Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pavlova Story
“Wah, kue ini enak banget.”
Puspa yang mendengar pujian itu langsung tersenyum puas. Beberapa pengunjung memang sering memuji rasa kue di toko mereka, jadi puspa menganggap hal itu biasa.
“Kak...”
Seorang wanita menghampirinya.
“Iya, Kak,” balas Puspa ramah. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Kak, kue ini masih ada nggak? Saya ingin pesan lumayan banyak untuk bingkisan,” ucap wanita berambut sebahu itu sambil menunjukkan sebuah kue di tangannya.
Puspa menatap kue tersebut dengan heran.
Ia merasa baru pertama kali melihat kue itu.
“Kamu dapat dari mana kue ini? Saya rasa kami nggak menjualnya,” ucap Puspa bingung.
“Saya ambil dari etalase itu,” jawab wanita itu sambil menunjuk etalase yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Puspa menoleh ke arah etalase tersebut.
“Sebentar ya, Kak. Saya ke dapur dulu. Mau tanya ke koki pastry.”
Wanita itu mengangguk.
“Iya, Kak. Saya ingin pesan seribu piece.”
Puspa langsung membelalakkan mata karena terkejut.
“Seribu, Kak?”
Wanita itu mengangguk santai.
“Iya, Kak.”
Tanpa membuang waktu, Puspa buru-buru melangkah menuju dapur sambil membawa kue tersebut.
“Siapa yang membuat kue ini?”
Puspa bertanya begitu sampai di dapur.
Para koki yang sedang sibuk bekerja langsung menoleh ke arah kue itu.
Diana yang sedang menyusun bahan-bahan kue juga ikut menoleh.
“Saya, Kak,” ucap Diana dengan suara bergetar.
Ia melangkah mendekat, tetapi tampak takut menatap wajah Puspa.
“Tadi ada beberapa bahan kue yang tersisa. Aku nggak tahu harus bikin apa, jadi aku inisiatif membuat kue lalu menaruhnya di etalase,” jelas Diana dengan gugup.
“Maaf, Kak Puspa. Kalau saya lancang, saya siap dihukum asal jangan pecat saya.”
Diana langsung berlutut di depan Puspa.
“Diana, bangun! Jangan seperti ini,” ucap Puspa terkejut dengan tindakan Diana. “Kamu salah paham.”
Diana mendongak.
Wajahnya sudah basah oleh air mata.
“Maksud Kak Puspa?”
Puspa tersenyum tipis.
“Hasil kegabutan kamu ini ternyata ada konsumen yang suka.”
Diana langsung tertegun.
“K-kak?”
“Dia ingin memesan kue buatan kamu, dan aku juga akan memasukkan kue itu ke dalam menu toko kita,” jelas Puspa.
Lalu ia menoleh ke arah para koki lainnya.
“Kalian minta resep ke Diana, ya.”
Para koki langsung mengangguk penuh semangat.
“Siap, Kak.”
Puspa kembali menatap Diana.
“Oh iya, Diana... nama kue kamu ini apa?”
“Pavlova, Kak,” jawab Diana pelan.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kak Puspa... kue buatan saya benar-benar disukai pelanggan?” tanyanya lirih, masih seolah tidak percaya.
Puspa mengangguk sambil tersenyum. “Bukan hanya disukai, pelanggan itu ingin memesan seribu buah untuk bingkisan.”
Mata Diana membulat sempurna.
“Seribu?” ulangnya tak percaya.
Beberapa koki di dapur ikut bersorak kecil dan menepuk bahunya.
“Wah, hebat banget kamu, Diana.”
“Baru beberapa hari kerja langsung bikin kue viral.”
“Ajari kami resepnya juga.”
Diana tersenyum malu, air matanya hampir jatuh karena terlalu bahagia.
“Terima kasih...” lirihnya.
Ia tanpa sadar mengelus perutnya pelan.
“Sayang... kita berhasil,” gumamnya dalam hati.
Puspa menyerahkan buku catatan kecil pada Diana.
“Tulis resep Pavlova buatanmu. Mulai besok, kue ini resmi masuk menu tetap di Castella Cake.”
Diana mengangguk cepat.
“Iya, Kak.”
Sejak hari itu, banyak staf dapur mulai menyukai Diana karena sifatnya yang ramah dan tidak pelit ilmu. Ia dengan sabar mengajarkan resep kuenya kepada para koki lain.
Tak hanya itu, pelanggan yang datang pun perlahan mulai mengenal Pavlova sebagai salah satu menu favorit di Castella Cake.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Westoria, Diana merasa hidupnya perlahan kembali membaik.
°°••°°
“Puspa.”
Puspa yang sedang sibuk di depan laptop langsung menoleh. Matanya sedikit melebar saat melihat Ibu Rosa—pemilik Castella Cake—datang menghampiri.
Ia segera berdiri dari kursinya.
“Iya, Bu,” ucapnya sopan.
“Kamu ke ruangan saya.”
Tanpa menunggu jawaban, Rosa langsung berjalan pergi meninggalkan Puspa.
Puspa terdiam sejenak, lalu segera mengikuti langkah atasannya.
Di dalam ruang pribadi Rosa, Puspa duduk di sofa sambil menunggu. Sementara itu, Rosa menerima sebuah panggilan telepon terlebih dahulu.
Setelah beberapa saat, Rosa kembali menghampiri Puspa.
“Puspa.”
“Iya, Bu.”
“Kamu mengeluarkan menu baru tanpa memberitahuku?” tanya Rosa langsung.
Puspa menggeleng cepat.
“Saya memang mengeluarkan menu baru, Bu, tapi saya sudah melaporkan ke Ibu. Namun sampai sekarang belum ada balasan,” jelasnya.
Rosa mengerutkan kening.
“Kapan?”
“Beberapa hari yang lalu, Bu.”
Rosa terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu. Lalu ia menepuk dahinya pelan.
“Aduh, saya lupa. Ponsel saya rusak, jadi belum sempat memberi kabar,” ucapnya.
Kemudian ia kembali menatap Puspa.
“Lalu kamu dapat resep itu dari mana? Apa pelanggan suka? Kenapa tiba-tiba kamu berani keluarkan menu baru?”
“Bukan saya, Bu. Yang membuat resep itu Diana, pegawai baru itu,” jawab Puspa.
Ia kemudian menjelaskan kembali kejadian awal munculnya kue Pavlova tersebut.
Rosa mendengarkan dengan seksama.
“Bawa kue itu ke sini.”
Puspa mengangguk lalu keluar dari ruangan.
Tak lama kemudian, ia kembali membawa kue Pavlova tersebut.
Rosa menatap kue itu dengan serius. Tampilannya terlihat unik dan berbeda dari menu sebelumnya.
Ia mengambil satu gigitan kecil.
Sesaat kemudian, ekspresinya berubah.
“Enak.”
Puspa langsung tersenyum lega.
“Enak kan, Bu?”
Rosa mengangguk setuju.
“Panggil Diana ke ruangan saya sekarang.”
Puspa sedikit terkejut, tetapi tetap mengangguk patuh. “Baik, Bu.”
Ia segera keluar dari ruangan Rosa dan berjalan menuju dapur.
Saat itu, Diana sedang sibuk menghias beberapa kue pesanan pelanggan.
“Diana.”
Diana menoleh cepat. “Iya, Kak?”
“Ibu Rosa ingin bertemu denganmu di ruangannya.”
Wajah Diana langsung pucat.
“S-saya?” tanyanya gugup sambil menunjuk dirinya sendiri.
Puspa mengangguk.
Jantung Diana langsung berdegup kencang.
Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
“Apa aku melakukan kesalahan lagi, Kak?” tanyanya dengan suara bergetar.
Puspa menahan senyum melihat wajah panik Diana.
“Aku nggak tahu. Makanya cepat temui Bu Rosa.”
Diana menelan ludah susah payah.
“I-iya, Kak.”
Ia melepas celemeknya dengan tangan gemetar lalu berjalan mengikuti Puspa menuju ruang pemilik toko.
Semakin dekat ke ruangan itu, langkah Diana terasa semakin berat.
Setelah tiba di depan pintu, Puspa mengetuknya pelan.
“Masuk.”
Puspa membuka pintu dan memberi isyarat agar Diana masuk sendiri.
Diana menatap Puspa panik, tetapi wanita itu justru mendorongnya pelan ke dalam.
Dengan jantung berdebar tak karuan, Diana melangkah masuk.
Rosa duduk anggun di kursinya sambil menatap Diana lekat-lekat.
“Jadi... kamu yang membuat Pavlova itu?”
"Iya, Bu." Jawabnya dengan suara bergetar.
Rosa mengangguk pelan sambil kembali menatap kue di hadapannya.
“Kamu sudah pernah bekerja di toko kue sebelumnya?” tanyanya tenang.
Diana mengangguk cepat. “Iya, Bu. Saya pernah bekerja beberapa tahun di toko kue di kota asal saya.”
Rosa tampak semakin tertarik.
“Kenapa kamu hanya melamar sebagai staf biasa? Dengan kemampuan seperti ini, kamu bisa mendapatkan posisi yang lebih baik.”
Diana terdiam sejenak.
Jarinya saling meremas gugup.
“Saya hanya... butuh pekerjaan secepatnya, Bu,” jawabnya jujur. “Maaf, Bu. Kalau itu menjadi masalah, saya siap keluar dari pekerjaan ini,” ucap Diana buru-buru dengan mata berkaca-kaca.
Rosa justru mengernyit.
“Siapa bilang saya ingin memecatmu?”
Diana tertegun dan perlahan mendongak.
Rosa mengembuskan napas pelan.
“Mulai hari ini, kamu akan dipindahkan ke bagian pengembangan resep bersama tim utama dapur.”
Mata Diana membulat sempurna.
“S-saya?”
Rosa mengangguk.
“Bakat seperti milikmu terlalu disayangkan kalau hanya berada di posisi biasa.”
Air mata Diana langsung jatuh.
“Terima kasih banyak, Bu... terima kasih.”
Rosa tersenyum tipis.
“Buktikan kalau keputusan saya tidak salah.”
Diana mengangguk berkali-kali dengan penuh haru.
“Iya, Bu. Saya janji akan bekerja keras.”
Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Diana merasa Tuhan benar-benar sedang membuka jalan baru untuknya.
Diana menatap Rosa dan Puspa secara bergantian. Suaranya terdengar pelan dan ragu saat akhirnya ia membuka pembicaraan.
“Bu… Kak Puspa… sebenarnya saya ingin mengatakan sesuatu pada kalian,” ucapnya lirih.
Rosa dan Puspa saling bertukar pandang sejenak, sama-sama merasa ada hal penting yang akan disampaikan.
“Kamu mau bicara apa? Masalah gaji?” tanya Rosa lebih dulu.
Diana menggeleng cepat.
“Bukan, Bu. Saya tidak mempermasalahkan gaji saya.”
“Terus apa?” tanya Puspa kemudian, penasaran.
Diana terdiam cukup lama. Lidahnya terasa kelu, seolah sulit sekali untuk mengucapkan kata-kata itu. Tangannya sedikit bergetar, sementara matanya menunduk.
“Katakan saja,” ujar Rosa dengan nada lebih lembut, memberi dorongan.
Diana menarik napas dalam, lalu akhirnya mengangkat wajahnya perlahan.
“Saya… sebenarnya hamil di luar nikah, Bu.”
Sesaat ruangan menjadi hening.
“Apa?” ucap Rosa dan Puspa hampir bersamaan, terkejut mendengar pengakuan itu.
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Mpusss...