NovelToon NovelToon
DI ANTARA DUA KHUTBAH

DI ANTARA DUA KHUTBAH

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: SKAKMAT DALAM KEGELAPAN

Tiga hari berlalu sejak "Pesta Gotong Royong" di Tebet. Permukaan air tampak tenang, bahkan terlalu tenang. Truk-truk bahan baku dari Solo dan Pekalongan telah tiba, produksi berjalan 24 jam dengan sistem shift warga, dan pesanan ekspor yang dikelola Bagus justru meningkat karena simpati global terhadap gerakan "Local Wisdom vs Global Greed".

Victoria Sterling, yang mengira akan melihat keruntuhan dalam 24 jam, kini terjebak dalam kemarahan yang dingin. Ia duduk di suite paling atas Hotel Ritz-Carlton Jakarta, menghadap jendela yang menampilkan lampu-lampu kota. Di hadapannya, tiga orang pria duduk dengan wajah tegang. Mereka bukan pengacara biasa. Mereka adalah fixer—ahli strategi kotor yang dibayar mahal untuk menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan di pengadilan.

"Kalian bilang ini tidak mungkin?" suara Victoria rendah, bergetar karena amarah yang ditahan. "Satu kampung kumuh mengalahkan Vanderbilt Corp? Jangan buat aku tertawa."

Salah satu fixer, seorang pria berkacamata tebal bernama Tuan Li, membersihkan kacamatanya dengan sapu tangan sutra. "Nona Victoria, masalahnya bukan pada ekonomi. Masalahnya adalah... Aris Pratama bukan sekadar pengusaha. Kami telah menggali masa lalunya lebih dalam. Ada sesuatu yang hilang dari catatan publiknya."

"Maksudmu?" Victoria menajamkan pandangannya.

"Aris tidak muncul begitu saja sepuluh tahun lalu," lanjut Tuan Li misterius. "Sebelum menjadi 'Ustadz Miliarder', jejak digitalnya terhapus total. Tapi kami menemukan pola. Setiap kali ada krisis besar di Asia Tenggara, selalu ada anonimitas yang bergerak di belakang layar, menyelamatkan pasar dengan cara yang tidak masuk akal secara logika bisnis, tapi sangat efektif secara sosial. Kami curiga... Aris adalah otak di balik jaringan 'Bayangan' itu."

Victoria terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ini bukan lagi soal persaingan bisnis biasa. Ini seperti bermain catur melawan hantu.

"Lalu apa rencananya?" tanya Victoria tajam

"Kami tidak bisa menyerang langsung. Jika kita kirim preman, warga akan melawannya dengan bambu runcing dan viralisasi. Jika kita gugat hukum, Aris sudah menyiapkan pertahanan berbasis syariah dan dukungan pemerintah daerah yang kuat. Kita butuh serangan yang tidak terlihat. Serangan yang menghancurkan dari dalam," kata Tuan Li sambil tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. "Kita akan gunakan 'Trojan Horse'."

"Jelaskan," perintah Victoria.

"Besok malam, ada acara syukuran panen raya pertama di Tebet. Aris akan mengundang semua mitra, termasuk perwakilan bank dan notaris untuk menandatangani kontrak koperasi baru secara massal," jelas Tuan Li. "Kami akan menyusupkan seseorang ke dalam acara itu. Seseorang yang sangat dipercaya oleh Aris. Seseorang yang akan membawa 'hadiah' khusus."

Victoria menyipitkan mata. "Siapa?"

Tuan Li tidak menjawab langsung. Ia hanya menekan sebuah tombol di meja, dan sebuah foto muncul di layar proyektor. Foto seorang pria tua, bersahaja, dengan sorban putih. Wajah yang sangat dikenal oleh Aris.

"Guru Mansur," bisik Victoria, terkejut. "Guru ngaji pertama Aris? Orang yang paling ia hormati?"

"Tepat sekali," sahut Tuan Li. "Kami telah... meyakinkan Guru Mansur bahwa Aris sedang tersesat, bahwa gerakan ini akan membawa bencana bagi umat karena menarik perhatian iblis internasional. Beliau datang besok dengan niat baik, membawa sebuah dokumen 'fatwa' palsu yang kami rekayasa, yang menyatakan bahwa kerjasama dengan koperasi non-syariah (yang sebenarnya murni syariah) adalah haram. Jika Aris menolaknya, ia akan dianggap durhaka pada guru. Jika ia menerimanya, seluruh struktur koperasi akan runtuh karena kehilangan legitimasi agama. Ini adalah checkmate psikologis."

Victoria tertawa pelan, tawa yang dingin dan memuaskan. "Brilian. Menggunakan agama dan rasa hormat sebagai pisau. Aris tidak akan pernah menduga gurunya sendiri adalah pion kita."

"Jangan terlalu percaya diri, Nona," peringatan Tuan Li. "Aris sangat cerdas. Jika dia mencurigai sedikit saja..."

"Dia tidak akan curiga," potong Victoria arogan. "Cinta dan hormat adalah blind spot terbesar manusia. Besok malam, kerajaan pasirnya akan runtuh."

Malam berikutnya, Masjid Ar-Rahman dipenuhi ribuan lampu lampion warna-warni. Suasana pesta rakyat terasa kental. Anak-anak berlarian, ibu-ibu membagikan nasi tumpeng, dan para pemuda memainkan musik gambus modern.

Aris berdiri di panggung utama, wajahnya berseri. Namun, mata tajamnya sesekali menyapu kerumunan, seolah merasakan adanya gangguan dalam frekuensi udara. Instingnya berteriak bahwa ada sesuatu yang salah, tapi ia belum tahu apa.

Rina, yang kini perutnya sudah mulai terlihat membulat, duduk di sisi panggung, tersenyum pada warga. "Kak, lihat mereka bahagia sekali," bisiknya pada Aris.

"Iya, Rin. Ini buah dari perjuangan kita," jawab Aris lembut. Tapi tangannya secara refleks meraba saku gamisnya, di mana sebuah ponsel khusus tersimpan. Pesan singkat tadi sore dari kontak rahasia membuatnya waspada: "Hati-hati pada tamu kehormatan malam ini. Ada angin buruk dari arah timur."

Tiba-tiba, kerumunan terbelah. Sorak sorai terdengar.

"Guru Mansur datang! Guru Mansur datang

Seorang pria tua berjalan perlahan menuju panggung, didampingi oleh dua orang asing yang berpakaian rapi namun terlihat kaku. Itu adalah Guru Mansur. Wajahnya teduh, tapi matanya menghindari tatapan Aris.

Aris segera turun dari panggung, menyambut gurunya dengan takzim. Ia membungkuk dalam-dalam, mencium tangan pria tua itu. "Guru... terima kasih sudah datang. Kehadiran Guru adalah berkah bagi kami malam ini."

Guru Mansur menarik tangannya perlahan. Ekspresinya datar, hampir kaku. "Aris... anakku. Aku datang bukan untuk bersenang-senang. Aku datang untuk menyelamatkanmu."

Suasana seketika berubah hening. Musik berhenti. Warga saling berpandangan bingung.

"Menyelamatkan saya, Guru?" tanya Aris pelan, tapi otaknya bekerja keras menganalisis setiap mikro-ekspresi gurunya. Ada getaran kecil di tangan Guru Mansur. Ada keringat dingin di pelipisnya. Ini bukan perilaku normal sang guru yang biasanya sangat tenang.

"Ini," Guru Mansur mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari jubahnya. Suaranya bergetar. "Ini adalah fatwa darurat dari majelis ulama... yang menyatakan bahwa model koperasi yang kamu bangun mengandung unsur gharar (ketidakjelasan) yang besar karena campur tangan pihak asing yang tidak jelas asal-usul dananya. Kamu diperintahkan untuk membubarkan koperasi ini sebelum fajar menyingsing. Atau... kamu akan dikafirkan."

Gasps terdengar dari kerumunan. Kata "dikafirkan" adalah vonis sosial yang mematikan di komunitas religius seperti ini

Rina pucat pasi. Bagus, yang berdiri di dekat panggung, mengepalkan tangan. "Ini tidak masuk akal! Koperasi kita murni syariah! Siapa yang mengeluarkan fatwa ini?"

"Diam!" bentak Guru Mansur, suaranya tidak wajar, terlalu keras. "Apakah kalian mau membantah ulama?"

Aris tidak bergerak. Ia menatap gulungan kertas itu, lalu menatap mata gurunya dalam-dalam. Detik-detik berlalu seperti abad. Dalam keheningan itu, Aris melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat. Di jari manis Guru Mansur, terdapat cincin batu akik merah yang biasanya tidak pernah dipakai gurunya. Dan di batu itu, terpantul cahaya lampu dengan pola aneh—sebuah kode morse halus yang pernah diajarkan oleh mentor rahasianya bertahun-tahun lalu saat pelatihan intelijen keuangan.

Kode itu berbunyi: T-O-L-O-N-G. D-I-P-A-K-S-

Mata Aris menyala. Semua teka-teki tersusun. Gurunya bukan pengkhianat. Gurunya adalah sandera. Dokumen itu palsu. Ancaman kafir adalah rekayasa. Dan dalangnya pasti Victoria, yang menggunakan cara paling keji: memanipulasi hubungan spiritual.

Aris tersenyum. Senyum yang membuat Tuan Li, yang mengintip dari kejauhan bersama antek-anteknya, merasa dingin sekujur tubuh. Senyum itu bukan senyum ketakutan. Itu adalah senyum seorang predator yang akhirnya menemukan mangsanya.

"Guru," ucap Aris lembut, suaranya terdengar jelas ke seluruh penjuru masjid berkat akustik alami dan ketenangan yang ia pancarkan. "Saya menghormati Guru lebih dari siapa pun. Dan karena itulah, saya tidak akan membiarkan Guru digunakan sebagai alat untuk menghancurkan kebenaran."

Aris mengambil gulungan kertas itu dari tangan gurunya. Dengan gerakan lambat dan dramatis, ia tidak membukanya. Ia justru mengangkatnya tinggi-tinggi di hadapan ribuan warga.

"Warga Tebet! Saudara-saudaraku!" seru Aris lantang. "Malam ini, kita diuji bukan hanya oleh ekonomi, tapi oleh iman. Ada pihak yang ingin memecah belah kita dengan menggunakan nama agama. Ada pihak yang memaksa guru tercinta saya untuk menyampaikan kebohongan!"

Kerumunan gempar. "Apa maksud Pak Ustadz?"

Aris menoleh pada dua orang asing yang mendampingi Guru Mansur (antenk Victoria). "Dan saya tahu, siapa dalang di balik ini. Kalian pikir dengan memalsukan fatwa, kalian bisa menghentikan kami? Kalian pikir dengan menyandera guru saya, kalian bisa menaklukkan hati kami?"

Aris melempar gulungan kertas itu ke tanah, lalu menginjaknya pelan.

"Saya menyatakan malam ini, di hadapan Allah dan manusia, bahwa dokumen ini BATIL! PALSU! DAN TIDAK MEMILIKI KEKUATAN HUKUM APAPUN!"

Lalu, Aris melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia berjalan mendekati dua antek Victoria, dan dengan gerakan cepat ala ahli bela diri, ia meraih kerah baju mereka, membisikkan sesuatu yang hanya didengar oleh mereka berdua.

Wajah kedua pria itu berubah pucat pasi, lutut mereka lemas. Apa yang dibisikkan Aris?

"Saya tahu siapa bos kalian di New York. Saya tahu nomor rekening rahasia yang kalian gunakan untuk menyuap Guru. Dan dalam 5 menit, data itu akan tersebar di seluruh server interpol dan media massa Indonesia. Kalian punya pilihan: Menyerah dan mengaku di depan umum, atau menghabiskan sisa hidup di penjara federal Amerika karena kejahatan lintas negara."

Kedua pria itu jatuh berlutut, menangis, dan berteriak, "Kami mengaku! Kami dipaksa! Victoria Sterling yang memerintahkan!"

Kekacauan terjadi. Warga marah, hendak mengeroyok mereka, tapi Aris menahan. "Tahan! Biarkan hukum yang mengurus. Tapi ingat malam ini! Kebenaran akan selalu menang, sehalus apapun kebohongan yang dibungkus!"

Di hotel mewah, Victoria Sterling menerima telepon dari Tuan Li. Wajahnya hancur. "Mereka mengaku? Bagaimana mungkin? Rencana kita sempurna!"

"Tuan Li," suara Aris terdengar dari speaker telepon (karena salah satu antek menyalakan mode speaker saat ditekan Aris). "Victoria, permainan catur kita selesai. Skakmat. Kau tidak hanya kalah di Tebet. Kau baru saja menghancurkan reputasimu sendiri di depan dunia. Selamat tinggal."

Sambungan terputus. Victoria terduduk lemas di kursinya, menyadari bahwa ia telah menyentuh sarang lebah yang salah. Ia mengira sedang bermain dengan warga kampung, padahal ia baru saja membangunkan raksasa tidur yang memiliki kecerdasan tingkat dewa dan jaringan global yang tak terlihat.

Di Tebet, tepuk tangan membahana langit. Guru Mansur, yang kini bebas dari tekanan, memeluk Aris erat-erat, menangis haru. "Maafkan Guru, Nak. Mereka mengancam akan menyakitiku jika tidak menurut."

"Sudah, Guru. Tidak ada yang salah. Malam ini justru membuktikan seberapa kuat akar kita," jawab Aris menenangkan.

Namun, di sudut mata Aris, ada kilatan serius. Ia tahu Victoria tidak akan berhenti sampai hancur total. Wanita itu berbahaya. Dan langkah selanjutnya mungkin akan jauh lebih gelap, jauh lebih personal, dan menargetkan hal yang paling lemah: Rina dan calon bayi mereka.

Angin malam berhembus kencang, membawa serta bau hujan yang akan turun. Badai sesungguhnya belum usai. Ini baru babak pemanasan.

Bersambung...

1
Jesa Cristian
ayo komen temen temen ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!