NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cakrawala

Dua Wajah Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta “Kabur” dan Podcast Masker Hitam

Setelah pengumuman nilai simulasi yang bikin otak berasap dan perdebatan dingin dengan Adrian di koridor, Aruna memutuskan untuk benar-benar mogok belajar. Sore ini, Aruna resmi "diculik" oleh trio maut: Shasa, Jelita, dan Lulu. Markas besar mereka? Rumah Shasa yang sedang kosong melompong.

"Pokoknya hari ini haram hukumnya bahas mitokondria, DNA, atau kawan-kawannya!" seru Shasa sambil membanting pintu pagar rumahnya dengan semangat.

Begitu masuk ke ruang tengah, Shasa langsung menyalakan AC ke suhu paling dingin. "Ayo, Aruna Aradhana! Sang juara kedua nasional kita, silakan duduk di singgasana karpet bulu ini!" Jelita membimbing Aruna dengan gaya lebay, seolah-olah Aruna sedang berjalan di *red carpet*.

"Gue masih nggak nyangka lo bisa tetep dapet nilai segitu padahal hari Minggunya lo malah 'belajar' karburator bareng si jagoan basket," goda Lulu sambil mengeluarkan stok camilan dari tas belanjaannya.

"Stop! Jangan mulai bahas itu dulu," Aruna tertawa, merebahkan dirinya di karpet. "GUE BEBAS!"

---

Ritual wajib pun dimulai: **Skincare-an Masal**. Shasa mengeluarkan masker lumpur hitam yang pekat. Dalam waktu sepuluh menit, wajah mereka berempat sudah berubah jadi hitam legam, menyisakan lubang mata dan mulut saja.

"Sini lo, Na. Gue pakein biar beban pikiran lo keserap semua," kata Shasa sambil mengoleskan pasta hitam ke dahi Aruna.

Sambil menunggu masker kering, Jelita mulai memancing. "Halah, alasan doang lo Na bilang kasihan! Awalnya aja musuhan, tiap ketemu di koridor udah kayak kucing sama anjing mau cakar-cakaran, eh ujung-ujungnya malah liat *sunset* bareng di atas bukit kemaren. Romantis banget nggak tuh?"

"Bener banget!" timpal Shasa sambil tertawa, membuat maskernya retak-retak di bagian pipi. "Inget nggak dulu pas awal semester? Lo bilang ke kita sambil pasang muka jijik gitu, *'Aduh, males banget deh gue kalau harus berurusan sama cowok urakan kayak Aska'*. Mana sekarang? Kemarin ogah-ogahan, sekarang malah nempel di jok belakang!"

Aruna mencoba menutupi wajahnya yang panas di balik masker hitamnya, "Apaan sih? Orang gitu doang. Itu tuh namanya misi penyelamatan darurat dari kebosanan tingkat dewa, bukan kencan! Lagian dia cuma ngajak gue refreshing karena dia tau gue udah *over* banget sama belajar."

"Halah, *denial* terus!" Shasa tiba-tiba berdiri dan mengambil sisir rambutnya, menjadikannya mikrofon darurat. "Guys, mumpung lagi kumpul dan muka kita lagi kayak hantu, gimana kalau kita bikin podcast dadakan? Judulnya: **'Dari Benci Jadi Boncengan: Kisah Si Anak Pintar dan Jagoan Karburator'**."

Lulu dan Jelita langsung setuju. Mereka duduk melingkar dengan gaya sok profesional, meski wajah mereka semua hitam-hitam.

"Oke, tes satu dua," Shasa berlagak jadi host podcast. "Selamat malam sobat ambyar SMA Cakrawala! Hari ini kita kedatangan tamu spesial, Aruna 'Si Paling Logika' Aradhana. Na, gimana rasanya dapet asupan polusi tapi hati berbunga-bunga? Apakah bau knalpot lebih wangi daripada parfum Kak Adrian?"

Aruna tertawa sampai tersedak kacang. "Gila lo semua! Nggak ada podcast-podcastan!"

"Ayo dijawab narasumber kita! Jangan menghindar!" Jelita mendekatkan botol air minum ke mulut Aruna seolah itu *mic*. "Apakah bener rumor kalau lo udah mulai hafal jenis-jenis kunci inggris demi Askara?"

"Enggak! Gue cuma bantu baca manual book doang karena dia kasihan liat gue dikekang belajar terus!" bela Aruna sambil mencoba merebut 'mic' botol itu.

---

Suasana makin pecah. Jelita tiba-tiba menyambar *mic* karaoke *portable* yang sudah terkoneksi ke speaker. Lulu mulai memukul-mukul kaleng biskuit bekas dengan irama gendang yang mantap.

"Udah, mending kita *closing* podcast ini dengan lagu kebangsaan kita kalau lagi dapet gosip panas!" teriak Jelita.

Tanpa aba-aba, Shasa dan Jelita langsung berdiri di atas sofa, menggoyangkan badan mereka dengan heboh. Masker di wajah mereka sudah retak seribu karena mereka tertawa sambil bernyanyi.

*”Cinta satu malam... Oh indahnyaaa!"* Shasa mulai bernyanyi dengan suara yang sengaja dicemprengkan dan cengkok dangdut yang dipaksakan.

*"Cinta satu malam... buat ku melayang\~!"* Jelita menyambung sambil menarik tangan Aruna agar ikut berdiri dan berjoget.

Aruna yang awalnya malu-malu, akhirnya menyerah. Ia ikut berdiri di tengah-tengah mereka, memegang sisir, dan mulai berjoget konyol sambil menyanyikan liriknya dengan lantang.

*"CINTA SATU MALAM, TAPI BONCENGANNYA SELAMANYA YA, NA!"* teriak Shasa di sela-sela lagu, yang langsung dibalas Aruna dengan tawa kencang sambil mencubit lengan sahabatnya itu.

Mereka berempat menyanyi dan menari di ruang tengah itu seolah-olah tidak ada hari esok. Tidak ada beban peringkat, tidak ada bayang-bayang Adrian yang serius, tidak ada buku biologi yang tebal. Hanya ada empat sahabat dengan wajah hitam penuh masker yang sedang merayakan kebebasan.

---

Setelah konser dadakan itu berakhir, mereka semua tepar di atas karpet bulu, napas mereka terengah-engah karena terlalu banyak tertawa dan berjoget.

"Aduh, perut gue sakit banget, gila," gumam Lulu sambil memegangi perutnya.

"Tapi jujur ya, Na," Shasa menoleh, menatap Aruna dengan tulus di balik maskernya yang mulai mengelupas. "Gue seneng liat lo begini. Selama ini lo tuh kayak robot. Sekarang lo kelihatan... hidup. Ternyata si Aska ada gunanya juga ya buat ngebongkar tembok lo."

Aruna tersenyum tipis. "Gue juga nggak nyangka, Sha. Ternyata sesekali nggak jadi 'anak pinter' itu rasanya luar biasa."

"Eh, denger deh!" Lulu menunjuk ponsel Shasa yang menyala.

Aruna menyambar ponsel itu dan melihat daftar penonton *story* masker hitam mereka. Jantungnya hampir copot. Mereka tidak meng-upload bagian podcast karena pasti bakalan ada masalah besar jika mereka memposting itu, yang mereka posting hanyalah nyanyian yang aur-auran dengan suara yang fals.

"Mampus! Adrian sama Aska udah liat!" teriak Aruna panik.

"Hahahaha! Biarin aja!" Shasa tertawa puas. "Biar Adrian tau lo bisa gila, dan biar Aska makin gemes liat 'anak pinter'-nya ternyata hafal lagu Cinta Satu Malam!"

Malam itu, di rumah Shasa, Aruna benar-benar menemukan kembali dirinya. Ia bukan lagi sekadar angka di papan pengumuman. Ia adalah Aruna yang bisa tertawa, bisa gila, dan mungkin... mulai berani untuk jatuh cinta.

---

1
Eti Alifa
bacanya merinding thor....nano2 jg.
Alex
😭😭😭😭
nyesek didada rasanya
Alex
bawangnya terlalu banyak thor😭😭
lanjut thor
minttea_: hehehe, siappp tetep terus dukung author dan baca ceritanya ya😍
total 1 replies
Eti Alifa
bagus bngt ceritanya, sumpah authornya jenius.
👍🏻
minttea_: wow, makasih banyak kak💐✨
total 1 replies
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!