Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
2) Kesempatan Bareng Albiru
Brum brum
Suara deruman dua motor besar terus bersahutan di antara kerumunan para penonton balapan liar malam ini. Waktu menunjukkan pukul 12 malam, harusnya jam segini sudah waktunya istirahat karena besok masih hari sekolah. Ada rutinitas pagi dari seorang pelajar yang harusnya dilakukan. Namun cowok yang duduk di salah satu motor besar warna hitam dengan helm full face-nya bersiap menekan gas kala seorang wanita berpakaian seksi berjalan ke tengah-tengah keduanya membawa bendera merah.
"Bumi Bumi Bumi!" teriakan dari kerumunan terus menyerukan nama Bumi.
Termasuk dari ketiga teman Bumi yang mengagumkan nama Ghabumi dengan keras.
"King of the Road?"
"Bumi! Bumi! Bumi!'
Senyum beringas dari cowok itu terbit. Ia menoleh pada lawannya kali ini. Musuh beda sekolah dengannya yang tengah menatapnya penuh kebencian.
"Tiga."
Netra keduanya kembali menatap lurus ke depan. Ghabumi menutup kaca helmnya. Ia sudah bersiap untuk memenangkan balapan seperti biasa.
"Dua."
Keduanya bersiap menekan gas.
"Satu."
"Go!"
Bruuum!!!
Kedua motor itu sama-sama melaju dengan kencang kala bendera merah dikibarkan. Baik dari keduanya membawa motor itu kebutan di tengah dinginnya malam.
Motor besar milik Bumi lihai mengalahkan lawannya yang tertinggal.
Awalnya jarak mereka hampir dekat. Namun bukan Ghabumi namanya kalau gampag dikalahkan begitu saja.
Beberapa saat motornya berhasil mencapai garis finish disambut teriakan. Kala motor miliknya berhenti, mereka mengerubuni Bumi bersama seruan penuh kemenangan.
"Gila. Ghabumi gak ada lawan!" Cowok berambut cepak mengangkat tangannya untuk bertos pada Bumi yang belum membuka helm.
Namanya Nathaniel Hugo. Memiliki tinggi 175 cm dengan tingkat kemalasan belajar di atas rata-rata.
"Bumi ni Bos!" Cowok dengan bentuk mata seperti biji almond dengan jaket bombernya menepuk dadanya takjub. Dia Liam Dawala Pradipa. Si ketua basket High Internasional School yang selalu berhasil membawa timnya menenangkan piala di segala perlombaan.
"Keren Bro." Satu lagi teman Bumi.
Namanya Alden Baskara. Kerap di sapa Alden. Lebih dingin dan kalem dibanding ketiganya. Alden anak kesayangan para guru karena otaknya yang encer.
Bumi membuka helmnya dan melirik lawannya yang membanting helm dengan kesal. Ia menyeringai.
"Lo bawa pulang uang 2 juta Bumi."
Seseorang menyerahkan amplop cokelat itu padanya. Bumi menepuk amplop itu dan menyimpannya.
"Thanks."
"Gak lo itung dulu Bre?" tanya Hugo.
Ia memberi gelengan. Ia tidak perlu melakukannya.
"Balapan next jadi lo yang ikut kan?"
Tatapan Bumi beralih pada Liam yang memberi anggukan. Ketua basket itu juga lihai soal balapan walaupun tidak seterampil Bumi. Jika Bumi selalu menang maka Liam ada masa menang dan kalahnya. Pun begitu dia tidak pernah merasa malu ataupun iri.
"Lo langsung balik Bum?"
"Yoi. Nyokap gue sendiri. Lo berdua jangan lupa kerjain tugas Buk Santi." Ia menunjuk dua temannya selain Alden yang pasti sudah kerjakan duluan.
"Aman, nyontek punya lo kalau gak Alden sih sabi." Hugo mengedikkan bahunya. Iya selain Alden, Gitu-gitu Bumi juga rajin membuat tugas. Ya walau otaknya gak terlalu pintar seperti Alden, Bumi tetap serius dalam pelajarannya.
Mahendra Ghabumi Adelard dikenal sebagai Bad Boy. Dia suka balapan, nongkrong dan juga bandel iya juga. Tapi soal pendidikan baginya prioritas. Karena ada sosok yang ingin dia banggakan dan mimpi yang ingin dia
Wujudkan.
"Suka nih gue ide lo." Liam menepuk pundak Hugo senang. Liam itu berprestasi di bidang non akademik. Kalau soal akademik sebelas dua belas sama Hugo.
Bumi menatap malas. "Ya udah gue balik." Motornya melaju usai mendapat anggukan dari ketiganya. Membawa pergi kemenangannya.
Motor besar itu berhenti selang sepuluh menit kemudian di depan sebuah gedung putih. Senyum yang tadi terbit di wajah tampan itu sudah sirna. Tatapannya menatap kosong ke gedung tersebut.
Ghabumi menunduk. Ia mengeluarkan amplop yang dia simpan dibalik jaketnya lalu menatap sesaat sebelum kembali menyimpan. Ia menghela nafas lalu kembali melajukan motor itu pergi.
***
Gara-gara membuat tugas hukuman dua bab semalam. Langit tidur telat dan bangun juga terlambat. Hal itu membuat mamanya pagi-pagi sudah mengomel. Kini dia hanya punya waktu 30 menit untuk bersiap. Sedang dia belum mandi, belum sarapan. Ke sekolah
Juga membutuhkan waktu 10 menit.
"Cepat sana mandi." Mamanya tengah sibuk memasukkan buku-buku pelajarannya ke sekolah setelah melihat mata pelajaran Langit hari ini. Yang disuruh bukannya panik malah mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Tadi habis sholat subuh jangan tidur. Papa kamu udah berangkat. Masuk pagi. Gea dan Gara harus diantar. Ya Allah Langit cepat Nak! Bukan duduk. Ini udah jam berapa?" Orlin menunjuk jam di dinding.
"Gak apa-apa Ma. Langit masih bisa masuk kok."
"Mandi sekarang Langit!" Kini Orlin menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Langit hingga gadis itu kedinginan.
"Aa mama dingin."
"Ya Allah ini anak. Ini udah jam berapa, ayo bangun!"
"Iya." Ia bergerak malasan dari atas kasur dan mengambil handuknya. Di kamar mandi, bukannya langsung mandi. Ia malah menatap air dalam kamar mandi lama.
Dingin.
"Langit buruan mandinya! Perlu mama mandikan?" teriakan Orlin disertai ketukan di pintu membuatnya lekas membuka baju dan mandi. Begitu mendengar suara air, Orlin baru keluar. Ia turun menyiapkan bekal untuk sarapan Langit.
Sepuluh menit mandi, Langit ke luar dan lekas memakai seragamnya. Dia ambil tas yang sudah berisi buku dan memasukkan dompet berserta ponselnya. Setelahnya barulah dia menuruni tangga sedikit tergesa.
Teringat sesuatu Langit kembali mengambil baju olah raganya. Ia juga menyempatkan memakai celana olah raga langsung. Jaga-jaga buat manjat katena telat.
"Nih sarapannya nanti dimakan. Gojeknya
udah mama pesan. Tunggu di luar bentar. Bentar lagi sampai."
"Iya. Langit pamit Ma. Assalamualaikum."
Ia mengambil tangan Orlin untuk pamit dan mencium pipi mamanya.
Karena telat, Langit memakai sepatunya asalan. Apalagi saat melihat Biru yang masuk ke mobil hendak berangkat ke rumah sakit.
"Kak Biru tunggu!"
Albiru yang dipanggil menoleh. Langit
Berlari tergesa ke luar pagar. Kesempatan emas!
"Kak Biru Langit nebeng ya?" Senyumnya merekah.
"Gak!"
"Ish pelit. Langit telat kak Biru. Boleh ya? Entar makin telat gimana?"
"Makanya jangan kebo."
"Langit tuh semalam ngejar tugas. Jadi kemalaman tidurnya."
"Gak peduli."
Ia mengerucutkan bibirnya kesal. "Bodo amat. Langit nebeng, titik! Lagian rumah sakit sama sekolah satu arah. Wlee!" Langit membuka pintu belakang dan langsung duduk tanpa seizin yang punya.
Albiru berdecak. Ia membuka pintu belakang. "Saya bilang gak ya gak. Turun!" tegasnya kesal.
"Gak mau. Mau nebeng."
"Langit?"
"Ya Allah kak Biru kok pelit sih. Bantuin Langit sekali aja. Ya?" Wajahnya memelas. Kedua tangannya menungkup di depan dada.
"Gak!"
"Turun!"
"Ayo jalan kak Biru."
"Saya bi-"
Bunyi ponsel membuat Biru lekas mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari rumah sakit tersebut. Karena ia juga terburu dan diminta cepat datang, ia tidak punya waktu untuk meladeni gadis yang kini tersenyum manis menatapnya.
"Sekali ini aja. Lain kali jangan main
masuk mobil saya."
Langit mengangguk-angguk senang. Biru
menutup pintu itu dan memutari bagian
depan mobil untuk duduk di belakang setir.
Kesempatan itu membuat Langit bisa
berlama menatap calon masa depannya itu.
Kepanikan benar-benar sudah sangat telat, berganti senyum tertahan menatap Albiru yang begitu menawan pagi ini.
"Kak Biru ganteng banget pagi-pagi,"
godanya blak-blakan.
Biru diam saja. Tidak menanggapi. Dia
memilih fokus menyetir.
"Kak Biru tidurnya nyenyak gak? Langit nyenyak. Ya walaupun tidurnya kurang karena nugas." Ia terus berceloteh walaupun wajah datar Albiru dan sikap dinginnya menegaskan ia tidak tertarik.
"Langit dikasi tugas sama Buk Mia gara-gara jahil. Disuruh kumpul pagi. Tega banget deh Buk Mia. Tapi karena pagi ini ada hikmahnya bisa bareng kak Biru. Langit sih gak nyesel."
Biru menyetel musik di mobilnya hingga suara Langit yang terus berceloteh teredam. Gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Kak Biru seru gak jadi Dokter?"
Walaupun begitu Langit meninggikan suaranya. "Langit itu pengen deh jadi Dokter dulunya. Sayangnya dari hasil tes berat ke IPS."
"Kak Biru di rumah sakit enggak ada yang godain kak Biru kan? Kak Biru gak boleh tergoda ya kalau ada."
"Memang kamu siapa saya?" Akhirnya Biru merespon.
"Calon istri kak Biru."
"Ngaur kamu!"
"Langit gak ngaur kok."
"Bocil fokus sekolah aja."
"Langit gak bocil ih Kak Biru."
"Diem!"
Langit menekuk wajahnya. Tapi itu berlangsung beberapa saat saja karena setelah itu ia terus berceloteh hingga mobil Biru sampai di kawasan sekolahnya.
"Kak Biru, berhenti di sini aja. Jangan gerbang." Kawasan luar sekolah sudah sepi. Kelas sudah dimulai sepuluh menit lalu. Karena di gerbang ada satpam, ia akan masuk lewat jalur belakang.
"Masih jauh."
"Gak apa-apa."
"Kamu mau bolos?"
"Enggak dong. Langit kan gak mau kecewain kak Biru."
Albiru mendengus dan mengikuti saja mau Langit tanpa berbicara lagi.
"Kak Biru tenang aja. Langit bakal sekolah yang benar biar entar bisa kuliah di tempat bagus terus kak Biru bisa lamar Langit."
"Turun!"
"Iya perlu salim gak Kak?" Langit menyodorkan tangannya. Biru menatap tajam.
Ia terkekeh. "Canda Kak Biru. Gak boleh sentuhan kata papa sama lawan jenis. Nanti aja deh kalau kita udah halal."
"Ck. Turun sana!"
"Iya kak Biru ganteng kayak nabi Yusuf. Langit turun. Dadah kak Biru." Ia melambaikan tangan dengan senyum manis. Biru sontak mengalihkan pandang.
Ia tunggu Langit yang kini membuka pintu. Tapi belum jadi keluar, gadis itu kembali menutup pintu.
"Apa lagi?"
Langit tidak menjawab. Ia keluarkan bekal yang Orlin buatkan dan menyodorkannya pada Biru. "Kak Biru pasti belum sarapan kan? Nih."
"Gak perlu!"
"Cicip aja lagi buatan mertua." Langit terkekeh. Ia taruh di kursi depan.
"Langit, i-"
"Dah Kak Biru. Nanti Langit kasih hadiah
Karena udah baik anter Langit." Belum selesai Biru ngomong, Langit lekas turun. Biru menghela nafas dan memperhatikan Langit yang berlari menjauh.
Netranya melirik bekal itu.
***
Kepalanya menyembul dari balik dinding dan melihat satpam yang berjaga di depan gerbang, dekat posko. Jari jemarinya mengetuk dagu. Langit memutar arah, ia berbelok lewat bagian samping sekolah. Ada tembok yang bisa dia panjati.
"Bantu gue buruan."
Suara bisik-bisik itu membuat Langit mempercepat langkah. Kalau ada partner terlambat itu lebih seru.
Benar saja. Ia dapati Ghabumi bersama Liam yang saling membantu untuk manjat tembok. "Ck ck ck. Hayolo!" Ia melipat tangannya.
Keduanya sontak menoleh dan hampir terjatuh. Langit tertawa.
"Sialan lo. Ngangetin."
"Gue duluan dong naik."
Langit lo baru datang." Liam menggeleng. "Lo terakhir aja udah."
"Gak boleh gitu sama cewek."
"Lah lo cewek?" Sebelah alis Bumi naik.
Langit mendelik. "Sialan!"
Netranya melirik sekitar. Langit melepas tasnya dan membuangnya ke sebelah. Setelah itu ia mundur dan mengangkat roknya tinggi-tinggi. Untuk saja dia inisiatif pakai celana olah raga langsung.
"Lo dua mundur deh."
"Lo ngapain?"
"Ya manjat dong Bumi."
Mereka mundur. Dengan cepat Langit berlari hingga tangannya menjangkau bagian atas tembok. Dengan mudah ia naik ke atas. Kedua cowok itu melonggo.
"Si Langit beneran cewek?" Liam jadi ragu. Masalahnya Langit lebih jago soal manjat tembok.
"Dia ratunya telat. Jadi udah latihan duluan." Bumi berbicara asal. Dia pun sedikit salut. Berbeda dengan Bumi.
"Gila! Keren banget Langit."
"Woi cepat. Kalian malah ngobrol. Gue duluan."
"Awas lo jatuh."
"Ya udah sih paling jatuh ke bawah."
"Ngelucu lo." Bumi berdecak. Lalu ia tiba-tiba mengikuti cara Langit setelah gadis itu melompat dan mendarat di rerumputan hijau penuh semak.
"Aduuh."
Ia berhasil jatuh di samping Langit. Gadis itu sedikit meringis sebelum kemudian berdiri. Keduanya melihat sekitar.
"Ikut gue." Bumi menginstruksikan dengan tangannya.
"Ogah. Kalau bareng lo entar ketahuan. Gue mau lewat sini." Langit menunjuk arah berbeda.
"Lewat sana malah ketahuan."
"Enggak. Arah yang lo tunjuk itu sering dilewatin Pak Ego."
"Lewat sini Langit."
"Lewat sini Bumi." Keduanya menunjuk arah berbeda dengan kesal.
"Terserah. Lo sana! Gue arah sini!" putus Bumi.
"Oke! Kita lihat siapa yang berhasil."
"Woi tungguin gue elah." Suara Liam membuat keduanya menatap ke tembok.
"Makanya buruan Liam. Kok lo lama banget sih." Langit mengusap pipinya yang jadi gatal digigit nyamuk.
Pluiit!!
"Eh siswa yang manjat tembok! Turun!"
Baik Bumi maupun Langit saling menatap dan berlari meninggalkan Liam yang sudah ketahuan.
Keduanya pada akhirnya memilih arah yang sama untuk sampai ke kelas. Sebelum masuk, Bumi memastikan dahulu keadaan kelas dengan menghubungi temannya.
Syukurnya guru belum masuk.
"Kita ke kelas bawa tas gini?"
"Lo kan ratunya telat. Kok nanya gue?"
"Lo juga sering telat ya Bumi."
"Duduk aja di sini."
"Ngapain?"
"Mikirin nasib."
"Dih kagak. Lo aja."
"Diam aja nunggu Hugo."
"Mau ngapain si Hugo?"
"Bawel lo!"
"Gue nanya baru sekali hih!"
Bumi menarik kedua sudut bibirnya. Pun begitu Langit tetap mengikuti ucapan seorang Ghabumi. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding di belakang, sedang tatapannya melihat Langit indah tanpa awan pagi ini.
"Lo kenapa telat?" Bumi menoleh pada Langit.
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?"
Bumi mendengus jengkel. Emang gak bisa diajak bicara si Langit. "Nyesel gue nanya."
"Gak ada juga tuh yang nyuruh lo nanya."
"Ye rese lo."
"Wlee biarin!" Ia menjulurkan lidahnya. Pembicaraan keduanya memang tidak pernah akur.
"Gue tebak lo gak ngerjain tugas Buk Santi." Bumi memainkan ponselnya seraya
Bicara. Kalimat Bumi tentu saja membuat gadis itu shock.
"Memang ada tugas?"
Bumi menoleh. Ia menampil raut menyebalkan. "Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?"
"Sialan lo! Gue serius."
"Gue tadi juga serius."
"Lo balas dendam ya?"
"Enggak gue praktekin ilmu yang gue dapat."
"Rese!"
"Wlee biarin!" Bumi balik menjulurkan lidahnya. Langit menggepalkan tangannya kesal dan akan menabok cowok itu sebelum suara Hago mengalihkan atensi mereka.
"Woi bukan pacaran. Buruan mana tas kalian!"
"Siapa yang pacaran?" jawab keduanya kompak.
"Iya iya santai. Cepat elah."
Tas mereka disimpan di dalam kresek. Lalu Hugo berjalan duluan. Mereka baru
Ngikut kemudian selang beberapa menit.
Seolah tidak terlambat.
"Bilang makasih sama gue." Bumi berjalan bersisian dengan Langit dengan kedua tangan terselip di saku celana.
"Ngarep banget. Ogah. Gue masih kesal ya sama lo."
"Nanti siang traktir gue."
"Gak. Sayang uang."
"Pelit."
"Bodo. Sana lo jangan dekat-dekat. Kita musuhan kalau lupa."
"Dih siapa juga yang mau dekat-dekat sama ratu nakal kayak lo. Pede!"
"Gue juga gak mau tuh dekat-dekat sama makhluk macam lo!" Langit menjulurkan lidahnya lalu meninggalkan Bumi yang mendengus.
"Dasar bocil!"