Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Tak lama, pintu kamar diketuk pelan. Umi Salma masuk dengan wajah lelah namun langsung terlihat lega begitu melihat Habibi tenang di pelukan Amira. “Alhamdulillah…” Perempuan paruh baya itu sampai mengusap dada sendiri. “Baru diam sejak kamu datang.”
Amira buru-buru berdiri sedikit canggung. “Maaf, Umi…”
“Lho, maaf kenapa?”
“Saya baru datang…” Umi Salma justru mendekat lalu mengusap kepala Habibi lembut.
“Harusnya kami yang minta maaf.”
Amira mengernyit bingung.
Umi Salma tersenyum tipis penuh lelah. “Kami jadi merepotkanmu lagi.” Tatapan beliau lalu jatuh ke wajah Amira lebih lama. Dan kali ini senyumnya perlahan memudar. “Mira…” Nada suaranya berubah lembut. “Kamu habis menangis? Lalu, kamu sendiri kenapa pulangnya cepat?"
Amira langsung menunduk. Jemarinya refleks menggenggam kain bedong Habibi erat. “Saya enggak apa-apa, Umi.” Namun suaranya terlalu serak untuk terdengar meyakinkan.
Umi Salma terdiam beberapa detik. Pengalaman hidup membuat beliau tahu kadang luka terbesar justru disembunyikan di balik jawaban sesingkat itu. Beliau tidak memaksa bertanya. Hanya mengusap pundak Amira pelan. “Kalau hatimu sedang berat…” ucapnya lembut, “jangan dipendam sendirian.”
Kalimat itu hampir membuat tangis Amira pecah lagi. Namun ia cepat-cepat menahan diri. Dan saat itulah dari arah pintu yang masih sedikit terbuka, terdengar suara langkah seseorang mendekat.
Langkah itu terdengar tenang dan teratur. Tiur yang berdiri dekat pintu langsung menunduk hormat. “Kyai…”
Amira refleks menoleh. Dan di ambang pintu, berdiri Usman dengan pakaian gamis putih sederhana dan peci hitam. Wajah lelaki itu terlihat lebih lelah dibanding terakhir kali Amira melihatnya. Mungkin karena perjalanan pulang mendadak. Atau karena beberapa malam terakhir ia juga tidak benar-benar tidur.
Tatapan Usman langsung jatuh pada Habibi yang kini tenang di pelukan Amira. Dan untuk sesaat raut tegang di wajahnya perlahan mengendur. “Sudah diam?” tanyanya pelan.
Umi Salma mengangguk kecil. “Sejak Amira datang.”
Amira buru-buru menundukkan pandangan, menjaga adab sebagaimana biasa. Namun ia bisa merasakan tatapan Usman sesaat tertahan padanya. Mungkin lelaki itu juga menyadari wajah Amira yang tampak berbeda pagi ini. Pucat. Lelah. Dan menyimpan sesuatu.
“Habibi tadi malam demam sedikit,” ujar Umi Salma pelan pada putranya. “Mungkin kecapekan perjalanan.”
Usman mendekat beberapa langkah ke arah ranjang bayi. Gerakannya masih canggung sebagai ayah baru. Tatapannya lama menatap anak laki-lakinya yang kini menggenggam ujung jilbab Amira erat-erat sambil setengah tertidur. Aneh. Habibi setenang ini. Biasanya bayi itu mudah terbangun dan menangis. Tetapi di pelukan Amira ia seperti menemukan tempat paling nyaman. Dan entah kenapa pemandangan itu membuat dada Usman terasa asing. Hangat. Namun sekaligus rumit. “Terimakasih.” Suara Usman tiba-tiba terdengar rendah.
Amira langsung tersentak kecil. Karena ini pertama kalinya lelaki itu bicara langsung padanya lebih dari sekadar seperlunya. Amira buru-buru menggeleng. “Sudah kewajiban saya, Gus.”
Usman tampak ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun akhirnya hanya mengangguk pelan.
Dan justru Umi Salma yang memperhatikan keduanya diam-diam. Tatapan beliau lembut. Seolah ada doa panjang yang disimpan dalam hati. “Ya sudah,” ujar beliau akhirnya. “Amira pasti capek habis perjalanan.”
“Saya enggak apa-apa, Umi.” Tetapi tepat setelah berkata begitu kepala Amira mendadak terasa berputar. Tubuhnya limbung kecil.
“Amira!” Umi Salma langsung panik.
Sementara refleks paling cepat datang dari Usman. Lelaki itu sigap menahan lengan Amira sebelum tubuh perempuan itu jatuh.
Amira segera dibopong ke kamarnya oleh dua orang khadimah. Wajahnya pucat sekali. Bibirnya sampai kehilangan warna.
Sementara Habibi langsung kembali menangis ketika pelukan Amira terlepas darinya.
“Tiur, gendong Habibi dulu,” ujar Usman singkat, meski matanya masih mengikuti Amira yang dibawa keluar kamar.
Tak lama, dokter pondok datang memeriksa keadaan Amira. Umi Salma duduk di samping ranjang dengan wajah khawatir sejak tadi. Sementara Amira hanya diam membiarkan tensinya diperiksa.
“Tekanan darahnya turun.” dokter pondok menghela napas kecil. “Kecapekan dan kurang istirahat.”
Umi Salma langsung mengernyit. “Kurang makan juga?”
Dokter itu mengangguk pelan. “Sepertinya begitu.”
Tatapan Umi Salma perlahan beralih ke wajah Amira. Dan kini beliau benar-benar sadar. Ada sesuatu yang terjadi selama Amira pulang kemarin. Sebab sebelum pergi, kondisi perempuan itu masih jauh lebih baik. Bahkan ia pulang dalam keadaan ceria juga penuh semangat. Tetapi sekarang malah sebaliknya.
Setelah dokter selesai memberi beberapa obat dan pesan untuk banyak istirahat, suasana kamar menjadi hening. Tiur keluar membawa air hangat. Khadimah lain juga pergi.
Kini hanya tersisa Amira dan Umi Salma. Perempuan paruh baya itu mengusap tangan Amira pelan. “Mira…”
Amira menunduk.
“Kenapa?” Suaranya lembut sekali. Bukan nada menginterogasi. Tetapi nada seseorang yang benar-benar khawatir.
Amira langsung menggigit bibirnya sendiri.
“Apa ada yang terjadi di rumah?”
Air mata Amira tiba-tiba jatuh lagi. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Umi Salma langsung terdiam. Hati beliau mencelos melihat tangisan itu. “Mira…” genggaman tangannya menguat lembut. “Lihat Umi.”
Namun Amira justru memalingkan wajah sambil menangis diam-diam. Bahu kecilnya bergetar. Dan pemandangan itu membuat hati siapa pun ikut nyeri. “Suami saya selingkuh, Umi…” Kalimat itu akhirnya keluar pelan. Nyaris seperti bisikan patah.
Namun cukup untuk membuat Umi Salma membeku.
Amira menutup wajahnya sambil menangis. “Dengan sahabat saya sendiri…” suaranya pecah total. “Sekarang perempuan itu hamil anak suami saya…”
Ruangan mendadak terasa sunyi sekali. Umi Salma sampai kehilangan kata beberapa saat. Beliau tidak menyangka luka sebesar itu sedang dipikul perempuan muda di depannya. Apalagi dalam keadaan nifas dan baru kehilangan anak. “Ya Allah…” lirih beliau pelan penuh kaget dan iba.
Amira menangis semakin keras. “Saya sudah enggak sanggup lagi, Umi…” Dan kalimat itu terdengar seperti jeritan hati seseorang yang hampir benar-benar hancur.
Mendengar pengakuan itu, hati Umi Salma langsung terasa nyeri. Beliau menatap Amira dengan mata penuh iba.
Perempuan muda itu masih menangis sambil menutupi wajahnya sendiri, seolah malu memperlihatkan kehancurannya. Padahal luka sebesar itu memang pantas membuat siapa pun runtuh.
“Ya Allah, Nak…” Suara Umi Salma bergetar lembut. Lalu tanpa banyak kata, beliau menarik tubuh Amira ke dalam pelukannya. Dan saat itulah pertahanan Amira benar-benar runtuh.
Tangisnya pecah semakin keras di bahu perempuan paruh baya itu. Bukan lagi tangis yang ditahan-tahan. Tetapi tangis penuh sesak yang sejak tadi ia pendam sendirian. “Sakit, Umi…” suaranya tersendat-sendat. “Sakit sekali…”
Umi Salma mengusap punggung Amira perlahan seperti menenangkan anak kecil. “Nangislah…” Beliau ikut berkaca-kaca. “Jangan ditahan.”
Amira langsung memeluk beliau lebih erat sambil sesenggukan. “Saya enggak nyangka mereka tega sama saya…” Tubuhnya gemetar hebat. “Saya kehilangan anak saya…” Tangisnya kembali pecah. “Dan suami saya malah bersama perempuan lain…”