Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Akan Kehilanganmu
Bab 25 – Aku Tidak Akan Kehilanganmu
“Ibu…”
Suara Alya pecah di tengah kegelapan aula mansion.
Suara tembakan masih terdengar bertalu-talu dari luar.
DOR! DOR! DOR!
Lampu darurat menyala berkedip-kedip dengan cahaya merah menyala, membuat seluruh pemandangan di sana terlihat seperti adegan mimpi buruk.
Kael langsung menarik tubuh Alya ke belakang punggungnya, melindunginya sepenuhnya.
“Riko, tutup semua akses di sisi timur! Jangan biarkan satu pun musuh masuk!”
“Siap, Tuan!”
Ayah Kael berteriak memerintah pasukannya.
“Cari Darius! Aku mau dia hidup-hidup!”
Alya menepis tangan Kael dengan kasar.
“Aku harus cari Ibu sekarang juga!”
“Tidak.”
“Jangan mulai lagi!”
Kael menatapnya tajam.
“Di luar sana sedang perang, Alya. Kau tidak bisa sembarangan keluar.”
“Dia ibuku!”
“Dan kau… nyawaku.”
Kalimat pendek itu membuat Alya terdiam sejenak. Jantungnya berdegup kencang mendengarnya.
Kael sendiri tampak tak peduli bahwa kalimat itu terdengar oleh semua orang di ruangan itu.
Ayahnya menoleh dengan wajah kesal.
“Bisa tidak kalian romantis-rontis dulu? Situasi lagi genting begini lho.”
Alya membelalakkan mata.
“INI BUKAN ROMANTIS!”
Kael tetap datar.
“Benar. Ini pernyataan.”
BRAAKK!!!
Ledakan kedua mengguncang bangunan hingga kaca jendela pecah berhamburan ke dalam.
Beberapa pria bersenjata lengkap berhasil menerobos masuk dari arah taman depan.
Tanpa ragu sedikit pun, Kael mengeluarkan pistol dari pinggangnya dalam satu gerakan cepat dan halus.
DOR! DOR!
Dua orang penyerang langsung tumbang seketika.
Alya menjerit ketakutan dan langsung menunduk memeluk kepala.
“Aduh Tuhan! Aku benci hidupku!”
Kael menembak lagi tanpa perlu menoleh ke belakang.
“Aku malah mulai menyukainya.”
“Kamu gila!”
“Fokuslah.”
Ia kembali menarik tangan Alya dan mengajaknya berlindung di balik pilar marmer besar yang kokoh.
Di sisi lain, ayah Kael juga ikut bersembunyi sambil memegang sebuah pistol berwarna emas yang terlihat mewah dan mematikan.
Alya melongo melihatnya.
“Kamu juga bisa nembak?!”
Pria tua itu mengangkat alisnya santai.
“Aku membangun kerajaan ini dengan pistol, Alya. Bukan dengan kalkulator dan kertas kerja.”
“Kenapa sih semua orang di keluarga ini menyeramkan sekali?!” keluh Alya.
Kael menoleh sekilas.
“Karena kau sekarang bagian dari keluarga ini.”
“AKU MENOLAK!”
Riko berlari tergopoh-gopoh mendekati mereka di tengah kekacauan.
“TUAN! Darius mengirim utusan! Dia mau pertukaran!”
Kael menyipitkan mata.
“Di mana dia?”
“Di gerbang depan, Tuan. Dia berdiri di sana sambil memegang Nona Mira.”
Tanpa pikir panjang, Alya langsung bangkit berdiri.
“Aku ke sana!”
Tangan kuat Kael kembali mencengkeram pinggangnya dan menariknya mundur.
“Kau tetap di sini.”
“LEPAS!”
“Tidak.”
“KAEL!!!”
Pria itu mendekatkan wajahnya, sangat dekat meski peluru masih beterbangan di sekitar mereka.
“Kalau kau nekat pergi ke sana dan sesuatu terjadi padamu…”
Napasnya berat dan terdengar berbahaya.
“Aku akan hancurkan kota ini sampai rata dengan tanah.”
Alya menelan ludah dengan susah payah.
“Kamu selalu berlebihan.”
“Tidak soal kau.”
Jantung Alya berdebar liar di waktu yang paling tidak tepat.
Ayah Kael mengumpat kesal dari samping.
“Kalau kalian sudah selesai saling tatap, ingatlah ada sandera yang menunggu!”
Mereka akhirnya bergerak menuju gerbang utama dengan pengawalan ketat.
Hujan mulai turun sangat deras membasahi bumi.
Di luar pagar besar mansion, Darius berdiri tegak dengan wajah gila. Di sampingnya, Mira—ibu Alya—terikat tangan dan kakinya, dengan pistol ditodongkan tepat ke pelipisnya. Wajah wanita itu pucat pasi dan ketakutan.
“IBU!!!” teriak Alya histeris.
Mira menoleh dan langsung menangis melihat putrinya.
“Alya! Jangan mendekat! Bahaya!”
Darius tertawa keras mendengarnya.
“Haha! Keluarga bahagia akhirnya berkumpul juga.”
Kael maju beberapa langkah ke depan, tatapannya membunuh.
“Lepaskan wanita itu sekarang juga.”
Darius menyeringai jahat.
“Boleh. Asalkan kau berikan gadis itu padaku sebagai gantinya.”
Alya langsung melangkah maju.
“AKU IKUT! LEPAS IBUKU!”
Kael menariknya kasar kembali ke belakang tubuhnya.
“Diam kau.”
Darius tertawa mengejek.
“Masih saja posesif sekali. Menjijikkan.”
Kael mengangkat pistolnya siap menembak.
“Kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup.”
Darius menekan laras pistolnya lebih keras ke kepala Mira.
“Coba saja. Kita mati bersama.”
Alya gemetar hebat, air matanya jatuh bercampur air hujan.
“Tolong… jangan sakiti ibuku… aku mohon…”
Mira menatap putrinya dengan mata penuh air mata.
“Maafkan Ibu… maafkan Ibu ya Nak…”
Tiba-tiba ayah Kael melangkah maju ke samping putranya. Wajahnya tampak sangat gelap dan dingin.
“Darius.”
Pria itu menoleh.
“Oh? Tuan Besar masih bernapas rupanya.”
“Sayangnya untukmu, ya.”
“Aku sudah simpan rahasia kotor keluarga ini selama dua puluh dua tahun lho. Tidak ada rasa terima kasih sedikit pun?” ejek Darius.
Ayah Kael mengangkat pistolnya perlahan.
“Aku sudah bayar mahal untuk kebisuanmu.”
Darius tertawa lebar.
“Tidak semahal harga anak perempuanmu sendiri.”
Tubuh Alya membeku.
“Apa maksudmu?”
Darius menatap Alya dengan senyum yang sangat menyeramkan dan gila.
“Mau tahu kenapa ibumu kabur waktu itu?”
“JANGAN!!!” teriak Mira panik berusaha mencegah.
Namun Darius justru berteriak semakin keras dengan nada puas.
“KARENA AYAHMU MENJUALMU SAAT KAU MASIH BAYI!!!”
BRUK!
Dunia Alya seakan runtuh seketika. Kakinya lemas tak bertulang.
“Apa…?” bisiknya nyaris tak terdengar.
Kael menegang kaku di sampingnya.
Dan untuk pertama kalinya, wajah ayah Kael terlihat pucat dan kehilangan kata-kata.
“Bohong… itu semua bohong…” gumam Alya tak percaya.
Darius tertawa semakin liar.
“AKU SENDIRI YANG MENGANTAR KAU KE PEMBELINYA WAKTU ITU!”
“DIAM!!! DIAM!!!” tangis Mira histeris.
Alya mundur selangkah, kakinya terasa berat sekali.
Kael langsung menyambar dan menopang tubuhnya yang hampir roboh.
“Lihat aku, Alya. Fokus padaku,” bisiknya rendah dan menenangkan.
Namun telinga Alya berdenging hebat. Ia tak bisa mendengar apa pun selian kalimat mengerikan itu.
Darius tertawa semakin keras memecah hujan.
“Dan kau tahu siapa orang yang membeli bayi mungil itu?”
Ia menatap lurus ke arah Kael dengan tatapan penuh kebencian.
“MUSUH TERBESAR KELUARGA LORENZO!”