NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 : Kontrak dengan Iblis

Salsa turun dari mobil. Udara malam Depok langsung menyambut kehadirannya, dia menarik napas panjang. Bulan purnama diatasnya bersinar cukup terang untuk menerangi malam yang gelap.

Perjalanan dari bandara terasa lebih lama dari biasanya. Matanya menyapu sekitar. Jalanan masih hidup, tapi terasa asing. Seolah kota ini mulai menyimpan sesuatu. Salsa menggenggam tasnya lebih erat. Hotel itu berdiri tidak terlalu besar. Lampunya terang kontras dengan jalan di depannya yang mulai sepi, Salsa pun masuk dan pintu kaca terbuka otomatis.

Ceklek.

Udara dingin AC langsung menyentuh kulitnya. Lobby kosong hanya ada satu resepsionis di belakang meja.

"Check in." Ujar Salsa.

Resepsionis itu mengangguk perlahan, "Nama?"

"Salsa."

Jari resepsionis itu bergerak di keyboard.

Beberapa detik berlalu, lalu resepsionis itu berhenti matanya perlahan terangkat menatap Salsa, dan kartu kamar pun diserahkan.

"Lantai tiga."

Salsa mengambilnya, dan pergi.

Lift terbuka namun kosong, Salsa pun masuk. Pintu tertutup perlahan. Di dalam lift terasa sunyi. Hanya suara mesin bergerak.

'Ding..'

Lantai 3.

Koridor panjang menyambutnya, dan karpetnya menyerap suara langkah. Tidak ada suara apa pun. Tidak ada orang. Salsa berjalan pelan mencari nomor kamarnya. Tangannya menggenggam kartu semakin erat. Kamar 307.

Salsa berhenti menatap pintu itu beberapa detik, dan menempelkan kartu.

Bip.

Pintu terbuka sedikit.

Gelap, tidak ada lampu menyala. Salsa mendorong pintu, dan dia masuk. Tangannya meraba dinding, mencari saklar.

Klik.

Lampu menyala, dan dia menutup pintu.

Ceklek.

Kunci terkunci.

Beberapa detik hening, Salsa meletakkan tasnya dan duduk di tepi kasur. Menunduk.

"Aku harus ke rumah makan itu besok, dan menemukan Naya."

_

Teh Intan merangkak perlahan dari ketidakberdayaannya, beberapa waktu yang lalu tubuhnya menghantam lantai kamar, napasnya masih tersendat. Dadanya seperti ditekan sesuatu yang tak terlihat.

"Hah... Hah..."

Tangannya mencengkeram lantai. Licin oleh keringat. Tubuh Teh Intan tersentak keras. Seolah ada kekuatan yang memukulnya dari dalam tubuhnya sendiri.

Darah hitam menetes dari sudut bibirnya matanya membelalak. Masih tidak percaya.

"Abel.. Kalah?" Ujar Teh Intan tangannya gemetar.

"Gak mungkin Abel kalah gara-gara Naya." Tegas Teh Intan, sejak kapan manusia biasa kalah dengan suatu hal yang ghaib.

Angin tiba-tiba berputar di dalam kamar. Tirai bergerak sendiri padahal jendela tertutup rapat. Teh Intan memejamkan matanya sejenak.

"Pasti ada sesuatu yang melindungi Naya, siapa yang berani melindunginya?" Tanya Teh Intan kepada dirinya, napasnya berat.

"Ini semua belum selesai."

"Naya harus mati, kalau dia dilindungi.. Berarti yang jagain dia harus gue hancurin dulu."

_

Tengah malam setelah rumah makan Dermawan tutup, Zuan masuk ke dalam mobil Pak Dermawan yang akan membawanya ke suatu yang entah dimana. Setelah cukup lama melewati jalan yang sepi dan penuh pohon mobil itu berhenti perlahan di depan sebuah rumah besar. Bukan rumah, lebih seperti istana. Gerbang besi terbuka sendiri padahal tidak ada penjaga.

Zuan menelan ludah, matanya menatap bangunan itu. Megah.

Mobil masuk halaman luas terbentang. Lampu-lampu taman menyala redup. Seperti sengaja dibuat tidak terang. Pintu utama sudah terbuka seolah mereka memang ditunggu.

Zuan turun namun langkahnya ragu. Seorang wanita berdiri di depan pintu.Tersenyum hangat.

"Zuan ya?" Suaranya terdengar lembut.

Zuan mengangguk pelan, "Iya.."

"Masuk, Nak." Sambut Bu Minah, istri Pak Dermawan. Tangannya menyentuh bahu Zuan terasa hangat seolah akan menjadi keluarga baru.

Di dalam ruangan besar, langit-langit tinggi, lampu gantung tua bergoyang pelan.

Zuan dibawa ke sebuah ruangan, dan terlihat ada 5 orang berjubah merah memakai kerudung sampai terlihat menutupi wajah mereka. Ada simbol aneh di belakang jubahnya. Dan mereka berdiri melingkar di sana.

"Keluarga baru kita, tunjukkan wajah kalian." Perintah Pak Dermawan.

Mereka membuka kerudunh jubah yang menutupi kepala mereka, Zuan memperhatikan wajah itu satu persatu.

Ada Rosa yang menatapnya tanpa ekspresi, ada Gian yang terlihat lebih santai tapi matanya tajam, ada Hendrik yang tersenyum merendahkan, Pak Harto yang berdiri tegak, dan Bu Siti yang menunduk berbisik pelan entah kepada siapa.

Pak Dermawan duduk di kursi besar seperti raja.

"Zuan kamu akhirnya mau juga." Ucap Pak Dermawan, suaranya dalam.

Zuan diam, jantungnya berdetak lebih cepat.

"Dia sudah siap?" Tanya Pak Dermawan.

Bu Minah tersenyum, "Sudah."

Tiba-tiba lampu meredup, dan ruangan berubah lebih gelap.

Meja panjang ditarik ke tengah oleh dua orang penjaga di atasnya sebuah kain hitam.

Dan mangkuk.

Berisi cairan gelap.

Zuan mundur setengah langkah, "Ini apa?"

Rosa berdiri dan mendorong Zuan dari belakang, "Pilihan lo."

"Masuk atau keluar?" Lanjut Rosa bertanya, Rosa dalam hatinya sangat ingin agar Zuan memilih untuk kabur karna Rosa tahu Zuan akan menyesali di kemudian hari.

Gian tersenyum, "Kalau keluar gue jamin lo gak bakal keluar hidup-hidup. Gue bakal kejar lo kayak anj!ng."

Zuan menatap mereka satu per satu. Tidak ada yang bercanda. Pak Dermawan berdiri. Mengambil sesuatu dari meja.

Kertas.

Tua.

Kuning.

Kontrak iblis.

Zuan membeku.

"Tanda tangan dengan darah hitam ini, tapi.. Kalau kamu mau kekuatan, kekayaan, dan semua yang kamu butuhkan akan cepat tercapai hanya dalam hitungan hari."

"Tapi ada juga harga yang harus dibayar." Tambah Bu Minah dengan serius disana.

Bu Siti mulai berbisik lagi lebih cepat lebih keras. Bahasa yang tidak dimengerti.

Angin tiba-tiba berputar mangkuk di meja bergerak sedikit. Zuan menatap cairan hitam itu.

Dan...

Dia melihat sesuatu di dalamnya.

Wajahnya.

Bukan manusia.

Namun kepala kambing. Zuan langsung mundur.

"Enggak ini salah.."

Tapi tangan Bu Minah menahan bahunya, "Sudah terlambat."

Suasana berubah, Pak Dermawan mendekat mengambil mangkok hitam itu, "Minum darah hitam ini."

Zuan menolak, "Aku enggak mau!! Aku mau keluar!!" Teriak Zuan merasakan keputusan yang di buat adalah keputusan yang salah.

Hendrik, dan Gian menahan tubuh Zuan dan memaksanya diam sementara Zuan meronta.

Pak Harto mendekat menekan kedua belah pipi Zuan hingga Zuan menganga karna sakit.

Air mata Zuan menetes begitu pun dengan darah hitam yang sudah meluncur ke dalam mulutnya melewati kerongkongan nya. Zuan berusaha untuk tidak menelan darah itu namun semua sudah terlambat karna darah itu sudah terasa hangat diperutnya yang dingin.

Zuan membelalak bukan karena rasanya.Tapi karena sesuatu ikut masuk bersamanya.

Rosa memperhatikan bagaimana baju putih Zuan sudah ternodai darah hitam bahkan wajahnya yang sudah tersiram cairan hitam itu, kedua matanya perlahan menghitam seluruhnya.

Tubuh Zuan kaku dan dia pun jatuh, tangannya gemetar.

Rosa menarik napas.

Lampu langsung mati suara jeritan terdengar bukan dari luar dari dalam ruangan itu. Nampak bayangan kepala kambing.

Sesuatu tertawa.

"Selamat datang dikeluarga kita, Zuan." Suara Pak Dermawan berubah seolah ada yang merasukinya. Iblis yang benar-benar iblis karna nyatanya Eyang Dhahar hanyalah alat yang di berikan iblis untuk memperkaya mereka sementara iblis berkepala kambing tersebut adalah sesuatu yang akan mereka sembah ke depannya.

1
Sarah
Btw thor, tandain dulu ini ceritanya udah tamat pake label end. 👍
Sarah
REVIEW: “Dhahar: Jangan Mati di Rantau Naya”
Hasil rekomendasiku secara pribadi: Cocok untuk yang pengen baca horor tapi singkat. Suka alur cepat. Atau gak terlalu mentingin narasi yang penting ceritanya bagus.
Banyak banget yang mau aku ungkapin. [Kemungkinan bakal kepanjangan komennya. Jadi kelanjutannya aku lanjutkan di komen]

Cerita: Menarik. Tadinya kukira suasananya bakal penuh kecurigaan, ternyata tetep friendly dan asik. Langsung bikin penasaran di bab 1.

Pacing: Enak dibaca. Kupikir 10 bab awal bakal penuh ketegangan yang kayak mainin tensi aja. Eh ternyata langsung masuk konflik berat. Padahal biasanya horor/thriller pelan-pelan baru menuju konflik. Tapi karena ceritanya emang mau dibuat pendek, pacing segini udah pas.
Karakter: Ditulis bagus banget, berasa manusia dan punya hati. Beda sama cerita sejenis MC kerja di tempat gak bener dan seringkali semua karyawannya juga jahat selain MC, di sini mereka korban keadaan (kecuali Rosa, Zuan, Gian, dll yang memang pilih salah).
Sarah: Sad ending, Naya mati dan Pak Dermawan makin sakti. Lebih mending gini daripada ceritanya gantung, setidaknya kita tau akhirnya gimana. Cuma sayang:

1. Gak ada reaksi Kak Salsa pas Naya meninggal. Padahal dia keluarga dan punya porsi cerita yang cukup banyak menuju ending.

2. Momen Naya menyerah lalu kendali sepenuhnya pada Sari hingga Naya jadi mati itu poin KRUSIAL BANGET. Tapi malah cuma diceritain lewat dialog. Jadinya berasa jauh dari tokoh utama, padahal menuju akhir Naya udah jarang muncul. Harusnya kita bisa lebih ngerasa dekat sama dia, kan dia tokoh utama dan ceritanya tentang dia. Meskipun aku gak bilang keputusan untuk gak memunculkan momen itu adalah salah. Cuma berasa kurang aja bagiku pribadi.

KESIMPULAN DARIKU PRIBADI: ⭐⭐⭐⭐⭐
Singkat tapi worth it. Bagus. Semangat untuk karya kedepannya. 💪😊
total 2 replies
Sarah
Ending kah? Meskipun sad ending, jujur aku lebih lega. Maksudku... aku pas kemarin lihat bab yang terpublikasi cuma bab 25. Jadi aku pas kemarin udah, “Hah... cliffhanger... ” Jujur aja, meskipun sedih Naya mati... tapi aku lebih benci Cliffhanger (ending gantung) daripada sad ending meskipun aku juga maunya happy ending. Soalnya kalau cliffhanger tuh bikin kayak... ‘Arghhhh!’ gitu. Jadi, terimakasih sudah melanjutkan sampai bab 27. Aku seneng banget tadi pagi karena rupanya endingnya bukan di bab 25. 🙏🏼😭
Sarah: Iya... ssebenarnya masih ada yang jadi pertanyaan sih. Jadi agak cliffhanger juga. Cuma kayaknya lebih ke sad deh soalnya kalau MC mati yaudah... MC kalah, villain menang. Dan ya... tentang salsa itu emang salah satu kekurangan terbesar ending ini sih. Makanya aku juga udah kasih rating + review panjang banget dan bahasa kekurangan ending.
total 6 replies
Sarah
Jujur, chemistry mereka emang gak sedalam itu... tapi ada... jadi sedih juga sih. Enggak, jauh sebelum bab ini, sejak bab dimana mereka saling adu mulut... aku udah ngerasa sedih sih. Karena melihat gimana mereka di 7 bab awal tuh kayak... manis banget.
Sarah
Kan di sini dia berharap bisa lebih terbuka... atau melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya...
Tapi emang ada caranya? Emang gak ada caranya... atau ada caranya tapi Rosa udah nyerah dan takut ambil resiko??
Sarah
😢
Sarah
...
Sarah
Balik ke setelan pabrik.
Sarah
Gak perlu lagi, Naya-nya emang udah mati, sayang.😭😩
Tapi... ini Abel dengan kesadaran penuhnya sendiri? Kalau Teh Intan taju Naya mati... harusnya dia berhenti ’kan?? Atau dia gak tahu tapi bohongin Kak Salsa doang? Hmmm...
Sarah
Yeyyyy!
Sarah
Rasa bersalah yah?
Sarah
Menurutku... itu lebih ke jasadnya doang sih yang digerakkan. Jiwanya harusnya udah gak ada. Tapi kalau itu emang cuma jasad... bukannya jasad Nesya ditemukan tidak utuh di taman? Harusnya masih ada di sana... ’kan?? Atau mungkin...! Ini tubuh ciptaan aja gitu? Semacam tubuh baru/wadah baru. Tapi modelnya Nesya.
Anyue: bisa jadi authornya bingung mau pakai tubuh siapa 😁
total 1 replies
Sarah
Ah, aku masih inget banget momen ini. Dan suka kalimatnya Nesya.
Sarah
Zuan...! 💢💢💢
Sarah
Buat apa pula... Si Zuan buang dia ke Taman Bermain? Ya kan meskipun nyari bukti mereka susah tapi kan jadi ketahuan Nesya mati... rada-rada pea juga ini Si Zuan. Tapi kalau buat pembaca seperti gue...
baguslah, setidaknya ada yg tahu Nesya mati. 😃😭
Sarah
Jujur, kasihan pacarnya sih... karena Si Rosa-nya... yah... tau sendirilah...
Sarah
Kok dia gak kenapa-napa meski ngasih rahasia itu? Gak ada bunyi... “TENG!” sialan itu. Apa karena dia membuat kontrak dengan
iblis? Atau karena apa?
Sarah
Tumben baik mau ngasih info.
Sarah
Btw, Thor. Ini serius tamat besok? Habis pas baca bab ke sini-sini rasanya kayak... belum ketemu titik terang buat resolusi konfliknya. Takutnya nanti jadi tamat terburu-buru dan endingnya jadi... apalah pula. Jujur takut sih. 😩
Sarah: Jujur takut sama endingnya. Karena gue belum melihat jalur resolusi/penyelesaian konflik. Tapi semangat. 😩
total 2 replies
Sarah
Mungkin ini “Nesya” dalam tanda kutip. Kayak bayangan gitu kah? Nesya palsu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!