"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENTENG UNTUK PUTRAKU
Kesibukan Alana sebagai guru les privat berjalan lancar selama beberapa bulan, hingga suatu sore, sebuah ujian mental datang tanpa diundang.
Hari itu, setelah kelas les selesai, salah satu orang tua murid—seorang ibu-ibu dari kompleks sebelah bernama Bu Ratna—datang menjemput anaknya agak terlambat. Saat menunggu anaknya mengemas buku, tatapan Bu Ratna menyapu sekeliling rumah kontrakan Alana yang rapi, lalu tertuju pada foto bayi Arka yang dipajang di atas bufet kayu.
"Wah, bayinya ganteng sekali, Mbak Alana. Putih, hidungnya mancung," puji Bu Ratna, namun matanya mulai menyelidik. "Tapi, kok saya dari dulu enggak pernah lihat bapaknya, ya? Kerjanya di luar kota atau bagaimana, Mbak? Zaman sekarang kan susah ya kalau ditinggal-tinggal suami sendirian."
Pertanyaan itu terasa seperti hantaman telak di dada Alana. Ruang tamu mendadak terasa senyap. Alana tahu, cepat atau lambat statusnya sebagai ibu tunggal di lingkungan baru akan menjadi bahan gunjingan.
Namun, Alana tidak memperlihatkan kegugupannya. Ia menarik napas dalam, memamerkan senyuman profesional terbaiknya yang tampak begitu tenang dan berkelas.
"Terima kasih pujiannya, Bu. Saya memang membesarkan Arka sendiri," jawab Alana dengan nada suara yang mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Bagi saya, yang paling penting adalah fokus bekerja keras untuk memberikan masa depan terbaik buat anak saya. Itu saja yang jadi prioritas saya sekarang."
Mendengar jawaban Alana yang begitu tegas, beralasan, dan tidak menyisakan ruang untuk gosip, Bu Ratna langsung salah tingkah. Ia hanya bisa mengangguk-angguk canggung sebelum akhirnya berpamitan pulang bersama anaknya.
Setelah pintu kontrakan tertutup rapat, Alana mengunci pintu dan bersandar di sana. Ia mengembuskan napas panjang. Ada rasa sesak yang sempat mampir, tetapi saat ia masuk ke kamar dan melihat Arka yang baru terbangun sambil menatapnya dengan mata bulat yang berbinar, rasa sesak itu hilang tak berbekas.
"Ibu enggak akan biarkan siapa pun merendahkan kita, Arka," bisik Alana sambil menggendong putranya yang kini mulai bisa tertawa renyah.
Sejak hari itu, Alana semakin membentengi dirinya. Ia tidak peduli dengan bisikan orang di luar sana. Fokusnya hanya satu: Arka dan tumpukan materi les yang harus ia siapkan setiap malam. Kemandiriannya justru semakin terasah di tengah tekanan sosial yang mencoba menjatuhkannya.
Empat tahun berlalu bagai kedipan mata jika dilewati dengan kerja keras tanpa henti. Arkana Dirgantara kini telah tumbuh menjadi bocah lelaki berusia empat tahun yang sangat cerdas, aktif, dan luar biasa tampan. Ketampanannya sering kali membuat orang terpaku, dengan garis wajah tegas yang semakin hari semakin mengingatkan Alana pada bayangan pria di masa lalunya.
Selama empat tahun itu pula, Alana tidak pernah mengambil hari libur. Nama Alana Clarissa sebagai guru les privat matematika dan bahasa Inggris telah dikenal luas. Ia tidak lagi sekadar mengajar anak-anak SD di ruang tamu kontrakan, melainkan sudah memegang kelas privat untuk anak-anak ekspatriat dan sekolah internasional dengan tarif yang jauh lebih tinggi.
Jerih payah, kurang tidur, dan air mata yang ia telan sendiri akhirnya membuahkan hasil yang manis.
Pagi itu, Alana berdiri di sebuah halaman rumah baru yang asri. Bukan lagi rumah kontrakan, melainkan sebuah rumah minimalis modern dua lantai di dalam sebuah kompleks perumahan kelas atas yang cukup elit. Kompleks ini memiliki sistem keamanan yang ketat, lingkungan yang tenang, dan yang paling penting bagi Alana: privasi yang tinggi.