Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Setelah melewati hari-hari yang penuh dengan perjuangan fisik dan mental, titik terang akhirnya muncul bagi keluarga Karadağ.
Hari itu adalah hari terakhir ujian susulan Aliya. Saat bel penanda ujian berakhir berbunyi di dalam kamar rawat, Aliya meletakkan penanya dengan napas lega yang panjang.
Tak lama kemudian, dokter kepala masuk untuk melakukan pemeriksaan terakhir.
Setelah memeriksa hasil laboratorium dan kondisi vital Aliya, ia tersenyum lebar.
"Kondisi fisikmu pulih dengan sangat cepat, Aliya. Racun itu sudah benar-benar bersih dari sistem tubuhmu. Hari ini, kamu diperbolehkan pulang."
Kabar itu disambut dengan sukacita yang luar biasa.
Emirhan yang baru saja tiba dari kantor segera memeluk Aliya dengan penuh kasih.
Sementara itu, Onur tidak tinggal diam. Ia telah memberikan instruksi khusus kepada seluruh pelayan di mansion untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Kedatangan di Mansion Karadağ, Aliya melangkah masuk ke mansion dengan dipapah lembut oleh Emirhan.
Di belakang mereka, Zartan mengikuti dengan membawa barang-barang, sementara Maria dan Onur berjalan berdampingan.
Suasana mansion terasa jauh lebih hangat dan bersih, seolah aura gelap yang ditinggalkan Zaenab telah menguap sepenuhnya.
"Aliya, Ayah sudah menyiapkan sesuatu untukmu," ucap Onur sambil menuntun mereka menuju lantai dua, di sayap bangunan yang paling mendapat sinar matahari pagi.
Onur membuka pintu sebuah kamar besar yang didominasi warna krem dan pastel.
Kamar itu bukan sekadar kamar tidur biasa; ada balkon luas yang menghadap ke taman bunga, sudut perpustakaan mini untuk Aliya belajar, dan fasilitas medis yang tersembunyi dengan rapi namun siap digunakan jika diperlukan.
"Ini kamar khusus untukmu, Nak. Ayah ingin kamu merasa aman dan nyaman di sini, sebagai bagian dari keluarga ini," lanjut Onur.
Aliya menatap sekeliling dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, Ayah Onur. Ini terlalu indah."
Malam harinya, setelah makan malam keluarga yang penuh kehangatan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga.
Onur duduk di kursi kebesarannya, namun kali ini wajahnya tampak jauh lebih lembut.
"Sekarang Aliya sudah sehat dan urusan masa lalu sudah kita selesaikan," buka Onur sambil menatap Emirhan dan Aliya secara bergantian.
"Ayah rasa tidak ada alasan lagi untuk menunda apa yang seharusnya sudah terjadi sejak lama."
Emirhan menggenggam tangan Aliya di hadapan semua orang.
"Aku setuju, Ayah. Aku ingin segera meresmikan hubungan kami. Aku ingin Aliya menjadi istriku secara sah, bukan hanya untuk melindunginya, tapi karena aku memang tidak bisa membayangkan hidup tanpanya."
Maria tersenyum haru, sementara Zartan mengangguk setuju dari sudut ruangan.
"Aku akan menjadi orang pertama yang memastikan pernikahan ini menjadi yang paling aman dan megah di Istanbul," celetuk Zartan dengan gaya khasnya yang mulai cair.
Onur mengangguk mantap. "Kita akan mulai menyiapkan upacara pertunangan bulan depan, diikuti dengan pesta pernikahan setelah pengumuman kelulusan Aliya. Aku ingin dunia tahu bahwa Aliya adalah menantu klan Karadağ, dan tidak ada lagi yang boleh meremehkannya."
Aliya tersenyum malu-malu, menatap Emirhan dengan penuh cinta.
Di tengah semua kemelut dan pengkhianatan yang sempat menghancurkan mereka, rencana pernikahan ini menjadi simbol kemenangan cinta atas segala dendam masa lalu. Namun, di balik kebahagiaan itu, mereka tidak menyadari bahwa di paviliun belakang, Hakan masih mengawasi mereka dengan mata yang penuh dengan rencana gelap.
Suasana hangat di ruang keluarga itu sedikit terusik ketika suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Hakan muncul dengan wajah yang jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
Tidak ada lagi gurat amarah atau tatapan tajam; ia justru mengenakan senyum yang tampak sangat tulus, sebuah topeng sempurna yang telah ia siapkan dengan rapi.
Hakan berjalan mendekat dan ikut bergabung di lingkaran keluarga itu, duduk di sofa tunggal tak jauh dari Emirhan.
"Aku mendengar semuanya dari atas," ujar Hakan dengan nada suara yang ringan.
"Selamat, Kak Emir, Aliya. Sepertinya mansion ini akan segera berpesta."
Onur menatap putra bungsunya itu dengan sedikit terkejut namun merasa lega.
Ia berharap Hakan akhirnya bisa menerima kenyataan pahit tentang ibunya dan memilih untuk berdamai dengan keadaan.
"Terima kasih, Hakan," jawab Emirhan singkat, meski matanya tetap waspada mengamati gerak-gerik adiknya.
Hakan kemudian menoleh ke arah Aliya yang masih tampak sedikit canggung.
"Bagaimana kalau besok kita rayakan kembalinya Aliya ke rumah ini? Sekaligus merayakan selesainya ujianmu. Kita bisa mengadakan makan siang besar di taman belakang," ujar Hakan dengan nada mengusul yang sangat ramah.
Onur menganggukkan kepalanya, merasa usul itu adalah ide yang bagus untuk mencairkan ketegangan di antara anak-anaknya.
"Ayah setuju. Itu ide yang bagus, Hakan. Kita butuh momen untuk benar-benar merasa seperti satu keluarga lagi."
"Tentu, Ayah. Biar aku yang membantu menyiapkan detailnya bersama para pelayan besok," tambah Hakan lagi.
Hakan tersenyum tipis—sebuah senyum yang bagi Onur adalah simbol perdamaian, namun bagi Hakan adalah sebuah awal dari permainan baru.
Di balik keramahannya, ia tahu bahwa pesta di taman besok adalah kesempatan emas untuk menjalankan rencana yang telah ia susun bersama Laura.
Malam itu, di bawah atap mansion Karadağ yang megah, kebahagiaan dan pengkhianatan duduk di meja yang sama, menunggu matahari terbit untuk menentukan siapa yang akan bertahan paling akhir.
Setelah percakapan di ruang keluarga berakhir, Emirhan bangkit dan mengulurkan tangannya pada Aliya.
Ia membawa Aliya menjauh dari tatapan Hakan yang masih membuatnya merasa waspada, menuntun gadis itu kembali ke kamarnya yang baru.
Di dalam kamar yang tenang dan harum aroma lavender itu, Emirhan tidak langsung pergi.
Ia berdiri di hadapan Aliya, menatap wajah yang sempat pucat pasi akibat racun itu dengan penuh rasa syukur.
Perlahan, Emirhan melingkarkan lengannya, memeluk tubuh calon istrinya dengan sangat erat namun lembut, seolah takut Aliya akan menghilang jika ia lepaskan.
"Aku sudah tidak sabar untuk menikah denganmu, Aliya," bisik Emirhan tepat di telinganya.
"Aku ingin setiap hari bangun dan melihatmu ada di sampingku, tanpa harus mengkhawatirkan ada orang yang menyakitimu lagi."
Aliya menyandarkan kepalanya di dada bidang Emirhan, mendengarkan detak jantung pria itu yang menenangkan.
"Aku juga, Emir. Aku ingin masa sulit ini segera berlalu dan kita bisa memulai hidup baru."
Emirhan melepaskan pelukannya perlahan, lalu menuntun Aliya untuk berbaring di atas tempat tidur yang empuk.
Dengan penuh perhatian, Emir mengambil selimut berbahan lembut dan menyelimuti tubuh Aliya hingga sebatas dada, memastikan gadis itu tidak kedinginan.
"Istirahatlah. Kamu sudah bekerja keras untuk ujian dan pemulihanmu," ucap Emirhan sambil mengecup kening Aliya dengan lembut.
"Sampai jumpa besok pagi, Sayang."
Emirhan berjalan menuju pintu dan mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram. Namun, sebelum benar-benar kembali ke kamarnya, Emirhan sempat menoleh sekali lagi ke arah balkon.
Pikirannya kembali pada usul Hakan tentang perayaan besok.
Meski ia ingin percaya pada adiknya, instingnya sebagai seorang Karadağ berbisik bahwa ia tidak boleh lengah sedikit pun di rumah ini.
Kegelapan menyelimuti mansion Karadağ saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi.
Aliya tiba-tiba terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering.
Ia menoleh ke arah meja nakas, namun teko airnya kosong.
Dengan langkah gontai dan mata yang masih setengah terpejam, ia bangkit dari tempat tidur dan memutuskan untuk turun ke dapur sendirian.
Suasana mansion sangat sunyi, hanya suara detak jam dinding yang bergema di lorong.
Aliya berjalan perlahan melewati deretan kamar, termasuk kamar Emirhan yang tertutup rapat.
Ia tidak ingin membangunkan calon suaminya yang pasti sedang kelelahan setelah hari yang panjang.
Sesampainya di dapur yang temaram, Aliya mengulurkan tangan untuk mengambil sebuah gelas kaca di rak. Namun, sebelum jemarinya menyentuh gelas itu, sebuah bayangan bergerak cepat dari balik pilar.
Grep!
Sebuah tangan kekar dengan kasar menutup mulut Aliya menggunakan sehelai kain yang telah dibasahi cairan kimia beraroma tajam.
"Mmmmpphh!! Mmmpphh!"
Aliya memberontak sekuat tenaga. Matanya membelalak ketakutan, menatap ke arah lantai atas—ke arah kamar Emirhan yang hanya terpaku bisu di kejauhan.
Ia berharap Emirhan memiliki ikatan batin yang kuat untuk terbangun, namun cairan bius itu bekerja terlalu cepat.
Dalam hitungan detik, pandangan Aliya mengabur, tubuhnya melemas, dan ia langsung jatuh pingsan di pelukan pria itu.
Hakan melepaskan kainnya dan tersenyum licik. Ia menatap wajah Aliya yang tak sadarkan diri dengan tatapan penuh kemenangan.
"Pesta besok akan menjadi sangat meriah, Aliya. Tapi bukan seperti yang Ayah bayangkan," desisnya.
Dengan cekatan, Hakan menggendong tubuh Aliya melewati pintu belakang yang sengaja ia biarkan tidak terkunci.
Ia membuka bagasi mobilnya yang sudah terparkir di sudut gelap halaman mansion, lalu merebahkan Aliya di dalamnya dengan kasar.
Brak!
Suara pintu bagasi yang tertutup terdengar seperti vonis bagi ketenangan keluarga Karadağ.
Hakan segera masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin tanpa lampu utama, dan perlahan melajukan mobilnya keluar dari gerbang belakang.
Ia harus pergi sejauh mungkin sebelum matahari terbit, sebelum Emirhan atau Zartan menyadari bahwa pengantin mereka telah hilang ditelan kegelapan malam.