NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:404
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.


Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.


Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Sinar matahari pagi menyusup melalui celah jendela kaca SMA Nusa Bangsa, menyinari debu-debu halus yang menari di udara koridor. Suasana sekolah terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Poster besar berwarna-warni bertuliskan "Cakrawala Fest" sudah terpampang di hampir setiap sudut dinding, menandakan festival tahunan yang paling ditunggu-tunggu akan segera tiba dalam dua minggu ke depan.

Arga berjalan menyusuri koridor dengan tangan terbenam di saku celana abu-abunya. Langkahnya yang biasanya lambat dan penuh keraguan kini terasa sedikit lebih ringan. Sejak sore itu, ketika semua rahasia masa kecilnya terungkap di rumah Nala, beban yang selama ini menghimpit dadanya seolah menguap sebagian. Meski masih ada sedikit rasa canggung, ia tidak perlu lagi bersembunyi di balik topeng orang asing.

"Arga, kamu mau ke ruang logistik sekarang?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.

Arga menoleh dan mendapati Tania berdiri di sana. Gadis itu tersenyum manis, memeluk sebuah map plastik transparan di depan dadanya. Tatapan matanya yang lembut selalu membuat Arga merasa sedikit bersalah karena tidak bisa membalas perhatian yang sama.

"Iya, sepertinya Dimas sudah menunggu di sana," jawab Arga singkat namun sopan.

Tania mengangguk pelan, langkahnya kini menyamai Arga. "Baguslah kalau begitu. Aku dengar seksi perlengkapan bakal sibuk banget minggu ini. Kalau butuh bantuan mencatat daftar barang, bilang saja ya. Aku kan di bagian administrasi pusat, jadi sering luang."

"Terima kasih, Tania. Nanti aku kabari kalau memang butuh," ujar Arga sambil mengangguk kecil.

Mereka sampai di depan ruang serbaguna yang kini dialihfungsikan menjadi markas besar panitia. Di dalam sana, suasana tampak kacau namun terorganisasi. Meja-meja digeser ke pinggir, tumpukan kabel melingkar di sudut ruangan, dan suara perdebatan kecil terdengar dari meja pusat di mana para koordinator berkumpul.

"Arga! Sini, Bos!" teriak Dimas dari atas sebuah tangga lipat. Sahabatnya itu sedang mencoba memasang kabel proyektor ke langit-langit ruangan, namun wajahnya tampak kewalahan.

Arga segera mendekat, meninggalkan Tania yang kemudian bergabung dengan kelompok siswi lainnya. Ia memegangi bagian bawah tangga agar Dimas tidak oleng.

"Pelan-pelan, Dim. Jangan sampai kamu jatuh sebelum festival mulai," gumam Arga memperingatkan.

Dimas turun dengan napas terengah-engah setelah berhasil mengaitkan kabel tersebut. Dia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Gila, baru hari pertama persiapan saja sudah begini. Kamu tahu tidak kenapa aku menarikmu masuk seksi perlengkapan? Karena cuma kamu yang bisa sabar menghadapi kerumitan kabel-kabel ini, Ga."

Arga hanya tersenyum tipis. Dia mulai memilah beberapa peralatan yang berserakan di lantai, memasukkannya ke dalam kotak-kotak kayu sesuai jenisnya. Ketelitian Arga memang tidak perlu diragukan, dan itu adalah alasan utama mengapa ia terpilih menjadi bagian dari tim ini.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka lebar. Suara tawa yang familiar terdengar masuk ke dalam ruangan. Arga tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja tiba. Aroma tipis parfum jeruk yang segar mulai memenuhi indra penciumannya, sebuah aroma yang selalu ia ingat sejak mereka masih berusia sembilan tahun.

Nala masuk bersama Rara, keduanya membawa tumpukan dokumen jadwal acara yang cukup tebal. Nala mengenakan kemeja seragam yang lengannya digulung hingga siku, rambutnya diikat kuda dengan rapi, memperlihatkan raut wajah yang serius namun tetap ceria.

"Halo semuanya! Bisa minta perhatian sebentar?" seru Nala dengan suara lantang namun tetap ramah.

Semua orang di ruangan itu berhenti bekerja, termasuk Arga. Dia berdiri tegak, memandangi gadis itu dari sudut ruangan yang agak gelap.

"Jadwal panggung sudah final. Aku butuh tim perlengkapan untuk memastikan panggung utama sudah siap untuk gladi bersih besok sore. Arga, kamu penanggung jawab untuk area audio, kan?" tanya Nala sambil matanya menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti tepat pada sosok Arga.

Arga terpaku sejenak saat mata mereka bertemu. Tidak ada lagi dingin yang membeku di sana. Nala menatapnya dengan binar yang berbeda, sebuah tatapan yang mengakui kehadirannya sebagai bagian dari hidup gadis itu.

"Iya, audio sudah aman. Sore ini kami akan cek semua mikrofon dan speaker," jawab Arga dengan nada suara yang stabil, meski jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.

Nala tersenyum lebar, senyum yang membuat Arga merasa waktu seolah berhenti berputar. "Bagus. Aku titip ya, Ga. Jangan sampai ada kabel yang melintang di jalan, aku tidak mau pengisi acara tersandung nanti."

"Siap, Koordinator," sahut Arga yang tanpa sadar menyunggingkan senyum kecil.

Rara yang berdiri di samping Nala menyikut lengan sahabatnya itu sambil berbisik pelan, namun cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya. "Wah, semangat sekali ya kalau bicara sama penanggung jawab audio."

Nala hanya tertawa kecil, wajahnya sedikit memerah. Dia segera mengalihkan perhatian kembali ke dokumen di tangannya. "Sudah, jangan bercanda. Kita masih punya banyak pekerjaan."

Namun, suasana cair itu tiba-tiba berubah ketika Satria masuk ke ruangan dengan membawa bola basket di bawah ketiaknya. Dia tampak segar setelah sesi latihan, dengan seragam basket yang masih basah oleh keringat. Satria langsung berjalan menuju Nala dengan kepercayaan diri yang meluap-luap.

"Nala, nanti pulang sekolah aku bantu cek dekorasi panggung ya? Aku sudah minta izin pelatih untuk pulang lebih awal," ujar Satria sambil memberikan sebotol air mineral dingin kepada Nala.

Nala tampak ragu sejenak, melirik ke arah Arga yang kini kembali sibuk dengan tumpukan kabelnya. "Oh, boleh saja, Satria. Tapi sepertinya tim perlengkapan sudah cukup personel untuk hari ini. Kamu bantu di bagian dokumentasi saja kalau mau."

Satria mengerutkan kening, merasa ada penolakan halus dalam ucapan Nala. Dia menatap Arga yang tampak acuh tak acuh, namun dia tahu ada sesuatu yang berubah di antara dua orang itu. Sesuatu yang membuatnya merasa terancam.

Dimas yang menyadari ketegangan itu segera menepuk bahu Arga. "Sepertinya persaingan makin panas, Ga. Kamu jangan cuma diam saja melihat si anak basket itu beraksi."

Arga tidak menjawab. Dia hanya terus merapikan kabel-kabel di tangannya dengan telaten. Baginya, ini bukan tentang kompetisi siapa yang paling menonjol di depan Nala. Ini tentang janji-janji kecil yang mulai teringat kembali, tentang memori yang perlahan pulih, dan tentang kenyataan bahwa Nala kini sudah mulai melihatnya kembali.

Sore pun tiba, membawa semburat jingga di langit sekolah. Arga masih berada di aula bersama timnya. Dia sedang berlutut di depan kotak kontrol suara ketika Nala datang menghampirinya sendirian.

"Capek ya?" tanya Nala sambil duduk di pinggir panggung, kakinya berayun pelan.

Arga menengadah, menyeka peluh di pelipisnya. "Lumayan. Tapi semuanya sudah siap untuk besok."

Nala menatap gantungan kunci robot yang terpasang di tas Arga yang tergeletak tidak jauh dari sana. Robot tua itu tampak kontras dengan peralatan modern di sekeliling mereka.

"Aku masih tidak menyangka, Aga," gumam Nala pelan. "Namamu disebut begitu terasa aneh tapi juga sangat akrab. Kenapa kamu bisa tahan diam selama ini?"

Arga menghentikan gerakannya. Dia menatap Nala dengan tatapan dalam. "Karena aku takut kalau aku bilang siapa aku, kamu hanya akan mengingatku sebagai beban masa lalu. Aku ingin kamu mengenalku sebagai Arga yang sekarang."

Nala terdiam, meresapi kata-kata itu. Dia kemudian turun dari panggung dan berdiri tepat di hadapan Arga. "Aku suka keduanya. Arga yang pendiam, dan Aga yang selalu menjagaku dulu."

Suara langkah kaki yang mendekat membuat mereka berdua refleks menjauh. Rara muncul dari balik tirai panggung dengan wajah panik. "Nala! Ada masalah di ruang OSIS, daftar sponsornya hilang!"

Nala tersentak, raut wajahnya kembali menjadi koordinator yang sibuk. "Aku harus pergi, Ga! Semangat ya!"

Arga mengangguk, melihat punggung Nala yang menjauh dengan terburu-buru. Di tengah kekacauan persiapan festival ini, dia menyadari satu hal. Dunia mereka yang sempat terpisah selama delapan tahun kini sedang bertabrakan kembali, menciptakan percikan-percikan baru yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Dan kali ini, Arga tidak akan membiarkan dirinya mundur satu langkah pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!