Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. Prosesi Siraman
H-13. Matahari Jakarta baru saja merangkak naik, namun suhu di rumah besar Eyang sudah terasa mendidih bagi Nala. Bukan karena pendingin ruangan yang mati, melainkan karena isi kepalanya yang sedang berperang hebat.
Setelah kejadian di Gala Night semalam—di mana ia dibela habis-habisan oleh Saga dari wanita bernama Sarah—Nala merasa ada yang salah dengan ritme jantungnya. Ia benci perasaan ini. Ia benci bagaimana Saga menutup rapat identitas Sarah seolah wanita itu adalah rahasia negara, dan ia lebih benci lagi pada fakta bahwa ia mulai merasa peduli.
"Nala, jangan melamun terus. Airnya sudah didoakan, sesepuh sudah menunggu," tegur Mama yang pagi ini tampak sangat sibuk berkoordinasi dengan para perias dan vendor bunga.
Mama terlihat sangat cantik dengan kebaya kutubaru-nya, seolah-olah ia sedang mempersiapkan pesta untuk dirinya sendiri.
Hari ini adalah prosesi siraman. Sebuah ritual yang seharusnya bermakna pembersihan lahir dan batin bagi calon pengantin.
Namun bagi Nala, ini adalah medan perang baru. Di kepalanya, sebuah rencana nakal sudah tersusun rapi sejak subuh tadi untuk merusak momen sakral ini. Jika ia tidak bisa membatalkan pernikahan dengan cara bicara baik-baik, maka ia akan melakukannya dengan cara yang akan membuat keluarga besarnya malu tujuh turunan.
Nala melirik Saga yang berdiri di sudut pendopo. Pria itu tampak sangat berbeda. Hilang sudah setelan tuksedo mahal atau kemeja kerja yang kaku. Pagi ini, Saga hanya mengenakan balutan kain jarik motif sidomukti dan ronce melati yang melingkar di lehernya.
Wajahnya tetap datar seperti biasanya, namun Nala bisa menangkap kilat kelelahan di matanya. Mungkin pria itu juga tidak tidur semalaman, memikirkan Sarah atau mungkin memikirkan nasib pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
"Mas," bisik Nala saat mereka berpapasan menuju tempat siraman yang telah dihias cantik dengan aneka kembang setaman.
"Siap-siap ya. Aku sudah taruh 'kejutan' di dalam gentong airnya. Jangan salahkan aku kalau nanti Mas berubah jadi sesuatu yang lain."
Saga berhenti melangkah, menatap Nala dengan sebelah alis yang terangkat tinggi.
"Kejutan apa lagi, Nala? Jangan bilang kamu menaruh ikan lele atau pewarna makanan di sana. Ingat, ini rumah Eyang, bukan taman kanak-kanak."
"Lebih seru dari itu. Mas lihat saja nanti. Anggap saja ini ritual pembersihan yang... sedikit lebih modern," Nala menyeringai kecil sebelum ia ditarik oleh para sesepuh menuju kursi kayu yang dihias dekorasi bunga melati yang menjuntai.
Prosesi dimulai dengan suasana yang sangat khidmat. Harum kembang kantil, melati, dan mawar menyeruak di udara pagi yang lembap. Instrumen kecapi suling diputar sayup-sayup, menciptakan atmosfer yang seharusnya membuat siapa pun terharu.
Eyang duduk di baris terdepan dengan kebaya kebesarannya, menatap mereka berdua dengan tatapan tajam namun penuh harapan.
Rencana asli Nala sederhana: ia sudah menyelinap ke area persiapan satu jam sebelumnya. Ia memasukkan lima bungkus besar es batu ke dalam gentong air milik Saga agar suhunya menjadi sangat dingin, dan yang paling krusial, ia menuangkan satu botol besar sabun colek ke dasar gentong.
Bayangannya, saat air itu diaduk dan disiramkan, tubuh Saga akan penuh dengan busa sabun yang konyol dan ia akan menggigil hebat di depan kamera.
Saat giliran Eyang untuk menyiramkan air ke bahu Nala, Nala sudah bersiap untuk melakukan akting "kedinginan yang berlebihan" agar suasana jadi kacau. Ia sudah melatih ekspresi wajahnya agar terlihat seperti orang yang sedang mengalami hipotermia akut.
Namun, saat gayung kayu itu menyentuh air di dalam gentong yang diperuntukkan baginya, Nala baru menyadari sesuatu yang salah.
Air di dalam gentong itu tetap bening kristal, dan saat air itu menyentuh kulit bahunya, suhunya sangat hangat dan nyaman. Tidak ada es batu, tidak ada busa sabun colek yang ia harapkan muncul ke permukaan.
"Lho?" gumam Nala bingung, matanya berputar mencari keberadaan botol sabun yang tadi ia buang di tempat sampah.
Eyang menuangkan air ke bahu Nala dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah ia sedang memberkati barang pecah belah yang sangat berharga. Suara Eyang yang serak namun tenang terdengar tepat di samping telinga Nala.
"Nala, air ini bukan cuma buat bersihin kulitmu yang sering kena debu jalanan itu. Tapi buat nenangin pikiranmu yang lagi lari ke mana-mana. Fokus, Nduk. Pernikahan itu bukan cuma soal baju bagus, tapi soal hati yang tenang."
Nala terdiam, rasa bersalah tiba-tiba mencubit ulu hatinya. Ia melirik ke arah asisten rumah tangga Eyang yang berdiri di belakang, dan matanya menangkap sosok Saga yang sedang memberikan kode tipis dengan matanya. Saga sudah membersihkan gentong itu sebelum acara dimulai. Pria itu pasti tahu Nala akan berbuat ulah.
Nala mendelik kesal ke arah Saga yang kini duduk di kursinya sendiri, menunggu giliran. Gagal lagi!
Kini giliran Saga yang disiram. Nala, sebagai calon istri, mendapat giliran terakhir untuk menyiramkan air ke bahu calon suaminya itu. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk berbuat usil secara spontan.
Saat ia memegang gayung kayu yang cukup berat, Nala sengaja menyiduk air dengan sangat penuh hingga tumpah-tumpah.
Ia berniat mengguyurkannya langsung ke wajah Saga—bukan ke bahu—agar pria itu terlihat konyol, rambutnya berantakan, dan ia harus megap-megap di depan kamera vendor yang sedang merekam setiap detik prosesi.
Byur!
Air itu melesat, namun hukum karma sepertinya sedang bekerja lebih cepat dari rencana Nala.
Karena lantai di sekitar kursi siraman sudah sangat licin akibat cipratan air kembang, ditambah Nala yang memakai kain jarik yang sangat ketat, ia kehilangan keseimbangannya.
Gayung kayu itu terlepas dari tangannya, airnya melesat ke arah yang salah, dan Nala justru terpeleset.
Alih-alih mengguyur Saga dengan telak, Nala justru jatuh terjerembap ke depan, tepat ke arah Saga yang sedang duduk bersila dengan mata terpejam.
"Aduh!" pekik Nala.
Suasana khidmat mendadak pecah menjadi kepanikan kecil yang diwarnai suara tawa tertahan dari beberapa kerabat jauh.
Nala kini dalam posisi yang sangat tidak estetik: ia mendekap leher Saga dari depan agar tidak mencium lantai, keduanya basah kuyup terkena sisa air, dan ronce melati yang tadi melingkar rapi di leher Saga kini berhamburan di antara mereka.
Kamera vendor memotret momen itu berkali-kali, menangkap ekspresi terkejut Saga dan wajah panik Nala yang memerah.
"Astaga, Nala! Kamu nggak apa-apa?" Mama bergegas mendekat dengan wajah panik yang luar biasa.
Saga memegang kedua lengan Nala dengan kuat agar gadis itu tidak jatuh lebih dalam ke arah gentong air. Napas mereka menderu, saling beradu di antara aroma melati yang menyengat. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Nala bisa mencium aroma cendana dan sabun herbal dari tubuh Saga yang hangat, sangat kontras dengan air dingin yang membasahi daster dalamnya.
"Saya sudah bilang berkali-kali, Nala... berhenti melakukan gerakan yang tidak efisien," bisik Saga dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti desisan yang hanya bisa didengar oleh telinga Nala.
Tangannya masih memegang pinggang Nala dengan erat, menopang berat tubuh gadis itu.
Nala mendongak, matanya bertemu dengan mata Saga yang tampak berkilat—bukan karena marah yang meluap, tapi karena ia sedang berjuang keras menahan tawa.
"Mas... Mas sengaja ya bersihin es batunya tadi?"
"Es batu itu akan membuat kamu masuk angin, Nala. Dan saya benar-benar tidak punya waktu untuk mengurus pengantin yang ingusan di pelaminan nanti hanya karena ide 'sabun colek' kamu itu," jawab Saga pelan, suaranya bergetar karena tawa yang hampir pecah.
Eyang mendekat, menatap mereka berdua yang masih dalam posisi berpelukan di lantai basah itu. Bukannya marah karena prosesi jadi sedikit kacau, Eyang justru tersenyum lebar hingga kerutan di wajahnya terlihat semakin jelas.
"Lihat itu... airnya sudah menyatu. Jatuhnya Nala ke pelukan Saga itu sudah pertanda alam," ujar Eyang pada Mama Saga. "Mereka ini memang seperti magnet. Mau ditarik kayak apa, ujung-ujungnya nempel juga. Biarkan saja, ini momen paling jujur dari mereka."
Nala ingin berteriak bahwa ini cuma kecelakaan murni karena lantai licin dan kain yang terlalu ketat, tapi lidahnya terasa kelu. Di depan keluarga besar, kejadian memalukan itu justru dianggap sebagai momen "romantis yang tidak disengaja" yang akan diceritakan secara turun-temurun.
Setelah acara selesai dan mereka diizinkan untuk berganti pakaian kering, Nala menemui Saga di balkon samping yang menghadap ke kebun belakang. Nala masih merasa sebal, rambutnya yang basah ia balut dengan handuk kecil, dan wajahnya cemberut maksimal.
"Gagal total, Mas. Gara-gara aku terpeleset tadi, Mamamu makin yakin kita ini pasangan serasi yang nggak bisa dipisahkan oleh gaya gravitasi sekalipun," keluh Nala sambil mengeringkan telinganya.
Saga bersandar di pilar kayu, menatap langit Jakarta yang mulai mendung. Ia sudah kembali mengenakan kaos polo kasualnya, namun aroma kembang setaman masih tercium samar dari tubuhnya.
"Saya sudah bilang sejak di Solo, Nala. Semakin kita berusaha melawan dengan cara yang konyol dan kekanak-kanakan, keluarga kita akan melihatnya sebagai 'dinamika cinta yang unik'. Mereka sudah terlalu buta oleh keinginan mereka untuk menyatukan dua keluarga," ujar Saga tanpa menoleh.
Nala terdiam sejenak, lalu keberaniannya muncul kembali. Ia teringat kejadian semalam. Teringat wanita bernama Sarah yang membuat Saga membeku di tempat.
"Mas... soal perempuan di pesta semalam..."
"Sudah saya katakan semalam, jangan bahas itu lagi, Nala," potong Saga cepat, nada suaranya berubah menjadi sedingin es, kembali ke mode 'saya-kamu' yang penuh jarak.
"Aku cuma mau tahu... apa dia alasan Mas mau batalin nikahan ini? Apa Mas masih nunggu dia, makanya Mas merasa pernikahan ini jadi beban?" tanya Nala berani, melangkah maju agar bisa menatap langsung ke mata Saga yang gelap.
Saga menatap Nala dengan intensitas yang membuat Nala ingin menarik langkahnya kembali.
"Saya membatalkan pernikahan ini karena saya ingin kebebasan untuk memilih jalan hidup saya sendiri, bukan karena ingin kembali ke masa lalu yang sudah hancur berantakan. Jangan mencampuradukkan urusan pribadi saya dengan misi bersama kita."
Nala menggigit bibir bawahnya, merasa sedikit terluka dengan cara Saga membentengi dirinya sendiri. "Tapi Mas belain aku semalam di depan dia... itu artinya apa?"
"Itu karena saat ini kamu adalah tanggung jawab saya. Siapa pun yang berdiri di samping saya, akan saya bela jika ada yang merendahkannya. Itu prinsip, bukan perasaan," sahut Saga dingin, lalu ia berbalik pergi meninggalkan Nala sendirian di balkon.
Nala menghentakkan kakinya ke lantai kayu dengan kesal.
"Jutek! Kaku! Batu! Kenapa sih nggak bisa jujur sedikit aja!" teriaknya pelan pada punggung Saga yang menjauh.
Namun, saat Nala melihat bayangannya di kaca jendela, ia menyadari sesuatu yang membuatnya terdiam.
Ia masih memegang sapu tangan putih milik Saga yang diberikan pria itu saat di Bandung. Ia belum mengembalikannya, dan entah kenapa, ia tidak ingin mengembalikannya sekarang. Handuk di kepalanya jatuh, namun ia tidak peduli.
H-13, dan musuh terbesarnya saat ini bukan lagi rencana Mama atau titah Eyang, melainkan rasa penasaran yang mulai tumbuh menjadi duri di hatinya sendiri.
Ia mulai bertanya-tanya, apakah air siraman tadi benar-benar membersihkan hatinya, atau justru membuat perasaannya semakin keruh?
kok kalimatnya seolah2 baru ketemu sih, apalagi sampai bandingin dengan di foto.