadapan gembong Cheonbugwan tersebut.
"Tuan Jin Wu, kurasa Han Seol tetaplah Han Seol," ujar Go Si-woo dengan nada angkuh yang dingin. "Meskipun pintu energinya kini telah terbuka, dia tidak akan pernah bisa sehebat Seo-jun, apalagi melampaui diriku. Namun... jika ini menyangkut tentang hak kepemilikan Pedang Nara, aku sendiri yang akan turun tangan untuk mengambilnya dari tangan dia."
****
Siang itu, Do Kwang duduk termenung seorang diri di ruang kerjanya. Pikirannya melayang jauh pada sebuah rahasia kelam yang diamanatkan oleh sahabat karibnya, Han Gyeol, dua puluh tahun silam.
Han Seol... pemuda ceroboh yang selama ini ia awasi, sebenarnya bukanlah darah daging Han Gyeol. Pemuda itu adalah putra kandung dari mendiang Raja terdahulu, Raja Go Yoon, yang sebelum wafat sempat melakukan pemindahan jiwa ke dalam raga Han Gyeol.
Kini, Do Kwang tahu bahwa pintu energi sihir Han Seol mulai terbuka. Fakta itu bagaikan bom waktu. Di bawah pemerintahan Raja Go Ha-neul yang memiliki seorang Putra Mahkota yang ambisius, eksistensi Han Seol yang membawa garis takdir Bintang Kerajaan akan dianggap sebagai pemberontakan besar. Pihak istana tidak akan segan-segan memenggal kepalanya.
Satu-satunya cara menyelamatkan nyawa pemuda itu adalah dengan menjauhkannya sejauh mungkin dari dunia sihir.
Do Kwang sengaja memanggil Han Seol ke Cheon Gi Won siang ini. Lencana akses milik Han Gyeol yang selama ini digunakan Han Seol harus segera ditarik.
Aula utama Cheon Gi Won terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Langkah kaki Han Seol menggema riang saat ia memasuki ruangan dengan senyum lebar yang khas. Ia mengira hari ini adalah hari peresmiannya sebagai penyihir sejati.
"Aku datang, Paman!" seru Han Seol penuh semangat.
Namun, senyum jenakanya perlahan luntur saat ia melihat Do Kwang turun dari kursi kepemimpinan. Langkah pria tua itu terasa teramat berat, wajahnya kaku dan dingin menyerupai batu mendingin.
Han Seol menghentikan langkah, firasat buruk mendadak mencengkeram dadanya.
"Mulai detik ini," suara Do Kwang menggelegar, memecah kesunyian aula dengan mutlak, "aku menyatakan Han Seol resmi diusir dan dilarang menginjakkan kaki di Cheon Gi Won!"
Han Seol mematung. Dunia di sekitarnya seolah runtuh seketika. "Paman... apa maksudmu?"
"Kau bukan penyihir, dan tidak akan pernah menjadi bagian dari kami!" potong Do Kwang kejam tanpa perasaan.
Ia memberi isyarat kepada pengawal untuk menyerahkan sebuah benda berselimut kain sutra. "Bawa ini. Ini adalah pedang peninggalan Han Gyeol, ayahmu. Kau tidak bisa menggunakan sihir, dan pedang ini hanya akan menjadi beban tidak berguna jika kau tetap di sini. Sekarang, kembalikan lencana perak Cheon Gi Won yang kau bawa."
Han Seol mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Hinaan itu terasa lebih tajam dan menyakitkan dari tusukan bilah baja mana pun. Ia menatap Do Kwang dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku... aku telah kehilangan lencana itu, Paman," bisik Han Seol lirih.
"Lancang sekali kau!" bentak Do Kwang, wajahnya memerah menahan badai emosi di dalam dadanya. "Kehilangan lencana pusaka adalah pelanggaran berat! Sebagai gantinya, kau wajib menerima hukuman seratus kali pukulan gada kayu sebelum kau angkat kaki dari sini!"
Hukuman di Halaman Depan
Matahari siang itu seolah enggan bersinar, tertutup awan mendung saat Han Seol dipaksa berlutut di tengah halaman berbatu.
Di sekeliling arena, para penyihir muda termasuk Baek Seo-jun, Do Hyun, dan Park Ji-hoon berdiri mematung. Wajah mereka pucat pasi, menatap sahabat mereka dengan rasa iba dan ketidakberdayaan yang mendalam. Mereka tidak punya kuasa untuk menentang perintah tertinggi pemimpin Cheon Gi Won.
Di sudut halaman paviliun, Seol-ah berdiri membeku di antara barisan pelayan lainnya. Jemarinya meremas kuat kain bajunya sendiri saat melihat Han Seol sudah berlutut bertelanjang dada di tengah arena.
Jiwa Nara di dalam dirinya bergejolak hebat. Ingin rasanya ia melompat ke tengah lapangan untuk menghentikan kegilaan ini, namun ia tahu tindakan nekatnya hanya akan membongkar identitasnya sendiri dan membuat posisi Han Seol semakin binasa.
Bukk! Bukk!
Gada kayu panjang itu menghantam punggung tegap Han Seol secara bergantian. Setiap pukulan telak menciptakan suara hantaman yang mengerikan, membuat tubuh pemuda itu tersentak ke depan. Namun, Han Seol tetap mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Gigi-giginya bergemeletuk menahan perih. Ia menolak keras untuk mengerang atau memohon ampun di hadapan banyak orang.
Darah segar mulai merembes, membasahi punggungnya yang bergetar.
Saat hitungan eksekutor mencapai angka sembilan puluh sembilan, Han Seol yang nyaris tidak sadarkan diri perlahan mengangkat wajahnya yang bersimbah keringat dan darah. Matanya memerah, menatap langsung ke arah Do Kwang yang berdiri mengawasi jalannya hukuman.
"Pukulan terakhir..." bisik Han Seol dengan suara parau yang sarat akan kekecewaan mendalam. "Aku ingin... Anda sendiri yang melakukannya, Paman."
Tangan Do Kwang bergetar hebat. Jantungnya bak diiris sembilu melihat putra sahabatnya menderita. Namun, demi meyakinkan semua orang dan mata-mata istana bahwa pengusiran ini nyata, ia harus menuntaskannya. Do Kwang melangkah maju, mengambil alih gada kayu besar itu dari tangan eksekutor.
Dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis namun lengan yang dipaksa tetap tegak, Do Kwang mengalirkan sedikit energi spiritualnya dan mengayunkan gada itu sekuat tenaga—seolah ingin menanamkan rasa sakit yang luar biasa agar Han Seol tidak pernah menoleh ke belakang lagi, dan menjauh dari dunia penyihir yang kejam ini demi keselamatannya sendiri.
DUAKK!
Tubuh Han Seol terlempar ke depan dan tersungkur mencium tanah halaman. Napasnya tersengal-sengal di antara debu batu yang menempel di wajahnya yang basah oleh air mata yang akhirnya lolos berderai.
Keheningan total yang mencekam menyelimuti seluruh kompleks Cheon Gi Won.
Perlahan, dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa, Han Seol mengeret tubuhnya untuk bangkit berdiri. Sambil memegang pedang ayahnya sebagai tumpuan, ia membungkuk hormat kepada Do Kwang untuk terakhir kalinya. Ia lalu menoleh, menatap tiga sahabatnya—Seo-jun, Do Hyun, dan Ji-hoon—dengan senyuman tipis berdarah yang teramat menyayat hati.
"Terima kasih... untuk semuanya," ucap Han Seol lirih.
Ia membalikkan tubuhnya yang terluka parah, berjalan dengan langkah diseret menuju gerbang keluar. Saat itulah, sepasang matanya bertemu dengan manik mata Seol-ah yang sedari tadi menatapnya dalam kebisuan yang menyakitkan.
"Ayo pergi," ajak Han Seol singkat saat melewati gadis itu.
Tanpa sepatah kata pun, Seol-ah mengangguk mantap. Ia langsung melangkah maju, berjalan setia di samping pemuda itu untuk memapah tubuhnya. Mereka berdua melangkah keluar melintasi gerbang besar Cheon Gi Won, meninggalkan dunia sihir dan masa lalu mereka di balik dinding-dinding batu kokoh yang menjulang tinggi.