NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian di Tengah Malam

Bab 26

Mereka berlari tanpa arah. Hutan di belakang pabrik terasa lebih gelap dari biasanya, mungkin karena asap tebal yang mengepul dari bangunan yang terbakar menyebar di antara pepohonan, menghalangi cahaya bulan dan bintang. Bambang bisa merasakan panas di punggungnya, panas dari api yang menjalar dengan cepat. Dia tidak menoleh ke belakang. Tidak ingin melihat pabrik itu untuk terakhir kalinya. Cukup sudah. Cukup semua mimpi buruk yang dia alami di tempat itu.

Dewi berlari di depan. Tubuhnya yang mungil bergerak dengan lincah di antara akar-akar pohon dan semak-semak. Dia sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Bambang dan Ucok masih mengikuti. Ucok berlari di belakang Bambang, tubuh besarnya yang biasanya menjadi keunggulan kini menjadi penghalang di antara pepohonan yang rapat. Beberapa kali dia tersandung akar, jatuh, lalu bangkit lagi tanpa mengeluarkan suara.

"Kita harus ke mobil," teriak Dewi tanpa menoleh. "Cepat!"

"Mobilnya masih jauh!" teriak Bambang balik. "Kita tidak akan kuat!"

"Kalau kita berhenti, kita mati!"

Bambang menggigit bibirnya. Kakinya terasa seperti terbuat dari timah. Luka di lengannya yang terkena percikan cairan hitam dari kolam terasa panas seperti tersiram api meskipun sudah tidak terkena api langsung. Perbannya basah oleh darah dan keringat. Tapi dia terus berlari. Tidak bisa berhenti.

Mereka berlari selama mungkin dua puluh menit. Atau satu jam. Bambang tidak tahu. Yang dia tahu, paru-parunya terasa seperti terbakar. Setiap tarikan napas terasa seperti menyedot api. Ketika dia hampir jatuh untuk kesekian kalinya, Dewi berteriak.

"Di sana! Mobilnya di sana!"

Bambang mengangkat kepalanya. Di antara pepohonan, dia melihat bayangan mobil pikap tua berwarna abu-abu. Terparkir di pinggir jalan tanah yang sempit. Mobil itu terlihat seperti mimpi. Seperti harapan. Seperti keselamatan.

Mereka berlari menuju mobil. Dewi membuka pintu sopir. Bambang membuka pintu penumpang. Ucok langsung melompat ke bak belakang, menutupi dirinya dengan terpal hitam.

Mesin mobil menyala dengan suara yang kasar. Dewi menginjak gas. Mobil melaju kencang meninggalkan hutan. Di kaca spion, Bambang bisa melihat api masih membakar pabrik. Cahaya merah menyala di langit malam, seperti matahari terbit di tengah hutan.

"Apakah kita sudah aman?" tanya Bambang dengan napas tersengal.

"Belum," jawab Dewi. "Kita harus sejauh mungkin dari sini. Perusahaan akan segera tahu. Mereka akan mencari pelaku."

"Mereka tahu kita yang melakukannya?"

"Mungkin. Mungkin tidak. Tapi kita tidak bisa ambil risiko. Kita harus bersembunyi sampai situasi mereda."

"Ke mana?"

"Ke rumah Anton. Di desa sebelah. Dia punya saudara di sana. Rumahnya terpencil. Tidak banyak orang tahu."

Mobil melaju di jalan tanah yang gelap. Tidak ada lampu penerangan. Hanya lampu mobil yang menerangi jalan di depan mereka. Bambang menatap ke luar jendela. Pepohonan berlalu cepat di kaca spion. Hutan yang selama ini menjadi penjara baginya kini semakin menjauh.

Dia memejamkan mata. Pikirannya melayang ke kolam yang terbakar. Ke makhluk-makhluk yang mungkin ikut terbakar. Ke Joni. Ke Dul. Ke Herman. Ke dua belas nama di dinding kantin. Apakah mereka ikut hancur bersama api? Atau apakah mereka masih berkeliaran di hutan, kehilangan tempat tinggal, kehilangan kolam yang menjadi sumber kehidupan mereka?

"Bambang," panggil Dewi.

"Iya."

"Kamu menangis."

Bambang mengusap pipinya. Basah. Dia tidak sadar kalau dia menangis. "Aku hanya... memikirkan teman-teman."

"Aku juga. Tapi mereka sudah pergi. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menyelamatkan diri kita sendiri. Dan memastikan kejahatan ini tidak terulang."

"Kita punya rekamannya?"

"Ada. Kamera dan alat perekam masih di dalam gudang? Tidak sempat kita ambil?"

Bambang terkejut. Dia lupa. Dalam kepanikan, mereka meninggalkan semua alat bukti di dalam gudang. Kamera pinhole. Alat perekam. Semua ikut terbakar.

Dewi menghela napas panjang. "Tidak apa. Yang penting kita selamat. Bukti bisa dicari lagi. Tapi nyawa tidak bisa."

"Maaf," kata Bambang. "Aku seharusnya ingat."

"Bukan salahmu. Aku juga lupa. Kita semua panik. Itu wajar."

Mobil melaju selama berjam-jam. Sekali-sekali Dewi berhenti di pinggir jalan untuk memeriksa Ucok di bak belakang. Ucok masih hidup. Masih sadar. Tapi tubuhnya penuh luka. Kulitnya melepuh di beberapa tempat karena terkena percikan cairan hitam.

"Kamu bisa bertahan?" tanya Dewi.

"Bisa," jawab Ucok dengan suara serak. "Jangan khawatirkan aku. Fokus pada jalan."

Mereka terus melaju. Matahari mulai terbit ketika mereka sampai di sebuah desa kecil di lereng bukit. Rumah-rumah kayu berderet di sepanjang jalan. Di ujung desa, sebuah rumah tua dengan halaman luas berdiri sendiri, jauh dari rumah-rumah lain.

"Itu rumah saudara Anton," kata Dewi. "Namanya Pak Heru. Dia sudah saya hubungi tadi malam. Dia tahu kita akan datang."

Mobil masuk ke halaman rumah itu. Seorang pria tua dengan rambut putih dan kumis tebal berdiri di teras. Wajahnya keriput, tapi matanya tajam. Dia melambaikan tangan.

Dewi mematikan mesin. Bambang turun dari mobil. Kakinya lemas. Dia hampir jatuh, tapi pria tua itu cepat menangkapnya.

"Kamu Bambang?" tanya pria tua itu.

"Iya, Pak. Bapak Heru?"

"Iya. Masuk. Cepat. Jangan berdiri di luar terlalu lama."

Bambang masuk ke dalam rumah. Rumah itu sederhana. Dinding kayu. Lantai papan. Beberapa kursi tua di ruang tamu. Sebuah meja kayu di tengah. Di dinding, foto-foto keluarga dalam bingkai kayu.

Ucok masuk dengan susah payah. Tubuhnya yang besar terlihat lebih besar lagi di ruangan yang sempit. Dia duduk di kursi terdekat, tubuhnya terkulai lelah.

"Saya ambil obat," kata Pak Heru. "Luka kalian harus segera diobati. Bisa infeksi."

Pak Heru pergi ke belakang. Bambang duduk di kursi. Tubuhnya terasa lemas. Matanya berat. Tapi dia tidak berani tidur. Belum.

Dewi duduk di sampingnya. Wajahnya pucat. Bibirnya pecah-pecah. Tapi matanya masih tajam. Masih waspada.

"Dewi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Bambang.

"Kita istirahat dulu. Kita butuh tenaga. Setelah itu, kita lihat rekaman yang berhasil kita simpan."

"Kita tidak menyimpan apa-apa. Semua tertinggal di gudang."

"Aku punya cadangan."

Bambang menatap Dewi dengan mata terbelalak. "Cadangan? Maksudmu?"

Dewi mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Ponsel murah yang sama yang dia berikan pada Bambang dan Ucok. "Aku rekam dengan ponsel ini. Dari awal kita masuk gudang sampai kita menuangkan darah dan bensin. Semua terekam."

"Tapi ponsel itu... aku pikir hanya untuk komunikasi."

"Ponsel ini sudah aku modifikasi. Kamera dan mikroponnya lebih baik dari ponsel biasa. Hasil rekamannya tidak sejernih kamera pinhole, tapi cukup untuk jadi bukti."

Bambang tidak tahu harus berkata apa. Perempuan ini benar-benar luar biasa. Di tengah bahaya, dia masih sempat berpikir untuk merekam semuanya dengan ponsel cadangan.

"Dewi, aku tidak tahu harus membalas apa," kata Bambang.

"Kamu tidak perlu membalas apa-apa. Cukup selamat. Itu sudah cukup."

Pak Heru kembali dengan sebuah kotak P3K besar. Berisi perban, salep, kapas, alkohol, dan beberapa obat dalam botol kecil.

"Mari saya lihat luka kalian," kata Pak Heru.

Dia membuka perban di lengan Bambang. Lukanya masih merah. Beberapa bagian sudah mulai mengering, tapi beberapa masih basah. Pak Heru membersihkannya dengan alkohol. Rasa perih menyengat, tapi Bambang tidak mengeluh. Dia sudah terbiasa dengan rasa sakit.

Setelah selesai merawat luka Bambang, Pak Heru beralih ke Ucok. Lukanya lebih parah. Kulitnya melepuh di beberapa tempat, terutama di lengan dan punggung. Pak Heru mengoleskan salep tebal-tebal di atas luka itu, lalu membalutnya dengan perban bersih.

"Kamu harus istirahat total," kata Pak Heru. "Jangan banyak gerak. Jangan sampai luka terkena air."

"Terima kasih, Pak," kata Ucok.

"Jangan berterima kasih. Anton sudah cerita semuanya. Kalian sudah berbuat banyak. Ini yang paling sedikit bisa saya lakukan."

Pak Heru berdiri dan berjalan ke dapur. "Saya masak bubur. Kalian makan dulu. Istirahat. Nanti malam kita bicara lebih lanjut."

Bambang memejamkan mata. Tubuhnya terasa ringan. Pikirannya mulai kabur. Dia ingin tidur. Tidur yang panjang. Tapi setiap kali dia hampir terlelap, dia mendengar suara seperti karet diregangkan. Suara yang sudah terlalu familiar di telinganya.

Apakah suara itu nyata? Atau hanya halusinasi? Apakah makhluk-makhluk itu masih hidup? Apakah mereka selamat dari api? Apakah mereka akan mencari Bambang untuk balas dendam?

"Bambang," panggil Dewi.

Bambang membuka mata. "Iya?"

"Kamu harus makan dulu. Sebelum tidur."

Bambang menggeleng. "Aku tidak lapar."

"Kamu harus makan. Tubuhmu butuh energi untuk pulih."

Dewi memaksanya makan bubur hangat yang disiapkan Pak Heru. Hanya beberapa sendok. Tapi cukup untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Setelah itu, Bambang berbaring di atas tikar yang disediakan Pak Heru. Ucok sudah lebih dulu tidur di tikar sebelah. Dengkurannya keras, seperti orang yang sudah lama tidak tidur nyenyak.

Bambang memejamkan mata. Perlahan, kegelapan menyelimutinya. Tidak ada mimpi. Tidak ada suara. Hanya kegelapan. Kegelapan yang damai.

Dia tidak tahu berapa lama dia tidur. Yang dia tahu, ketika dia membuka mata, langit di luar sudah gelap. Malam telah tiba. Di ruang tamu, lampu minyak tanah menyala redup. Dewi sedang duduk di kursi dekat jendela, memegang ponselnya, menonton sesuatu.

Bambang bangkit. Tubuhnya masih terasa sakit. Tapi lebih baik dari sebelumnya. Lukanya tidak lagi terasa perih. Perbannya kering.

"Dewi," panggil Bambang.

Dewi menoleh. "Kamu bangun. Sudah hampir dua belas jam kamu tidur."

"Semalaman?"

"Iya. Ucok masih tidur. Jangan bangunkan dia. Dia butuh istirahat lebih lama."

Bambang duduk di samping Dewi. Matanya menatap ponsel di tangan Dewi. "Itu rekamannya?"

"Iya. Aku sudah tonton berkali-kali. Semua terekam dengan jelas. Pak Toni. Orang-orangnya. Kolam. Api. Semua."

"Bisa jadi bukti?"

"Bisa. Tapi kita butuh lebih dari sekadar video. Kita butuh saksi ahli. Orang yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di video itu. Kita butuh ilmuwan. Atau dokter. Atau siapa saja yang mengerti tentang fenomena ini."

"Kita punya Ucok. Dia saksi mata. Dia sudah lima tahun di sana."

"Saksi mata biasa tidak cukup. Kita butuh orang yang kredibel. Orang yang tidak bisa dibantah oleh pengacara perusahaan."

Bambang terdiam. Dewi benar. Perusahaan akan menyewa pengacara hebat. Mereka akan membantah semua bukti. Mereka akan bilang video itu palsu. Mereka akan bilang Bambang dan Ucok adalah penjahat yang ingin menjatuhkan perusahaan.

"Lalu kita harus cari siapa?" tanya Bambang.

"Aku punya kenalan. Profesor di universitas. Dia ahli biologi. Dia sudah lama meneliti fenomena anomali di Kalimantan. Mungkin dia bisa membantu."

"Kapan kita bisa bertemu dengannya?"

"Besok. Aku sudah hubungi dia. Dia bersedia datang ke sini. Tapi dia minta bayaran."

"Bayaran? Kita tidak punya uang."

"Aku punya. Tabunganku. Tidak banyak. Tapi cukup untuk membayar seorang profesor."

Bambang menghela napas. "Dewi, kenapa kamu melakukan ini semua? Kamu sudah kehilangan teman. Kamu hampir mati. Kamu mengeluarkan uang. Untuk apa?"

Dewi menatap Bambang lama. Matanya berkaca-kaca. "Karena aku sudah lelah melihat kejahatan dibiarkan begitu saja. Aku sudah lelah melihat orang-orang kecil menjadi korban. Aku sudah lelah melihat perusahaan-perusahaan besar berbuat seenaknya. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?"

Bambang tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menggenggam tangan Dewi. Tangan itu kecil. Tapi kuat. Kuat seperti tekadnya.

Malam semakin larut. Di luar, suara jangkrik terdengar sayup-sayup. Sesekali suara anjing menggonggong dari kejauhan. Suara-suara normal. Suara-suara yang mengingatkan Bambang bahwa dunia masih berjalan. Bahwa di luar sana, ada kehidupan. Ada harapan.

"Bambang, aku mau tanya sesuatu," kata Dewi.

"Iya."

"Setelah semua ini selesai, setelah perusahaan ditutup, setelah Pak Toni dipenjara, apa yang akan kamu lakukan?"

Bambang tersenyum. Senyum pertama yang tulus sejak meninggalkan pabrik. "Aku akan pulang. Peluk ibuku. Cium tangan bapakku. Tidur di kamar sempitku. Dan tidak akan pernah pergi lagi."

"Kamu tidak takut perusahaan mengejar? Kontrak? Denda?"

"Aku tidak peduli. Aku sudah mati sekali. Mati rasa takut. Tidak ada yang bisa menakutiku lagi selain kehilangan orang yang aku cintai."

Dewi mengangguk. "Kamu beruntung masih punya orang tua."

"Kamu tidak punya?"

"Ayah-ibuku sudah meninggal. Suamiku juga. Hanya anakku yang tersisa. Dia tinggal bersama neneknya di kampung. Aku jarang pulang. Aku terlalu sibuk mengejar keadilan untuk orang lain. Tapi mungkin... setelah ini, aku akan pulang. Menghabiskan waktu dengan anakku. Menjadi ibu yang baik."

Bambang tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa menepuk pundak Dewi. Memberi tahu bahwa dia tidak sendirian.

Malam semakin larut. Bambang kembali ke tikarnya. Memejamkan mata. Pikirannya masih kacau. Tapi perlahan, kegelapan menyelimutinya.

Dia bermimpi. Dalam mimpinya, dia berdiri di depan rumah kontrakannya. Pintu terbuka. Ibu dan Bapak duduk di ruang tamu. Ibu sedang menjahit. Bapak sedang membaca koran.

"Nak, kamu pulang?" tanya Ibu.

"Iya, Bu. Aku pulang."

"Kamu kurus sekali."

"Aku tidak apa, Bu. Aku sehat."

"Jangan pergi lagi, Nak."

"Aku tidak akan pergi lagi, Bu. Aku janji."

Bambang memeluk Ibu. Memeluk Bapak. Air matanya jatuh. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Air mata kebahagiaan. Air mata kelegaan.

Dia pulang.

Benar-benar pulang.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!