NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: PERJAMUAN DI MULUT SERIGALA

​POV: DAMIAN XAVIER

​Mansion klan Xavier di Belgravia berdiri dengan keangkuhan aristokrat yang menyesakkan. Fasad batu kapur berwarna krem, kolom-kolom bergaya Korinthia, dan barisan pengawal berseragam hitam yang berdiri tegak seperti patung di tengah hujan London yang menderu pelan. Aku menatap gedung ini dengan rasa mual yang sudah lama tidak kurasakan. Ini bukan rumah; ini adalah penjara mewah tempat jiwaku dulu hampir mati.

​"Papa, jika kau terus meremas setir mobil ini, kau akan meninggalkan bekas sidik jari permanen di atas kulit jok Bentley ini. Sangat tidak efisien untuk nilai jual kembali," suara Leo memecah keheningan di dalam kabin mobil yang kedap suara.

​Aku melirik ke kaca spion tengah. Leo sedang merapikan dasi kupu-kupunya dengan presisi militer. Di sampingnya, Lea sedang memoles boneka kelincinya, namun matanya menatap tajam ke arah gerbang mansion yang mulai terbuka.

​"Papa hanya... sedikit tidak suka dengan aromanya, Leo," jawabku datar.

​"Itu bukan aroma, Papa. Itu adalah sisa-sisa feromon kecemasan yang tertinggal di ingatan bawah sadarmu," Lea menimpali, suaranya lembut namun mengandung bedah batin yang akurat. "Tapi tenang saja. Malam ini, kita tidak datang untuk mengenang masa lalu. Kita datang untuk menulis ulang hierarki."

​Aku menoleh ke arah Qinanti yang duduk di sampingku. Dia mengenakan gaun sutra berwarna zamrud gelap yang memeluk tubuhnya dengan anggun. Anting mutiara pemberian Leo berkilau di bawah lampu kabin. Tangannya melipat rapi di pangkuan, namun aku bisa melihat sorot matanya yang kini jauh lebih berani.

​"Siap, Qin?" tanyaku, menggenggam tangannya sejenak.

​"Selama kalian ada di sisiku, Damian, aku siap menjadi perisai atau pedang," jawabnya dengan nada yang membuatku yakin bahwa Alexander Xavier baru saja melakukan kesalahan terbesar dengan mengundang kami ke sini.

​Pintu mobil dibuka oleh seorang pelayan berseragam formal. Aku melangkah keluar, diikuti oleh Qinanti, dan kemudian si kembar. Kami berjalan masuk ke dalam aula utama yang diterangi oleh lampu kristal raksasa—aula yang sama tempat ayahku dulu sering memberikan titah kematian dengan segelas brandy di tangannya.

​POV: QINANTI (Mama)

​Lantai marmer yang dingin seolah mengirimkan getaran sejarah ke seluruh tubuhku. Aku merasa seperti berjalan masuk ke dalam lukisan Barok yang penuh dengan bayang-bayang gelap. Alexander Xavier sudah menunggu di ujung aula, berdiri di depan perapian besar, didampingi oleh Catherine Xavier yang tampak seperti patung es dalam balutan gaun hitam.

​“Mama, perhatikan wanita di sebelah kanan Nenek Catherine. Nyonya Beatrice, istri dari sekutu utama klan pusat. Dia sedang memegang kipasnya dengan gerakan cepat, 120 kepakan per menit. Dia sedang menyembunyikan informasi tentang sabotase di meja makan. Jangan menoleh, biarkan Kak Leo yang menangani sensornya,” suara Lea berdesir di telingaku melalui anting mutiara ini.

​Aku menarik napas, mengatur postur tubuhku. Bahu turun, dagu sejajar, senyum simetris minimalis. Sembilan tahun pelarianku telah berakhir di sini, di hadapan orang-orang yang menganggapku hanya sebagai noda.

​"Damian," suara Alexander Xavier menggema, kering dan penuh otoritas. "Kau datang membawa seluruh... sirkusmu?"

​"Aku datang membawa keluargaku, Ayah," Damian membalas, suaranya tenang namun memiliki beban yang bisa meruntuhkan kolom-kolom di ruangan ini. "Dan perkenalkan, ini Qinanti. Pemilik sah nama Xavier di sisiku."

​Catherine Xavier melangkah maju, matanya yang tajam memindai gaunku dari atas ke bawah. "Sutra yang bagus. Tapi sayangnya, etiket tidak bisa dibeli lewat kurasi seni, Nyonya Arisanti. Atau haruskah aku memanggilmu... pelarian?"

​“Mama, serangan balik sekarang. Gunakan poin tentang koleksi lukisan pribadinya yang merupakan barang jarahan perang di Eropa Timur. Lea sudah mengirim datanya ke tablet Mama lewat sinyal haptic,” instruksi Lea kembali masuk.

​Aku tersenyum manis—senyum yang kupelajari dari Lea, senyum yang menunjukkan bahwa aku tahu rahasia terdalam lawan. "Panggil aku sesukamu, Catherine. Tapi mungkin kita bisa bicara tentang lukisan Caravaggio di ruang belajar Alexander? Aku baru saja menyadari bahwa sertifikat keasliannya berasal dari pasar gelap di Warsawa. Sangat tidak elok bagi seorang Xavier untuk menyimpan barang ilegal, bukan?"

​Catherine membeku. Warna wajahnya yang pucat mendadak berubah menjadi merah padam. Alexander menyipitkan mata, tangannya yang memegang tongkat emas tampak sedikit gemetar.

​"Duduklah," perintah Alexander dingin. "Mari kita lihat seberapa pintar lidahmu di meja makan."

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Meja makan ini adalah medan perang yang sangat buruk bagi Alexander. Dia menempatkan kami di posisi yang seharusnya menjadi 'titik buta' pengintai, namun dia lupa bahwa aku telah meretas seluruh sistem CCTV mansion ini melalui sinyal Wi-Fi kulkas pintarnya di dapur sepuluh menit yang lalu.

​Aku duduk dengan tegak, tanganku bersedekap. Di depanku ada piring perak yang sangat berkilau. Di bawah meja, jemariku bergerak lincah menekan tombol pada alat kecil yang tersimpan di saku jas miniku—sebuah Spider-Bot mikro yang baru saja kulepaskan dari sepatu hak tinggi Lea saat kami berjalan masuk tadi.

​“Target terkunci di bawah meja utama. Memasang pemancar audio frekuensi rendah. Sekarang kita bisa mendengar detak jantung semua orang di meja ini,” lapor kuku lewat pikiran kepada Lea.

​“Diterima, Kak. Aku sedang membedah batin Nyonya Beatrice. Dia baru saja memasukkan sesuatu ke dalam serbetnya. Tampaknya itu adalah modul peretas untuk ponsel Papa. Sangat amatir,” balas Lea.

​Alexander mulai menuangkan anggur. "Jadi, Leo. Kudengar kau adalah ahli strategi yang membuat London bertekuk lutut secara digital?"

​"Hanya melakukan pembersihan sistem yang berkarat, Kakek," jawabku datar. "London terlalu banyak mengandalkan enkripsi abad ke-20. Itu seperti mencoba menahan serangan nuklir dengan payung kertas."

​"Kesombongan adalah variabel pertama menuju kegagalan," desis Alexander.

​"Efisiensi adalah variabel pertama menuju kemenangan, Kakek," aku menatapnya lurus ke mata, memancarkan aura Marsekal yang selama ini kupendam. "Dan saat ini, posisi duduk Kakek tidak efisien. Kakek terlalu condong ke arah kanan, mencoba menutupi fakta bahwa kaki kanan Kakek sedang mengalami tremor akibat stres finansial yang baru saja kukirimkan ke bursa saham London lima menit yang lalu."

​Alexander hampir menjatuhkan gelasnya. Di saat yang sama, seluruh lampu di ruang makan meredup sejenak, lalu kembali menyala. Itu adalah kode dari unit 'Ghost' di luar bahwa mereka telah berhasil melumpuhkan pengawal di gerbang belakang.

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Suasana perjamuan ini mulai terasa seperti ruang interogasi dengan gaun mahal. Nyonya Beatrice mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menghina cara Mama memegang garpu, namun dia tidak tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan seseorang yang sudah membedah psikologi ribuan kriminal.

​"Nyonya Beatrice," ucap Mama dengan nada sangat tenang, hampir seperti sedang mengajar anak kecil. "Anda terus-menerus melirik ke arah tas tangan Anda. Dan setiap kali pelayan lewat, pupil mata Anda melebar. Apakah Anda sedang menunggu aba-aba untuk meletakkan alat penyadap itu di bawah piring Damian?"

​Seluruh meja mendadak sunyi. Denting sendok yang jatuh ke lantai terdengar seperti ledakan.

​"A-apa yang kau bicarakan? Ini penghinaan!" teriak Beatrice, suaranya melengking tinggi—tanda klasik dari defensive projection.

​"Penghinaan adalah saat Anda berpikir kami cukup bodoh untuk tidak menyadari bahwa gelang perak yang Anda pakai adalah transmiter jarak pendek," Mama menyesap anggurnya, matanya kini berkilat dengan kecerdasan yang membuat Catherine Xavier tampak seperti amatir. "Leo, tolong matikan mainan Nyonya Beatrice. Frekuensinya mengganggu selera makan Mama."

​Leo menekan sebuah tombol di bawah meja. Tiba-tiba, suara denging nyaring keluar dari gelang Beatrice, membuatnya menjerit dan menjatuhkan tasnya. Alat penyadap kecil menggelinding di atas lantai marmer.

​"Alexander," Damian bicara, suaranya kini sepenuhnya menjadi sang Raja Mafia. "Kau mengundang kami untuk makan malam, atau untuk sirkus spionase yang gagal ini?"

​Alexander Xavier mengepalkan tangan di atas meja. "Kau pikir kau bisa menang di rumahku, Damian?"

​"Rumahmu?" Leo menyela, ia berdiri di atas kursinya, menunjuk ke arah layar proyektor yang tiba-tiba menyala di dinding aula, menampilkan dokumen legal transfer kepemilikan mansion ini ke tangan Vipera Corp. "Mansion ini baru saja menjadi jaminan atas hutang perusahaan cangkang Kakek yang kubeli sejam lalu. Secara teknis, Kakek adalah tamu di rumahku sekarang."

​POV: DAMIAN XAVIER

​Aku tidak bisa menahan senyum miringku. Melihat wajah ayahku yang memucat saat menyadari bahwa seluruh fondasi kekuasaannya telah dirampas oleh seorang anak berusia delapan tahun adalah pemandangan yang lebih memuaskan daripada memenangkan sepuluh perang mafia.

​"Keluar dari sini sekarang," desis Alexander, suaranya bergetar karena amarah yang tak tertahankan.

​"Kami akan keluar, Ayah," aku berdiri, membantu Qinanti bangkit dari kursinya. "Tapi kami membawa kuncinya. Dan untuk Catherine... jangan coba-coba menyentuh Qinanti lagi. Karena di perjamuan berikutnya, kau mungkin tidak akan memiliki meja untuk diduduki."

​Kami berjalan keluar dari aula itu dengan langkah yang mantap. Lea menggandeng tangan Qinanti, sementara Leo berjalan di sampingku, masih sibuk dengan tabletnya untuk memastikan jalur pelarian kami ke hotel tetap steril.

​Saat kami sampai di lobi, aku menoleh ke belakang sejenak. Alexander masih berdiri di sana, dikelilingi oleh puing-puing otoritasnya yang hancur. Dia terlihat tua, rapuh, dan kalah.

​"Papa," panggil Leo saat kami masuk ke dalam mobil.

​"Ya, Leo?"

​"Skor efisiensi operasional malam ini: 99/100. Mama melewatkan satu detik saat mengintimidasi Beatrice, tapi selebihnya... luar biasa," Leo memberikan jempol kecilnya.

​Aku tertawa, merangkul mereka semua. "Kau dengar itu, Qin? Kau baru saja mendapat nilai A dari Marsekal kita."

​Qinanti tertawa kecil, ia menyandarkan kepalanya di bahuku. "Aku hanya melakukan apa yang diajarkan Lea. Ternyata, melihat musuh ketakutan tanpa perlu mengangkat senjata itu... sangat melegakan."

​"Checkmate, Papa," bisik Leo sambil menekan tombol 'Lock' pada sistem keamanan mansion Xavier dari jauh.

​Malam itu, di bawah langit London yang kelam, klan Vipera telah membuktikan satu hal: tidak ada benteng yang cukup kuat untuk menahan serangan dari sebuah keluarga yang dipimpin oleh strategi bayangan. Kami baru saja mengambil rumah Alexander, dan besok... kami akan mengambil sisa kerajaannya.

​Namun, di tengah kemenangan ini, aku melihat Leo mengerutkan kening menatap monitornya. "Ada apa, Leo?"

​"Sebuah sinyal baru, Papa. Dari arah Rusia. Sepertinya Alexander memiliki 'kartu mati' yang belum dia keluarkan. Sebuah aliansi tua yang bahkan lebih berbahaya daripada klan pusat."

​Aku mengepalkan tangan. Perang ini baru saja naik ke level internasional. Tapi melihat Qinanti yang kini tersenyum berani, aku tahu kami tidak akan pernah kalah. Karena di papan catur ini, raja tidak lagi berjuang sendirian.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!