NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 : Membunuh atau terbunuh

Sore hari itu Salsa berdiri di depan toko. Tangannya menyilang di dada. Ketiga karyawannya di depannya. Dia narik napas sebentar, lalu ngomong..

"Eh, dengar kalian semua ya."

Semua langsung diem.

"Aku besok mau ke Depok. Ada urusan sikit. Mungkin gak lama, tapi gak tau jugak pastinya berapa hari." Salsa melirik satu-satu karyawannya. Tatapannya serius.

"Jadi toko ini kalian yang jaga."

Salah satu karyawan langsung nyeletuk, "Siap, Kak Salsa."

Salsa ngangguk pelan.

"Jangan asal 'siap' aja. Kerja yang bener. Jangan ada yang macam-macam." Nada suaranya mulai lebih tegas.

"Stok dicek tiap hari. Uang jangan sampai selisih. Kalo ada masalah, langsung kabari aku. Jangan disimpen-simpen."

Salsa jalan sedikit ke meja kasir, nepuk pelan, "Ini toko bukan mainan, ya. Udah aku bangun capek-capek."

Karyawannya langsung mengangguk cepat.

"Iya, Kak."

Salsa narik napas lagi, lalu nada suaranya sedikit turun, "Jaga baik-baik. Aku percaya sama kalian, makanya aku tinggal."

Dia berhenti sebentar.

Terus nambahin, "Jangan buat aku kecewa lah, ya."

Semua langsung jawab hampir barengan, "Iya, Kak Salsa."

Salsa cuma ngangguk, tapi matanya.. Masih tajam. Seolah dia tahu, kalau dia pergi.. Bukan cuma tok yang lagi dia tinggal, tapi termasuk masa depan, dan juga kepercayaannya.

_

Langkah kaki Naya terdengar pelan saat menaiki tangga. Dia baru selesai melakukan pembukuan. Rumah makan Dermawan sudah hampir tutup.

Lantai dua kembali sunyi. Terlalu sunyi. Naya menarik napas.

Naya membuka ruangan Karyawan, dan mengambil tasnya yang ada di atas meja.

Naya berjalan lebih cepat kali ini. Tidak ingin lama-lama.

"Nay.."

Bisikan itu terasa sangat dekat. Tubuh Naya langsung kaku. Perlahan… Ia menoleh.

Sari.

Sudah berdiri di belakangnya. Lebih dekat dari sebelumnya. Seragam hijau. Rambut diikat satu. Dan luka panjang di lehernya, kini terlihat lebih gelap. Seperti… basah.

Naya mundur satu langkah, "S-sari?"

Sari tidak menjawab. Ia hanya menatap. Lalu,

perlahan mendekat.

"Nay.." Suaranya lirih. Hampir seperti napas.

Naya tidak lari. Tapi matanya waspada.

Sari mengangkat tangannya. Menunjuk ke lemari. Lemari dengan name tag: SARI.

"Buka.."

Naya diam, tidak langsung menurut. Udara mendadak terasa lebih dingin.

"Buka lebih lebar.." Bisiknya lagi.

Naya menatap tajam, "Buat apa?"

"Aku masih sempit.." Suara Sari bergetar.

"Selama itu masih kecil.." Sari menunjuk name tag itu, "Aku gak bisa keluar sepenuhnya."

Naya melirik lemari itu. Lalu kembali ke Sari.

"Kamu bilang kamu mau bantu aku."

Sari mengangguk, "Ada arwah jahat yang sedang mengejar kamu sekarang tapi aku masih tahan gangguannya."

"Arwah jahat?" Tanya Naya kaget.

"Abel.. Mengincar kamu.." Sari berkata.

"Energiku masih terbatas, kalau aku bebas.. Aku bisa lindungi kamu dari Abel." Bisik Sari kepada Naya.

Naya terdiam.

"Dan, dari Rosa."

Kalimat itu membuat jantung Naya berdetak lebih keras.

Tapi matanya bergerak pelan... Ke arah belakang Naya. Seolah ada sesuatu di sana.

"Arwah Abel dikendalikan oleh seseorang yang membuat kebenciannya semakin menjadi ke kamu." Bisik Sari lagi.

Naya refleks menoleh. Kosong. Saat ia kembali melihat ke depan, Sari sudah lebih dekat.

Terlalu dekat.

"Nay.."

Napas dingin terasa di wajahnya.

"Cepat, gak ada waktu!"

Untuk sesaat suara lain terdengar. Sangat pelan.

Seperti... Ada yang memukul dari dalam lemari.

Bug.. Bug.. Bug..

Naya langsung menoleh ke arah suara itu. Matanya membesar.

"Itu apa?"

Sari tidak melihat ke sana. Tatapannya tetap di Naya.

"Buka cepat!" Paksa Sari.

"Buka aja."

Bug! Bug! Bug!

Tangan Naya mulai gemetar. Ini bukan cuma tentang Sari. Ada sesuatu kekuatan di dalam sana. Naya menelan ludah. Matanya kembali ke Sari.

"Kamu jujur gak sama aku?" Tanya Naya dengan penuh ragu.

Sari tersenyum tipis. Senyum yang... Tidak sepenuhnya manusia.

"Aku butuh kamu." Jawab Sari.

Ketukan berhenti.

Sekarang.. Hanya ada keheningan.

Dan pilihan.

Naya berdiri di depan lemari itu. Tangannya perlahan terangkat. Menyentuh pintu lemari dengan nametag SARI.

Dingin. Sangat dingin.

Di belakangnya, Sari berbisik lagi.

"Lebih lebar, Nay.."

"Biar aku bisa keluar."

Lampu di lorong tiba-tiba berkedip.

Dan untuk sepersekian detik bayangan di lantai.. Terlihat lebih dari satu.

Padahal di sana hanya ada Naya sendirian bersama arwah Sari yang jelas tak mempunyai bayangan.

Naya membuka lemari itu, dan

"Arrghhh.." Naya berteriak saat sesuatu terasa masuk ke dalam mulutnya begitu cepat.

Ada sesuatu dalam kepala Naya yang membuat Naya merasa sangat membenci Rosa.

_

Kontrakan malam itu sunyi, lampu redup. Naya baru sampai karna habis pulang kerja.

Di sisi lain, Rosa sudah ada, nampak sedang memakai skincare diwajahnya yang tetap terlihat cantik, tak berubah.

Naya membuka pintu kamar, dan dengan berani membuka mulut, "Abel.."

Rosa menoleh pelan, "Kenapa?" suaranya datar.

Naya menatap lurus Rosa, "Abel kemana?"

Hening sebentar

"Pulang kampung." Jawab Rosa cepat.

Naya tersenyum tipis sementara Rosa kembali memoles wajahnya, "Pulang.. Ya."

Naya meletakkan tasnya ke atas tempat tidur, "Pulang kemana?”

Rosa gak langsung jawab dia cuma menatap Naya balik, "Ke tempat yang lebih tenang."

Naya ketawa kecil.

"Tenang?" Ulang Naya.

Naya mendekati Rosa masih berdiri, "Kayak di dalem gentong gitu?"

Sunyi tapi beda. Kali ini bukan sunyi takut. Sunyi menunggu jawaban.

"Siapa yang ngomong ke kamu?" Tanya Rosa meski terlihat dia tidak kaget.

Suaranya masih tenang, tapi sekarang terasa ada tekanan.

"Emang penting?" Tanya Naya.

Rosa memiringkan kepala sedikit. Tatapannya berubah lebih tajam.

"Iya, penting," Katanya pelan, "Karena gak semua orang bisa lihat itu."

Jantung Naya berdetak lebih cepat karna tatapan mengintimidasi Rosa tapi Naya tahan, "Berarti aku spesial dong."

Rosa berdiri mencondongkan tubuhnya pada Naya, dia benar-benar sangat dekat, "Spesial atau udah dipilih?" Tanyanya.

Naya terdiam, sial dia kena.

Rosa lanjut, "Sari dulu juga kayak kamu."

Tapi jelas, "Banyak tanya."

"Banyak liat, sok pintar."

"Dan akhirnya."

Rosa berhenti, matanya gak lepas dari tatapan mata Naya, "Jadi tumbal."

Naya tidak terima, "Jangan samain aku sama dia."

"Semua orang di sini sama, Nay." Kata Rosa dengan tegas, "Aku, kamu, Abel."

"Cuma nunggu waktunya aja." Lanjut Rosa.

Naya menggeleng.

"Enggak." Suara Naya tegas menolak.

"Kamu beda."

Rosa diam.

Naya mendekatkan wajahnya sampai jarak mereka cuma beberapa senti, "Dia korban."

"Dan kamu yang bunuh."

Rosa tersenyum tipis, "Terus kamu apa?"

Naya langsung kaku nafasnya tertahan.

Rosa yang terasa mendominasi sekarang dibanding Naya.

"Harusnya kamu yang jadi tumbal tapi kamu nyelamatin diri kamu sendiri, dan biarin Abel buat jadi tumbal gantiin kamu." Jelas Rosa dengan nada meledek.

"Kamu itu juga pembunuh." Tekan Rosa.

"DIAM!" bentak Naya.

Tapi suara Naya gak sekuat yang dia mau.

Rosa gak berhenti, "Aku gak bunuh dia, tapi kamu."

"Kamu nyelamatin diri kamu sendiri, Nay. Kamu pembunuh." Tegas Rosa

Dunia kayak berhenti wku menatap Rosa gak percaya.

"Kenapa?" Tanya Rosa.

"Kamu lebih kuat Rosa." Ucap Naya, "Kamu yang lebih tau tentang semua ini, dan kalo gak ada tumbal kamu yang akan jadi tumbalnya kan jadi kamu nyelamatin diri kamu sendiri dengan jadiin orang lain tumbal."

"Itu tugas, Nay." Tekan Rosa.

Air mata Naya jatuh tapi Naya langsung hapus dengan kasar, "Alasan yang bagus buat bunuh orang."

Rosa gak menjawab.

Naya mundur satu langkah menatap Rosa dari bawah ke atas, "Kamu menjijikan, Sa."

Sunyi.

Rosa gak langsung bereaksi dia cuma menatapku. Lama, sangat lama. Dia pun mendekat secara perlahan. Sampai wajahnya sangat dekat denganku.

"Kalau aku menjijikan.. Kenapa kamu masih ku biarkan hidup?" Tanyanya.

Naya membeku Rosa pun mundur merebahkan diri ke kasur. Membelakangiku.

"Karna aku bakal jadi tumbal selanjutnya." Ujar Naya dengan tawa kecil.

Rosa hanya tidur, seolah pembicaraan itu gak ada artinya sama sekali.

Naya berdiri sendirian tapi sekarang Naya tahu ini bukan cuma tentang bertahan hidup.

'Ini tentang siapa yang lebih dulu hancur.' Batin Naya tangannya perlahan mulai mengepal. Mata Naya ke arah Rosa. Dan di kepala Naya satu hal jadi jelas.

'Aku harus bunuh dia. Sebelum dia bunuh aku.'

Semua itu benar-benar tertanam di dalam pikiran Naya sekarang.

Naya masih berdiri menatap punggungnya.

Dadanya pun naik turun.

"Aku gak mau tidur bareng pembunuh." Ucap Naya dengan marah.

Tidak ada respon, tidak ada gerakan. Rosa tetap diam meski kedua matanya terbuka. Bahkan napasnya nyaris tak terdengar. Seolah kalimat itu tidak menyentuh apa-apa.

Sementara dibelakangnya Naya menarik bantal dengan kasar. Selimut tipis Naya pun ditarik dari kasur. Suara kain bergesek terdengar jelas di kamar yang terlalu sunyi ini.

Naya menutup pintu kamar dengan kasar, lalu melemparkan bantal dan selimut tipisnya ke atas sofa panjang. Naya akan tidur di sini malam ini dengan rasa marah.

1
Sarah
Noooo! Abelllll Jangan matiiii! 🙅‍♀️😃
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Sarah: Yahh... bahasa Jawa sama Sunda kayaknya emang banyak kata yang agak mirip deh. Dan kalau gak salah juga akar bahasanya sama sih. Meski tetep beda. Kalau di Sunda sih “Dhahar Kudu Wareg” itu kayak, “Makan Harus Kenyang” atau kalau konteksnya emang nama ya “Dhahar Harus Kenyang”. Meskipun di Sunda tulisan “Dhahar”-nya gak ada ‘H’-nya sih. “Dahar” aja, tapi bunyinya sama. Kalau di Jawa “Dhahar Kudu Wareg”-nya artinya apa tuh kak?
total 2 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!