Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Pakai Logika
Langkah Harjono berhenti dua jengkal dari pinggiran dipan. Dada bidang di balik kemeja abunya kembang kempis.
"Kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan di ruang makan?"
Suara Harjono tidak meledak, tapi tekanannya mengimpit seluruh oksigen di paviliun itu. Intimidasi murni.
"Mempermalukan Sulastri. Memukulnya di depan para pelayan." Pria itu menunjuk wajah Sumarni. "Kamu pikir kamu siapa, Marni?"
Sumarni melepaskan tautan jari Dimas pelan-pelan. Dia membenarkan letak kompres bocah itu, memastikannya tetap menutupi leher sang anak. Gerakannya teratur dan telaten. Sama sekali tidak terpengaruh oleh amarah suaminya.
Selesai dengan urusannya, Sumarni bangkit. Kakinya yang tak beralas menyentuh tegel dingin. Dia berdiri tegak menyejajarkan posisinya. Tinggi badannya hanya sebatas dada pria itu, tapi aura yang dia pancarkan mengimbangi sang Pemilik Pabrik Kretek.
"Aku menyelamatkan anakmu, Mas."
"Dengan menelanjanginya saat demam tinggi?!" Nada Harjono naik.
"Pegang dahinya." Sumarni merespons cepat. Dia menunjuk Dimas dengan ujung dagu. "Sentuh sendiri."
Harjono mendecih pelan. Laki-laki berkuasa ini jelas tidak suka ditantang, apalagi oleh perempuan yang dia beli dari kampung. Namun, pandangannya tanpa sengaja menangkap dada putranya yang naik turun dengan ritme tenang. Tidak ada lagi suara napas mengorok yang mencekik.
Tangan besar Harjono turun. Perlahan, dia menempelkan punggung tangannya ke kening Dimas.
Suhu tubuh bocah itu normal. Keringatnya sudah mengering.
Harjono menarik tangannya cepat. Kejutan memukul telak kesadarannya. Dia menatap wajah Sumarni, menelanjangi gurat wajah istrinya untuk mencari kebohongan.
Dulu, jangankan dibentak, ditatap dengan sorot setajam ini saja Marni akan langsung gemetar ketakutan. Istri keduanya itu akan berlutut, menangis tersedu-sedu, dan meminta ampun atas kesalahan yang bahkan tidak dia lakukan.
Sekarang? Perempuan di depannya membalas tatapannya tanpa berkedip. Posturnya kokoh. Dagunya terangkat menantang.
"Kalau tadi Mas biarkan Mbakyu Sulastri mengerok Dimas pakai bawang merah, panasnya akan terkurung di dalam. Anak ini bisa kejang." Sumarni menyilangkan tangan di depan dada. "Mas Harjono itu pengusaha. Pabrik Tjokro maju karena Mas pakai logika, bukan?"
Sumarni memiringkan kepalanya sedikit.
"Coba pakai logika itu sekarang. Cara siapa yang benar?"
Harjono bungkam. Harga dirinya tertampar telak, tapi otaknya membenarkan ucapan perempuan ini. Rentetan kalimat Sumarni tersusun logis, tajam, dan tidak memberinya celah untuk membantah.
"Mas bawa aku ke rumah ini dengan mahar sepuluh ribu rupiah dan seekor ekor sapi." Sumarni mengutip ingatan masa lalunya. "Harga yang murah. Tugas utamaku cuma memberi Mas anak laki-laki. Tapi Mas sudah punya pewaris."
Tangan Sumarni menunjuk piring seng berisi sisa tempe kemarin di atas meja kayu.
"Lalu kenapa Mas biarkan pewarismu tidur di kamar berdebu dan makan sisa lauk kemarin?"
Satu pukulan mental melayang langsung ke ulu hati Harjono. Tuan Pabrik itu tidak bisa menjawab. Selama ini dia mempercayakan seluruh urusan rumah pada Sulastri. Laporannya selalu bagus. Buku kas rumah tangga selalu rapi. Kenyataannya? Putra kandungnya sendiri hidup lebih buruk dari anak buruh pabriknya.
Harjono menelan ludah. Ada pergolakan aneh di dalam dadanya. Rasa bersalah berbaur dengan ketertarikan yang tiba-tiba muncul terhadap wanita yang selama ini dia anggap benalu.
"Jaga anak ini." Harjono membalikkan badan. Sepatunya berderit bergesekan dengan tegel abu-abu. "Kalau panasnya naik lagi, kamu yang menanggung akibatnya."
Laki-laki itu melangkah keluar tanpa menutup pintu. Punggung lebarnya menghilang di balik lorong, membawa pergi kekalahannya yang tak terucap. Laki-laki pragmatis selalu menutupi rasa malu dengan perintah.
Sumarni menang. Setidaknya untuk malam ini.
***
Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi kayu. Kokok ayam jantan sahut-menyahut dari pekarangan tetangga.
Sumarni duduk di tepi dipan, merapikan rambut Dimas yang baru bangun. Suhu tubuh anak itu benar-benar sudah kembali normal. Perut bocah itu berbunyi pelan, meminta haknya untuk diisi.
Langkah kaki bersandal jepit mendekat.
Mbok Darmi muncul di ambang pintu. Pelayan tua itu membawa nampan kayu di tangannya.
Sumarni bersiap menerima kepulan asap nasi putih hangat dan lauk bergizi seperti perintah Harjono semalam. Harjono jelas-jelas menyuruh pelayan memberikan makanan terbaik pagi ini.
Namun, senyum tipis di bibir Sumarni memudar.
Di atas nampan kayu itu, tidak ada piring beling. Tidak ada nasi. Tidak ada lauk hangat.
Hanya ada sepiring seng berisi potongan singkong rebus yang sudah dingin dan mengeras.
"Maaf, Ndoro Marni..." Mbok Darmi menunduk dalam-dalam. Tangannya gemetar menyodorkan nampan itu. "Nyonya Sulastri bilang, uang belanja bulan ini tombok. Katanya mulai hari ini, jatah dapur untuk paviliun belakang dipotong habis."