NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KABUR MEMBAWA RAHASIA

BAB 7 — KABUR MEMBAWA RAHASIA

Koper berwarna krem itu tergeletak terbuka di lantai kamar yang mulai kosong.

Isinya belum penuh, namun setiap barang yang dimasukkan terasa begitu berat, seolah membawa seluruh beban hidup baru yang sedang Keisha siapkan dengan tangan yang tak henti gemetar.

Beberapa stel pakaian tebal untuk musim dingin.

Berkas-berkas dokumen penting dan paspor.

Uang tabungan yang selama ini ia kumpulkan dengan susah payah dari hasil beasiswa dan sisa uang jajan.

Sebuah album foto kecil berisi kenangan keluarga.

Dan di bagian paling bawah, terselip rapat sebuah benda kecil yang kini dibungkus kantong plastik hitam. Alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah itu seolah menjadi bukti nyata dosa dan takdirnya. Seolah dengan menyembunyikannya jauh di dalam, kenyataan pahit itu ikut akan hilang dan terlupakan.

Keisha duduk di tepi ranjang, menatap koper itu lama sekali.

Besok malam, ia akan pergi.

Dan setelah pesawat itu lepas landas... tidak ada yang akan pernah sama lagi.

 

Hari-hari menjelang keberangkatan terasa bagaikan siksaan yang tiada henti.

Ia harus memakai topeng kebohongan.

Harus bersikap se-normal mungkin di depan orang tuanya.

Tersenyum manis di meja makan.

Menjawab pertanyaan ibunya dengan santai.

Mendengarkan ayahnya bercerita soal pekerjaan sambil pura-pura mendengarkan dengan antusias.

Padahal, di dalam hati, setiap detiknya dipenuhi rasa bersalah yang menggerogoti perlahan.

“Sha, kamu kok kelihatan kurusan banget akhir-akhir ini?”

Pertanyaan itu terlontar dari ibunya saat mereka sedang sarapan pagi. Wanita itu menyendokkan sayur lebih banyak ke piring putrinya.

“Jangan terlalu sibuk mikirin kuliah sampai lupa makan, Nak.”

“Iya, Bu. Makasih,” jawab Keisha pelan.

“Kalau capek bilang aja, istirahat.”

Keisha hanya bisa mengangguk. Ia tak berani bicara lebih banyak karena takut suaranya akan bergetar dan ketahuan kalau ia sedang menahan tangis.

Dari ujung meja, ayahnya menatapnya dengan sorot mata bangga sekaligus prihatin.

“Orientasi kampusnya lancar?”

“Lancar, Yah.”

“Bagus. Papa bangga sekali kamu bisa masuk universitas sebaik itu. Buktikan kalau kamu anak yang hebat.”

Kalimat sederhana itu begitu tajam, hampir menghancurkan pertahanan diri Keisha seketika.

Ia buru-buru menundukkan wajah, membiarkan rambutnya menutupi pipi yang mulai basah.

 

Malam itu, di ruang keluarga yang hangat, ia akhirnya mengucapkan kebohongan terbesar dan terindah dalam seluruh hidupnya.

Semua skenario sudah ia susun rapi.

Tentang program pertukaran pelajar.

Tentang kesempatan emas belajar di Kanada.

Tentang biaya yang diklaim ditanggung penuh oleh beasiswa.

Dan tentang alasan keberangkatan yang mendadak karena kuota terbatas.

Keisha berdiri di hadapan kedua orang tuanya, menggenggam jemarinya sendiri erat-erat agar tidak terlihat gemetar.

“Ayah... Ibu... Keisha mau ngomong sesuatu penting.”

Keduanya menoleh dengan senyum ramah.

“Ada program belajar ke luar negeri dari kampus, Yah, Bu. Keisha... Keisha diterima. Ke Kanada.”

Wajah ibunya langsung berseri-seri penuh kegembiraan.

“Serius, Nak? Wah, hebat!”

Keisha mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang.

Ayahnya tersenyum lebar, tampak sangat bangga.

“Hebat sekali, anak Papa. Pintar.”

Dadanya terasa seperti ditusuk jarum tajam. Rasa perih itu luar biasa.

Ibunya berdiri dan langsung memeluknya erat-erat.

“Ya ampun, Sha... Ibu bangga banget sama kamu. Anak Ibu hebat.”

Keisha memejamkan mata rapat-rapat di bahu ibunya, menahan isak tangis agar tidak keluar suara.

Maaf...

Maafkan Keisha, Bu, Yah...

Ia mengulang kata itu berkali-kali di dalam hati, layaknya doa penebus dosa.

 

Dua hari kemudian. Hari keberangkatan telah tiba.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta terlihat ramai dan hiruk pikuk seperti biasa. Suara pengumuman bersahutan, troli bergesekan dengan lantai, dan orang-orang berlalu lalang dengan berbagai tujuan.

Di tengah keramaian itu, Keisha berdiri di antara ayah dan ibunya. Ia memeluk paspor di dada erat-erat, seolah benda itu adalah satu-satunya penyelamatnya.

Ia merasa dirinya sangat kecil.

Sangat takut.

Dan sangat penuh dosa.

Ibunya merapikan anak rambut di dahinya dengan tangan lembut, persis seperti saat Keisha masih kecil dulu.

“Di sana makan yang teratur ya, Sayang. Jangan sembarangan makan.”

“Iya, Bu.”

“Jangan terlalu sering begadang, nanti sakit.”

“Iya, Bu.”

“Kalau ada apa-apa, atau kalau kangen rumah, langsung telepon ya.”

Keisha mengangguk berkali-kali, air mata sudah menggenang tapi ia tahan agar tidak tumpah.

Ayahnya menepuk pundaknya pelan namun tegas.

“Belajar yang rajin di sana. Jangan pikirkan rumah dan orang tua. Papa sama Mama baik-baik saja di sini. Fokus sama masa depanmu.”

Justru itulah masalahnya.

Mereka terlalu baik.

Mereka terlalu percaya.

Dan ia, putri mereka, sedang pergi meninggalkan mereka dengan sebuah kebohongan besar yang menyakitkan.

 

Suara panggilan untuk masuk ke pesawat terdengar menggema di speaker.

Waktunya habis sudah.

Ibunya langsung memeluknya erat sekali, seolah tak ingin melepaskan.

Kali ini Keisha tak sanggup lagi menahan. Air matanya jatuh membasahi bahu ibunya, deras dan tak terbendung.

“Lho... kok malah nangis?” tanya ibunya sambil tertawa kecil, namun suaranya pun ikut bergetar dan matanya berkaca-kaca. “Kan nanti juga pulang kalau liburan.”

Keisha tak mampu menjawab sepatah kata pun.

Ia hanya mengeratkan pelukan.

Kalau saja ibunya tahu... ini bukan sekadar pergi belajar.

Ini adalah pelarian.

Ini adalah menghilang.

Ayahnya mendekat, memeluk keduanya dengan satu lengan.

“Sudah, sudah. Nanti anak kita telat loh naik pesawatnya.”

Suara pria itu berusaha terdengar tenang dan tegas, tapi Keisha bisa melihat sudut matanya juga memerah.

Keisha menatap wajah kedua orang tuanya bergantian, mengabadikan setiap detail di ingatannya selamanya. Wajah yang selama ini menjadi rumah dan tempat pulangnya.

Dan sebentar lagi... ia harus meninggalkan semua itu.

“Keisha sayang Mama... sayang Papa...” ucapnya terbata-bata di sela tangis.

Ibunya tersenyum sambil mengusap air mata di pipi putrinya.

“Kami juga sayang kamu lebih dari apa pun.”

Kalimat itu nyaris membuat lutut Keisha lemas dan membatalkan segalanya.

 

Dengan koper yang diseret, Keisha berjalan menuju gerbang pemeriksaan paspor.

Setiap langkah yang ia ambil terasa begitu berat, seakan ada yang menahan kakinya untuk tetap tinggal.

Sebelum masuk, ia menoleh ke belakang untuk yang terakhir kalinya.

Ayah dan ibunya masih berdiri di sana, melambaikan tangan dengan senyum bangga di wajah mereka.

Mereka tidak tahu bahwa putri mereka pergi sambil membawa rahasia besar yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya.

Keisha menutup mulut dengan tangan, menahan isak tangisnya agar tidak meledak, lalu berbalik badan dan berjalan cepat masuk.

Jika ia menoleh lebih lama lagi, ia yakin ia tidak akan pernah sanggup pergi.

 

Di dalam kabin pesawat yang luas, Keisha duduk di kursi dekat jendela.

Saat sabuk pengaman dikencangkan dan pesawat mulai bergerak mundur, seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Pemandangan kota Jakarta di luar sana perlahan menjauh, semakin kecil, dan akhirnya tertutup awan.

Kota tempat ia dibesarkan.

Kota tempat ia jatuh dan berbuat salah.

Kota tempat seorang pria bernama Arsen hidup, berjalan, dan bernapas... tanpa tahu sedikit pun bahwa ia akan menjadi seorang ayah.

Keisha menempelkan telapak tangannya perlahan ke perutnya yang masih rata dan tersembunyi rapi di balik baju.

“Maafkan Mama ya, Nak...” bisiknya lirih, air mata kembali menetes membasahi pipi. “Mama belum bisa jadi anak yang baik buat Papa dan Mama... tapi Mama janji, Mama akan berusaha sekuat tenaga jadi Ibu yang terbaik buat kamu.”

Di tengah rasa takut yang menyesakkan dada dan rasa hancur yang membekap, satu tekad bulat mulai tumbuh kuat di hatinya.

Ia akan bertahan.

Ia akan kuat.

Untuk dirinya sendiri.

Untuk bayi kecil di dalam kandungannya.

Dan untuk masa depan yang saat ini masih terlihat gelap dan penuh tanda tanya.

Pesawat lepas landas, menembus langit.

Dan di detik yang sama, Keisha resmi menghilang dari peta kehidupan Arsen.

Ia pikir itu adalah akhir.

Namun ia belum tahu...

Bahwa lima tahun kemudian, takdir akan mempertemukan mereka kembali dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.

Bersambung...

1
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!