"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"
Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Ekspektasi Shopping, Realita Dipenggal
Layar ponsel itu akhirnya gelap. Setelah dua jam melakukan video call dengan Ali, pacar LDR-nya yang super sabar, Lia langsung menghempaskan tubuh ke kasur tipisnya. Ia menatap langit-langit kamar dengan nanar.
"Huaaa! Gini amat ya kenyataan! Capek banget nunggu biar bisa ketemu. Mana nyari duit susah amat, ya Allah!" teriak Lia frustrasi.
"Lia! Jangan teriak-teriak! Kedengaran tetangga, malu!" sahut suara Mama dari balik pintu dapur.
Lia segera membekap mulutnya sendiri. Ia mendesah pelan, memeluk guling yang sudah mulai kempes.
"Andai aja kisah cintaku kayak putri di novel-novel," gumamnya halu.
"Punya pasangan ganteng, kaya, hidup enak... Kalau pusing dikit, obatnya bukan Paracetamol, tapi shopping."
Lantaran terlalu asyik menghayal menjadi permaisuri kaya raya, kelopak mata Lia perlahan memberat hingga ia terlelap sepenuhnya.
"Eh, eh... HUAPPP!"
Lia tersentak bangun, tapi bukan karena alarm. Tubuhnya limbung ke depan. Hanya berjarak beberapa sentimeter dari ujung kakinya, terbentang jurang yang sangat dalam. Dasarnya bahkan tidak terlihat, tertutup kabut tipis yang mengerikan.
Lia menelan saliva. Nyawanya nyaris terbang.
"Loh, loh... aku di mana ini? Perasaan tadi di kamar mau tidur!"
Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan menatap hamparan hutan pinus dan tebing batu yang asing. Saat ia berbalik untuk menjauh dari bibir tebing, langkahnya terhenti. Ada dua orang pria tegap mengenakan zirah besi, lengkap dengan pedang di pinggang mereka. Persis prajurit di film-film kolosal.
"Maaf, Putri Aurellia. Tuan Putri harus segera kembali," ujar salah satu pengawal dengan nada bicara yang sangat formal.
Putri? Aurellia? batin Lia melongo.
Nama itu... itu kan tokoh di novel yang baru gue tamatin kemarin? Aurellia adalah istri dari Pangeran Agung Alistair. Sosok antagonis yang cantik tapi licik, yang terobsesi menjatuhkan suaminya sendiri demi membantu selingkuhannya, Pangeran Yovan, naik takhta. Dan di akhir cerita... Aurellia mati dieksekusi dengan sangat mengenaskan oleh suaminya sendiri.
Lia menggeleng kuat-kuat. Enggak, enggak mau! Gue belum sempat nikah sama Ali di dunia nyata, masa di sini harus mati dipenggal?
Lia bertekad. Ia harus mengubah alur. Kalau di novel Aurellia hobi membangkang dan kabur, maka Lia akan jadi istri yang paling penurut di dunia. Pokoknya, asal tidak mati!
Namun, gerakan geleng-geleng kepala Lia malah disalahartikan oleh para pengawal.
"Maaf Putri, jika Anda tetap menolak, kami terpaksa menggunakan cara tegas," ujar mereka sambil merangsek maju.
Dua pasang tangan kekar hendak mencengkeram lengan Lia. Namun, insting Lia sebagai atlet silat bangkit lebih cepat dari otaknya. Secara refleks, ia merendahkan kuda-kuda, menangkap pergelangan tangan mereka, dan...
BRAK!
Dua pengawal itu terpelanting, jatuh terjungkal ke tanah dengan suara dentuman zirah yang nyaring.
"Eh! Aduh... Maaf, Mas! Enggak bermaksud!" Lia panik sendiri melihat kekuatannya.
"Refleks, asli!"
Lia hendak melangkah membantu mereka, namun tiba-tiba seluruh tubuhnya terasa kaku. Seperti ada aliran energi dingin yang mengikat kakinya di tempat. Suasana di sekitar tebing mendadak menjadi mencekam. Tekanan udara seolah meningkat, membuat Lia sulit bernapas.
Dari balik pepohonan, muncul sebuah kursi roda yang bergerak tanpa didorong. Kursi itu terbuat dari kayu hitam berukir emas yang tampak mistis. Di atasnya, duduk seorang pria dengan pakaian kebesaran yang sangat mewah.
Dia adalah Pangeran Agung Alistair. Pria yang lumpuh sebagian kakinya akibat sabotase politik, namun memiliki aura intimidasi yang luar biasa.
Lia terpaku. Bukan karena takut, tapi karena wajah pria itu.
"Hah...?" Lia melongo lebar.
Wajah itu... mirip sekali dengan Ali! Pacar gue. Garis rahangnya, hidungnya, bahkan tatapan matanya.
Bedanya, Alistair jauh lebih tajam, dingin, dan auranya sangat dominan. Alistair terlihat seperti versi "Ali" yang sedang marah besar dan memiliki kekuasaan mutlak atas hidup dan mati seseorang.