"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Mansion keluarga Valerio sore itu tampak begitu tenang, seolah dinding-dinding marmernya mampu meredam segala hiruk-pikuk kota New York yang tak pernah tidur.
Namun, ketenangan itu sama sekali tidak menyentuh Azeant Apolo-Valerio. Langkah kakinya yang biasanya berirama tegas kini terdengar berat dan gelisah saat ia melewati aula utama.
"Kak?"
Sebuah suara lembut dan halus menghentikan langkah Apolo. Di ujung tangga melingkar, Katie berdiri dengan keanggunan yang alami.
Gadis berusia tujuh belas tahun itu mengenakan gaun rumah sederhana namun terlihat sangat berkelas, rambutnya yang tertata rapi membingkai wajahnya yang tampak prihatin menatap sang kakak.
Apolo hanya menggelengkan kepala, mencoba menyembunyikan kekacauan batinnya. Namun, ego dan rasa frustrasinya seolah sudah mencapai batas. Ia butuh perspektif lain—perspektif seorang wanita, meskipun itu dari adiknya yang masih remaja.
"Katie," panggil Apolo, suaranya sedikit parau. "Apa barang yang paling disukai wanita?"
Katie mengerutkan keningnya, sedikit terkejut dengan pertanyaan yang sangat tidak 'Apolo' itu. Biasanya kakaknya hanya peduli pada komponen mesin atau grafik saham. Ia berjalan mendekat, menyentuh lengan kakaknya dengan lembut.
"Barang? Hmm... Pita merah? Atau mungkin bando mutiara yang sedang tren sekarang?" jawab Katie polos, mencoba memikirkan apa yang ia dan teman-temannya sukai.
Apolo kembali menggelengkan kepala, kali ini dengan helaan napas panjang. Ia menyadari kesalahannya.
Veronica bukan Katie. Veronica bukan gadis remaja yang bisa dirayu dengan aksesori rambut atau sekadar kemewahan yang dangkal. Veronica adalah badai yang terbungkus dalam ketenangan, seorang wanita yang memiliki harga diri setinggi langit meski dunianya seringkali mencoba menjatuhkannya.
Apolo hendak berbalik pergi saat Katie tiba-tiba berbicara dengan nada yang jauh lebih serius. Suaranya tidak lagi terdengar seperti adik kecil yang manja.
"Kak," Katie menatap mata biru kelabu kakaknya dengan tajam. "Jika wanita itu seperti yang aku bayangkan—wanita yang sulit Kakak taklukkan—dia biasanya tidak butuh barang mewah. Barang mewah hanya akan membuatnya merasa rendah jika ia merasa Kakak mencoba membelinya."
Apolo terpaku. Ia tidak menyangka Katie bisa melihat sejauh itu.
"Tunjukkan keseriusan. Buat dia percaya bahwa Kakak adalah tempat yang aman baginya, bukan penjara emas yang menakutkan. Jika dia lari, itu karena dia takut akan apa yang Kakak tawarkan, bukan karena dia tidak menginginkannya," lanjut Katie dengan anggun, lalu ia tersenyum tipis dan berlalu menuju ruang musik, meninggalkan kakaknya yang mematung di tengah aula.
Kata-kata Katie menghantam Apolo tepat di ulu hati. Buat dia percaya.
Apolo menyadari bahwa semalam ia telah melakukan kesalahan strategi yang fatal.
Mengucapkan kata "tanggung jawab" pada seorang wanita yang mungkin saja punya trauma akan ketergantungan adalah seperti menyodorkan borgol pada seorang narapidana yang baru saja menghirup udara bebas. Ia terlalu cepat melompat ke masa depan, sementara Veronica masih berjuang melepaskan rantai.
Dengan langkah secepat mungkin, Apolo naik ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia mengambil ponselnya, jemarinya bergerak cepat di atas layar.
Ia tahu ia tidak bisa merayu Veronica dengan kata-kata cinta yang puitis—itu akan membuatnya kabur semakin jauh. Ia harus kembali ke "bahasa" yang mereka berdua pahami. Bahasa yang membuat mereka terikat tanpa harus merasa tercekik.
Azeant: Kau di mana? Aku ingin bercinta.
Pesan itu singkat, kasar, dan langsung ke intinya. Sebuah umpan yang ia lempar untuk menarik Veronica kembali ke zona nyaman mereka: kegelapan dan nafsu tanpa nama.
Di sisi lain kota, di dalam kamar asramanya yang sempit namun rapi, Veronica baru saja meletakkan tasnya.
Kepalanya masih berdenyut karena harus berpura-pura asing saat berpapasan dengan Apolo di kampus tadi siang. Ia merasa bangga dengan aktingnya, namun hatinya terasa seperti diremas setiap kali ia mengingat tatapan terluka di mata pria itu.
Ting.
Ponselnya bergetar di atas meja belajar. Veronica membacanya dengan napas yang tertahan.
"Aku ingin bercinta," gumamnya pelan, membaca pesan itu berulang kali.
Sebuah senyum pahit muncul di bibir Veronica. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Dalam logikanya yang sedang berusaha melindungi diri, ia mengambil sebuah kesimpulan yang menurutnya paling masuk akal.
"Pasti si Valerio itu menyesal sudah bicara soal tanggung jawab semalam," batin Veronica. "Dia sadar kalau hubungan serius denganku itu mustahil, jadi sekarang dia kembali ke setelan awal. Menjadikanku sekadar teman ranjang. Hanya Vea, bukan Veronica."
Anehnya, kesimpulan itu justru membuat Veronica merasa lega. Menjadi teman ranjang berarti tidak ada risiko patah hati. Menjadi teman ranjang berarti ia masih memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Ia menginginkan hubungan seperti itu sekarang—sebuah pelarian yang intens tanpa harus takut kehilangan arah.
Vea: Sekarang?
Balasannya terkirim. Hanya butuh hitungan detik bagi Apolo untuk membalas.
Azeant: Iya. Di apartemenku.
Veronica menatap bayangannya di cermin. Ia merapikan rambutnya dan mengambil jaket denimnya kembali. Ia tahu ia sedang bermain api, dan ia tahu Apolo adalah api yang bisa menghanguskannya kapan saja. Namun, malam ini, ia lebih memilih terbakar daripada harus membeku dalam kesepian dan ketakutan yang ia ciptakan sendiri.
Tanpa membalas lagi, Veronica menyambar kunci kamarnya. Ia akan pergi ke Tribeca, kembali ke tempat di mana identitas mereka melebur menjadi satu dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa di balik pesan singkat itu, Apolo sedang menyusun rencana yang jauh lebih besar untuk meruntuhkan tembok pertahanannya, batu demi batu.
Apolo di mansionnya sedang bersiap-siap. Ia melepas kemeja formalnya dan menggantinya dengan kaus hitam yang santai. Ia tersenyum tipis, mengingat nasihat Katie. Ia tidak akan lagi memaksa Veronica untuk percaya pada kata-katanya. Ia akan membuat Veronica percaya melalui setiap sentuhan, setiap desahan, dan setiap detik kehadiran yang ia berikan.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, sang Bangsawan tidak akan membiarkan bidaknya lari dari papan catur.