NovelToon NovelToon
SISTEM KAYA MENDADAK: SETIAP DETIK MENGHASILKAN UANG

SISTEM KAYA MENDADAK: SETIAP DETIK MENGHASILKAN UANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"

Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]

Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.

Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Warisan yang Berdebu

Pagi di Planet Eris nggak ada bedanya sama malam. Langitnya tetap ungu gelap, bedanya cuma badai pasirnya agak reda sedikit. Andra terbangun dengan badan kaku karena tidur di lantai kapal Nemesis yang dinginnya minta ampun. Begitu bangun, hal pertama yang dia cek bukan notifikasi saldo, tapi Elara.

Anak itu masih pucat, tapi napasnya sudah teratur. Siska tidur duduk di samping tandu Elara sambil memegang pisau kecilnya. Andra nggak tega membangunkan mereka, jadi dia pelan-pelan keluar dari ruangan itu.

"Jagal, Vex, siap-siap. Kita ke laboratorium tua itu sekarang," bisik Andra begitu melihat dua rekannya itu lagi ngopi air tawar sisa cadangan kapal.

"Tuan, kita cuma punya dua pistol energi yang baterainya tinggal lima persen. Kalau monster-monster batu itu menyerang lagi, kita cuma bisa lempar pakai batu," keluh Jagal sambil mengikat sepatu botnya yang sudah mulai jebol.

"Makanya kita ke sana buat cari 'makanan' buat sistem kita, Jagal," sahut Andra. "Vex, bawa alat pemindai frekuensi paling sensitif yang kita punya. Kita butuh cari jejak kristal lama atau baterai nuklir yang mungkin ketinggalan."

Mereka bertiga keluar dari kapal. Berjalan di atas tanah Eris itu rasanya kayak jalan di atas kerupuk yang sudah melempem—bunyinya krek-krek pelan dan debunya masuk ke mana-mana, termasuk ke paru-paru. Setelah jalan sekitar satu jam, sampailah mereka di depan gerbang besar yang sudah miring. Tulisan di atasnya hampir hilang dimakan karat: "Evolution Research Facility - Sector 0".

"Ini tempatnya," gumam Andra. Dia merasa dadanya sesak. Di sinilah ayahnya, Dr. Adrian, memulai semua kegilaan ini sebelum akhirnya pindah ke Mars dan mengendalikan dunia.

Begitu mereka masuk, bau apek dan besi berkarat langsung menusuk hidung. Lorongnya gelap gulita, cuma dibantu senter kecil dari Vex. Di kanan kiri, banyak tabung kaca yang sudah pecah. Bedanya sama Antartika, di sini tabungnya lebih kecil dan lebih primitif.

"Lihat ini, Tuan," Jagal menunjuk ke sebuah sudut. Ada kerangka manusia yang masih pakai jas lab putih, terduduk di kursi dengan lubang di dahi. "Sepertinya mereka melakukan pembersihan besar-besaran sebelum pergi dari sini."

Andra mendekati sebuah meja kerja yang penuh dengan tumpukan kertas digital yang sudah mati. Dia meletakkan tangannya di atas terminal utama. "Sistem, bisa paksa akses?"

[Status: Saldo 12 Kristal.] [Peringatan: Energi Terlalu Rendah. Mencoba Menarik Daya dari Sisa Kapasitor Ruangan...]

Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berkedip-kedip redup. Sebuah layar tua menyala, menampilkan logo "The Void" versi lama. Sebuah video otomatis terputar. Di sana, seorang pria muda—ayah Andra—sedang berdiri di depan sebuah mesin raksasa yang bentuknya kayak jantung manusia dari besi.

"Eksperimen hari ke-1.400. Kita sudah menemukan cara menstabilkan energi emas menggunakan frekuensi emosi negatif. Subjek-subjek di Eris terlalu lemah untuk menahan beban ini, tapi mereka berguna sebagai cadangan energi pasif. Jika suatu saat proyek ini gagal, Eris akan menjadi tempat pembuangan akhir sekaligus gudang baterai hidup kita."

Andra mengepalkan tangan sampai buku jarinya putih. "Gudang baterai hidup? Jadi monster-monster itu... mereka sengaja dibuang ke sini supaya energinya bisa diserap kalau sewaktu-waktu ayahnya butuh?"

"Andra, lihat radar!" teriak Vex.

Di layar pemindai, muncul ratusan titik merah yang bergerak cepat dari arah gua-gua di luar menuju laboratorium. "The Forgotten" itu datang lagi. Tapi kali ini mereka nggak berlutut. Mereka terlihat marah, mungkin karena Andra menyalakan aliran listrik di tempat yang jadi penjara mereka dulu.

"Jagal, tahan pintu!" perintah Andra.

"Pakai apa, Tuan? Kapak saya nggak bisa menahan pintu baja!"

"Gunakan apa saja!"

Andra kembali fokus ke terminal. Dia nggak cari data, dia cari senjata. Jarinya menari di atas layar yang retak. Dia menemukan sebuah folder tersembunyi berjudul "Override Command: Zero".

[Ding! Menemukan Kode Kontrol untuk Subjek Tipe-D.] [Biaya Aktivasi: 10 Kristal.]

"Tinggal dua kristal lagi saldo gue kalau ini gue ambil," umpat Andra. "Tapi nggak ada pilihan lain. Aktifkan!"

Tepat saat pintu besi itu jebol dan puluhan monster batu itu mau masuk, sebuah frekuensi tinggi keluar dari pengeras suara di langit-langit laboratorium. Suaranya kayak decitan tikus tapi ribuan kali lebih keras.

Monster-monster itu langsung memegangi kepala mereka. Mereka jatuh bergelimpangan di lantai, meronta-ronta kesakitan. Tapi anehnya, perlahan-lahan mata mereka yang tadinya merah berubah jadi warna kuning redup. Mereka nggak lagi menggeram liar. Mereka diam, menatap Andra dengan tatapan yang... memohon.

"Mereka nggak menyerang lagi?" Siska tiba-tiba muncul di ambang pintu bersama Elara yang digendongnya. Ternyata dia nekat menyusul karena takut terjadi apa-apa.

"Elara yang bikin mereka tenang, Kak," bisik Elara pelan. Dia turun dari gendongan Siska dan berjalan mendekati salah satu monster yang paling besar.

Jagal sudah mau melompat buat melindungi Elara, tapi Andra menahannya. "Tunggu, Jagal. Lihat dulu."

Elara meletakkan tangannya yang mungil di atas kepala monster yang kulitnya keras itu. Cahaya emas keluar sedikit dari tangan Elara. Pelan-pelan, monster itu mengeluarkan suara seperti isakan tangis. Kulit batunya mulai retak, menonjolkan kulit manusia yang penuh luka di bawahnya.

"Sakitnya... hilang," gumam monster itu. Dia bisa bicara, biarpun suaranya sangat berat dan rusak.

Andra terpaku. Jadi mereka masih punya kesadaran manusia di dalam sana. Ayahnya benar-benar sudah menghancurkan hidup mereka sampai ke titik paling bawah.

"Siapa namamu?" tanya Andra sambil mendekat.

"Nomor... 047. Tapi dulu... panggil aku... Bima," jawab monster itu sambil mencoba duduk.

Andra berlutut di depan Bima. "Bima, aku Andra. Aku anaknya orang yang bikin kamu kayak gini. Aku ke sini bukan buat menyakiti kalian lagi. Aku ke sini buat minta bantuan."

Bima menatap Andra dengan mata kuningnya yang sedih. "Bantuan? Buat apa? Kami cuma... sampah."

"Buat menghancurkan Mars. Buat bikin Dr. Adrian membayar semua ini," kata Andra dengan suara rendah yang penuh dendam.

Mendengar nama Dr. Adrian, monster-monster lain yang ada di lorong itu langsung berdiri. Aura mereka berubah dari sedih jadi penuh amarah yang luar biasa. Lantai laboratorium sampai bergetar karena emosi mereka yang meluap.

"Mars... hancur?" tanya Bima.

"Iya. Aku punya kapal, biarpun sekarang lagi rusak. Aku punya sistem, biarpun sekarang lagi bangkrut. Tapi kalau kalian ikut denganku, kita bisa jadi pasukan yang nggak bakal bisa mereka duga," jelas Andra.

Bima melihat ke arah teman-temannya, lalu kembali ke Elara yang tersenyum manis padanya. Dia mengulurkan tangannya yang besar dan kasar, lalu menjabat tangan Andra. "Kami... ikut. Kami mau... pulang sebagai manusia."

[Ding! Anda Telah Memperoleh Unit Tempur: The Forgotten Legion (300 Anggota).] [Membuka Fungsi Baru: Sinergi Energi Kelompok.]

Andra tersenyum pahit. Dia baru saja mendapatkan pasukan paling menyeramkan di galaksi tanpa mengeluarkan jutaan kristal.

"Vex, Jagal, mulai preteli mesin-mesin di laboratorium ini. Cari apa pun yang bisa dipakai buat memperbaiki Nemesis," perintah Andra. "Siska, bantu Elara komunikasi sama mereka. Kita butuh tahu apa saja yang mereka tahu soal tempat ini."

Andra berjalan ke jendela, menatap ke arah langit ungu Eris. Dia tahu, perjalanannya ke Mars nggak akan lagi soal gaya-gayaan pakai mobil mewah atau pamer saldo Shopee. Ini soal membawa keadilan buat orang-orang yang sudah dilupakan dunia.

"Ayah," gumam Andra sambil meremas sisa kertas digital di tangannya. "Sampahmu sebentar lagi sampai ke depan pintumu."

Malam itu, Planet Eris yang tadinya sunyi dan menyeramkan mulai dipenuhi dengan aktivitas. Monster dan manusia bekerja sama membongkar mesin tua, mempersiapkan kapal buat perjalanan terakhir mereka. Andra memang sudah nggak punya uang, tapi dia baru saja menemukan sesuatu yang lebih kuat: tentara yang nggak punya rasa takut karena mereka sudah pernah merasakan kematian.

1
ラマSkuy
kekayaan diluar nalar coy 🤣🤣
DPras
othor... perasaan uang nya baru 42juta... trus duitnya drmn buat beli mobil... apakah dipinjemin system🙏🙏
Mohd Harmizi: hasil persugihan
total 2 replies
Sebut Saja Chikal
nanti saya mampir.
tintakering: ijin promo, k. kalo suka cerita menegangkan.ampir ke lapaku ada Pulau Eksekusi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!