NovelToon NovelToon
SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

SINGGASANA SEMENTARA : Dua Ranjang Satu Rahasia

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rey.writerid

Bagi Winda, menjadi istri Baskara adalah sebuah kepasrahan. Namun, sebuah bisikan miring di pesta malam itu meruntuhkan harga dirinya: Winda hanyalah singgasana sementara sebelum masa lalu suaminya kembali. >
Kecewa, hancur, dan mati rasa, Winda nekat melangkah ke dalam takdir yang kelam. Di bawah guyuran hujan malam itu, ia menyerahkan raganya pada Aryo—suami dari sahabat baiknya sendiri. Sebuah pelarian gila demi membalas rasa sakit hatinya.

Namun, selembar benang rahasia itu perlahan ditarik oleh takdir. Saat kebenaran tentang kesetiaan Baskara terungkap, Winda justru mendapati dirinya terbangun di rumah sakit dengan sebaris kalimat yang meremukkan jiwanya: "Kamu hamil, Sayang."

Di atas dua ranjang yang berbeda, satu rahasia besar kini terkunci rapat. Winda terjebak dalam labirin penyesalannya sendiri, sementara di seberang sana, sang sahabat juga tengah merayakan kehamilan yang sama.

Ketika waktu perlahan membongkar tabir, siapakah yang akan bertahan di atas singgasana yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey.writerid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JAMUAN MAKAN TERLARANG

Sore itu, setelah selesai memasak untuk Baskara, ponsel di genggaman Winda tiba-tiba bergetar kuat. Sebuah nama tertera di layarnya: Serena. Jantung Winda langsung berdesir waswas saat menggeser tombol hijau. Di seberang telepon, suara ceria Serena langsung terdengar tanpa basa-basi, mengajak Winda dan Baskara untuk datang ke rumahnya akhir pekan ini demi acara makan malam bersama.

Deg. Winda tersentak kaget setengah mati. Pikiran buruk langsung berputar hebat di kepalanya; jika ia datang ke sana, ia pasti akan bertemu lagi dengan Aryo. Bayangan malam kelam di hotel itu seketika membuat sekujur tubuhnya dingin. Mencoba mencari jalan keluar, Winda buru-buru menyusun alasan dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin.

"Eh... Ser, kayaknya aku harus izin dulu ya ke suami aku. Terkadang dia itu terlalu sibuk sama urusan di kantornya, takutnya gak bisa," ucap Winda ragu.

Namun, Serena justru terkekeh pelan di seberang sana, mengabaikan keraguan sahabatnya. "Nggak apa-apa, Win. Soal itu nanti biar Baskara aku yang urus deh. Gampang, tinggal suruh Papa yang bilang ke atasannya kalau perlu. Pokoknya kalian berdua harus datang ya!"

Winda spontan menelan air liurnya dengan kesat. Rasa kaget dan panik berbaur menjadi satu di tenggorokannya. Tak punya pilihan lain untuk mengelak tanpa menimbulkan kecurigaan, Winda akhirnya hanya bisa pasrah. "Iya... iya udah kalau begitu, Ser."

Hari-hari berlalu dengan cepat hingga menjelang akhir pekan tiba. Malam itu, di dalam kamar, Winda bersiap-siap untuk pergi ke rumah Serena. Ia memilih mengenakan sebuah gaun cantik berwarna merah merona yang sangat anggun. Di ambang pintu kamar, Baskara yang baru saja selesai bersiap tiba-tiba mematung. Pria hitam manis itu benar-benar terpesona melihat kecantikan Winda malam ini.

Baskara melangkah mendekat, lalu melemparkan candaan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. "Mas melihat kamu kayak gak nahan lagi... cantik banget kamu malam ini," puji Baskara berlebihan dengan tatapan mata yang begitu memuja.

Winda tersenyum malu, pipinya merona merah. "Ada-ada saja kamu, Mas," balasnya lembut.

Sejauh ini, hubungan rumah tangga mereka memang sedang berjalan dengan sangat baik dan harmonis. Pikiran-pikiran buruk Winda tentang cewek masa lalu bernama Alena yang sempat membakar cemburunya, kini hilang begitu saja dari kepalanya. Winda merasa dihargai. Di sisi lain, Baskara sebenarnya memang sedang mencoba sekuat tenaga untuk melupakan Alena. Walaupun kenangan masa lalu itu belum sepenuhnya hilang dari otaknya, Baskara berkomitmen penuh untuk mulai membuka hati dan menerima Winda sebagai satu-satunya wanita di hidupnya. Setelah mengecup kilat bibir Winda, mereka berdua pun berangkat.

Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Wijaya, Serena tampak sibuk meminta para pelayan di rumahnya untuk menyiapkan berbagai hidangan paling enak dan berkelas. Tanpa ada unsur kesengajaan sedikit pun, Serena malam itu ternyata memilih mengenakan baju yang memiliki warna yang sama persis dengan Winda; merah merona. Setelah selesai bersiap-siap, Serena turun ke lantai bawah.

Di ruang tengah, Aryo berdiri dengan tubuh yang terus gemetar halus. Jantungnya berdegup sangat kencang menahan rasa panik yang luar biasa membayangkan Winda akan datang ke rumahnya bersama suaminya.

Tin... tin...

Suara klakson mobil Baskara terdengar di halaman depan. Sesampainya Winda dan Baskara di depan teras, Aryo dan Serena langsung berjalan bersama untuk membuka pintu utama. Begitu daun pintu terbuka, atmosfer di sekitar mereka mendadak membeku.

Seketika itu juga, mata Winda langsung tertuju lurus ke arah Aryo, dan begitu pula sebaliknya, mata Aryo terkunci pada Winda. Mereka berdua saling menatap lekat-lekat dalam keheningan yang mencekam, sebuah tatapan tersembunyi seakan-akan mereka sedang berusaha keras saling mengunci rahasia kelam yang mereka lakukan semalam. Merasa tidak kuat menahan ketegangan, Winda buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam. Serena yang tidak menyadari kode itu langsung tersenyum lebar dan mengizinkan mereka masuk dengan ramah.

Acara pun berlanjut ke meja makan panjang yang dipenuhi makanan mewah. Di sela-sela denting sendok, Aryo dan Baskara mulai mengobrol banyak hal. Mereka menceritakan tentang kondisi kantor, perkembangan proyek, hingga menceritakan kehidupan sehari-hari soal kerasnya tekanan kerjaan di divisi masing-masing. Namun, entah karena ego lelaki yang tidak mau kalah, obrolan itu perlahan berubah menjadi ajang saling memamerkan pasangan masing-masing.

Aryo memulai terlebih dahulu. Sembari merangkul posesif pundak istrinya, ia menatap Baskara dengan senyum bangga. "Serena ini istri yang baik banget, rajinnya gak ketolongan, terus cantik apalagi. Aku beruntung banget punya dia," ucap Aryo bernada pamer.

Baskara yang mendengar itu tentu saja tak mau kalah. Pria hitam manis itu langsung meraih dan memegang erat tangan Winda di atas meja, menatap istrinya dengan pandangan lembut yang sangat dalam. "Dulu... aku emang gak melihat apa-apa dari diri Winda. Tapi sekarang, aku bisa melihat semuanya. Dia wanita terbaik buat aku," timpal Baskara tegas.

Mendengar ucapan manis Baskara, mereka semua kemudian tertawa bersama, mencairkan suasana, lalu melanjutkan makan. Walaupun di sepanjang makan malam itu posisi duduk Winda dan Aryo masih kelihatan sangat canggung dan salah tingkah, semuanya tampak aman di bawah kendali.

Sampai sebuah ketidaksengajaan terjadi. Saat hendak meraih mangkuk, gerakan tangan Serena tanpa sengaja menyenggol gelas air putih hingga tumpah dan airnya langsung mengenai baju kemeja yang dikenakan Aryo.

"Eh, ya ampun! Maaf ya, Mas!" seru Serena panik.

Aryo meringis pelan, lalu berdiri dari kursinya. "Nggak apa-apa, Sayang. Aku izin ke atas sebentar ya buat menukar baju," ucap Aryo yang langsung diangguk oleh Serena.

Setelah Aryo naik ke lantai atas, meja makan kembali dilanjutkan dengan obrolan antara Serena, Baskara, dan Winda. Dalam waktu berselang lima menit begitu, Winda tiba-tiba merasakan perutnya tidak enak. Ia meletakkan garpunya lalu izin ke Serena. "Ser, aku izin ke kamar mandi bentar ya, mau buang air kecil."

Serena mendongak lalu menjawab cepat, "Oh, boleh banget, Win. Tapi jangan pakai kamar mandi bawah ya, lampunya lagi mati dan belum sempat diganti dari kemarin. Kamu ke kamar mandi atas saja, lurus dari tangga."

Winda mengiyakan ucapan Serena, lalu melangkah anggun menaiki anak tangga menuju lantai atas. Setelah selesai dari kamar mandi dan mencuci tangannya, Winda membuka pintu dan melangkah keluar menuju koridor lantai dua yang agak temaram.

Di ujung koridor, Aryo baru saja keluar dari kamar ganti. Begitu melihat sesosok perempuan bergaun merah memunggunginya, Aryo langsung mengira bahwa perempuan itu adalah istrinya, Serena, mengingat baju mereka sama-sama berwarna merah malam ini.

Aryo melangkah mendekat lalu menegurnya dengan santai, "Sayang... baju aku yang warna coklat biasanya ditaruh di mana sih? Kok gak kelihatan?"

Mendengar suara bariton itu, Winda spontan menolehkan badannya ke belakang. Detik itu juga, mata mereka berdua membelalak sempurna. Mereka sama-sama kaget setengah mati menyadari posisi mereka yang kini hanya berdua di lantai atas.

"WINDA?!" ujar Aryo setengah berbisik dengan wajah panik yang luar biasa.

Winda yang ketakutan langsung membalikkan badan, berniat buru-buru berlari keluar dari koridor itu untuk turun ke bawah. Namun, gerakan Aryo jauh lebih cepat. Dengan sigap, tangan Winda langsung ditahan dan dicengkeram erat oleh Aryo. Pria itu menarik tubuh Winda mendekat ke arah dinding, menahan pergerakannya.

"Lepasin, Ar! Lepas!" bisik Winda setengah berteriak, meronta-ronta minta dilepaskan karena takut Baskara atau Serena naik ke atas.

Namun, Aryo yang egonya tersengat malah menatap Winda tajam dengan napas memburu. "Kamu gak ingat sama kejadian kemarin, hm? Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu suka sama aku, Winda!"

Air mata ketakutan mulai menggenang di sudut mata Winda. Ia menggelengkan kepala dengan marah, berbisik ketus di depan wajah Aryo. "Nggak! Itu... waktu itu aku lagi mabuk berat, Aryo! Aku gak sadar! Sekarang lepasin aku!" marahnya dengan suara tertahan.

"Mabuk? Tapi aku dengar sendiri kamu sering berantem sama Baskara di rumah karena dia cuek, kan?" desak Aryo manipulatif, mencoba mencari pembenaran atas aksinya.

Winda menatap Aryo dengan pandangan benci dan penuh amarah. "Itu bukan urusan kamu! Lepas!"

Tepat di detik-detik menegangkan itu, sebuah suara teriakan melengking dari arah lantai bawah seketika menggema menaiki anak tangga, memecah keheningan lantai dua. Itu suara Serena.

"Win... Winda! Baskara ngajakin pulang nih, udah ngantuk banget kayaknya" panggil Serena dari bawah.

Mendengar nama suaminya disebut, kepanikan Winda memuncak hingga ke ubun-ubun. Ia meremas tangan Aryo dengan sorot mata memohon yang teramat sangat agar pria itu tidak menghancurkan rumah tangganya yang baru saja bahagia. "Lepasin tangan aku, Ar... please! Nanti... nanti aku hubungin kamu lagi, tapi jangan sekarang! Lepas!" bisik Winda mendesak.

Mendengar janji manis dari Winda yang bersedia menghubunginya lagi, Aryo akhirnya perlahan melepas cengkeraman tangannya. Begitu terbebas, Winda langsung membetulkan pakaiannya, menarik napas dalam, lalu buru-buru berjalan cepat turun ke lantai bawah dengan wajah yang diusahakan sehangat mungkin.

Winda kembali ke ruang tengah dan langsung melanjutkan duduk di samping Baskara yang tampak menyandarkan kepalanya di sofa karena kelelahan. Serena yang menyadari kehadiran sahabatnya langsung menanyakan keberadaan suaminya yang tak kunjung turun. "Mas Aryo belum kelihatan ya, Win? Lama banget ganti baju doang. Kamu gak ada melihat Mas Aryo di luar kamar tadi pas di atas?" nanya Serena menyelidik.

Jantung Winda berdegup kencang, namun ia memaksakan gelengan kepala yang natural. "Aku... aku gak melihat, Ren. Mungkin masih milih baju di dalam."

"Ih, kebiasaan deh lama banget," gerutu Serena kesal. "Yaudah, aku ke atas dulu ya menyusul Mas Aryo."

Serena pun membalikkan badan dan melangkah menuju anak tangga. Namun, baru saja kakinya hendak menginjak anak tangga pertama, tiba-tiba sosok Aryo muncul dari kegelapan koridor tepat di belakang tubuh Serena.

Serena tersentak kaget, mengelus dadanya. "Ah! Mas... ngagetin aja sih! Lama sekali kamu di atas, ngapain aja?"

Aryo memasang wajah tanpa dosa, mengusap tengkuknya sambil melirik waswas ke arah Winda di bawah. "Ini... mas tadi lagi nyariin kemeja yang warna coklat, ditaruh di mana sih? Gak kelihatan dari tadi di lemari."

Serena mendengus pelan sambil memutar bola matanya, lalu merapikan kerah baju suaminya. "Aduh, pakai aja baju yang ada dulu, Sayang. Gak usah pilih-pilih. Ini loh, Winda sama Baskara udah mau pamit pulang," ujar Serena.

Baskara yang tadi bersandar di sofa pun mulai menegakkan tubuhnya. Pria hitam manis itu tersenyum tipis namun tampak sangat berwibawa. Sembari merangkul pinggang Winda dengan lembut, Baskara menatap Serena dan Aryo bergantian untuk berpamitan.

"Iya, Serena, Aryo... kami pamit pulang duluan ya. Makasih banyak buat jamuan makan malamnya yang enak banget ini," ucap Baskara santai. Dan tepat sebelum melangkah berbalik, Baskara menepuk pelan pundak Aryo sambil tersenyum ramah, "Kapan-kapan, kalian main dan datang ke rumah kami juga ya."

Deg. Kalimat ramah dari Baskara itu seketika terasa bagai hantaman palu godam di dahi Aryo. Wajah Aryo mendadak kaku, senyumnya langsung membeku di udara. Membayangkan dirinya harus menginjakkan kaki di rumah Winda dan berhadapan lagi dengan situasi ini membuat seluruh badannya merinding ketakutan. Aryo hanya bisa mengangguk kaku sambil menelan ludah kesat.

Winda yang mendengar ucapan suaminya itu juga tak kalah syok, namun ia sekuat tenaga menundukkan kepala, meremas tas kainnya demi menyembunyikan kepanikan yang luar biasa.

"Pasti dong! Nanti kita atur jadwalnya ya!" sahut Serena dengan riang gembira, sama sekali tidak menyadari badai besar yang sedang mengintai di balik senyuman suami dan sahabatnya itu.

Winda dan Baskara pun akhirnya melangkah keluar menuju mobil, meninggalkan kediaman Wijaya yang penuh dengan rahasia berdarah yang siap meledak kapan saja.

1
Tamirah
Ikhlaskan Aryo untuk sahabat mu.serena sdh banyak membantu mu.masih banyak laki laki diluar sana yg lebihh baik dari Aryo .Jangan jangan Aryo hanya mengincar kedudukan di perusahaan ituu
Tamirah
cerita ini belummm jelas alur nya, sekilas Kalau winda cinta mati sama Aryo,cinta bertepuk sebelah tangan.Aryo memanfaatkan winda krn dekat dgn Serina.mungkin Karena Serina orang kaya, kalau sekedar cantik itu relatif.lanjut Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!