Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGHARAPKAN TITIK CINTA
Waktu berjalan bergulir begitu indah, membawa serta kebahagiaan yang makin membuncah di dalam rumah besar Arkananta. Tiga bulan berlalu sejak kabar gembira itu terungkap, dan kini perut Alana sudah mulai tampak menonjol lembut, menyembunyikan keajaiban kehidupan yang sedang tumbuh di dalam sana. Perubahan fisik itu membawa perubahan besar pula pada dinamika hidup mereka, terutama bagi Devan yang kini berubah menjadi sosok ayah calon yang paling protektif, paling lembut, dan paling obsesif di muka bumi.
Pagi itu, Alana duduk santai di kursi goyang empuk yang sengaja diletakkan Devan di dekat jendela besar kamar tidur, tempat sinar matahari pagi masuk hangat dan lembut. Tangan kanannya mengusap perlahan perutnya yang mulai membulat, wajahnya bersinar dengan aura keibuan yang mempesona.
Devan duduk bersimpuh di lantai tepat di depan istrinya, posisi favoritnya belakangan ini. Kepalanya disandarkan lembut di paha Alana, matanya menatap perut itu dengan tatapan takjub yang tak pernah habis. Sesekali ia menempelkan telinganya rapat, berusaha mendengar apa pun yang terjadi di dalam sana, atau sekadar merasakan kehangatan dari nyawa kecil itu.
"Sudah bergerak lagi, Sayang? Apa dia menendang Ayahnya hari ini?" tanya Devan dengan suara pelan, seolah takut mengganggu si kecil yang sedang beristirahat.
Alana tertawa pelan, jari-jemarinya menyisir lembut rambut hitam suaminya yang kini makin sering ia mainkan.
"Belum, Sabar ya Ayah. Katanya baru nanti minggu keempat atau kelima ini baru mulai terasa gerakannya jelas. Bapak ini, setiap jam pasti tanya sama pertanyaan. Seperti anak kecil yang tak sabar menunggu mainannya datang."
Devan mendongak, menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta yang meluap. Ia mencium perut itu dengan sangat lembut, seolah menyentuh benda paling suci.
"Bukan mainan, Alana. Ini nyawaku yang baru. Bagaimana aku bisa sabar? Setiap detik aku merasa makin jatuh cinta, makin penasaran. Aku ingin tahu dia mirip siapa. Apakah dia punya matamu yang jernih dan lembut, atau punya hidungku yang pesek sedikit? Apakah dia akan sekeras kepala aku, atau selembut hati kamu? Aku ingin tahu segalanya, dan aku ingin tahu sekarang juga."
Ia bangkit berdiri, lalu duduk di samping Alana, langsung menarik tubuh istrinya untuk bersandar nyaman di dadanya. Tangannya besar dan hangat melingkar memeluk perut itu, melindunginya sepenuhnya.
"Dan kau... kau makin cantik setiap harinya. Aku kira wanita hamil akan terlihat lelah, pucat, dan berantakan. Tapi kau? Kau justru makin bersinar, makin anggun, makin membuatku gila dibuatnya. Kadang aku takut menatapmu terlalu lama, takut aku lupa bernapas karena terpesona."
Alana tersipu malu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.
"Masih saja bisa bicara manis begini. Padahal saya rasanya makin besar, makin berat, kaki bengkak, badan gendut. Mana ada cantiknya."
Devan langsung menggeleng tegas, memegang bahu Alana dan memaksanya menatap wajahnya.
"Jangan pernah bicara begitu. Dengar aku: Bagimu, aku punya standar sendiri yang tidak dimengerti orang lain. Bagiku, kau dalam keadaan apa pun adalah yang terindah. Bahkan kalau kau tua nanti, keriput, gigi ompong, dan bungkuk pun, kau tetap wanita tercantik di semesta ini. Dan sekarang, saat kau mengandung darah dagingku ini, kau jadi ratu di atas ratu. Kau jadi sosok paling mulia dan paling hebat yang pernah ada."
Ia mencium bibir istrinya dalam dan penuh rasa hormat.
"Setiap kali melihatmu, aku ingat lagi betapa rendahnya aku dulu, dan betapa beruntungnya aku sekarang. Kau mengubahku jadi manusia yang utuh, Alana."
Sejak tahu Alana hamil, segalanya berubah total di rumah ini. Devan benar-benar menerapkan aturan "Ratu dan Dewa Kecil". Ia melarang Alana melakukan apa pun yang sedikit pun berisiko atau melelahkan. Ia sendiri yang memastikan makanan Alana sehat, segar, dan bergizi lengkap. Ia sendiri yang membantu mengoleskan krim perawatan di perut Alana sebelum tidur, berbicara lembut pada janin seolah anak itu sudah mengerti segalanya.
Di kantor pun, perubahan Devan sangat terasa. Ia makin efisien, makin cepat menyelesaikan pekerjaan, supaya bisa pulang lebih awal dan menemani istrinya. Rapat yang dulu bisa berjam-jam, kini dipersingkat. Perjalanan dinas jauh ditolak mentah-mentah, kecuali sangat mendesak dan bisa pulang di hari yang sama. Bagi seluruh karyawan Arkananta Group, mereka makin sadar satu fakta mutlak: Nyonya Arkananta adalah satu-satunya kelemahan, sekaligus satu-satunya kekuatan terbesar sang CEO.
Siang itu, Devan membawa Alana berjalan-jalan santai di taman belakang rumah, di bawah naungan pohon besar pemberian mendiang ayahnya. Ia berjalan lambat, mengimbangi langkah Alana yang kini makin pelan dan hati-hati. Sesekali ia mengulurkan tangannya untuk menopang pinggang istrinya, memastikan keseimbangan tubuh wanita itu terjaga sempurna.
"Devan..." panggil Alana pelan saat mereka duduk di bangku kayu yang sudah disiapkan empuk bantalnya. "Bapak nggak merasa terbebani? Dulu Bapak bebas ke mana saja, melakukan apa saja. Sekarang harus selalu ada di dekat saya, mengurus saya, mengatur jadwal supaya pas. Saya jadi merasa merepotkan sekali."
Devan langsung menatapnya dengan tatapan tak percaya, lalu menggeleng kuat sambil tersenyum sedih.
"Sayangku... Kau bicara apa sih? Beban? Repot? Kau tahu apa yang jadi beban buatku? Itu saat aku hidup sendirian, tidak punya tujuan, pulang ke rumah sepi, tidur sendirian, dan bangun tanpa ada yang ditunggu. Itu berat, itu melelahkan, itu menyiksa batin. Tapi sekarang? Mengurusmu, melindungimu, menyiapkan segala kebutuhanmu... itu bukan beban. Itu kehormatan terbesar yang Tuhan kasih ke aku. Itu kebahagiaan yang tak tergantikan."
Ia memegang tangan Alana, menciumnya lama.
"Jangan pernah merasa begitu. Kehadiranmu dan anak ini justru bikin aku makin semangat bekerja, makin kuat menghadapi dunia. Karena aku tahu, ada alasan besar yang menunggu aku pulang setiap sore. Kalian adalah bahan bakarku, Alana. Tanpa kalian, aku mati."
Malam harinya, suasana kamar mereka jadi saksi momen yang paling mengharukan. Saat sedang berbaring berdua, Devan kembali menempelkan telinganya di perut Alana, berbicara dengan suara lembut dan penuh kasih sayang.
"Hai, Nak... Ini Ayah. Kamu di dalam sana sehat kan? Nyaman kan? Maaf kalau Ayah sering bicara terlalu keras atau terlalu heboh, Ayah cuma terlalu rindu dan terlalu cinta sama kamu."
Ia mengusap lingkaran kecil di perut itu perlahan.
"Kamu tahu Nak? Dulu Ayah orang yang jahat, dingin, dan keras hati. Semua orang takut sama Ayah, semua orang benci sama Ayah. Sampai akhirnya Ibumu datang menyelamatkan Ayah. Ibumu itu malaikat paling sabar dan paling hebat. Dia yang bikin Ayah jadi manusia, dia yang kasih Ayah rumah, kasih Ayah cinta, dan sekarang dia kasih Ayah kamu."
Suara Devan sedikit bergetar, matanya berkaca-kaca.
"Jadi kalau nanti kamu lahir, kamu harus tahu: Ibumu adalah orang paling hebat di dunia. Kamu harus sayang sama dia, kamu harus patuh sama dia, dan kamu harus lindungi dia, sama seperti Ayah lindungi dia. Ayah janji, Nak, Ayah bakal jadi Ayah terbaik sedunia. Ayah bakal kasih kamu segalanya, tapi yang paling penting, Ayah bakal kasih kamu cinta yang melimpah ruah. Kamu nggak akan pernah merasa sepi, takut, atau kurang kasih sayang. Ayah jamin itu."
Seketika itu juga, di bawah telinga Devan, terasa satu sentuhan halus, seperti tendangan kecil yang lembut namun jelas. Devan tertegun, napasnya tertahan. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Alana dengan mata berbinar-binar penuh takjub dan bahagia yang meluap.
"Alana... dia menendangku! Dia menjawabku! Dia dengar, Alana! Anakku dengar aku!" seru Devan dengan suara gemetar penuh sukacita, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tak terlukiskan.
Alana pun menangis bahagia, mengangguk kuat.
"Iya, Devan! Dia menjawab Ayahnya! Dia senang, dia tahu Ayahnya ada di sini!"
Devan langsung naik ke atas ranjang, memeluk keduanya, istrinya dan anaknya yang masih dalam kandungan, seerat mungkin tanpa menyakiti. Ia mencium wajah Alana, mencium perut itu lagi dan lagi, air matanya jatuh membasahi kulit halus istrinya.
"Terima kasih... Terima kasih... Terima kasih sudah kasih aku keluarga sempurna ini. Aku orang paling beruntung, paling bahagia, paling kaya di muka bumi ini."
Di dalam kamar yang hangat itu, di antara dua orang yang paling dicintainya, Devan merasa dunianya lengkap sekali. Tidak ada lagi ambisi kosong, tidak ada lagi rasa ingin membuktikan diri pada dunia. Cukup begini saja: memiliki mereka, menjaga mereka, dan mencintai mereka seumur hidup.
Dan dengan suara yang penuh keyakinan dan keabadian, diiringi gerakan halus si kecil di dalam sana, Devan membisikkan janji yang makin kokoh dan mendalam:
"Di hadapan keajaiban yang sedang tumbuh ini, di tengah penantian indah yang makin menyenangkan ini... segalanya, kasih sayang, kekuatan, tenaga, masa depan, dan seluruh jiwa raga... semuanya dan selamanya tetap takluk, hanya padamu, Alana. Ibu dari anakku, Ratu hatiku, dan segalanya bagiku."