NovelToon NovelToon
Langit Tersegel: Rise Of Fengxuan

Langit Tersegel: Rise Of Fengxuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dan budidaya abadi / Epik Petualangan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: LEVIATHAN_M.S

“Ayam kecil, berhenti berlari dan kembalikan buah persikku!”

Ladang herbal memenuhi lereng gunung sementara asap putih mengepul dari dapur-dapur besar di berbagai area. Aroma daging panggang memenuhi udara dan di kejauhan ratusan hewan spiritual terlihat berkeliaran bebas di padang rumput pegunungan.

“Mulai hari ini kandang ayam spiritual bagian timur menjadi tanggung jawabmu.”

Di sisi lain, Suara pisau, dentuman panci, dan teriakan para murid dapur bercampur menjadi satu seperti pasar pagi yang kacau. Aroma makanan memenuhi seluruh udara pegunungan.

“Adik kecil! Cepat potong sayuran itu!”

“Siapa yang membakar daging bagian utara?!”

“Tambahkan garam spiritual ke sup nomor tiga!”

Ini adalah kehidupan yang tenang dan penuh kejadian dramatis tak terlupakan dari Sekte Forgotten Blade. Kehidupan beternak ayam Bai Fengxuan sebelum ia tahu kebenaran pahit dari dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LEVIATHAN_M.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 25 - Tata Cara Duduk dan Bernapas

Chapter 25 — Tata Cara Duduk dan Bernapas

Suasana di dalam Paviliun Kitab Awan terasa jauh lebih sunyi dibanding bagian luar sekte Forgotten Blade. Cahaya matahari siang masuk melalui jendela-jendela tinggi dan jatuh miring di antara rak-rak kayu besar yang tersusun seperti labirin tanpa ujung. Aroma khas kertas tua, tinta, dan kayu cendana memenuhi udara hingga bahkan langkah kaki para murid terdengar sangat pelan di tempat itu.

Bai Fengxuan berjalan perlahan melewati lorong-lorong rak sambil membawa kantung batu spiritual kecil di pinggangnya. Matanya terus bergerak dari satu rak ke rak lain dengan rasa penasaran yang sulit disembunyikan.

Di tempat itu terdapat begitu banyak buku. Bukan hanya manual kultivasi. Rak pertama yang ia lewati bahkan dipenuhi buku resep masakan spiritual dari berbagai wilayah dunia kultivasi. Sebagian sampulnya bergambar sup herbal, pangsit qi, hingga daging panggang spiritual yang tampak sangat mewah. Bai Fengxuan sempat berhenti cukup lama di depan salah satu buku berjudul Seratus Resep Daging Spiritual Pegunungan Utara. Hanya dari ilustrasi di sampulnya saja perutnya sudah mulai lapar.

Namun begitu melihat harga sewanya, wajahnya langsung berubah suram.

Delapan puluh batu spiritual.

“Itu lebih mahal dari gajiku…” gumamnya pelan sambil buru-buru mengembalikan buku tersebut ke rak.

Ia kemudian berjalan lebih jauh ke dalam paviliun. Semakin dalam ia masuk, semakin banyak jenis buku yang ia temukan. Ada buku cerita rakyat mengenai naga dan phoenix kuno, catatan sejarah sekte-sekte besar dunia kultivasi, hingga kitab pengetahuan umum tentang tanaman herbal, jalur perdagangan, binatang spiritual, dan geografi wilayah Great Xia.

Sebagian murid luar terlihat serius membaca kitab di sudut-sudut rak sambil mencatat sesuatu di kertas bambu. Beberapa murid dalam sesekali turun ke lantai pertama untuk mencari buku hiburan atau catatan tambahan. Suasana tenang di dalam paviliun membuat waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dibanding dunia luar.

Bai Fengxuan mulai merasa tempat ini benar-benar seperti dunia kecil yang tersembunyi. Namun perlahan ia juga menyadari sesuatu. Lantai pertama benar-benar sangat “mendasar”.

Manual kultivasi yang tersedia sebagian besar hanyalah teori dasar mengenai qi spiritual, meridian, atau latihan fisik sederhana. Tidak ada teknik hebat yang mampu membelah gunung atau membuat seseorang terbang di langit seperti legenda yang sering ia dengar dari para murid senior.

Awalnya ia masih cukup bersemangat. Terutama ketika menemukan sebuah rak bertuliskan Manual Pedang Dasar. Matanya langsung berbinar dan ia buru-buru mengambil salah satu gulungan kitab biru tua dengan penuh harapan.

Sampulnya bertuliskan, “Teknik Pedang Tiga Belas Aliran Angin”.

Nama itu terdengar sangat hebat. Bai Fengxuan bahkan sempat membayangkan dirinya berdiri di atas tebing sambil mengayunkan pedang dengan jubah berkibar seperti kultivator kuat dalam cerita rakyat. Namun beberapa detik kemudian tatapannya perlahan bergerak ke label harga kecil di bawah rak.

Tujuh ratus tiga puluh batu spiritual.

Wajah Bai Fengxuan langsung membeku.

Ia perlahan menutup kembali kitab itu dengan ekspresi kosong lalu mengembalikannya ke tempat semula seperti orang miskin yang baru sadar diri.

“Itu bisa membeli seluruh kandang ayam…” gumamnya lirih.

Semangatnya mulai sedikit menurun setelah itu, tetapi ia tetap terus berjalan menyusuri rak-rak lain dengan keras kepala. Kadang ia menemukan buku yang cukup menarik. Kadang ia berhenti cukup lama membaca beberapa halaman sebelum akhirnya menghela napas begitu melihat harga sewanya.

Ada buku tentang teknik pernapasan kultivator pengembara.

Ada catatan mengenai cara memperkuat tubuh menggunakan qi.

Ada pula pengenalan dasar formasi sederhana.

Sayangnya hampir semuanya mahal. Bahkan kitab yang terlihat paling biasa pun rata-rata membutuhkan puluhan hingga ratusan batu spiritual untuk dipinjam beberapa hari saja.

Semakin lama berjalan, semakin Bai Fengxuan merasa dirinya benar-benar miskin.

Beberapa kali ia mulai berpikir mungkin lebih baik menggunakan batu spiritual itu untuk membeli makanan bersama Han Gu dan Xu Liang. Setidaknya makanan bisa langsung membuat bahagia, sedangkan buku-buku di tempat ini bahkan melihat harganya saja sudah cukup menyakitkan.

Waktu berlalu cukup cepat di dalam paviliun sunyi itu. Cahaya matahari perlahan mulai bergerak lebih rendah melewati jendela tinggi, sementara sebagian murid datang dan pergi silih berganti. Namun Bai Fengxuan masih terus menyusuri lorong-lorong rak dengan rasa penasaran yang belum sepenuhnya padam.

Sampai akhirnya rasa lelah mulai muncul. Ia berhenti di salah satu sudut paviliun yang cukup sepi sambil menghela napas panjang. Rak-rak kayu di area itu tampak lebih tua dibanding bagian lain. Sebagian buku bahkan dipenuhi debu tipis seolah sudah sangat lama tidak disentuh siapa pun.

“Mungkin memang tidak ada yang cocok…” gumamnya pelan.

Ia mulai hampir menyerah.

Namun tepat ketika hendak berbalik, sudut matanya tiba-tiba menangkap sesuatu. Sebuah buku tipis tua terselip miring di bagian bawah rak kayu paling ujung. Sampulnya terlihat usang dan sedikit menguning seperti sudah lama tidak dibuka.

Tidak ada aura hebat. Tidak ada nama keren. Hanya tulisan sederhana di bagian depannya.

Tata Cara Duduk dan Bernapas untuk Pemula.

Bai Fengxuan langsung mengernyit.

“…Apa ini?”

Judulnya terdengar terlalu biasa. Bahkan lebih terdengar seperti buku latihan bayi yang baru lahir dibanding teknik kultivasi. Namun justru karena itulah Bai Fengxuan merasa penasaran. Mengapa buku seperti ini berada di Paviliun Kitab Awan?

Ia perlahan mengambil buku itu lalu meniup debu tipis di sampulnya sebelum mulai membukanya perlahan.

Halaman pertama dipenuhi tulisan tangan sederhana mengenai posisi duduk dan pengaturan napas. Halaman kedua menjelaskan ritme pernapasan perlahan. Namun ketika sampai di halaman ketiga, mata Bai Fengxuan langsung sedikit membesar.

Qi spiritual.

Tulisan di halaman itu mulai menjelaskan cara merasakan aliran qi dunia secara alami melalui ketenangan tubuh dan napas. Bai Fengxuan buru-buru membalik halaman berikutnya, lalu halaman setelahnya lagi.

Semakin dibaca, jantungnya mulai berdetak semakin cepat. Ini bukan buku biasa.

Ini benar-benar teknik kultivasi.

Memang sangat mendasar. Sangat sederhana. Namun justru kesederhanaannya terasa berbeda dibanding manual lain yang tadi ia lihat. Buku ini tidak berbicara soal kekuatan besar. Tidak membahas teknik penghancur gunung ataupun menjelaskan pedang terbang dan dao langit.

Buku ini hanya terus membahas satu hal…

ketenangan.

Dan entah kenapa, Bai Fengxuan merasa buku itu sangat cocok dengannya. Ia langsung melirik harga kecil di bawah rak.

Lima batu spiritual.

Matanya langsung membesar.

“…Murah sekali?!”

Hampir saja ia benar-benar melompat kegirangan di tengah paviliun. Lima batu spiritual bahkan lebih murah dibanding beberapa mangkuk makanan spiritual di dapur umum.

Untuk pertama kalinya hari itu, wajah Bai Fengxuan benar-benar dipenuhi semangat. Ia langsung memeluk buku tipis itu seperti menemukan harta karun lalu berjalan cepat menuju meja kasir di dekat pintu masuk. Beberapa murid perempuan berjubah luar sedang duduk di sana sambil mencatat peminjaman kitab satu per satu.

Salah satu dari mereka menerima buku Bai Fengxuan lalu melirik sampulnya sebentar. Ekspresinya langsung berubah sedikit aneh.

“Buku ini?” tanyanya pelan.

Bai Fengxuan mengangguk cepat.

“Aku mau meminjamnya.”

Murid perempuan itu tampak seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya ia hanya mengangkat bahu kecil lalu mencatat nama Bai Fengxuan di lembar peminjaman.

“Lima batu spiritual.”

Bai Fengxuan segera menyerahkan pembayaran tanpa ragu sedikit pun. Begitu buku itu resmi menjadi miliknya untuk sementara waktu, wajahnya langsung dipenuhi senyum puas yang sulit disembunyikan.

Ia bahkan berjalan keluar paviliun dengan langkah jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.

Di belakang meja dekat pintu masuk, tetua tua berjanggut panjang yang sejak tadi tampak setengah tertidur perlahan membuka matanya. Tatapannya mengikuti Bai Fengxuan beberapa saat sebelum perlahan jatuh pada buku tipis di tangan bocah itu.

Untuk sesaat ekspresi sang tetua tampak sangat aneh. Sulit dijelaskan. Seperti terkejut, namun juga seperti sedang mengenang sesuatu yang sangat lama.

Beberapa detik kemudian ia hanya berdeham pelan sambil kembali menutup matanya.

Di sisi lain, Bai Fengxuan sama sekali tidak menyadari tatapan tersebut. Begitu keluar dari Paviliun Kitab Awan, ia langsung merasakan udara sore pegunungan menyambut wajahnya. Matahari mulai turun perlahan di balik lautan awan dan seluruh pusat sekte Forgotten Blade dipenuhi cahaya jingga hangat.

Suasana di jalan utama masih cukup ramai. Beberapa murid dalam berjalan melewati jembatan batu sambil membawa pedang. Pedagang kecil murid luar mulai membuka lapak makanan, dan tidak jauh dari gerbang utama paviliun, Han Gu dan Xu Liang ternyata sudah menunggu sambil duduk di bawah pohon pinus besar.

Xu Liang langsung berdiri begitu melihat Bai Fengxuan.

“Akhirnya!” teriaknya dramatis. “Aku kira kau tersesat di dalam perpustakaan!”

Han Gu tertawa kecil sambil melipat tangan di dada “Kau benar-benar paling lama.”

Bai Fengxuan sedikit tersenyum canggung. “Aku terlalu banyak melihat-lihat.”

Xu Liang langsung mendekat dengan wajah penasaran,“Jadi kau beli apa?”

Dengan cukup bangga, Bai Fengxuan mengangkat buku tipis tua di tangannya.

Xu Liang membaca judulnya perlahan.

“…Tata Cara Duduk dan Bernapas untuk Pemula?”

Suasana langsung sunyi beberapa detik. Lalu Xu Liang menatap Bai Fengxuan dengan ekspresi kosong.

“Itu…” gumamnya pelan, “…kedengarannya seperti buku untuk orang tua sakit pinggang.”

Han Gu juga ikut melirik sampulnya dengan wajah aneh. Namun berbeda dibanding Xu Liang, ia justru mengangguk kecil setelah beberapa saat.

“Murah?”

“Lima batu spiritual.”

Han Gu langsung tertawa pendek. “Bagus.” Ia menepuk bahu Bai Fengxuan pelan. “Untuk murid luar, memilih buku yang cocok jauh lebih penting dibanding memilih buku mahal.”

Xu Liang tetap terlihat tidak yakin.

“Tapi judulnya aneh…”

Bai Fengxuan hanya tersenyum kecil sambil memeluk buku itu lebih erat.

Entah kenapa ia benar-benar merasa telah menemukan sesuatu yang berharga hari ini. Mungkin bukan teknik hebat. Mungkin bukan warisan legendaris. Namun setidaknya, itu adalah sesuatu yang benar-benar bisa ia pahami.

Dan di tengah langit jingga sore Forgotten Blade, tiga murid luar dari Puncak Awan Pengembara akhirnya mulai berjalan pulang bersama melewati jalan batu pegunungan sambil membawa hasil belanja sederhana mereka masing-masing, sementara lautan awan perlahan bergerak tenang di bawah kaki gunung.

1
awan irwan
cukup bagus dan menarik
Marthen
tetap ketahuan sama zhso yuan apa lagi gadis pendiam Qing Rou...dan itu akan menjadi rahasia mereka masing-masing.. adik bai harus secepatx menenukan teknik menutupi aura yg sebenarx.....
ok Lanjut bagi hasiL Panen....dan unduj afik Bai sukses dgn teknik pedang tak terlihat yg akan menjadi senjata andaLan untuk jarak yg sangat dekat dgn Lawan....
tariii
masih menyembunyikan kekuatan yg sebenarnya.. 👍👍👍
awan irwan
hanya Han gu yang memahami adik bai😄
tariii
bocah 10 th udah punya jurus aja..😍👍
tariii
weehhh... bisa ketemu lagi...😂😂😂
tariii
kereeeenn.... sudah level 4...👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!