NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

Matahari pagi yang terbit di langit Los Angeles membawa serta badai yang siap meruntuhkan dua dinasti besar.

Di kompleks perumahan elit tempat mansion megah keluarga Walker berdiri kokoh, keheningan fajar pecah oleh raungan sirine mobil-mobil otoritas federal.

Sembilan mobil hitam legam bergerak taktis, menutup seluruh akses keluar-masuk dari kediaman yang selama puluhan tahun menjadi simbol keangkuhan tersebut.

Di dalam ruang keluarga utama yang berlapis marmer mahal, Tuan Walker berdiri dengan wajah pias, tangannya gemetar hebat saat seorang agen senior menyodorkan selembar surat penangkapan resmi lengkap dengan segel pengadilan federal.

"Tuan Walker, Anda ditahan atas dakwaan pencucian uang, manipulasi aset ilegal, dan keterlibatan dalam sindikat penggelapan pajak lintas negara," ucap agen tersebut dingin, suaranya bergema tegas di langit-langit ruangan yang tinggi.

"Ini tidak mungkin! Ini pasti kesalahan! Siapa... siapa yang berani melakukan fitnah murahan ini?!" teriak Tuan Walker, suaranya melengking panik, kehilangan seluruh wibawa aristokratnya.

Agen tersebut tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan hanya membalik halaman lampiran berkas barang bukti.

Di lembar paling depan, tertera nama sang pelapor formal beserta tanda tangan yang sangat familier bagi seluruh penghuni rumah itu: Amieyara Walker.

"Gadis sampah itu..." Nyonya Walker, ibu tiri Yara, membekap mulutnya sendiri dengan mata membelalak horor.

Tubuhnya merosot ke atas sofa beludru. Mereka cukup terkejut, bahkan teramat sangat tidak menyangka bahwa kekuatan besar yang menghempaskan mereka pagi ini datang dari tangan gadis yang selama bertahun-tahun ini mereka besarkan dengan hinaan, yang mereka anggap tidak lebih dari sekadar pajangan dan pembantu tak kasat mata di dalam rumah tersebut.

Bukti-bukti yang disodorkan teramat valid, mencakup nomor rekening rahasia dan alur transaksi yang selama ini disembunyikan dengan rapi.

Cinmocha Walker yang baru saja turun dari lantai dua dengan piyama sutranya berdiri mematung di anak tangga terakhir.

Menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sang ayah, pilar utama dari kemewahannya, diborgol secara hina dan diseret paksa keluar dari mansion megah mereka seperti kriminal rendahan, membuat darah Caca mendidih seketika.

Kemurkaan yang teramat sangat membakar dadanya. Dia mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih, menatap nanar ke arah mobil polisi yang perlahan bergerak menjauh.

Di belahan distrik lain, kehebohan yang sama masifnya sedang terjadi. Penangkapan pagi itu meluas laksana wabah.

Banyak pihak, termasuk para pejabat korup dan pengusaha hitam, ikut diseret keluar dari rumah mereka dalam kondisi setengah sadar.

Seluruh rahasia besar dan busuk milik ayah David Joseph akhirnya terbongkar total ke permukaan—sebuah jaringan bisnis ilegal yang selama ini mengikat kontrak gelap dengan keluarga Walker.

David Joseph sendiri, yang sedang duduk di ruang kerja kantor pengacaranya, tampak cukup syok dan terpukul saat membaca rentetan berita kilat di dokumen.

Pria itu menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya yang berdenyut menyakitkan. Mengetahui betapa mengerikan dan kotornya lingkaran konspirasi yang melibatkan ayahnya dan keluarga Walker, David mendadak merasakan gelombang simpati dan penyesalan yang mendalam terhadap Yara, mantan istrinya.

"Seberat ini... jadi selama ini masalah yang kau hadapi seberat dan semengerikan ini, Yara?" gumam David dengan suara parau.

Dia baru menyadari bahwa pernikahan singkat mereka yang begitu kejam bagi jiwa Yara.

Namun, jika ada neraka yang lebih membara pagi ini, maka neraka itu sedang berjalan di dalam koridor area parkir khusus Fakultas Bisnis Universitas Los Angeles.

Emmeline Valerio melangkah dengan ritme kaki yang dipaksakan.

Di balik gaun kasualnya yang mahal, ada rasa perih yang teramat sangat luar biasa, laksana sayatan yang membakar di antara kedua pahanya—sebuah konsekuensi fisik yang menyakitkan akibat malam Gila di paviliun belakang kampus bersama seorang anak SMA asing, tempat di mana kesadarannya runtuh total di bawah pengaruh obat perangsang dosis tinggi semalam.

Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan kemurkaan yang kini menguasai sistem saraf Emmeline.

Jiwa gilanya telah bangkit sepenuhnya. Menggunakan kekuasaan mutlak dan jaringan informan milik dinasti Valerio, hanya butuh waktu beberapa jam bagi Emme untuk menemukan jawaban siapa dalang di balik jebakan keji itu.

Bella Moon. Nama itu keluar sebagai eksekutor utama yang membeli obat tersebut dari pasar gelap.

BRAK!

Bella Moon, yang baru saja keluar dari mobilnya di area parkir, seketika tersentak mundur saat tubuhnya didorong dengan kasar hingga menghantam badan mobil oleh dua orang mahasiswi antek-antek penjilat Emmeline.

Belum sempat Bella memprotes, Emmeline sudah berdiri di hadapannya dengan sepasang mata gelap yang berkilat haus darah.

"Em... Emme..." suara Bella bergetar, wajahnya seketika pias tanpa darah.

PLAK!

Satu tamparan keras dari tangan Emmeline mendarat telak di pipi Bella, membuat sudut bibir gadis itu pecah dan mengeluarkan darah segar.

Bella langsung jatuh terduduk di atas aspal parkiran, menangis histeris.

Mengatahui bahwa Emmeline memegang kendali atas seluruh rekaman dan bukti keterlibatannya, Bella langsung merangkak, memegang ujung sepatu Emme, memohon ampun dengan suara yang parau.

"Aku mohon, Emme! Ampun! Jangan lakukan itu! Aku tahu kau memegang video-videoku selama ini! Aku mohon jangan bongkar ke publik, itu akan menghancurkanku!" ratap Bella di sela tangisnya.

Emmeline menunduk, mencengkeram rambut Bella dengan sentakan yang begitu brutal hingga kepala Bella terdongak paksa.

Meskipun tubuh bagian bawahnya masih terasa nyeri dan perih yang luar biasa, harga diri sang ratu Valerio tidak akan membiarkan musuhnya lolos begitu saja.

"Kau pikir aku akan melepaskanmu, Bella?!" desis Emmeline, suaranya rendah namun bergetar oleh kebencian yang mendalam.

"Kau jalang tidak tahu diri. Ternyata target utamamu semalam adalah Yara, kakak iparku, kan? Kau ingin menjebaknya dengan obat itu agar dia hancur di depan Max!"

Emme mengetatkan cengkeramannya, membuat Bella menjerit kesakitan. "Biar aku... biar aku yang menjadi korban kegilaanmu semalam, karena aku memiliki darah Valerio yang bisa menghancurkanmu kembali dalam sekejap. Tapi jika itu menyangkut kebahagiaan kembaranku, Max... jika kau berani menyentuh wanita pilihan Max, aku pastikan kau tidak akan pernah melihat matahari esok hari dengan utuh!"

Tepat pada momen mencekam itu, sebuah mobil sport hitam meluncur masuk dan berhenti tak jauh dari sana.

Maximilian Valerio dan Amieyara Walker melangkah keluar dari dalam mobil. Keduanya langsung tertegun, cukup kaget melihat kebrutalan adiknya bersama antek-antek penjilatnya yang sedang mengerumuni Bella yang sudah babak belur di atas aspal.

"Emme! Apa yang kau lakukan?!" seru Max, langkah kakinya bergerak cepat mendekati tempat kejadian bersama Yara yang menatap pemandangan itu dengan kening berkerut tajam.

Di saat yang bersamaan, dari arah koridor seberang, Cinmocha Walker—si Caca-mochi—baru saja tiba di kampus dengan langkah yang coba dibuat anggun walaupun dimansion nya sedang dilandasi badai. Namun, sial baginya, langkahnya terhenti saat namanya mendadak terseret ke dalam lingkaran api.

Bella yang sudah kehilangan akal sehatnya karena ketakutan, menunjuk ke arah Caca dengan jari yang gemetar. "Aku tidak bekerja sendiri, Emme! Aku bersumpah! Caca... Caca yang memberikan obat itu padaku! Dia yang merencanakan semuanya! Caca juga terlibat!" teriak Bella histeris, mencoba mencari kambing hitam agar hukumannya terbagi.

Mendengar tuduhan itu, Emmeline melepaskan cengkeramannya pada rambut Bella, lalu membalikkan tubuhnya perlahan, mengarahkan tatapan matanya yang tajam laksana elang langsung ke arah Caca yang berdiri beberapa meter di sana.

Caca yang mendadak menjadi pusat perhatian seisi parkiran langsung memasang wajah pias, berpura-pura ketakutan dan gemetar, meskipun di dalam lubang hatinya yang paling dalam, sebuah sorakan kemenangan yang teramat sangat puas sedang bergemuruh hebat.

Semalam, informan pribadi yang disewa Caca telah melaporkan bahwa rencana pergantian targetnya sukses besar.

Informan itu mengatakan melihat Emmeline keluar pagi ini dari paviliun belakang kampus menuju mobilnya dengan langkah kaki yang kentara sangat kesakitan dan gontai, ditemani oleh seorang bocah SMA dengan seragam yang berantakan.

Mengingat hal itu, Caca merasa di atas angin karena berhasil menghancurkan martabat sang ratu Valerio.

Namun, ada satu hal yang mengganjal di benak Caca: kenapa rekaman CCTV yang sudah dia atur dengan menyuap petugas IT kampus malam itu tidak ada sama sekali?

Entah apa yang terjadi di ruang kontrol, jejak panas Emmeline di paviliun lenyap tak berbekas dari server. Caca menduga tim keamanan internal Valerio bergerak lebih cepat untuk menghapus atau menyitanya.

Tapi bagi Caca, itu tidak masalah. Yang penting baginya, semalam Emmeline Valerio telah hancur dan ternoda.

Emmeline melangkah mendekati Caca. Sayang sekali, semua bukti fisik dan digital yang dikumpulkan Emme sejak pagi tadi hanya mengarah mutlak pada Bella Moon sebagai pembeli dan eksekutor tunggal. Tidak ada satu pun bukti otentik yang mengarah langsung pada keterlibatan Mocha.

Emme berhenti tepat di depan Caca, menatap gadis itu dengan pandangan mengancam yang teramat dingin. "Jangan main-main denganku, Mocha. Jika suatu hari nanti aku menemukan satu saja celah yang membuktikan mulut jalang Bella ini benar tentangmu... aku sendiri yang akan menguliti wajah munafikmu itu," bisik Emmeline tajam.

Caca hanya terdiam, menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura menjadi korban salah tuduh yang malang, mengabaikan ancaman itu dengan senyuman terselubung di dalam hatinya.

Di sisi lain, Maximilian Valerio berdiri kaku setelah mendengar seluruh pengakuan histeris dari Bella Moon.

Sepasang mata gelap Max berkilat oleh amarah yang teramat sangat pekat menatap Bella. "Jadi kau... sampah sepertimu berani ingin menjebak Yara dengan obat perangsang?" ucap Max, suaranya bariton rendah, sarat akan aura membunuh yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

Bella Moon kini benar-benar tidak bisa berkutik lagi. Dia telah dijebak oleh situasi dan ditinggalkan sendirian di medan perang.

Dia menoleh ke arah Caca, memohon bantuan lewat tatapan matanya, namun Caca sama sekali tidak mengakuinya dan justru memalingkan wajah dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat.

Wajah Bella berubah pias sempurna, menyadari riwayat hidup dan reputasinya di kampus ini telah resmi berakhir di tangan dinasti Valerio pagi ini.

Sementara itu, di bawah bayangan pilar parkiran, Cinmocha Walker tersenyum puas di dalam hatinya.

Strateginya berhasil total: dia tidak hanya sukses menodai kesucian Emmeline Valerio secara rahasia, melainkan juga berhasil menyingkirkan Bella Moon dari papan catur permainannya tanpa harus mengotori tangannya sendiri.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!