NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Cinta

Tiba-tiba Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: nisa_prafour

Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.

Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.

akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Pukul 10 lewat beberapa menit matahari sudah mengancam akan membakar siapapun yang berada dibawahnya. Weekend yang seharusnya menjadi hari liburan untuk para keluarga maupun kaum muda lainnya kini harus menjadi hari istirahat dalam rumah.

Mereka lebih memilih untuk mencari tempat ternyaman dan berlindung di ruangan dibawah AC yang menyokong mereka. Aaah betapa sejuknya itu.

Begitu pula dengan Aruna Prameswari. Gadis cantik itu lebih memilih mencari aman. Padahal weekend ini ia berencana berenang untuk merilekskan tubuh serta pikirannya. Namun apa boleh buat ketika cuaca tidak mendukungnya jadilah ia lebih memilih bergelung dibawah selimut dengan suhu AC paling rendah.

Kenyamananannya itu tidak berlangsung lama ternyata ketika suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Dan pintu pun bergerak terbuka. Menampilkan sosok Arin, adiknya yang datang dan langsung duduk ditepi ranjangnya.

"Kak?"

"Hm?"

"Kak Run?"

"Hm?"

"Kakaaaaaak"

"APASIH RIN!"

Tidak, jangan berfikiran jika Aruna marah atau apapun itu. Memang begitulah interaksi Aruna dengan Arin sang adik. Aruna tidak membenci Arin sebagaimana ia membenci sang kakak.

Malah, sosok Aruna adalah kakak yang paling pengertian menurut Arin. Aruna itu baik, tapi ketus. Aruna itu sayang dengan Arin namun terkadang ia salah tempat dalam memberikan kasih sayangnya pada sang adik.

"Kakak sibuk?"

"Ya menurutmu aja!"

"Hehehe engga ya. Kan ini Minggu"

"Ckck ada apa? Kalau mau ngomong cepetan! Aku mau tidur!"

"Emmm apa ya kak? Sebenarnya banyak yang mau Arin ceritain sama kakak"

"Ckck! Apaan! Cepet ngomong!"

Yaah apa boleh buat. Kali ini jelas, Minggu pagi nya akan rusak. Arin dengan mode curhatnya akan memakan waktu yang cukup lama. Maka dari itu kini Aruna sudah kembali menyingkap selimutnya dan berganti duduk bersandar diatas ranjang.

"Tapi janji dulu jangan marah"

"Banyak nego banget sih!"

"Janji dulu"

"Tergantung! Kalau curhatan mu nggak berbobot ya apa boleh buat"

"Kakak ih!"

"Cepetan Rin. Aku tinggal tidur lagi nih"

"Sebenarnya ini bukan tentang kuliah ataupun yang lainnya. Ini soal ... Mmm ...itu"

"Apa?"

"Soal Nial"

"Nial siapa?"

"Nial Don Veer hag "

Aruna mengerutkan keningnya. Pasalnya nama seseorang yang baru saja Arin sebut begitu susah untuk di ingat. Dan bukan cuma itu, ia sepertinya pernah mendengar nama barusan. Ia merasa tidak asing.

"Siapa dia?"

Adiknya itu terlihat membulatkan matanya terkejut menatapnya, "Kakak serius nggak tahu siapa dia?"

"Ya menurutmu?"

"Kak ... Ini Nial, Lo kak"

"Nial siapa sih Rin"

"Temennya pacar kak Runa"

Kini berganti Aruna yang terdiam. Bibirnya mencebik kesal, "Temen Marinos maksudmu?"

"Iya kak. Kakak kok bisa nggak tahu? Harusnya tau kan? Bisa dibilang Nial sama  Rinos kan teman dekat"

"Aku udah nggak ada hubungan apapun sama dia"

Arin tidak terkejut, ia mengetahui soal itu. Soal ia bagaimana bisa tahu, itu nanti akan ia jelaskan.

"Tapi kan nggak memungkinkan buat kakak ngga tahu"

"Ya emang aku nggak tahu dan nggak mau tahu!"

"Tapi kan--"

"Udah nggak usah peduli kenapa sih! Sekarang tujuanmu apa tanya soal Nial ke aku?"

"Kalau gak tahu orangnya ya buat apa"

"Ckck! Mana fotonya?! Siapa tahu aku tahu orangnya"

Aaah dia! Tentu saja Aruna tahu laki-laki ini. Aruna mengangguk mengerti ketika Arin menyodorkan ponselnya yang terdapat foto Nial, Tapi jujur ia tidak tahu namanya dan tidak terlalu kenal meskipun dalam beberapa pertemuan kerja kemarin Aruna sempat bertemu beberapa kali. Itupun Aruna mengingat laki-laki bernama Nathan ini akibat Nathan yang tidak sengaja menumpahkan minuman kopi pada bajunya.

"Aaah dia! Ya aku tahu dia tapi ngga begitu kenal"

"Gimana kam? Dia tampan kan?"

"Tunggu dulu! Kenapa kamu bisa kenal sama dia? Aku rasa kamu nggak pernah ketemu sama sekali sama temen-temen Rehan"

"Panjang banget kak ceritanya. Yang jelas aku ... Mmm hehehe kakak tau lah maksud ku"

"Apa? Kamu suka sama dia?!"

"Nice shoot. Kakak emang paling pinter kalau tebak-tebakan "

Aruna melotot. Dan dengan sekali pergerakan, ia memukul Arin dengan bantal miliknya, "Jangan macem-macem kamu! Fokus sama studi mu Rin!"

"Aku nggak macem-macem kok. Masa suka sama Nial nggak boleh sih"

"Kamu tahu dia darimana? Jawab dulu!"

"Aku ketemu dia waktu ikut senior ku yang magang jadi dokter perbantuan buat team kak rehan"

"Bohong!"

"Serius kak, Aku dan tiga temenku emang terpilih buat jadi asisten dokter magang di beberapa tempat. Dan kebetulan aja senior ku dapat tugas mengurus atlet bola"

"Kenapa bisa kebetulan?"

"Ya takdir"

"Jangan suka sama dia!"

"Iih kenapa? Kan nggak dosa"

"Dosa kalau dia suami orang!!"

"Kak, dia bukan Bang Rinos. Aku tau kakak khawatir kan kalau-kalau Nial seperti Rinos?"

"Kalau otak mu sudah paham maksud ku jadi masih mau kamu teruskan?"

"Masih dong! Karena dia beda sama Rinos!"

"Terserah kamu! Yang jelas aku udah peringatkan kamu. Sekarang minggir aku mau lanjut tidur!"

"Eh tunggu dulu!!"

"Apalagi?!"

"Ini--"

Sebuah kotak kado berukuran 80 centi itu terulur begitu saja didepan Aruna. Kedua alisnya berkerut menatap kotak kado berwarna merah maroon itu.

"Apa ini?"

"Buka nanti ya kak. Sekarang Arin harus pergi dulu. Ada janji"

"Kemana kamu?!"

"Bye kak. Arin pergi dulu"

"ARINAAAA!!!"

Nyatanya teriakan Aruna tidak membuat sang adik berhenti dari larinya. Malahan, gadis manis itu tidak menutup kembali pintu kamarnya.

Ckck anak nakal itu!

Namun, tak ayal juga Aruna sedikit tertarik dengan kotak beludru itu. Dengan gerakan pelan dan hati-hati Aruna membuka kotak kado itu. Sebelum itu, Aruna mengambil sebuah kertas yang berada diatasnya. Membaca satu persatu bait kalimatnya yang ia yakini rangkaian dari sang adik.

...'Hai kak! Happy nice day ya. Sebelumnya aku minta maaf jika hadiah kecil ini terlalu lebay. Tapi bagiku, menjadikan kak Runa manusia penuh kebahagiaan adalah salah satu list utama dalam hidup Arin. Hari ini tepat 12 tahun kakak menjadi pribadi yang berbeda dari Aruna 12 tahun yang lalu. Tapi bagiku, kakak nggak pernah berubah. Tetap menjadi Aruna yang paling baik versiku. Hadiah ini semata-mata bukan karena apa-apa mbak. Arin hanya ingin melihat kakak Aruna menjadi wanita seperti 12 tahun lalu. Wanita yang punya semangat untuk bahagia meskipun cita-cita itu tidak lagi menjadi gairah mbak. Dipakai ya kak. Jangan lupa pertunjukannya harus di rekam dan dikirim ke Arin. ...

^^^Btw, Aku akan lulus dengan nilai cumlaude sesuai perkataan ku waktu itu biar kakak bisa bangga :)' Dari Arin : adikmu:))^^^

Mata Aruna sempat berkaca-kaca namun dengan cepat Aruna menghalaunya. Ia kemudian membuka isi kotak tersebut. Dan detik berikutnya bibirnya tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya pelan.

Dasar anak nakal!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!